FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Tafsir QS AL Hujurat ayat 10-13

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Tafsir QS AL Hujurat ayat 10-13

Post by keroncong on Fri Aug 05, 2016 6:57 pm

1.        “Sesungguhnya arang-arang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah anfara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat nikmat.”
2.        “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (uang mengolok-olokkan) dan jangan pula, wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi waanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-arang yang zalim”.
3.        “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan jangalah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagain yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang”.
4.        “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari scorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”
      (QS. Al-Hujurat ayat 10-13)
 
A
llah WT menegaskan dalam ayat 10 bahwa sesungguhnya orang-orang mumin bersaudara seperti hubungan persaudaraan antara orang-orang seketurunan karena sama-sama menganut unsur keimanan yang sama dan kekal.
Setiap muslim memiliki hak atas saudaranya yang sesama muslim. Dalam hadits Riwayat Bukhari dari Anas bin Malik, Rasulullah saw. bersabda: "Orang muslim itu adalah saudara orang muslim, jangan berbuat aniaya kepadanya, jangan membuka aibnya, jangan menyerahkannya kepada musuh, dan jangan meninggikan bangunan rumah sehingga menutup udara tetangganya kecuali dengan izinnya, jangan mengganggu tetangganya dengan asap masakan dari periuknya kecuali jika ia memberi segayung dari kuahnya. Jangan membeIi buah-buahan untuk anak-anak, lalu dibawa keluar (diperlihatkan) kepada anak-anak tetangganya, kecuali jika mereka diberi buah-buahan itu”. Kemudian Nabi SAW. bersabda: “Peliharalah (norma-norma pergaulan) tetapi (sayang) hanya sedikit di antara kamu yang memeliharanya” Dalam hadits shahih yang lain dinyatakan: "Apabila seorang muslim mendoakan saudaranya yang ghaib, maka malaikat  berkata Amin, dan semoga kamu pun mendapat seperti itu"
Dalam ayat 11 dan 12 Allah SWT menjelaskan bagaimana sebaiknya pergaulan di antara orang-orang beriman. Di dalamnya terdapat hal-hal yang diperingatkan Allah agar kaum beriman menjauhinya karena dapat merusak persaudaraan di antara mereka.
Diriwayatkan bahwa ayat 11 ini diturunkan berkenaan dengan tingkah laku kabilah Bani Tamim yang pemah berkunjung kepada Rasulullah saw. lalu mereka memperolok-olokkan beberapa sahabat yang fakir miskin, seperti Ammar, Suhaib, Bilal, Khabbab, Salman A1Farisi, dll. Karena pakaian mereka sangat sederhana.
Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, sabda Rasulullah saw “Sesungguuhya Allah tidak memandang kepada rupa dan harta kekayaanmu, akan tetapi ia mengndang kepada hati dan perbuatanmu.”
Pada ayat ini pula Allah menyebutkan wanita secara khusus sebagai peringatan terhadap kebiasaan tercela kaum wanita dalam bergaul. Terdapat riwatat yang melatar belakangi turunnya ayat ini ialah berkenaan dengan kisah Siti Shafiyah binti Huyay bin Akhtab yang pernah datang menghadap RasuluIlah saw. dan melaporkan bahwa beberapa wanita di Madinah pemah menegur dia dengan kata-kata yang menyakitkan hati seperti: “Hal perempuan Yahudi, Keturunan Yahudi dan sebagainya”, sehingga Nabi SAW. bersabda kepadanya: ”Mengapa tidak engkau jawab saja, ayahku Nabi Harun, pamanku Nabi Musa, dan suamiku adalah Muhammad”.
Dalam ayat ke-10 QS. Al-Hujurat ini Allah SWT memperingatkan kaum mukmin supaya jangan saling mengolokkan karena boleh jadi kaum yang diperolok-olokkan pada sisi Allah jauh lebih mulia dan terhormat dari mereka yang mengolok-olokkan dan kaum wanita pun jangan saling mengolokkan karena boleh jadi wanita yang diperolok-olokkan di sisi Allah lebih baik dari wanita yang mengolok-olokkan. Kemudian Allah SWT melarang kaum mukmin mencela diri mereka sendiri karena mereka bagaikan satu tubuh yang diikat dengan persatuan
Dan dilarang pula pangailan-panggilan dengan gelar-gelar yang buruk seperti panggilan kepada seseorang sudah beriman dengan kata-kata: hai fasik, hai kafir, dsb. Panggilan yang buruk dilarang diucapkan karena gelar-gelar buruk itu dapat mengingatkan kepada kedurhakaan dan membangkitkan kefasikan setelah beriman. Barang siapa tidak bertaubat dari memanggil-manggi dengan  gelar yang buruk itu, maka akandicap oleh Allah sebagai orang-orang yang zalim dan akan menerima konsekuensi dari Allah berupa azab pada Hari Kiamat.
Dalam ayat 12 Allah SWT memberi peringatan kepada orang-orang yang beruman, supaya memerka menjauhkan diri dari su'uzon/prasangka buruk terhadap orang-orang yang beriman, Dan jika mereka mendengar dari  sebuah kalimat yang keluar dari saudaranya yang mukmin, maka kalimat itu hurus diberi tanggapan dan ditujukan kepada pengertian yang baik, jangan sampai timbul salah paham apalagi menyelewengkannya sehingga menimbulkan fitnah dan prasangka. Kemudian Allah SWT menerangkan penyebab wajibnya orang-orong mukmin menjauhkan diri dari prasangka, yaitu karena sebagian prasangka itu mengandung dosa.
Allah melarang pula ghibah, namimah dan mencari-cari aib orang lain. Mengenai definisi ghibah, Rasulullah saw. bersabda: “Ghibah ialah engkau menceritakan saudaramu tentang sesuatu yang ia benci.” Si penanya kembali bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu bila apa yang diceritakannya itu benar ada padanya?" Rasulullah menjawab: "Kalau memang benar ada padanya, itu ghibah namanya. Jika tidak (benar) engkau berbuat buhtan (dusta).” (HR. Muslim, Tirmizi, Abu Dawud dan Ahmad). Sedangkan namimah dapat dibagi menjadi hamz (mencaci maki) dan lamz (mencela).    [Al-Humazah:1]
Rasulullah mengecam orang yang suka berghibah dan mencari-cari kesalahan orang. Diriwayatkan oleh Abi Barzah Al-Aslami, sabda Rasulullah SAW. “Wahai orang-orang yaug beriman dengan lidahnya, tctapi iman itu belum masuk ke dalam hatinya, jangan sekali-kali kamu berghibah (menggunjing) terhadap kaum muslimin, dan jangan sekali-kali mencari noda atau auratnya. Karena barangsiapa mencari-cari noda mereka, maka Allah akan membalas pula dengan membuka noda-nodanya. Dan barangsiapa yang diketahui kesalahannya oleh Allah, niscaya dia akan menodai kehormatannya dalam lngkungan keluarganya sendiri”
Adapun beberapa pengecualian dibolehkannya ghibah adalah sebagai berikut :
1.        Orang yang mazlum (dianiaya) menceritakan keburukan orang yang menzaliminya dalam rangka menuntut haknya.
2.        Jika bertujuan memberi nasehat pada kaum muslimin tentang agama dan dunia mereka.
3.        Dilakukan dengan niat baik dan mengharapkan ridho Allah semata.
 
Pada ayat 13, Allah menjelaskan bahwa manusia diciptakanNya berbagai-bagai bangsa dan suku supaya saling mengenal dan saling menolong dalam kehidupan bermasyarakat. Dan tidak ada kemuliaan seseorang di sisi Allah kecuali dengan ketakwaannya.
Dalam suatu hadits riwayat Abu Hatim yang bersumber dari Ibnu Mulaikah berkenaan turunnya ayat ini ialah bahwa ketika fathu Makkah Bilal naik ke atas Ka'bah untuk azan. Berkata beberapa orang: "Apakah pantas budak hilah azan di atas Ka'bah? Maka berkatalah yang lain: "Sekiranya Allah membenci orang ini, pasti Allah akan menggantinya." Maka datanglah malaikat Jibril memberitahukan kepada Rasulullah SAW apa yang mereka ucapkan. Maka turunlah ayat ini yang melarang manusia menyombongkan diri karena kedudukan, pangkat, kekayaan dan keturunan dan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah dinilai dari derajat kelakwaannya
Ayat ini juga menyatakan bahwa persauduraan Islam berlaku untuk seluruh umat manusia tanpa dibatasi oleh bangsa, warna kulit, kekayaan dan wilayah melainkan didasari oleh ikatan akidah.
Persaudaraan merupakan pilar masyarakat Islam dan salah satu basis kekuatannya. “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling mengikat dan menguatkan serta bagaikan jalinan antara jari jemari”               (HR Muttafaq’alaih dari Abu Musa ra.)
Rasulullah menganggap persaudaraan antar umat Islam adalah basis yang sangat penting sehingga hal pertama yang dilakukan beliau ialah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar secara formal satu dengan yang lainnya ketika hijrah ke Madinah.
 
REFERENSI
·         Al-Qur'an dan Tafsirnya, Universitas Islam Indonesia
·         Ibnu Taimiyah, Imam Suyuthi, Imam Syaukani, Ghibah, Pustaka AlKautsar
·         KH Q. Shaleh, dkk, Asbabun Nuzul, Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-ayat Al-Qur’an, CV Diponegoro
·         Ahmad Yani Wahid, Refleksi Ukhuwah, Telaah Persaudaraan Muslim,           CV Tursina
                                                                                                                    


-|PROBLEM SOLVED |-

-| Cara 'Request' Membuka Kembali Thread di Topic solved |-
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Re: Tafsir QS AL Hujurat ayat 10-13

Post by njlajahweb on Thu Aug 10, 2017 7:48 am

sekilas info
aku jadi bingung kalau baca ayat ini
Qs 9:107 Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan". Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).
avatar
njlajahweb
MAYOR
MAYOR

Female
Posts : 5008
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 114

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik