FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

membangun filsafat hidup berbasis tauhid

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

membangun filsafat hidup berbasis tauhid

Post by voorman on Mon Jun 10, 2013 1:22 am

Pandangan hidup Islam tak sekedar pandangan akal dan dunia fisik semata. Tapi mencakup aspek al-dunya dan al-akhirah. Catatan AR. Dimyati

Hidayatullah.com--Hari Ahad, (02/09) Insitute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Malaysia kembali menggelar diskusinya dengan menghadirkan pakar di bidang “Pandangan Hidup” (Wordlview), Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi.

Seperti biasanya, diskusi ini dihadiri oleh para dosen, mahasiswa, aktivis pergerakan, praktisi dan pakar-pakar di berbagai bidang dari beberapa kampus di Malaysia. Hadir pula di sana Dr. Anis Malik Thoha, Dr. Syamsuddin Arif, dan tokoh-tokoh intelektual lainnya.

Diskusi INSISTS ini, tegas pemateri, sudah hampir 4 tahun berlangsung. Baginya, para peserta yang nampak hadir kali ini didominasi oleh wajah-wajah baru.

Dalam mengantarkan makalahnya, pemateri memberikan penjabaran tentang pentingnya ”Pandangan Hidup Islam”. Ia beralasan bahwa arti, tujuan, dan nilai hidup sangat ditentukan oleh pandangan hidup masing-masing manusia. Lalu apa itu pandangan hidup? Di sinilah, kemudian, pemateri mengajukan beberapa definisi oleh beberapa sarjana, antara lain pandangan hidup menurut al-Mawdudi, Atif Al-Zayn, Sayyid Qutb, Naquib al-Attas, dan Alparslan. Dari definisi-definisi itu kemudian pemateri memberi definisi utuhnya dengan menyatkan bahwa pandangan hidup Islam adalah:

”Aqidah fikriyyah atau kepercayaan yang berdasarkan pada akal, yang asasnya adalah keesaan Tuhan (tawhid/shahadah), yang terbentuk dalam pikiran dan hati setiap Muslim dan berpengaruh terhadap pandangannya tentang keseluruhan aspek kehidupan terutamanya tentang realitas dan kebenaran”

Sederhananya, tegasnya pula, Pandangan Hidup Islam itu adalah ”Ilmu, Iman, ’Amal”. Ia menjelaskan bahwa ilmu harus mendahului iman. Sedangkan ’amal tidak boleh lepas dari ilmu dan iman. Kemudian ia merujuk kepada ayat, ”Fa’lam annahu laa ilaaha illallaah” (maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah). Ayat ini diawali oleh ”ketahuilah” (dari alima-ya’lamu-ilm), baru kemudian ”tiada tuhan selain Allah”. Singkatnya, orang harus tahu dulu sebelum meyakini.

Lebih praktis lagi, jelas pemateri, ketika orang bersyahadat, ia harus mengawalinya dengan penuh kesadaran. Kata asyhadu, ”aku bersaksi” adalah menyaksikan dengan penuh kesadaran, keyakinan dan pengetahuan (cara pandang). Cara pandang ini mempengaruhi cara manusia melihat realitas atau segala yang wujud.

Menurutnya, definisi yang lebih teknis dan epistemologis adalah bahwa konsep-konsep Islam, apabila dikumpulkan, merupakan cara pandang yang khas dan itu juga menunjukkan cara kerja secara intelektual, saintifik dan spiritual, yang bermuara kepada konsep ”Tuhan”. Dari konsep Tuhan inilah kemudian lahirlah konsep kehidupan, konsep dunia, konsep manusia, konsep nilai, konsep ilmu dan seterusnya.

Berbicara masalah konsep ilmu dan manusia, muncullah pendidikan; berbicara konsep manusia dan nilai, lahirlah hukum; berbicara konsep nilai dan dunia, lahirlah politik; berbicara konsep dunia dan kehidupan, lahirlah ekonomi; dan berbicara konsep kehidupan dan ilmu, lahirlah ilmu dan teknologi. Kesemuanya itu saling terkait satu dengan yang lainnya, dan bermuara kepada konsep ketuhanan. Di sinilah, seperti yang ditegaskan oleh pemateri, konsep ”tauhid” memberikan makna yang lebih komprehensif; tidak saja mempercayai Allah sebagai yang Esa, tapi juga mengakui kesatuan dan keintegralan sistem yang terdapat di tengah-tengah makhluk-Nya. Ada sistem epistemologi Islam di sana. Dengan kata lain, percaya bahwa Allah satu belum berarti ia sudah Islami, karena belum tentu ia juga meyakini dan mempunyai worldview yang Islami pula, atau lebih menukik lagi epistemologinya belum tentu tauhidi.

Untuk menggambarkan bangunan filosofis worldview Islam ini, pemateri merujuk kepada sebuah ayat yang berbunyi: ”alam tara kaifa dharaballahu matsalan kalimatan thoyyibatan ka syajaratin thoyyibatin asluha tsaabitun wa far’uhaa fissamaa’ thu’thii ukulahaa..”

Kata thoyyibah di sini, dalam beberapa tafsir, adalah syahadat. Konsep syahadat ini diibaratkan sebuah pohon; akarnya kokoh, cabangnya menjulang tinggi ke langit, memberi makanan pada setiap musim dengan izin Tuhannya.

Inilah analogi Al-Quran tentang peradaban Islam yang berkembang dari konsep tauhid dan ilmu pengetahuan Islam yang kemudian memberi rahmat kepada peradaban-peradaban lain yang ada di dunia. Setiap ”Musim”, maksudnya ada masa peradaban Islam mengungguli peradaban-peradaban lain dan memberi manfaat sebesar-besarnya kepada mereka untuk berkembang. Ini menunjukkan bahwa peradaban Islam menjadi rujukan semua peradaban di dunia. Karena dalam sejarah dunia, peradaban-peradaban yang ada tak pernah bertemu dan bersatu, tetapi bisa bersatu di masa peradaban Islam menguasai mereka.

Suatu Peradaban

Konsep-konsep yang turun dalam bentuk ayat-ayat Al-Quran diturunkan secara gradual. Periode pertama (periode Makkah-1) berkenaan dengan konsep tahuhid, penciptaan, hari akhir, etika, dan tentang alam. Periode kedua (periode Makkah-2) berkaitan dengan konsep ibadah, din, ilmu, kenabian, dll. Periode ketiga (periode Madinah) meliputi konsep ukhuwah, ummah, jihad, daulah, dll. Dari konsep-konsep itulah kemudian Islam membangun peradabannya. Munculnya komunitas ahlu Suffah di madinah adalah merupakan contoh betapa para sahabat memahami konsep-konsep itu secara mendalam, dan dari merekalah tradisi keilmuan Islam berkembang yang kemudian membentuk peradaban unggul di masa setelahnya. Jadi singkatnya, konsep-konsep tauhidik di atas menjadi asas bagi epistemologi Islam.

Bahkan, Prof. Al-Attas (1995) menyatakan:

”Pandangan hidup Islam itu ….bukan sekedar pandangan akal manusia terhadap dunia fisik atau keterlibatan manusia di dalamnya dari segi historis, sosial, politik dan kultural…tapi mencakup aspek al-dunya dan al-akhirah, dimana aspek al-dunya harus terkait secara erat dan mendalam dengan aspek akherat, sedangkan aspek akherat harus diletakkan sebagai aspek final”. Struktur dan cara pandang terhadap realitas seperti inilah yang dominan dalam Islam.

Epistemologi Tauhidi

Dalam menjabarkan Epistemologi Tauhidi ini, pemateri mengajak para peserta memahami asas-asas ontologi dan kosmologi dalam Islam. Menurutnya, realitas alam ini secara ontologis terbagi dua; pertama, alam al-mulk dan alam al-ghaib (tak tampak) dan kedua, alam shahadah (tampak). Namun secara kosmologis, realitas itu merupaka ayat-ayat Allah yang terdiri dari ayat-ayat Al-Quran dan ayat-ayat alam semesta. Kedua ayat ini sama-sama mengandungi ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat. Ayat-ayat muhkamat perlu tafsir dan yang mutasyabihat perlu tafsir dan ta’wil. Namun ta’wil harus berdasarkan tafsir. Sehingga, menurutnya pula, melihat realitas kosmos harus berdasar pada realitas Qurani.

Kalau dibandingkan dengan pandangan Barat terhadap realitas, sekurang-kurangnya Barat mempunyai tiga aliran yang dominan; (a) realisme, yang memandang secara obyektif; (b) anti-realisme yang melihat realitas secara subyektif; dan (c) realisme kritis yang melihat realitas dengan subyektif dan obyektif. Menurut pemateri, aliran terakhir ini mirip dengan Islam. Hanya saja, subyektifitas orang Islam sudah terisi oleh wahyu, sedang subyektivitas Barat hampa wahyu. Jadi dalam melihat realitas, ayat qauliyah dan kauniyah, alam ghaib dan shahadah, fisik dan metafisik menjadi satu kesatuan.

Namun, persoalan yang dihadapi orang Islam saat ini adalah, (a) masuknya ilmu-ilmu humaniora dan eksak ke dalam struktur epistemologi Islam, dimana cara melihat realitas menjadi tidak tauhidi lagi, dan cenderung dikotomis; (b) melihat sesuatu secara empiris an sich. Di sinilah rekonstruksi epistemologi secara komprehensif diperlukan.

Untuk mengkonstuk epistemologi tauhidik, perlu sekiranya melihat epistemologi Barat lalu membandingkannya dengan epistemologi Islam, baik dari aspek asasnya, pendekatannya, cara memaknainya, dan objek kajiannya.

Asas epistemologi Barat berdasarkan pada rasio dan spekulasi filosofis. Pendekatannya dikotomis. Sifatnya rasional, non-metafisis, terbuka dan selalu berubah. Dalam memaknai realitas dan kebenaran, Barat mengikut standar sosial, kultural, empiris, dan rasional. Sedang objek kajiannya, realitas empiris dan non-metafisis.

Sedangkan Islam, berdasarkan pada wahyu, hadith, akal, pengalaman, dan intuisi. Pendekatannya rasional, metafisis, dan supra-rasional, ada yang permanen ada yang berubah. Makna realitas dan kebenaran, al-Haqq dan al-Haqiqah, berdimensi metafisik dan fisik, rasional. Objek kajiannya, invisible dan visible atau ‘Ālam al-Mulk & ‘Ālam al-Syahādah.

Framework Studi Filsafat Islam

Sebelum melanjutkan pemaparannya tentang Worldview Islam dalam studi filsafat Islam, pemateri lebih dahulu memberi beberapa contoh pandangan Barat melihat studi filsafat dalam Islam. Tokoh-tokoh filosof yang disebut pemateri antara lain Henry Corbin (1903-1978), Michael E. Marmura, dan Abdelhamid I. Sabra. Ketiga-tiganya menyatakan bahwa Islam tidak mempunyai “kreasi filsafat yang original”.

Problem-problem yang dating dari orientalis lainnya tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan. Seperti, bahwa filsafat Islam adalah melulu hasil terjemahan. Yang demikian itu tidak logis, sebab orang Kristen Syriac saja juga mampu melakukannya, tapi sains hanya dapat dikembangkan orang Islam. Artinya, orang Islam tidak sekedar melakukan translasi, tapi juga editing, mengoreksi, dan adaptasi.

Contoh lain, pemikiran yang rasional dalam Islam dianggap berasal dari Yunani. Itu tidak betul, sebab Al-Quran kaya dengan aspek-aspek ilmu dan perintah menggunakan akal. Sedangkan dipihak lain, orang Kristen tidak berani menterjemahkan Organon Aristotle, karena takut membahayakan teologi mereka yang tidak rasional.

Lalu bagaimana worldview Islam dalam filsafat Islam?

Pemateri berpendapat, bahwa filsafat Islam itu merupakan salah satu cabang pengetahuan dalam peradaban Islam yang berakar pada konsep-konsep seminal (seminal concepts) dalam Al-Quran dan hadith, bukan Yunani. Konsep seminal dalam Al-Quran dikembangkan menjadi struktur konsep keilmuan (scientific conceptual scheme) dan menghasilkan istilah-istilah keilmuan (scientific terminology), dalam berbagai bidang. Struktur konsep itu adalah worldview.

Framework kajian filsafat Islam dimulai dari pengertian filsafat Islam dan sejarah konsepnya dan tidak terbatas pada filosof Muslim Aristotelian. Kajian filsafat Islam mencakup kajian Al-Quran, ilmu kalam, falsafah dan tasawuf. Filosof Muslim pertama bukanlah al-Kindi, sebagaimana yang diisukan orang Barat, tapi para mutakallimun atau mungkin fuqaha. Pemikiran spekulatif dalam filsafat Islam berasaskan ta’wil yang merujuk kepada tafsir realitas fisik dan metafisik. Pemikiran dalam filsafat Islam adalah kesatuan dari tafsir dan ta’wil ayat-ayat qauliyah dan kauniyah.

Sedangkan tujuan kajian filsafat dalam Islam meliputi: (a) memberi kemampuan kepada mahasiswa untuk memahami konsep-konsep penting dalam pemikiran Islam; (b) memberikan kecakapan kepada mahasiswa untuk merujuk konsep-konsep penting filsafat Islam dan mengkaitkannya dengan konsep-konsep seminal dalam Al-Quran dan Hadith; dan (c) meningkatkan kemampuan mahasiswa untuk menjelaskan konsep-konsep tersebut dalam konteks pemikiran kontemporer. [dimyati, Malaysia/www.hidayatullah.com]
avatar
voorman
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 155
Kepercayaan : Islam
Location : voorwagens
Join date : 23.05.13
Reputation : 8

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik