FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Selamat Hari Raya Galungan-Kuningan-Waisak dalam perspektif Islam

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Selamat Hari Raya Galungan-Kuningan-Waisak dalam perspektif Islam

Post by abu hanan on Thu Aug 30, 2012 11:52 am

http://www.laskarislam.com/t3283-selamat-natal-menurut-qur-an#33815

@mang odoy wrote:
@dee-nee wrote:Mau tanya ... kalo bilang Selamat Hari Raya Galungan atau Selamat Hari Raya Waisak boleh ga sih menurut akidah ?

[ngeles mode on:
nah...kalo yang ini tugasnya simbah abu yang ahli dalam bidang perhinduan dan berbudaan.. [ngeles mode off]


ketiwi
kilas sejarah.........
sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti.

Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan:

Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.

Artinya: Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka.

Makna Filosofis Galungan

Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia.

Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan.

Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma.

dirayakan pada setiap hari Rabu Kliwon wuku Dungulan, di samping merupakan peringatan kemenangan dharma (kebenaran) atas adharma (kebatilan),dan juga sebagai rasa cetusan kebebasan dan belenggu dan merupakan hari untuk memperingati kebenaran (dharma) terhadap ketidakbenaran (adharma), sehlngga Galungan dapat merupakan suatu perjuangan hidup, yakni peijua ngan manusia di dalam mempertahan kan hidupnya dan untuk mewujudkan cita-citanya dengan menegakkan kebenaran, baik ke dalam dirinya maupun keluar terhadap alam lingkungannya.

juga bahwa Galungan tersebut memperingati umat hindu selalu sadar dan waspada terhadap usaha Sad Ripu dan berbagai nafsu yang tergolong jahat yang digambarkan sebagai tiga Bhuta Kala,yaitu ;
1.Sang Kala Galungan,
2.Sang Kala Dungulan
3.Sang Kala Amangkurat.

Diceritakan bahwa ketiga Bhuta ini, secara bergiliran ingin menyerang manusia, yakni mulai terjadi tiga hari secara berturut-turut sebelum Galungan dirayakan. , terjadi penyerangan oleh Sang Kala Galungan. Selanjutnya pada waktu Senin Pon Wuku Dungulan (besoknya), penyerangan dilakukan oleh Sang Kala Dungulan. Sedangkan Sang Kala Amangkurat, melaksanakan penyerangannya pada hari Selasa Wage Wuku Dungulan (sehari sebelum hari raya Galungan)

http://www.denpasarkota.go.id/main.php?act=i_opi&xid=58
Hendaklah kita berani merombak kesalahan-kesalahan/ kekeliruan-kekeliruan drsta lama yang nyata-nyata tidak sesuai atau bertentangan dengan ajaran susila. Agama disesuaikan dengan desa, kala dan patra. Selanjutnya oleh umat Hindu di Bali dilakukan persernbahyangan bersama-sama ke semua tempat persembahyangan, misalnya: di sanggah/ pemerajan, di pura-pura seperti pura-pura Kahyangan Tiga dan lain-lainnya. Sedangkan oleh para spiritualis, Hari Raya Galungan ini dirayakan dengan dharana, dyana dan yoga semadhi.

Persembahan dihaturkan ke hadapan Ida Sanghyang Widhi dan kepada semua dewa-dewa dan dilakukan di sanggah parhyangan, di atas tempat tidur, di halaman, di lumbung, di dapur, di tugu (tumbal), di bangunan-bangunan rumah dan lain-lain.
Seterusnya di Kahyangan Tiga, di Pengulun Setra (Prajapati), kepada Dewi Laut (Samudera) Dewa Hutan (Wana Giri) di perabot-perabot / alat-alat rumah tangga dan sebagainya.

bersambyung.......


Terakhir diubah oleh abu hanan tanggal Thu Aug 30, 2012 12:27 pm, total 2 kali diubah


untuk orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas
maka kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang luas
avatar
abu hanan
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Age : 84
Posts : 7999
Kepercayaan : Islam
Location : soerabaia
Join date : 06.10.11
Reputation : 224

Kembali Ke Atas Go down

Re: Selamat Hari Raya Galungan-Kuningan-Waisak dalam perspektif Islam

Post by abu hanan on Thu Aug 30, 2012 12:11 pm

lontar Sanghyang Aji Swamandala menyebutkan;

"Nihan Bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali, poma haywa lali elingakna. Yan tekaning sasih Kapitu, anemu wuku Dungulan mwang tilem ring Galungan ika, tan wenang ngegalung wong Baline, Kala Rau ngaranya yan mengkana. Tan kawasa mabanten tumpeng. Mwah yan anemu sasih Kesanga, rah 9 tenggek 9, tunggal kalawan sasih Kapitu, sigug ya mengaba gering ngaran. Wenang mecaru wong Baline pabanten caru ika, nasi cacahan maoran keladi, yan tan anuhut ring Bhatara ring Dalem yanya manurung, moga ta sira kapereg denira Balagadabah".

Artinya: Inilah petunjuk Bhatara di Pura Dalem (tentang) kotornya hari (hari buruk) bagi manusia, semoga tidak lupa, ingatlah. Bila tiba sasih Kapitu bertepatan dengan wuku Dungulan dan Tilem, pada hari Galungan itu, tidak boleh merayakan Galungan, Kala Rau namanya, bila demikian tidak dibenarkan menghaturkan sesajen yang berisi tumpeng. Dan bila bertepatan dengan sasih Kasanga rah 9, tenggek 9 sama artinya dengan sasih kapitu. Tidak baik itu, membawa penyakit adanya. Seyogyanya orang mengadakan upacara caru yaitu sesajen caru, itu nasi cacahan dicampur ubi keladi. Bila tidak mengikuti petunjuk Bhatara di Pura Dalam (maksudnya bila melanggar) kalian akan diserbu oleh Balagadabah.

dua sumber pustaka lontar yang berbahasa Jawa Kuna menjelaskan tentang Galungan Nara Mangsa. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Galungan Nara Mangsa disebutkan "Dewa Mauneb bhuta turun" yang artinya, Dewa tertutup (tapi) Bhutakala yang hadir.

Ini berarti Galungan Nara Mangsa itu adalah Galungan raksasa, pemakan daging manusia. Oleh karena itu pada hari Galungan Nara Mangsa tidak dilangsungkan upacara Galungan sebagaimana mestinya terutama tidak menghaturkan sesajen "tumpeng Galungan". Pada Galungan Nara Mangsa justru umat dianjurkan menghaturkan caru, berupa nasi cacahan bercampur keladi. Demikian pengertian Galungan Nara Mangsa.

Bagemana Galungan di India?
ada perayaan yg bermakna sama dan boleh jadi hindu nusantara terinspirasi olehnya.

Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula "Hari Raya Dasara". Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan. Sebelum puncak perayaan, selama sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara yang disebut Nawa Ratri (artinya sembilan malam). Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Nawa Ratri lebih menekankankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma.

Pada hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. Wijaya Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan, kemeriahan dan kesemarakan untuk masyarakat luas.

Perayaan Wijaya Dasami dirayakan dua kali setahun dengan perhitungan tahun Surya. Perayaan dilakukan pada bulan Kartika (Oktober) dan bulan Waisaka (April). Perayaan Dasara pada bulan Waisaka atau April disebut pula Durgha Nawa Ratri. Durgha Nawa Ratri ini merupakan perayaan untuk kemenangan dharma melawan adharma dengan ilustrasi cerita kemenangan Dewi Parwati (Dewi Durgha) mengalahkan raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh Mahasura yaitu lembu raksasa yang amat sakti. Karena Dewi Parwati menang, maka diberi julukan Dewi Durgha. Dewi Durgha di India dilukiskan seorang dewi yang amat cantik menunggang singa. Selain itu diyakini sebagai dewi kasih sayang dan amat sakti.

Pengertian sakti di India adalah kuat, memiliki kemampuan yang tinggi. Kasih sayang sesungguhnya kasaktian yang paling tinggi nilainya. Berbeda dengan di Bali. Kata sakti sering diartikan sebagai kekuatan yang berkonotasi angker, seram, sangat menakutkan.

begitu pula upacara yg lain yang bermakna sama dan tujuan yg sama,yaitu upacara Wijaya Dasami pada bulan Kartika (Oktober) disebut Rama Nawa Ratri.

Pada Rama Nawa Ratri pemujaan ditujukan pada Sri Rama sebagai Awatara Wisnu. Selama sembilan malam umat mengadakan kegiatan keagamaan yang lebih menekankan pada bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan rohani dan menguasai, keganasan hawa nafsu. Pada hari kesepuluh atau hari Dasara, umat merayakan Wijaya Dasami atau kemenangan hari kesepuluh. Pada hari ini, kota menjadi ramai. Di mana-mana, orang menjual panah sebagai lambang kenenangan.

Umumnya umat membuat ogoh-ogoh berbentuk Rahwana, Kumbakarna atau Surphanaka. Ogoh-ogoh besar dan tinggi itu diarak keliling beramai-ramai. Di lapangan umum sudah disiapkan pementasan di mana sudah ada orang yang terpilih untuk memperagakan tokoh Rama, Sita, Laksmana dan Anoman.

selanjutnyah....
bagemana akidah islam menyikapi selamat hari galungan?
sayah pikir uda jelas haramnyah karena terkait erat dengan persembahan kepada berhala.kalo masalah dalil pengharaman seh kang ht mungkin bisa bantu berdasarkan tulisan diatas.


untuk orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas
maka kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang luas
avatar
abu hanan
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Age : 84
Posts : 7999
Kepercayaan : Islam
Location : soerabaia
Join date : 06.10.11
Reputation : 224

Kembali Ke Atas Go down

Re: Selamat Hari Raya Galungan-Kuningan-Waisak dalam perspektif Islam

Post by abu hanan on Thu Aug 30, 2012 12:19 pm

ada yg terlewat...
http://www.denpasarkota.go.id/main.php?act=i_opi&xid=58

Widhi-widhananya untuk di Sanggah/ parhyangan ialah: Tumpeng penyajaan, wewakulan, canang raka, sedah woh, penek ajuman, kernbang payas serta wangi-wangian dan pesucian. Untuk di persembahyangan (piasan) dihaturkan tumpeng pengambean, jerimpen, pajegan serta dengan pelengkapnya.

Lauk pauknya sesate babi dan daging goreng, daging itik atau ayarn, dibuat rawon dan sebagainya. Sesudah selesai menghaturkan upacara dan upakara tersebut kemudian kita menghaturkan segehan tandingan sebagaimana biasanya, untuk pelaba-pelaba kepada Sang Para Bhuta Galungan, sehingga karena gembiranya mereka lupa dengan kewajiban- kewajibannya mengganggu dan menggoda ketentraman batin manusia.

Demikianlah hendaknya Hari Raya Galungan berlaku dengan aman dan diliputi oleh suasana suci hening, mengsyukuri limpahan kemurahan Ida Sanghyang Widhi untuk keselamatan manusia dan seisi dunia.

Pada hari Saniscara Keliwon Wuku Kuningan (hari raya atau Tumpek Kuningan), Ida Sanghyang Widhi para Dewa dan Pitara-pitara turun lagi ke dunia untuk melimpahkan karuniaNya berupa kebutuhan pokok tersebut.

Pada hari itu dibuat nasi kuning, lambang kemakmuran dan dihaturkan sesajen-sesajen sebagai tanda terimakasih dan suksmaning idep kita sebagai manusia (umat) menerima anugrah dari Hyang Widhi berupa bahan-bahan sandang dan pangan yang semuanya itu dilimpahkan oleh beliau kepada umatNya atas dasar cinta-kasihnya.

Di dalam tebog atau selanggi yang berisi nasi kuning tersebut dipancangkan sebuah wayang-wayangan (malaekat) yang melimpahkan anugrah kemakmuran kepada kita semua.

Demikian secara singkat keterangan-keterangan dalam merayakan hari Raya Galungan dan Kuningan dalam pelaksanaan dari segi batin.
ya uda lah...gak perlu kita hadirkan dalil al quran maupun hadits untuk keharaman "Selamat hari raya galungan dan kuningan"...



untuk orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas
maka kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang luas
avatar
abu hanan
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Age : 84
Posts : 7999
Kepercayaan : Islam
Location : soerabaia
Join date : 06.10.11
Reputation : 224

Kembali Ke Atas Go down

Re: Selamat Hari Raya Galungan-Kuningan-Waisak dalam perspektif Islam

Post by dee-nee on Fri Aug 31, 2012 10:21 pm

Begini mbah ... (hehehe) anggap aja saya anak nakal yang musti dipentungin karena ngeyel and nanya terus ...

Selamat Natal, Selamat Galungan, Selamat Waisak, Selamat Tahun Baru, Selamat Ulang Tahun, Selamat Atas Kelahiran Putrinya yang Cantik, Selamat Menempuh Hidup Baru, Selamat Ya Anda Lulus, Selamat Boss Proyeknya Lolos, Selamat Jalan ....

dan selamat2 lainnya ....

Bagaimana bila kita mengucapkan kata selamat itu hanya untuk memberi apresiasi akan kebahagiaan yang sedang dirasakan orang tersebut .... tanpa harus ada embel2 dibelakangnya ...

misalnya bila saya mengucapkan .... Selamat Menempuh Hidup Baru
(walaupun dalam hati saya tidak suka nih pasangan nikah) ... tapi karena temen ... yah Selamat Menempuh Hidup Baru ... tidak akan mempengaruhi/merubah otak saya bahwa saya tetep tidak suka pasangan ini nikah

Apakah ini artinya saya munafik?

Saya tau mungkin ada yang akan bilang ... masalah akidah dan keyakinan tidak boleh disamakan dengan hal2 sepele seperti mengucapkan Selamat Menempuh Hidup Baru

Hal2 seperti ini saya tanya ... karena waktu saya tanya teman "Eh kenapa sih ga boleh bilang Selamat Natal?" Trus gimana kalau mau memberi apresiasi kepada mereka?"

dia jawab "yah bilang aja Selamat" ... ga usah bilang "Selamat Natal"

Saya bingung .... karena apa bedanya ??
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: Selamat Hari Raya Galungan-Kuningan-Waisak dalam perspektif Islam

Post by abu hanan on Sat Sep 01, 2012 1:43 pm

@dee-nee wrote:Begini mbah ... (hehehe) anggap aja saya anak nakal yang musti dipentungin karena ngeyel and nanya terus ...

Selamat Natal, Selamat Galungan, Selamat Waisak, Selamat Tahun Baru, Selamat Ulang Tahun, Selamat Atas Kelahiran Putrinya yang Cantik, Selamat Menempuh Hidup Baru, Selamat Ya Anda Lulus, Selamat Boss Proyeknya Lolos, Selamat Jalan ....

dan selamat2 lainnya ....

Bagaimana bila kita mengucapkan kata selamat itu hanya untuk memberi apresiasi akan kebahagiaan yang sedang dirasakan orang tersebut .... tanpa harus ada embel2 dibelakangnya ...

misalnya bila saya mengucapkan .... Selamat Menempuh Hidup Baru
(walaupun dalam hati saya tidak suka nih pasangan nikah) ... tapi karena temen ... yah Selamat Menempuh Hidup Baru ... tidak akan mempengaruhi/merubah otak saya bahwa saya tetep tidak suka pasangan ini nikah

Apakah ini artinya saya munafik?

Saya tau mungkin ada yang akan bilang ... masalah akidah dan keyakinan tidak boleh disamakan dengan hal2 sepele seperti mengucapkan Selamat Menempuh Hidup Baru

Hal2 seperti ini saya tanya ... karena waktu saya tanya teman "Eh kenapa sih ga boleh bilang Selamat Natal?" Trus gimana kalau mau memberi apresiasi kepada mereka?"

dia jawab "yah bilang aja Selamat" ... ga usah bilang "Selamat Natal"

Saya bingung .... karena apa bedanya ??

mau ucapin "selamat" aja atow "selamat LENGKAP" tetap aja memberi pengertian ;
1.kita turut berbahagia
2.kita setuju dengan ide mereka

oleh karena itu baik ucapan selamat hari raya maupun selamat happy besde tetap aja inti dan kerangka ada pada ;
rasa simpati dan setuju...

sedangkan kategori munafik seperti neng dee tulis diatas....berdegup neh....dag dig dug....
.
.
.
.
menjadi munafik dalam hal agama (yg dikamsut syari yah) itu diharamkan..
sedangkan ucapan selamat menempuh hidup baru dan sebagenyah (meski kita gak rela...gak rela...gak rela....) tiada dapat dimasukkan ke kategori HARAM..

mengafa?
dalam pandangan tasawuf..menyinggung perasaan orang lain/menjadikan dia kecewa adalah suatu perbuatan dosa.

Diriwayatkan Ibnu Abbas ra, Rasulullah saw bersabda, ''Barangsiapa di kampung dunia menyenangkan hati saudara Islamnya, maka Allah menciptakan malaikat untuk menolak bahaya darinya. Dan kelak jika hari kiamat telah tiba, maka malaikat menjadi temannya."

sehingga rasa tidak rela...tak rela....meliat dia bersanding dengan orang laen harus dibinasakan dengan menerima ikhlas bahwa emang dia jodohnyah dan sebagenyah..

apakah lantas dengan tak rela...tak rela...itu akhirnyah menjadikan dia menjadi pasangan kita?yah nasi uda jadi padi dunk!!!

Suatu ketika, Rasulullah ditanya oleh sahabatnya, “Perbuatan apakah yang paling mulia?” Beliau menjawab, “Menyenangkan saudaramu yang Muslim.” (HR Baihaqi dari Abu Hurairah)

Sesama Muslim pada hakikatnya adalah bersaudara. Rasulullah bersabda, “Sesama Muslim itu bersaudara. Karena itu, janganlah ia menzalimi saudaranya, atau membiarkannya dizalimi.” (HR Bukhari dari ‘Abdullah bin ‘Umar)

dan kategori TIDAK MENZHALIMI adalah tidak menyinggung perasaan sodaranyah itu...

gak rela tapi WAJIB menegakkan sunnah,karena pada gak rela itu ada bibit penyakit hati yg akhirnyah menjadi bisik2 tetangga..dari gak rela yg akhirnyah dipaksa SELAMAT MENIKAH dan sebagenyah itu dapat membasmi penyakit buruk sangka dan pemikiran2 negatif lainnyah sebagemana maaf menghilangkan dendam dan hujan membasahi bumi...............


yuhuii


untuk orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas
maka kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang luas
avatar
abu hanan
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Age : 84
Posts : 7999
Kepercayaan : Islam
Location : soerabaia
Join date : 06.10.11
Reputation : 224

Kembali Ke Atas Go down

Re: Selamat Hari Raya Galungan-Kuningan-Waisak dalam perspektif Islam

Post by dee-nee on Sat Sep 01, 2012 2:48 pm

@abu hanan wrote:
@dee-nee wrote:Begini mbah ... (hehehe) anggap aja saya anak nakal yang musti dipentungin karena ngeyel and nanya terus ...

Selamat Natal, Selamat Galungan, Selamat Waisak, Selamat Tahun Baru, Selamat Ulang Tahun, Selamat Atas Kelahiran Putrinya yang Cantik, Selamat Menempuh Hidup Baru, Selamat Ya Anda Lulus, Selamat Boss Proyeknya Lolos, Selamat Jalan ....

dan selamat2 lainnya ....

Bagaimana bila kita mengucapkan kata selamat itu hanya untuk memberi apresiasi akan kebahagiaan yang sedang dirasakan orang tersebut .... tanpa harus ada embel2 dibelakangnya ...

misalnya bila saya mengucapkan .... Selamat Menempuh Hidup Baru
(walaupun dalam hati saya tidak suka nih pasangan nikah) ... tapi karena temen ... yah Selamat Menempuh Hidup Baru ... tidak akan mempengaruhi/merubah otak saya bahwa saya tetep tidak suka pasangan ini nikah

Apakah ini artinya saya munafik?

Saya tau mungkin ada yang akan bilang ... masalah akidah dan keyakinan tidak boleh disamakan dengan hal2 sepele seperti mengucapkan Selamat Menempuh Hidup Baru

Hal2 seperti ini saya tanya ... karena waktu saya tanya teman "Eh kenapa sih ga boleh bilang Selamat Natal?" Trus gimana kalau mau memberi apresiasi kepada mereka?"

dia jawab "yah bilang aja Selamat" ... ga usah bilang "Selamat Natal"

Saya bingung .... karena apa bedanya ??

mau ucapin "selamat" aja atow "selamat LENGKAP" tetap aja memberi pengertian ;
1.kita turut berbahagia
2.kita setuju dengan ide mereka

oleh karena itu baik ucapan selamat hari raya maupun selamat happy besde tetap aja inti dan kerangka ada pada ;
rasa simpati dan setuju...

sedangkan kategori munafik seperti neng dee tulis diatas....berdegup neh....dag dig dug....
.
.
.
.
menjadi munafik dalam hal agama (yg dikamsut syari yah) itu diharamkan..
sedangkan ucapan selamat menempuh hidup baru dan sebagenyah (meski kita gak rela...gak rela...gak rela....) tiada dapat dimasukkan ke kategori HARAM..

mengafa?
dalam pandangan tasawuf..menyinggung perasaan orang lain/menjadikan dia kecewa adalah suatu perbuatan dosa.

Diriwayatkan Ibnu Abbas ra, Rasulullah saw bersabda, ''Barangsiapa di kampung dunia menyenangkan hati saudara Islamnya, maka Allah menciptakan malaikat untuk menolak bahaya darinya. Dan kelak jika hari kiamat telah tiba, maka malaikat menjadi temannya."

sehingga rasa tidak rela...tak rela....meliat dia bersanding dengan orang laen harus dibinasakan dengan menerima ikhlas bahwa emang dia jodohnyah dan sebagenyah..

apakah lantas dengan tak rela...tak rela...itu akhirnyah menjadikan dia menjadi pasangan kita?yah nasi uda jadi padi dunk!!!

Suatu ketika, Rasulullah ditanya oleh sahabatnya, “Perbuatan apakah yang paling mulia?” Beliau menjawab, “Menyenangkan saudaramu yang Muslim.” (HR Baihaqi dari Abu Hurairah)

Sesama Muslim pada hakikatnya adalah bersaudara. Rasulullah bersabda, “Sesama Muslim itu bersaudara. Karena itu, janganlah ia menzalimi saudaranya, atau membiarkannya dizalimi.” (HR Bukhari dari ‘Abdullah bin ‘Umar)

dan kategori TIDAK MENZHALIMI adalah tidak menyinggung perasaan sodaranyah itu...

gak rela tapi WAJIB menegakkan sunnah,karena pada gak rela itu ada bibit penyakit hati yg akhirnyah menjadi bisik2 tetangga..dari gak rela yg akhirnyah dipaksa SELAMAT MENIKAH dan sebagenyah itu dapat membasmi penyakit buruk sangka dan pemikiran2 negatif lainnyah sebagemana maaf menghilangkan dendam dan hujan membasahi bumi...............


yuhuii

sip sip sip

sudah mengerti mbah abu .... matur nuwun sanget (mengingat lokasi mbah ada di surabaya)

senang senang
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Re: Selamat Hari Raya Galungan-Kuningan-Waisak dalam perspektif Islam

Post by njlajahweb on Wed Apr 11, 2018 6:19 am

quote
Selamat Natal, Selamat Galungan, Selamat Waisak, Selamat Tahun Baru, Selamat Ulang Tahun, Selamat Atas Kelahiran Putrinya yang Cantik, Selamat Menempuh Hidup Baru, Selamat Ya Anda Lulus, Selamat Boss Proyeknya Lolos, Selamat Jalan .... 

dan selamat2 lainnya ....

Bagaimana bila kita mengucapkan kata selamat itu hanya untuk memberi apresiasi akan kebahagiaan yang sedang dirasakan orang tersebut .... tanpa harus ada embel2 dibelakangnya ... 


tangapan
menurutku nggak papa, asalkan sikap hatinya tidak bertentangan dengan akidah islam.


misalnya saat mengucapkan selamat natal pada orang Kristen, adalah dengan maksud hati selamat memperingati lahirnya Nabi Isa.


atau hanya dengan ucapan kartu yang berbunyi selamat memperingati lahirnya Nabi Isa.
avatar
njlajahweb
KOLONEL
KOLONEL

Female
Posts : 14742
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 116

Kembali Ke Atas Go down

Re: Selamat Hari Raya Galungan-Kuningan-Waisak dalam perspektif Islam

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik