FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

kondisi masyarakat sebelum nabi muhammad diutus

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

kondisi masyarakat sebelum nabi muhammad diutus

Post by voorman on Sun May 26, 2013 6:25 am

Kehidupan bangsa Arab sebelum diutusnya Rasulullah berada dalam kekacauan yang luar biasa. Mereka menyekutukan Allah, banyak berbuat maksiat, tidak memiliki norma, percaya kepada khurafat, dan berbagai bentuk kebobrokan moral lain.

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi Wasallam, yang merupakan Nabi dan Rasul terakhir, diutus di saat tiadanya para Rasul. Vakumnya masa itu dari para pembawa risalah dikarenakan Allah murka kepada penduduk bumi baik orang Arab dan selainnya, kecuali sisa-sisa dari ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) yang mereka telah meninggal. Dalam sebuah riwayat, Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda :
Sesungguhnya Allah melihat kapada penduduk bumi. Lalu murka kepada mereka, Arab atau ajamnya, kecuali sisa-sisa dari ahlul kitab. (HR Muslim)

Saat itu, memang hanya satu di antara dua orang ahlul kitab yang berpegang dengan kitab yang sudah dirubah dan/atau dihapus, atau dengan agama yang punah, baik bangsa Arab atau lainnya. Sebagiannya tidak diketahui dan sebagian yang lain sudah ditinggalkan. Akibatnya, seorang yang umi (tidak bisa baca tulis) hanya bisa bersemangat beribadah namun dengan apa yang ia anggap baik dan disangka memberi manfaat baik berupa bintang, berhala, kubur, benda keramat, atau yang lainnya.

Manusia saat itu benar-benar dalam kebodohan yang sangat akan ucapan-ucapan yang mereka sangka baik padahal bukan, serta amalan yang disangka baik padahal rusak. Paling mahirnya mereka adalah yang mendapat ilmu dari warisan para Nabi terdahulu namun telah samar bagi mereka antara haq dan batil. Atau yang sibuk dengan sedikit amalan meski kebanyakannnya mengamalkan bid’ah yang dibuat-buat. Walhasil, kebatilannya berlipat-lipat kali dari kebenarannya. (Iqtidha’ Sirathal Mustaqim 1/74-75)

Inilah gambaran ringkas keadaan manusia yang sangat parah saat itu, khususnya di kota Makkah dan sekitarnya. Keadaan tersebut mulai terlihat sejak munculnya Amr bin Luhay Al-Khuza’iy. Ia dikenal sebagai orang yang gemar ibadah dan beramal baik sehingga masyarakat waktu itu menempatkannya sebagai seorang ulama.

Sampai suatu saat, Amr pergi ke daerah Syam. Ketika mendapati para penduduknya beribadah kepada berhala-berhala, Amr menganggapnya sebagai sesuatu yang baik dan benar. Apalagi, Syam dikenal sebagai tempat turunnya kitab-kitab Samawi (kitab-kitab dari langit).

Ketika pulang, Amr membawa oleh-oleh berhala dari Syam yang bernama Hubal. Ia kemudian meletakkannya di dalam Ka’bah dan menyeru penduduk Makkah untuk menjadikannya sebagai sekutu bagi Allah dengan beribadah kepadanya. Disambutlah seruan itu oleh masyarakat Hijaz, Makkah, Madinah dan sekitarnya karena disangka sebagai hal yang benar. (Mukhtasor Sirah Rasul hal. 23 & 73).

Sejak itulah, berhala tersebar di setiap kabilah. Di samping Hubal yang menjadi berhala terbesar di Ka’bah dan sekitarnya dan juga menjadi sanjungan orang-orang Makkah, terdapat pula berhala Manat di antara Makkah dan Madinah. Manat merupakan sesembahan orang-orang Aus dan Khazraj dan qabilah dari Madinah. Juga ada Latta di Thaif dan Uzza. Ketiga berhala ini merupakan yang terbesar dari yang ada. (lihat Mukhtasor Siroh Rasul 75-76 Rahiqul Makhtar :35).

Akibatnya, peribadatan kepada berhala menjadi pemandangan yang sangat mencolok. Apalagi, kesyirikan tersebut disangka masyarakat waktu itu sebagai agama Ibrahim 'alaihis salam. Padahal, tradisi menyembah berhala-berhala itu kebanyakannya adalah hasil rekayasa Amr bin Luhay yang kemudian dianggap bid’ah hasanah.

Dijelaskan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam tentang perbuatan Amr ini: “Saya melihat Amr bin Amir (bin Luhay) Al-Khuza’iy menyeret ususnya di neraka. Dia yang pertama kali melukai unta (sebagai persembahan kepada berhala dan yang pertama mengubah agama Ibrahim ‘alaihissalam)” (HR Bukhari)

Diantara tradisi syirik masyarakat waktu itu adalah menginap di sekitar berhala itu, memohonnya, mencari berkah darinya karena diyakini dapat memberi manfaat, thawaf, tunduk dan sujud kepadanya, menghidangkan sembelihan dan sesaji kepadanya, dan lain-lain. Mereka melakukan hal itu karena meyakini bahwa itu akan mendekatkan kepada Allah dan memberi syafaat sebagaimana Allah kisahkan dalam Al Qur’an. Mereka mengatakan:
“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az Zumar: 3)
“Dan mereka menyembah kepada selain Allah, apa yang tidak dapat mendatangkan kenmudharatan kepada mereka dan tidak (pula) manfaat. Dan mereka berkata, ’Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah’”. (Yunus: 18)

Selain kesyirikan, kebiasaan jelek yang mereka lakukan adalah perjudian dan mengundi nasib dengan 3 anak panah. Caranya dengan menuliskan “ya”, “tidak” dan dikosongkan pada ketiga anak panah itu. Ketika ingin bepergian misalnya, mereka mengundinya. Jika yang keluar “ya”, mereka pergi dan jika “tidak”, tidak jadi pergi. Jika yang kosong maka diundi lagi.

Mereka juga mempercayai berita-berita ahli nujum, peramal dan dukun, serta menggantungkan nasib melalui burung-burung. Ketika ingin melekukan sesuatu, mereka mengusir burung. Jika terbang ke arah kanan berarti terus, jika ke arah kiri berarti harus diurungkan. Selain itu, mereka juga pesimis dengan bulan-bulan tertentu. Misalnya karena pesimis dengan bulan safar, mereka kemudian merubah aturan haji sehingga tidak mengijinkan orang luar Makkah untuk haji kecuali dengan memakai pakaian dari mereka. Jika tidak mendapatkan, maka melakukan thawaf dengan telanjang.

Kehidupan sosial kemasyarakatan dalam kaitannya dengan hubungan lain jenis pun sangat rendah, khususnya di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Sampai-sampai pada salah satu cara pernikahan mereka, seorang wanita menancapkan bendera di depan rumah. Ini merupakan tanda untuk mempersilahkan bagi laki-laki siapa saja yang ingin ‘mendatanginya’. Jika sampai melahirkan, maka semua yang pernah melakukan hubungan dikumpulkan dan diundang seorang ahli nasab untuk menentukan siapa bapaknya, kemudian sang bapak harus menerimanya.

Poligami saat itu juga tidak terbatas, sehingga seorang laki-laki bisa menikahi wanita sebanyak mungkin. Bahkan sudah menjadi hal yang biasa seorang anak menikahi bekas istri ayahnya dengan mahar semau laki-laki. Jika perempuan itu tidak mau, maka laki-laki itu akan memaksa wanita itu untuk menikah kecuali dengan siapa yang diizinkan olehnya. Sehingga dalam banyak hal, wanita terdzalimi. Sampai yang tidak berdosapun merasakan kedzaliman itu, yaitu bayi-bayi wanita yang ditanam hidup-hidup karena takut miskin dan hina.

Tentunya, kenyataan yang ada lebih dari yang tergambar di atas. Meski tidak dipungkiri di sisi lain mereka memiliki sifat atau perilaku yang baik, namun itu semua lebur dalam kerusakan agama, moral yang bejat, yang di kemudian hari seluruhnya ditentang oleh Islam dengan diutusnya Rasullallah Shallallahu 'alaihi Wasallam sebagai pelita yang sangat terang bagi umat ini.
avatar
voorman
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 155
Kepercayaan : Islam
Location : voorwagens
Join date : 23.05.13
Reputation : 8

Kembali Ke Atas Go down

Re: kondisi masyarakat sebelum nabi muhammad diutus

Post by voorman on Sun May 26, 2013 6:37 am

Perlahan tapi pasti, Islam mulai memasuki rumah-rumah penduduk Makkah. Mulailah terbuka mata mereka, bahwa ini bukan main-main, dan pasti menjadi ancaman terhadap kedudukan mereka selama ini di mata seluruh kabilah Arab.

Pada mulanya penduduk Makkah memang tidak menggubris seruan dakwah ini. Akan tetapi setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit secara terang-terangan menyatakan celaan terhadap sesembahan dan keyakinan mereka, barulah mereka melakukan balasan dan tekanan. Berbagai upaya mereka lakukan untuk membendung dakwah Islam.

Di antara mereka ada yang mencoba membujuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melalui pamannya yang selama ini menjadi pelindung sekaligus sebagai ganti ayahandanya. Mereka meminta Abu Thalib agar menahan kegiatan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berdakwah.

Akhirnya mereka mengutus ‘Utbah bin Rabi’ah dan saudaranya Syaibah, Abu Sufyan Shakhr bin Harb, Abu Jahl ‘Amr bin Hisyam dan lain-lain, menemui Abu Thalib dan mengatakan, “Wahai Abu Thalib, keponakanmu mulai mencaci maki sesembahan kami, mencela agama kami, membodoh-bodohi dan menganggap sesat pemimpin dan nenek moyang kami. (Terserah padamu), apakah engkau akan menahannya dari kami atau kamu serahkan urusannya kepada kami...”

Abu Thalib memberi jawaban dengan tutur kata yang lembut dan bahasa yang menarik sehingga mereka pun berlalu meninggalkannya.

Ada pula kisah yang menyebutkan, setelah mereka mengungkapkan apa yang mereka rasakan kepada Abu Thalib, maka diapun segera memanggil Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemuinya, Abu Thalib berkata, “Hai anak saudaraku, mereka ini adalah para pemuka dan pemimpin kaummu. Mereka minta agar engkau menahan diri jangan mencaci maki sesembahan mereka dan mereka pun akan membiarkan engkau bersama sesembahanmu.”

Muhammad pun menjawab, “Wahai paman, mengapa tidak kau ajak mereka kepada yang lebih baik dari itu?” Kata Abu Thalib, “Apa yang akan engkau serukan kepada mereka?”

Beliaupun berkata, “Saya akan mengajak mereka untuk mengucapkan satu kalimat yang (kalau mereka ucapkan), maka seluruh kabilah Arab akan tunduk kepada mereka, dan bahkan mereka akan menjadi raja pula bagi orang-orang ‘ajam (non Arab).”

Tiba-tiba Abu Jahl berkata, “Kalimat apa itu, kami akan berikan kepada kamu sepuluh kali lipat dari itu?” Beliau menjawab, “Agar kalian mengucapkan (Tidak ada ilah selain Allah).” Serta merta mereka berpaling dan berkata, “Mintalah yang lain.” Kata beliau pula, “Seandainya kalian letakkan matahari di tanganku sehingga menghanguskannya, saya tetap tidak akan meminta kepada kalian apapun selain kalian mengucapkan kalimat ini.”

Akhirnya mereka berdiri dan pergi dalam keadaan murka sambil mengancam, “Demi Allah, kami pasti akan mencaci-makimu dan sesembahanmu yang menyuruhmu melakukan hal ini.”

Pergilah para pemuka itu kepada kaumnya seraya berkata, “Teruslah dan bersabarlah kalian beribadah kepada sesembahan kalian, sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang dikehendaki.”

Kaum Quraisy pun benar-benar melaksanakan ancamannya. Beberapa orang shahabat dari kalangan fuqara’ dan para budak menjadi sasaran mereka. Bilal bin Rabah, mendapat siksaan hebat dari majikannya Umayyah bin Khalaf. Setiap kali siksaan itu semakin hebat, Bilal hanya mengatakan, “Ahad (Allah Maha Esa), Ahad.”

Khabbab bin Al-Aratt disiksa oleh majikannya Ummu ‘Ammar Al-Khuza’iyyah, bahkan tega memanggang kepala Khabbab dengan besi panas membara. Juga ‘Ammar bin Yasir, ibunya Sumayyah dan ayahnya Yasir, tak luput dari penindasan dan siksaan sampai akhirnya Sumayyah gugur sebagai syuhada wanita pertama dalam Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri tidak luput dari perlakuan keji orang-orang kafir Quraisy. Setiap kali ada pemuka Quraisy yang bertemu dengan beliau, selalu mereka meludah di hadapannya, mengumpat beliau dan menaburkan kotoran ke wajahnya. Pernah pula beliau dicekik dan dibanting oleh sebagian pemuka tersebut.

Kadang apabila dalam keadaan sujud, punggung beliau dilumuri kotoran unta. Atau dilempari benda-benda najis. Namun Allah tetap menjaga dan memelihara beliau, dan menjadikan pamannya yang masih menganut agama kaumnya sebagai pembela dan penolong.

Adapun shahabat yang lain yang berasal dari kalangan budak dan orang-orang miskin, kalau mereka punya kerabat, maka itulah yang membela mereka, adapun yang tidak memiliki kerabat, semuanya merasakan gangguan keji dari para pemuka Quraisy itu.

Namun semua ini adalah sunnatullah (ketetapan Allah) yang berlaku pada hamba-hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Tidaklah ada yang dikatakan kepadamu melainkan adalah apa yang juga sesungguhnya telah dikatakan kepada para Rasul sebelum kamu. Sesungguhnya Rabb-mu benar-benar mempunyai ampunan dan hukuman yang pedih.” (Fushshilat: 43)

“Demikianlah tidak seorang Rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: ‘Ia adalah tukang sihir atau orang gila.’ Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.” (Adz-Dzariyat: 52-53)

Dengan semua ujian ini, Allah subhanahu wa ta’ala menaikkan derajat Nabi-Nya dan para pengikutnya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (ujian) seperti yang dialami orang-orang sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah (datangnya) pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat.” (Al-Baqarah: 214).

Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa ia dibiarkan saja mengatakan ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Dia mengetahui pula orang-orang yang berdusta (hingga firman-Nya): Dan sungguh Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman dan sungguh Dia mengetahui orang-orang yang munafik.” (Al-‘Ankabut: 1-11)

Maka hendaklah setiap orang memperhatikan susunan ayat ini yang sarat dengan mutiara hikmah Ilahiyah. Karena pada hakekatnya, apabila diutus kepada manusia rasul-rasul, mereka berada di antara dua keadaan. Mengatakan “Kami beriman” atau tidak mengatakan demikian, bahkan terus-menerus di atas kesesatan dan kekafiran.

Dengan demikian, siapa yang mengatakan “Kami beriman”, maka Allah pasti mengujinya. Dan siapa yang tidak mengatakan hal ini, maka janganlah dia menyangka bahwa dia telah mengalahkan dan mengungguli Allah.

Siapa yang beriman kepada para Rasul dan mentaati mereka, maka musuh-musuhnya akan menyerang dan menyakitinya. Sedangkan kalau dia tidak beriman dan tidak mentaati para Rasul tersebut, maka pasti dia akan menerima balasan yang buruk di dunia dan akhirat. Akan tetapi kesudahan yang baik hanyalah bagi mereka yang beriman dan bertakwa.
Wallahu a’lam bish shawab.
avatar
voorman
SERSAN SATU
SERSAN SATU

Male
Posts : 155
Kepercayaan : Islam
Location : voorwagens
Join date : 23.05.13
Reputation : 8

Kembali Ke Atas Go down

Re: kondisi masyarakat sebelum nabi muhammad diutus

Post by SEGOROWEDI on Sun May 26, 2013 10:21 am

@voorman wrote:Kehidupan bangsa Arab sebelum diutusnya Rasulullah berada dalam kekacauan yang luar biasa. Mereka menyekutukan Allah, banyak berbuat maksiat, tidak memiliki norma, percaya kepada khurafat, dan berbagai bentuk kebobrokan moral lain.

omong kosong..
justeru toleransinya sangat tinggi
sama-sama menempatkan sesembahannya di kaabah
tanpa ada yang memaksakan a la 9:29

soal maksiat blablabla
jaman sekarangpun kondisinya seperti itu

SEGOROWEDI
BRIGADIR JENDERAL
BRIGADIR JENDERAL

Posts : 43894
Kepercayaan : Protestan
Join date : 12.11.11
Reputation : 124

Kembali Ke Atas Go down

Re: kondisi masyarakat sebelum nabi muhammad diutus

Post by mutiiiara on Tue Mar 11, 2014 11:45 pm

Jaman jahiliyah, sesama setan dan ibllis bersekutu melawan kebenaran Islam.

ada bukan tuhan disembah jadi tuhan, kalau punya anak perempuan langsung dikubur hidup-hidup karena dianggap aib, dll

tradisi jahiliyah
avatar
mutiiiara
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Female
Posts : 1083
Kepercayaan : Islam
Location : DKI
Join date : 10.03.14
Reputation : 11

http://www.IslamtrulyISLAM.blogspot.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: kondisi masyarakat sebelum nabi muhammad diutus

Post by jaesuechong on Sun Dec 07, 2014 2:38 pm

menurut saya zaman sebelum nabi di utus adalah kontras dari setelah nabi di utus.
Hanya nabi utusan auloh yang berhak mengutarakan perkataan auloh, nabi utusan atau Rasulullah tidak dapat di cela sebagaimana auloh.

jaesuechong
KOPRAL
KOPRAL

Male
Age : 21
Posts : 48
Kepercayaan : Islam
Location : air molek
Join date : 07.12.14
Reputation : 1

http://trulyislam.blogspot.sg

Kembali Ke Atas Go down

Re: kondisi masyarakat sebelum nabi muhammad diutus

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik