FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.

Tuhan aku ingin melihatmu Follow_me
@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI


Join the forum, it's quick and easy

FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.

Tuhan aku ingin melihatmu Follow_me
@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI
FORUM LASKAR ISLAM
Would you like to react to this message? Create an account in a few clicks or log in to continue.

Tuhan aku ingin melihatmu

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Tuhan aku ingin melihatmu Empty Tuhan aku ingin melihatmu

Post by darussalam Sun Jan 01, 2012 2:44 am

Sebuah penuturan seorang Mualaf asal Australia anggota komunitas para mualaf
bule yang sering melakukan diskusi di daerah kuningan, mereka berdiskusi bukan
untuk menyerang dan mengada ada untuk melecehkan Islam akan tetapi untuk
mempelajari Islam secara Kaffah


Suatu ketika, pria bule Ini ingin
"bertemu' dengan Tuhan namun gagal. Ia melanjutkan pengembaraan rohaninya
mencari Tuhan antara lain lewat studi banding kitab suci agama lain. Akhirnya
hanya ada satu jawaban yang dapat memuaskan hatinya : Islam.

Eugene
Francis Netto - yang akrab disapa Gene (baca: Jin) - pagi menjelang Zuhur itu
tampak bersemangat membina sejumlah mualaf di bilangan Kuningan, Jakarta. Tema
yang dibahasnya saat itu adalah tentang bagai-mana berwudhu yang baik dan benar.
Gaya mengajarnya yang komunikatif membuat dirinya disukai kaum ibu. Selain
humoris, wajah Gene yang boleh dibilang cukup lumayan handsome itu, juga banyak
meng-undang hadirat ngefans. Tapi pria kelahiran 28 April 1970 itu hingga kini
masih betah bertahan hidup single.

Sehabis Isya, Gene berkenan menuturkan
perjalanan rohaninya.

Bingung



Gene lahir di Selandia Baru (New Zealand) dan dibesarkan dalam Keluarga
Katolik. Tapi orang tuanya jarang ke gereja dan tidak pernah membaca Al Kitab,
bahkan kurang suka jika Gene sering-sering bertanya tentang agama. Ketika Gene
tinggal dan sekolah di Australia, hampir semua temannya mengaku beragama
Kristen. Ada juga yang mengaku ateis dan agnostik. Yang disebut terakhir ini
tidak mau menyatakan Tuhan itu ada, atau tidak ada. Biasanya, mereka menunggu
bukti tentang adanya Tuhan, baru mereka percaya. Karena sejauh ini tidak ada
bukti yang memuaskan mereka, maka mereka tidak mengikuti salah satu agama
tertentu.

"Saya sendiri tidak bisa mengambil keputusan mengenai Tuhan.
Karena memang tidak ada bukti yang memuaskan hati saya ketika itu. Tak jarang
saya mempertanyakan agama saya. Akibatnya, saya malah jadi bingung," tandas
Gene.

"Saya merasa lucu ketika pendeta di gereja menyatakan dapat
mengampuni dosa seseorang. Saya menganggap hal itu tidak masuk akal. Saya
bertanya pada ibu saya, apakah pendeta itu berbicara benar dan berhadap-hadapan
dengan Tuhan? Jawab ibu ringkas, Tidak!"

Dari kegelisahan dan kebimbangan
yang bergayut dalam otaknya, Gene kemudian mencari tahu dan mencoba mempelajari
agama-agama lain lewat berbagai buku. Karena masih belia, ia menemui kesulitan
mencerna penjelasan dari buku-buku yang dibacanya, malah tambah
bingung.

Tapi ada satu yang memancing rasa ingin tahunya ketika ia
membaca tentang agama Islam. Buat apa umat Islam melakukan shalat lima kali
sehari? Mengapa tidak cukup sekali saja dalam seminggu? Sayangnya, pertanyaan
kritis itu, lagi-lagi tidak ia peroleh jawabannya.

"Menurut kesimpulan
saya waktu itu, jika kita memeluk suatu agama maka ajaran agama itu seharusnya
bisa dicerna oleh akal. Kalau memang Tuhan itu ada, tentu Tuhan tahu pikiran
kita seperti apa, karena Dia yang memberikan akal pada kita. Kalau Dia memberi
agama, agar kita percaya dan menerimanya, maka agama tersebut harus bisa dipikir
dengan logika. Kalau hanya diterima dalam hati dan tidak masuk otak, makin lama
orang pasti akan mempertanyakannya."

Ingin Bertemu Tuhan



Suatu malam, ketika semua anggota keluarga tertidur lelap, Gene yang
masih usia belasan tahun itu duduk sendiri di atas ranjang tidurnya dalam posisi
bersila serta kedua tangan terlipat ke dada dan mata menatap jendela. Dalam
keheningan itu, ia berdoa: "Tuhan, aku minta Engkau datang menampakkan diri ke
kamarku. Aku ingin melihatMu. Kalau aku bias melihatMu, aku berjanji akan
percaya padaMu."

Setelah lama menunggu, tak satu pun tanda ia bertemu
Tuhan. Malam berikutnya, ia tetap berdoa menanti hingga larut malam. Hasilnya,
tetap nihil. Tuhan tak juga muncul. Akhirnya Gene menyatakan putus hubungan
dengan Tuhan. "Sejak itu saya tidak mau lagi mengenai Tuhan, apalagi mengikuti
kebaktian di gereja. Kendati setiap Natal saya masih ikut merayakannya, tapi
jujur, hati saya kosong dan tidak ada kegembiraan sedikit pun."

Meyakini Tuhan



Minat Gene mencari Tuhan kembali muncul saat ia studi di Universitas
Katolik Atmajaya, Jakarta. Gene terkejut, ketika tahu sebagian besar teman di
kampusnya itu ternyata adalah Muslim. Sejak bergaul dengan temannya yang Muslim
itu, Gene terdorong untuk kembali belajar agama. Setelah lulus, ia kembali ke
Australia untuk melanjutkan kuliah di sana. "Sekembali di Australia, saya
bertemu dengan seorang Muslim asal Indonesia. Kawan saya itu tahu, saya sedang
belajar agama Islam."

Tanpa diduga, kawannya mengucap-kan pernyataan yang
mengejutkan, "Kamu tahu nggak Gene, dalam Islam itu dosa hanya bisa diampuni
oleh Allah. Dalam Islam tidak dikenal system kependetaan. Karena itu, orang
Islam selalu berhubungan langsung dengan Allah tanpa perantara,"
ujarnya.

Hanya saja, ia masih belum yakin, apakah Islam itu agama yang
paling benar. Saat ia kuliah lagi di Fakultas Sastra "Universitas Indonesia
selama satu tahun dan kos di rumah seorang keluarga Muslim ditambah lagi
iingkungannya yang Islami, Gene makin intens mempelajari Islam.

Ia merasa
tercengang setelah mem-bandingkan Al Qur'an dengan kitab suci agama lain, isi Al
Qur'an tidak sedikit pun mengalami perubahan, padahal usianya telah mencapai
1.400 tahun. Sementara kitab suci agama lain sering berubah-ubah, karena
bahasanya berbeda-eda. "Tapi lagi-lagi saya belum mantap, lantas membayangkan,
ajaran Islam adalah agama yang berat dan banyak pantangan-nya. Bayangan saya,
kalau nanti masuk Islam, apakah saya bias menjalankan ajaran Islam dengan benar,
seperti shalat wajib lima waktu, puasa Ramadhan, zakat dan haji, dan ajaran
moralitas lainnya."

Untuk memantapkan hatinya, Gene berdoa selama satu
minggu dengan harapan Tuhan memberi petunjuk dan jalan yang benar. Entah
bagaimana, tiba-tiba saja ia tergerak untuk mencoba shalat, meski hati kecilnya
bertanya, kenapa harus shalat? Apa gunanya shalat? Namun, setelah tekun
mempelajari Islam, dari hari ke hari, jiwanya terasa tenteram.

Tahun
1996, Gene resmi memeluk Islam atas kesadarannya sendiri
. Setiap kali
shalat, Gene merasakan betapa dekat dirinya dengan Tuhan. la seperti bicara
langsung denganNya. Dalam hal memohon ampun pun, ia tak perlu perantara. Kini
hatinya baru terpuaskan dengan kehadiran Islam sebagai jalan hidupnya. "Meski
saya menghadap Tuhan ketika shalat, saya tidak lagi ngotot untuk melihat Allah
pada saat saya masih di dunia ini. Terpenting, Allah ridho dan mengampuni
seluruh dosa-dosa saya. Itu saja," katanya.

Sikap Toleran Mama



Apa reaksi mama dan papanya di Australia ketika Gene mengabarkan tentang
keislamannya, dua minggu kemudian? "Mereka kayaknya tidak terkejut. Sekalipun
saya menceritakan semuanya, Mama, khususnya, sangat memahami saya. Karena beliau
sudah mengira, cepat atau lambat, saya pasti akan memeluk Islam,"
kenangnya.

Sebelumnya, ketika Gene hendak kembali ke Indonesia untuk
memenuhi panggilan bekerja di salah satu lembaga kursus bahasa Inggris terkenal
di Jakarta, ia teringat dengan pesan mamanya. "Kamu boleh ke Indonesia, asal
jangan masuk Islam," pesan mama.

Seperti asumsi kebanyakan non-Muslim
lainnya, mamanya juga meng-anggap Islam itu agama kuno, ajarannya terbelakang
dan tidak manusiawi, penuh intrik, teroris, serta penuh dengan hal-hal negatif
lainnya. "Padahal, seperti yang saya amati dari ajaran Islam tentang shalat
berjamaah, sesungguhnya ada hikmah yang terkandung di dalamnya, yakni mendorong
persatuan dan persaudaraan. Manusia berada pada kesamaan derajat di hadapan
Tuhan. Tak peduli kaya ataupun miskin, semua sama. Siapa yang datang lebih
dahulu berada di saf terdepan, tak ada yang berhak melarang. Begitu pula, saat
berjamaah, seluruh makmum berada di bawah satu komando. Bahkan jika imam batal,
ia bisa diganti dengan yang lain. Simple sekali Islam itu," ungkap
Gene.

"Alhamdulillah, keluarga saya cukup toleran kendatipun
sesungguhnya mereka tidak suka dengan keputusan saya memilih Islam. Malah kalau
saya pulang ke Australia, Mama yang selalu mengingatkan waktu shalat. Misalnya,
ketika kami akan bepergian, lalu tiba saat shalat Zuhur, mama mem-beri
kesempatan pada saya untuk menunaikan shalat lebih dulu."

Yang lebih
membuat Gene menaruh hormat dan haru pada,mamanya, adalah sikap dan perlakuannya
pada Gene yang mualaf ini. Mamanya tahu apa yang tidak boleh ia makan dan minum
sebagai seorang Muslim. Bahkan mamanya selalu memisahkan masakan buatnya. "Bila
saya ada di rumah, Mama tidak pernah memasak makanan yang mengandung unsure
babi. Jujur, saya bangga punya mama yang punya sikap toleran dan pengertian pada
anaknya yang telah memeluk Islam."

Agama Kasih dan Damai



Setelah memeluk Islam, Gene meng-aku jiwanya semakin tenteram, pikirannya
semakin arif dan lebih menghayati Islam sebagai ajaran kasih, damai, mencintai
sesama. Satu hal yang membuat Gene bersyukur adalah bahwa agama ini tidak kaku,
dan memberikan ruang gerak yang longgar dalam hal kebebasan untuk menentukan
sebuah pilihan.

Selama Ramadhan yang lalu, Gene selain berpuasa,
memanfaatkan waktunya dengan belajar membaca Al Quran, la mengakui sempat
mengalami kesulitan. Tapi karenaterus belajar, akhirnya bisa juga mengeja bacaan
Al Quran.

Pada Ramadhan sebelumnya, tiap malam, saat semua anggota tempat
kosnya sudah lelap tertidur, ia menonton acara Shalat Tarawih di televisi yang
disiarkan langsung dari Makkah. Saat itu Gene mengaku terpesona ketika
menyaksikan lebih dari satu juta orang pada saat bersamaan melakukan gerakan
yang sama, shalat dan thawaf bersama.

"Di depan pesawat televisi, saya
terbengong-bengong menyaksikan betapa manusia berada pada kesamaan derajat di
hadapan Tuhan. Terus terang saya kagum, sehingga setiap malam saya selalu
meluangkan waktu untuk menyaksikan shalat Tarawih. Sebelum Muslim, saya tidak
pernah menjumpai di mana pun sebuah massa besar berkumpul dalam satu bangunan
melakukan gerakan yang sama, teratur, tertib, dan penuh ritmik. Sambil melihat
gerakan-gerakan itu, saya mencocokkannya dengan buku panduan .shalat. Di depan
telivisi, saya coba mengikuti gerakan shalat, sekaligus menghafal bacaannya yang
ada dalam buku panduan shalat yang saya miliki."

Dengan cara begitu,
akhirnya, Gene sedikit demi sedikit mulai bisa mengerjakan shalat. Dalam satu
minggu, ia telah hafal beberapa gerakan shalat termasuk doanya. "Surat Fatihah,
saya baca ber-ulang-ulang hingga hafal. Setelah itu saya pelajari dan pahami
makna surat tersebut. Dan ternyata, saya dapat merasakan, kedalaman Islam
setelah menghayati indahnya gerakan shalat. Selain membuat hati menjadi
tenteram, shalat juga dapat membuat jasmani menjadi sehat."

Tidak cukup
puas dengan shalat, Gene kemudian membuka tafsir Al Qur'an. la merasa takjub
dengan keindahan rang-kaian firman Allah yang mirip puisi, tapi bukan puisi,
juga bukan dongeng. Bagi Gene, Al Qur'an itu bisa menjadi petunjuk, bila dibaca
disertai memahami maknanya. Tanpa mengerti maknanya, tidak mungkin Al Qur'an
menjadi petunjuk. "Itulah sebabnya, saya begitu asyik dan larut kalau sudah
mendengar dan membaca ayat-ayat suci Al Qur'an. Hanya saja, tak ba-nyak umat
Islam yang menghayati dan mengamalkan isi kandungan Al Qur'an tersebut. Sangat
disesalkan lagi, bila masih banyak umat Islam yang belum bisa mem baca Al
Qur'an."

Menururt Gene, kalau : membaca saja tidak bisa, bagaimana
mungkin memahami maknanya, menghayati isinya, apalagi mengamalkannya. Ini
terjadi, karena Al Qur'an hanya dijadikan pajangan di rumah. Al Qur'an belum
sepenuhnya menjadi ruh di hati kaum Muslimin. Akibatnya, Islam tak lebih sekadar
formalitas, status, padahal membaca Al Qur'an saja tidak bisa, shalat saja
tidak.

"Tentu saya berharap pada saudara-saudara saya yang Muslim akan
menjadi Muslim yang sejati, jangan jadi Muslim yang setengah hati. Saya saja
yang mualaf, selalu ingin belajar, belajar dan belajar, maka sangat aneh, bila
umat Islam yang sudah tujuh turunan, ogah mempelajari dan mendalami agamanya
sendiri," pesan Gene mengakhiri perbincangan sambil tersenyum lebar. (amanah
online)

Sebuah penuturan seorang Mualaf asal Australia anggota
komunitas para mualaf bule yang sering melakukan diskusi di daerah kuningan,
mereka berdiskusi bukan untuk menyerang dan mengada ada untuk melecehkan Islam
akan tetapi untuk mempelajari Islam secara Kaffah
darussalam
darussalam
Co-Administrator
Co-Administrator

Male
Posts : 411
Kepercayaan : Islam
Location : Brunei Darussalam
Join date : 25.11.11
Reputation : 10

Kembali Ke Atas Go down

Tuhan aku ingin melihatmu Empty Re: Tuhan aku ingin melihatmu

Post by Foxhound Mon Oct 01, 2012 9:11 pm

darussalam wrote:
Gene lahir di Selandia Baru (New Zealand) dan dibesarkan dalam Keluarga
Katolik
. Tapi orang tuanya jarang ke gereja dan tidak pernah membaca Al Kitab,
bahkan kurang suka jika Gene sering-sering bertanya tentang agama. Ketika Gene
tinggal dan sekolah di Australia, hampir semua temannya mengaku beragama
Kristen. Ada juga yang mengaku ateis dan agnostik. Yang disebut terakhir ini
tidak mau menyatakan Tuhan itu ada, atau tidak ada. Biasanya, mereka menunggu
bukti tentang adanya Tuhan, baru mereka percaya. Karena sejauh ini tidak ada
bukti yang memuaskan mereka, maka mereka tidak mengikuti salah satu agama
tertentu.

"Saya merasa lucu ketika pendeta di gereja menyatakan dapat
mengampuni dosa seseorang. Saya menganggap hal itu tidak masuk akal. Saya
bertanya pada ibu saya, apakah pendeta itu berbicara benar dan berhadap-hadapan
dengan Tuhan? Jawab ibu ringkas, Tidak!"

Pelajaran buat muslim... kalau ada orang ngaku mualaf dari kristen katolik... tapi berlepotan ndak bisa bedain Pastor dan Pendeta... ya tau sendiri lah...

Tanpa diduga, kawannya mengucap-kan pernyataan yang
mengejutkan, "Kamu tahu nggak Gene, dalam Islam itu dosa hanya bisa diampuni
oleh Allah. Dalam Islam tidak dikenal system kependetaan. Karena itu, orang
Islam selalu berhubungan langsung dengan Allah tanpa perantara,"
ujarnya.

Nah kalau denger gini.. jangan2 yang bener dia mualaf dari Yahudi boong

Foxhound
Foxhound
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 612
Kepercayaan : Protestan
Location : Jakarta
Join date : 28.09.12
Reputation : 57

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik