FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.

Rasulullah di mata umat Follow_me
@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI


Join the forum, it's quick and easy

FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.

Rasulullah di mata umat Follow_me
@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI
FORUM LASKAR ISLAM
Would you like to react to this message? Create an account in a few clicks or log in to continue.

Rasulullah di mata umat

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Rasulullah di mata umat Empty Rasulullah di mata umat

Post by keroncong Fri Nov 11, 2011 12:22 pm

Bagi kaum Muslim, Rasulullah saw. jelas menempati tempat yang sangat istimewa. Betapa tidak, Rasulullah saw. telah menyelamatkan umat manusia dari kehancurannya dengan membawa risalah Islam dari Allah Swt. Dengan risalah yang diperjuangkan, diemban, dan diterapkan oleh Rasululllah saw, Islam hadir di tengah-tengah manusia.

Rasulullah saw. adalah pemimpin segala bidang. Ia pemimpin umat di masjid, di dalam pemerintahan, juga di medan pertempuran. Ia tampak seperti psikolog yang mengubah jiwa manusia yang biadab menjadi beradab. Ia juga seorang politikus yang berhasil menyatukan suku-suku bangsa hanya dalam waktu kurang dari seperempat abad. Ia juga pemimpin ruhani yang melalui aktivitas peribadahannya telah mengantarkan jiwa pengikutnya ke alam kelezatan samawiyah dan keindahan suasana ilahiah.

Bahkan sahabat sendiri sulit menceritakan bagaimana kemuliaan sosok Rasulullah saw. Saat seorang Yahudi datang menemui Khalifah Umar bin Khaththab ra. yang bertanya kepadanya tentang akhlak Rasulullah, Umar tidak mampu menjawabnya dan menyuruh Yahudi itu menemui Bilal ra. Bilal pun sama. Dia menyuruh Yahudi itu mendatangi Ali bin Abi Thalib yang sejak kecil sudah mengenal Rasulullah saw., bahkan ia sering tidur bersama beliau. Ali malah balik bertanya kepada Yahudi itu, “Lukiskanlah keindahan dunia ini, akan aku gambarkan kepadamu akhlak Nabi Muhammad saw.”

Laki-laki itu menyatakan, ia tidak sanggup. Ali pun menukas, “Kamu tidak mampu melukiskan keindahan dunia ini, padahal Allah Swt. telah menyaksikan betapa kecilnya dunia ini ketika Dia berkata: Katakanlah: keindahan dunia ini kecil. (QS an-Nisa’ [4]: 77).”

Artinya, menggambarkan keindahan dunia yang sebenarnya kecil ini saja sulit, apalagi menggambarkan keluhuran dan kemuliaan Rasulullah saw.

Para penulis non-Muslim pun—lepas dari bagaimana sikap mereka kepada Rasulullah saw.—mengakui kebesaran Rasulullah saw. “Dia datang seperti sepercik sinar dari langit jatuh ke padang pasir yang tandus, kemudian meledakkan butir-butir debu menjadi mesiu yang membakar angkasa sejak Delhi sampai Granada,” tulis Thomas Carlyle dalam On Heros and Hero Workship. Bahkan, Michael Hart dalam bukunya, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh di Dunia, menempatkan Muhammad sebagai urutan yang pertama. “Dia adalah orang yang paling berpengaruh sepanjang sejarah kehidupan manusia lebih dari Newton dan Yesus atau siapa pun di dunia ini,” tulisnya.

Berbagai cara kemudian ditunjukkan oleh umat Islam sebagai ekspresi kecintaannya kepada Rasulullah saw. Di masyarakat kita berkembang acara muludan untuk memperingati kelahiran Rasulullah saw. Ada pula acara pembacaan barzanji yang berisi kisah-kisah Rasulullah saw. Lagu-lagu shalawat Rasul yang berisi puji-pujian kepada beliau pernah sangat digemari. Wujud kecintaan kepada Rasulullah saw. pun ditunjukkan dengan upaya meniru akhlak beliau. Semua itu sebagian besar karena didorong oleh kecintaan kepada Rasulullah saw.

Namun, tidak jarang pula cara menunjukkan kecintaan kepada Rasulullah saw. ditunjukkan dengan cara keliru yang justru bertentangan dengan ajaran beliau sendiri. Di beberapa daerah, misalnya, acara muludan diisi dengan ritual-ritual khusus yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah saw., bahkan bisa jatuh pada kemusyrikan; misalnya memandikan benda-benda yang dianggap keramat, yang diklaim merupakan kepunyaan wali.

Padahal ibadah-ibadah ritual dalam Islam haruslah merujuk pada apa yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Sebab, ibadah adalah hubungan khusus manusia dengan Allah Swt., manusia tidak bisa mereka-reka (menduga-duga) bagaimana tatacara berhubungan dengan Allah Swt. tersebut. Ibadah tentu saja tidak hanya semata-mata mengikuti perasaan spiritual belaka, tetapi juga harus mengikuti bagaimana tatacara yang diperintahkan Allah Swt. Saat Allah Swt. memerintahkan shalat, Dia juga—melalui Rasul-Nya—menyuruh kita melaksanakannya sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah. Upaya mengarang-ngarang tatacara ibadah inilah yang justru bisa menjebak kaum Muslim pada perbuatan bid’ah, takhayul, dan khurafat.

Demikian pula halnya dengan meniru Rasulullah saw. hanya pada satu aspek saja, misalnya akhlaknya saja, tentunya tidak sempurna. Sebab, kita tahu, Rasulullah saw. haruslah ditiru secara total, bukan hanya pada aspek individual atau ritualnya saja.



Akibat Sikap yang Keliru

Sadar atau tidak, menyikapi Rasulullah saw. secara keliru dan tidak sempurna di atas telah memberikan pengaruh yang buruk atas kaum Muslim. Bid’ah, takhayul, dan khurafat, selain diharamkan secara tegas oleh Allah Swt., sedikit-banyak telah menjadi faktor kejumudan dan kemunduran berpikir umat. Ibadah ritual yang tidak bersandarkan pada hukum syariat sering membuat manusia terjerumus pada sifat berlebih-lebihan, seperti sifat mengkultuskan. Padahal Rasulullah saw. sendiri mencela sifat pengkultusan ini, bahkan terhadap beliau sekalipun. Rasulullah saw. bersabda dalam sebuah hadisnya:



Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam melaksanakan agama. Sesungguhnya yang telah membinasakan bangsa-bangsa lain sebelum kalian adalah berlebih-lebihan dalam urusan agama. (HR Ahmad, an-Nasa’i, dan Ibn Majah).



Janganlah kalian mengkultuskan aku sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan putra Maryam (Isa as.). (HR al-Bukhari dan Ahmad).



Sikap berlebih-lebihan dan kultus ini pula yang membuat pemeluk agama Nasrani menyimpang hingga menjadikan pendeta dan pemuka agama menjadi tuhan baru, di samping Allah Swt. Mereka patuh demikian saja kepada pemuka agama mereka yang telah menjadikan yang halal menjadi haram dan yang haram menjadi halal. Mereka membiarkan manusia membuat hukum yang sesungguhnya hanya hak Allah Swt. Hal ini disinggung oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:



Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah. (QS at-Taubah [9]: 31).



Memandulkan Islam

Di samping itu, meneladani Rasulullah saw. secara parsial seperti dalam aspek individualnya saja juga berpengaruh buruk pada tubuh umat. Ajaran Islam pun kemudian seakan-akan hanya meliputi aspek individual seperti shalat, puasa, dan akhlak. Akibatnya, Islam tidak fungsional (mandul) untuk memecahkan persoalan kehidupan. Islam pun seakan-akan tidak mampu berperan menyelesaikan kemiskinan, kebodohan, penjajahan, kriminalitas, dll.

Karena Islam hanya dipahami sebatas ibadah ritual, maka ibadah ritual itu pun dipaksa untuk dijadikan solusi untuk memecahkan persoalan kehidupan manusia. Ibadah ritual tidak lagi dianggap sebagai ketaatan murni untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi untuk menyelesaikan persoalan manusia. Kalau mau kaya, naik pangkat, punya pengaruh, lakukanlah shalat ini dan itu, atau baca doa ini dan itu. Pergi ke kuburan bukan lagi untuk berziarah, tetapi lebih didorong untuk meraih keuntungan materi. Kaum Muslim pun mencukupkan diri dengan doa untuk menyelesaikan kemiskinan, kriminalitas, dan persoalan kehidupan lainnya. Padahal doa itu bukan tharîqah (metode) untuk menyelesaikan perkara itu. Doa hanyalah ibadah, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:



Doa adalah intinya ibadah. (HR at-Tirmidzi).



Rasulullah saw. sendiri telah mencontohkan, beliau demikian sering berdoa secara khusyuk dan sungguh-sungguh, tetapi beliau tetap tidak meninggalkan hukum kausalitas (sebab-akibat) untuk menyelesaikan persoalan manusia. Untuk bisa menang dalam Perang Badar, Rasulullah saw. demikian serius mempersiapkan strategi perang, meminta pendapat Hubab bin al-Mundzir tentang strategi yang terbaik, mengatur pasukan dan mempersiapkan persenjataan yang terbaik. Kemudian setelah itu beliau masuk ke bangsalnya seraya meminta pertolongan kepada Allah. Saat itu beliau banyak sekali berdoa hingga Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, sebagian doamu ini telah cukup.”

Untuk mempertahankan Madinah dari serangan musuh, Rasullullah bersama kaum Muslim bekerja keras membangun parit (khandak). Dalam enam hari Rasulullah saw. turun langsung, bercucuran keringat, dan bekerja keras; tidak hanya berdoa.

Saat beliau hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar, Rasulullah senantiasa berdoa kepada Allah agar diberikan keselamatan. Akan tetapi, Rasulullah tetap tidak meninggalkan tharîqah (metode) dengan memenuhi sebab-sebab yang mungkin beliau lakukan agar beliau selamat. Untuk itu, beliau menyuruh Ali bin Thalib ra. tidur pada tempat tidurnya.

Untuk menyelesaikan persoalan kriminalitas di tengah-tengah masyarakat Rasulullah saw. juga tidak menyandarkan pada doa atau ibadah, apalagi pada seruan moralitas atau akhlak belaka. Rasulullah saw. memberlakukan sanksi hukum yang tegas atas pelakunya. Rasulullah saw. menghukum orang-orang Yahudi yang telah membunuh seorang laki-laki yang membela seorang wanita Muslimah di pasar Madinah. Ghamidiyah dan Maiz dihukum rajam sampai mati oleh Rasulullah saw. saat mereka mengaku sendiri telah berzina.



Memalingkan Umat, Mengokohkan Sekularisme

Sadar atau tidak, salah kaprah dalam mencintai Rasulullah saw. dan mengikutinya hanya pada satu aspek saja telah mengokohkan sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) di Dunia Islam. Sebab, hal tersebut telah membuat hukum-hukum Allah Swt. yang lain terabaikan. Tidak sedikit kaum Muslim yang merasa cukup kalau dia telah menunaikan shalat atau ibadah haji. Sebaliknya, mereka menolak saat diajak untuk menerapkan Islam dalam perekonomian atau politik; seakan-akan politik dan ekonomi luput dari perhatian dan pengaturan Islam.

Implikasi dari pengokohohan sekularisme ini adalah semakin lestarinya penjajahan atas kaum Muslim. Karena tidak mengerti atau menolak syariat Islam di bidang politik, tidak sedikit kaum Muslim yang lebih memilih demokrasi dan memujinya sebagai ide yang paling baik (ideal) untuk manusia. Bukankah AS menyerang Irak, Iran, Syiria, dan Afganistan dengan alasan demokrasi ini. Bukankah pula Timor-Timur lepas dari Indonesia akibat melaksanakan prinsip penting demokrasi, ‘kebebasan menentukan nasib sendiri’.

Karena menolak syariat Islam dalam bidang ekonomi, jadilah ekonomi negeri Islam diatur berdasarkan prinsip dan aturan ekonomi kapitalis. Semua ini kemudian berujung pada eksploitasi kekayaan negeri-negeri Islam untuk kepentingan penjajah Barat.

Sekularisme ini pulalah yang menghilangkan dakwah dan jihad dalam kebijakan luar negeri dari negeri-negeri Islam. Mandulnya dakwah dan jihad ini jelas memandulkan Islam. Jadilah negeri-negeri Islam demikian gampang dicaplok oleh penjajah kufur kapitalis yang rakus tanpa ada perlawanan yang seimbang dari kaum Muslim.

Sadar atau tidak, sikap yang keliru dalam mencintai Allah dan Rasul-Nya juga telah menyebabkan kaum Muslim dilalaikan dari persoalan utama hidup mereka, yakni menegakkan syariat Islam yang merupakan tuntutan akidah dan Khilafah yang akan menerapkan syariat Islam secara kaffah. Umat Islam lebih disibukkan oleh rutinitas ritual yang ironisnya tidak dicontohkan oleh Rasulullah saw.



Kesimpulan

Mencintai dan meneladani Rasul sebatas aspek-aspek ritual, moral, dan personal semata adalah belum lengkap. Rasul harus diteladani secara total dan diposisikan sebagai pribadi, kepala keluarga, kepala negara, politikus, qadhi, panglima militer, dll. Memuliakan Rasulullah saw. adalah dengan berpegang teguh pada semua ajaran yang dibawakannya. Allah Swt. berfirman:



Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai. (QS Ali Imran [3]: 103).



Tali Allah pada ayat ini adalah Dinul Islam.
keroncong
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 70
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 67

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik