FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

memahami pemikiran iqbal

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

memahami pemikiran iqbal

Post by keroncong on Tue Nov 22, 2011 12:02 am

DALAM tata dunia baru yang belum terumuskan sejak runtuhnya Uni Soviet lebih dari satu dekade yang lalu, kita sangat prihatin dengan posisi Islam dan umat Islam. Keruntuhan Uni Soviet dan komunismenya, lenyapnya Perang Dingin, dan munculnya The Only Superpower AS, menggiring Islam dijadikan lawan berikutnya oleh AS.

Sementara itu, dunia Islam yang hampir di segala sektor sangat lemah dan terpuruk, jelas tidak berada dalam posisi yang bisa melawan secara militer bahkan sekadar bersikap menentang secara politik. Kasus Aljazair, Afganistan, belakangan, Irak dan (mungkin) Suriah, menunjukkan "inferioritas" Islam di hadapan AS. Salah satu lemahnya posisi dunia Islam di hadapan superpower AS adalah ketiadaan atau kelangkaan integritas, moralitas, intelektualitas, dan kapabilitas khususnya pada diri para pemimpin dunia Islam.

Tanggal 21 April 65 tahun yang lalu sang pemikir dan penyair besar dunia Islam asal Pakistan (sebelum 1947 termasuk India) wafat dengan meninggalkan pemikiran tentang dunia Islam dan kaum Muslim, termasuk gagasannya tentang pendirian negara bagi kaum Muslim India yang bebas dari dominasi non-Muslim India. Pemikiran terakhir ini mengilhami para aktivis-nasionalis Muslim mewujudkan berdirinya negara Pakistan, seperti Ali Jinnah. Mengenang begitu besar jasa Iqbal bagi dunia Islam, dalam kesempatan ini tidak ada salahnya jika kita meninjau kembali butir-butir pemikirannya yang cemerlang.

**

Iqbal (1877-1938) "beruntung" lahir dan dibesarkan di bagian dunia yang memiliki sejarah yang penuh dinamika, anak Benua India, dinamika yang memengaruhi dinamisme pemikiran Iqbal nantinya. Anak benua itu adalah tempat kelahiran agama besar dunia, Hindu. Dalam sejarah panjang Hindu, telah lahir banyak pemikir dan orang bijak. Di kawasan itu pula kekuasaan Islam (Kesultanan Mughal) pernah bercokol sejak abad ke-16 yang berhasil mengislamkan sekitar seperempat penduduknya. Dinamika lain kawasan ini adalah faktor kolonialis Inggris yang mendominasi penduduk India melalui modernitas ilmu pengetahuan dan teknologinya.

Latar pemikiran Iqbal tak terlepas dari kondisi kaum Muslim India khususnya dan dunia Islam umumnya waktu itu (sejak zaman modern abad ke-19 hingga awal abad ke-20). Sejak Pemberontakan India 1857, kaum Muslim India terpinggirkan dari elite kekuasaan India dan mendapat tekanan berat dari kolonialis Inggris. Di sisi lain, seperti negeri jajahan lainnya, India terbelakang, terlemahkan, terpecah antaretnis, dan antaragama, serta inferior di hadapan salah satu kolonialis besar dunia. Dalam keadaan demikian, kaum Muslim di India tergolong minoritas yang mendapat tekanan dari mayoritas Hindu. Ajaran dan praktik-praktik Hinduisme yang sudah "merakyat" pra-Islam di Anak Benua ini, sedikit atau banyak, berpengaruh.

Iqbal lahir, tumbuh, dan dididik dalam situasi dan kondisi kaum Muslim India seperti itu. Tak pelak lagi, pemikiran Iqbal bisa dilacak, setidaknya, dari tiga tradisi besar dunia yang "menguasai" India masa itu, Islam, Hinduisme, dan barat.

Islam di kawasan India Selatan masa itu melahirkan banyak pembaru dan pemikir. Namun, kita singgung dua tokoh pembaru penting yang disebut-sebut berpengaruh pada Iqbal, Syah Waliullah dan Sayyid Ahmad Khan.

Keterbelakangan, kemerosotan, dan kelemahan kaum Muslim India yang sudah terasakan sejak kemunduran kekuasaan Mughal, menyadarkan seorang ulama Islam yang hidup pada abad ke-18, Syah Waliullah (1703-1762). Ide pembaruan Waliullah, sebagian, memberikan ilham bagi Iqbal. Yang terpenting dan punya benang merah adalah pandangannya bahwa masyarakat bersifat dinamis. Dinamisme itu juga harus dimiliki orang dan kaum Muslim. Penafsiran terhadap ajaran universal Islam untuk suatu zaman tidak selalu sesuai untuk zaman selanjutnya. Itu berarti, taklid buta pada tradisi -- penafsiran tradisional -- harus ditentang dan, untuk itu, ijtihad diperlukan.

Konsekuensi logisnya, kaum Muslim harus kembali kepada sumber asli ajaran Islam universal (Alquran dan Sunnah) alih-alih buku tafsir, fikih, dan sebagainya. Waliullah juga melancarkan kecamannya pada sistem kerajaan -- yang otokratis -- dan mengusulkan kembali pada sistem kekhalifahan empat khalifah Islam awal -- yang demokratis. Mengikuti Waliullah, sebenarnya juga para pembaru Islam lain di kawasan lain, Iqbal menawarkan ijtihad yang penuh tanggung jawab, menafsirkan kembali Alquran dan Sunnah, serta menerapkan deduksi analitis untuk menghasilkan penafsiran tersebut. Dinamisme pikiran dan hidup Iqbal tertangkap dari kata-katanya, "hidup ini adalah gerak, berjuang" ini adalah hukum tetap dunia!

Seperti para pemikir Muslim India umumnya, Iqbal tidak bisa lepas dari pengaruh Sayyid Ahmad Khan (1817-1898), pemikir dan aktivis Muslim India, pemeran utama Pemberontakan 1857. Ahmad Khan, sebagai dampak kegagalannya, mendirikan Gerakan Aligarkh (kemudian menjadi kolese lalu universitas) yang memiliki agenda antara lain memperbarui penafsiran Islam, mengadopsi pendidikan Barat, memodernkan budaya Muslim, dan menganjurkan kaum Muslim bekerja sama dengan Inggris untuk mendapatkan bagian yang adil dalam pembagian dan politik India. Dari Ahmad Khan, Iqbal menyerap gagasan penafsiran yang lebih rasional terhadap Islam dan gagasan keadilan politik di anak Benua India. Keduanya adalah unsur-unsur modernisme Islam.

Iqbal, meskipun sebenarnya kurang antusias, kemudian terlibat dalam kancah politik. Pemikiran politiknya yang monumental, khususnya bagi bangsa Pakistan modern, dikemukakan dalam pidato Liga Muslim se-India 1930, yaitu mengenai konsep dua bangsa di India. Isi pidato ini, pada gilirannya menjadi basis konseptual bagi negera Pakistan dan nasionalisme Muslim (pembebasan nasional kaum Muslim) di India. Meskipun demikian, Iqbal tak terlalu menyokong nasionalisme sebagai paham atau ideologi.

Simak penjelasan yang disampaikan Iqbal kepada Nehru yang mempertanyakan posisinya terhadap nasionalisme berikut ini: "Nasionalisme dalam arti cinta negara -- siap mati demi kehormatannyam -- merupakan sebagian dari iman, nasionalisme bertentangan dengan Islam jika mulai berperan sebagai konsep politik dan klaim -- bahwa Islam harus menjadi sekadar opini pribadi bukan lagi faktor vital dalam kehidupan nasional."

Dari tradisi Hindu, Iqbal menemukan beberapa butir bijak mistisisme Hindu dari mistikusnya. Pengalaman mistis keagamaan dan ketuhanan, boleh jadi bersifat universal. Dengan demikian, dalam banyak hal, mistisisme Hindu dan juga mistisisme agama-agama besar lainnya dapat bertemu dengan mistisisme Islam. Mistisisme memengaruhi karier kepenyairan Iqbal selanjutnya dan semakin mengasah tajam bakat kepenyairannya. Dalam pengalaman mistik ketuhanan dan keagamaan, Jahan Dost, seorang resi India, dapat "duduk semeja" dengan Jalaluddin Rumi atau Al-Hallaj.

Iqbal, meskipun sangat mengagumi Rumi dan menempatkannya sebagai pemandu perjalanan mistiknya ke hadirat Illahi sebagaimana terungkap dalam Javid Namah (Pustaka Jaya, 2002) juga menyempatkan berkonsultasi dengan orang bijak itu. Lihat amsal-amsal sang resi dalam Javid Namah, "Dunia ini bukan cadar yang menyelubungi Tuhan, bayang-bayang di air bukan rintangan buat menyelam/Sungguh menyenangkan lahir ke dunia lain itu karena dengan begitu dapat diperoleh keremajaan baru/Bergelimang dengan lumpur membuat benih menjadi pohon besar, manusia yang bergelimang dengan lumpur akan dipandang cemar. Dari lumpur sang benih mendapat tempaan yang meliuk-tekuk dirinya, sehingga ia dapat menjadikan sinar matahari sebagai mangsanya."

Meskipun demikian, terhadap kecenderungan mistisisme Timur umumnya Iqbal juga memberikan kritik tajam, "Timur melihat Tuhan dan tidak melihat dunia." Dengan perkataan tersebut, Iqbal ingin menyebut keterpurukan, kelemahan, dan kemuduran timur akibat pilihan mereka untuk tidak melibatkan diri di dunia sehingga diambil oleh bangsa barat. Iqbal emoh terhadap timur yang tenggelam di gubuk-gubuk terpencil jauh dari dunia ramai.

Iqbal berjumpa dengan Barat melalui pendidikannya di Kolese Pemerintah Lahore dan khususnya dari gurunya, Sir Thomas Arnold Toynbee -- orientalis yang menguasai secara mendalam kebudayaan Islam dan Arab serta filsafat barat. Persentuhannya dengan filsafat barat lebih intens ketika Iqbal mendapat kesempatan melanjutkan studi di Eropa. Rasionalisme dan kritisisme rasional Barat mengasah pemikirannya dan mengantarkan Iqbal menjadi pemikir Muslim yang handal dengan penguasaan filsafat barat cukup baik.

Dengan semangat filosofis dan rasional ini, Iqbal menyusun karya-karya prosanya, terutama Reconstruction of Religious Thought in Islam, kumpulan tujuh kuliah di Madras tahun 1928. Gagasan Iqbal yang lahir dari perjumpaan dengan barat adalah obsesinya "untuk meletakkan dasar-dasar bagi agama dan ilmu untuk menemukan keharmonisan sehingga memungkinkan kaum Muslim belajar ilmu modern dan memanfaatkan teknologi guna meningkatkan eksistensi materialnya". Selain itu, sejak pulang kembali dari Eropa menggondol gelar Ph.D., dalam diri Iqbal tertanam semangat untuk memadukan timur dan barat yang meneladani alur pikir modernis Muslim lainnya.

Meskipun demikian, ia juga mengajukan kecaman keras pada budaya materialisme barat yang dinilainya dekaden. Secara ringkas, Iqbal, dipandu Rumi, menyebut bahwa "barat lari dari Tuhan dan merangkak di dunia".

**

Namun, di antara semua pemikiran Iqbal yang paling monumental adalah konsepnya tentang diri, the self atau ego. Bila dikaji, problem yang dihadapi kaum Muslim, baik pada masa Iqbal maupun sekarang, berasal dari inferioritas "diri" kaum Muslim, baik sebagai pribadi maupun komunitas, di hadapan dunia barat khususnya. Mengatasi masalah kaum Muslim pun dapat dilakukan lewat upaya transformasi diri atau reformasi diri. Dengan mengubah diri dan mereformasi diri menjadi manusia Muslim bebas dari segala ketertindasan, kelemahan, keterpurukan, dan keterbelakangan, suatu kebebasan dan kemerdekaaan yang masih relevan dalam tata dunia yang sangat timpang sekarang ini.

Berangkat dari eksistensi "diri" yang unik yang diakui pula banyak filosof barat. Iqbal sampai pada pemikiran bahwa diri yang merupakan pilihan Tuhan dan khalifah-Nya di bumi haruslah berevolusi hingga mencapai puncak kebebasannya dari belenggu-belenggu diri, dunia, materi juga pemikiran, barat dan timur. Puncak diri itulah yang ia sebut sebagai insan kamil. Secara ekstensial, konsep insan kamil mirip dengan ubermensh-nya filosof Jerman Nietszche minus unsur-unsur ilahiah. Atau, dalam proses kreatifnya, mirip dengan konsep "kebenaran kreatif"-nya Al-Hallaj, "Aku adalah Kebenaran Kreatif." Insan kamil, bagi Iqbal adalah mitra Tuhan atau Tuhan kecil atau co-Creator di muka bumi ini.

Jika Tuhan menciptakan bijih besi, manusia membuat pedang; jika Tuhan menciptakan minyak jarak, manusia membuat pelita. Namun, evolusi yang dimaksud di sini bukanlah evolusi fisik-naturalistik yang pasif-fatalistik, melainkan evolusi pikiran-jiwa yang aktif-dinamis. Evolusi itu dilukiskan dengan sangat indah dalam perjalanan mistiknya, "Javid Namah", yang meneladani perjalanan Isra-Mi`raj Nabi Muhammad. Zinda Rud atau "arus yang hidup", julukan bagi dirinya (juga diri orang lain yang mengikuti jejaknya dan yang menerima idenya), berbekal semangat filosofis dan pencerahan mistis, dipandu Rumi, naik ke langit terjauh hingga mendekati Hadirat Ilahi.

Akan tetapi, perjalanan mistik tidak pernah akan berhenti karena yang ditempuh adalah jarak tak berhingga untuk sampai ke Hadirat-Nya itu. Bagi pelaku perjalanan atau sang pengembara yang tahu rahasia-rahasia perjalanan, ia "takut akan tempat menetap lebih dari penyamun di jalanan"'. Karena tempat menetap itu, boleh jadi, bukan tempat tujuan yang sebenarnya, bukan pula surga yang menjadi tujuannya.

Oleh sebab itu, diri Iqbal pun terus melanjutkan perjalanan dan geraknya sampai entah di mana dan kapan, tidak juga mati. "Ego"-nya pun "kembali" ke dunia kehidupannya sehari-hari tetapi dengan bekal jauh lebih kaya akibat "pertemuan"-nya dengan Super-Ego. Bukankah Nabi Muhammad pun kembali ke bumi, setelah dia "bertemu" dengan Rabb-nya? Bukankah kita pun harus "turun" kembali ke negeri kita setelah "naik" haji ke Tanah Suci? Bukankah kita pun harus "bertebaran di muka bumi untuk mencari fadilah Allah" setelah "menunaikan salat Jumat" (Alquran, aljumah).

**

Akhirulkalam, pemikiran khas Iqbal yang melahirkan dinamisme Islam di India dan niscaya masih relevan dengan keadaan kontemporer kita sekarang ini seolah menyerukan hendaknya kaum Muslim senantiasa bergerak, bekerja, berpikir dan bertafakur, serta menganjurkan agar jangan diam, pasif, nrimo, dan pasrah. Menurutnya, seharusnya juga kita adopsi, intisari hidup adalah dinamika, gerak. Sedangkan aturan atau hukum hidup adalah mencipta. Oleh sebab itu, untuk mengubah dan menciptakan tata dunia baru yang lebih seimbang dan adil sekarang ini, kaum Muslim di seluruh dunia harus bangun dan menciptakan dunia baru yang dicita-citakan seluruh umat manusia. ***
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 64
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 67

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik