FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

buruk muka cermin dibelah

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

buruk muka cermin dibelah

Post by darussalam on Sat Dec 31, 2011 1:01 pm

Sebuah gagasan kontroversi tentang haji diusung lagi. Sebuah wacana atau gerakan
penyimbangan agama?

Awal Februari lalu, seorang mahasiswa Indonesia yang
sedang menuntaskan program doktornya di bidang tafsir dan ilmu-ilmu al-Qur’an di
Universitas al Azhar, Mesir, berkirim kabar. Lewat email, ia menyatakan, bahwa
saat itu Masdar Farid Mas’udi, Ketua P3M (Pusat Pengembangan Pesantren dan
Masyarakat) sedang berada di Mesir.

Dalam lawatannya ke negeri piramid
tersebut, secara khusus Masdar berniat menjajakan gagasannya tentang waktu
pelaksanaan haji yang harus ditinjau ulang. Tidak saja pada tanggal 9 sampai 13
Dzulhijjah, tapi bisa mulur di bulan Syawwal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah. “Tapi
resistensi mahasiswa cukup kuat. Acara diboikot oleh sebagian besar organisasi
mahasiswa yang ada.

Sebagian karena tidak setuju dengan pemikirannya.
Sebagian lain karena sosok koordinator programnya Sdr. Zuhairi Misrawi, yang
ketika di Kairo pernah mengatakan shalat tidak wajib. Besar kemungkinan
acara gagal,” begitu tulisnya.

Sebuah gagasan kontroversi tentang haji
diusung lagi. Sebuah wacana atau gerakan penyimbangan agama?

Awal
Februari lalu, seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menuntaskan program
doktornya di bidang tafsir dan ilmu-ilmu al-Qur’an di Universitas al Azhar,
Mesir, berkirim kabar. Lewat email, ia menyatakan, bahwa saat itu Masdar Farid
Mas’udi, Ketua P3M (Pusat Pengembangan Pesantren dan Masyarakat) sedang berada
di Mesir.

Dalam lawatannya ke negeri piramid tersebut, secara khusus
Masdar berniat menjajakan gagasannya tentang waktu pelaksanaan haji yang harus
ditinjau ulang. Tidak saja pada tanggal 9 sampai 13 Dzulhijjah, tapi bisa mulur
di bulan Syawwal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah. “Tapi resistensi mahasiswa cukup
kuat. Acara diboikot oleh sebagian besar organisasi mahasiswa yang ada. Sebagian
karena tidak setuju dengan pemikirannya. Sebagian lain karena sosok koordinator
programnya Sdr. Zuhairi Misrawi, yang ketika di Kairo pernah mengatakan shalat
tidak wajib. Besar kemungkinan acara gagal,” begitu tulisnya.

Benar saja.
Belakangan, acara yang hendak digelar Masdar dan Zuhairi di hotel berbintang
lima itu, memang benar-benar gagal. Bahkan ada sedikit ricuh yang mewarnai
pembatalan. Presiden PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) Mesir,
Limra Zainuddin mengancam bunuh Masdar F. Mas’udi. Setelah itu, pulanglah Masdar
dan Zuhairi ke tanah air.

Kedatangan Masdar yang mengusung nama Islam
Emansipatoris, berdasarkan undangan mahasiswa Al Azhar yang tertarik memahami
gagasannya lebih jauh. “Tentu kita follow up, karena kita menganggap teman-teman
di Al Azhar adalah calon-calon pemimpin umat masa depan,” kata Masdar pada Hepi
Andi dan Artawijaya dari SABILI.

Tapi apa boleh buat, yang menolak Masdar
F. Mas’udi ternyata lebih besar dibanding yang tertarik dengan gagasan Katib
Syuriah Nahdlatul Ulama ini. Padahal acara yang akan digelar terbilang cukup
fantastis, karena penuh dengan fasilitas yang di luar kebiasaan. Acara akan
diselenggarakan di Hotel Sonesta, salah satu hotel bintang lima di Kairo.
Mahasiswa hanya cukup membawa kuping dan membuka otak saja, tak perlu keluar
biaya. Bahkan, menurut email salah seorang mahasiswa Indonesia di Al Azhar,
panitia menyediakan modul, buku-buku dan beberapa perlengkapan lainnya, termasuk
pengganti uang transport mahasiswa peserta.

Tentu saja tak sedikit dana
yang dikeluarkan Masdar dan kawan-kawan untuk acara ini. Darimana datangnya dana
untuk pembiayaan sosialisasi gagasan Masdar? Dari koceknya sendirikah? “Dari
para donatur. Baik dari dalam maupun luar negeri. Ada funding agencies, kita
dapat dari situ. Uang dari dalam atau luar negeri kan, uang Allah juga, ya kita
ambil dan manfaatkan,” ujar Masdar.

Ide yang sedang diasongkan oleh
Masdar F. Mas’udi tentang haji, bagi mahasiswa Indonesia di Mesir sebetulnya
bukan barang baru. Beberapa tahun sebelumnya, seorang purnawirawan jenderal
Mesir bernama Muhammad Syibl pernah pula mengutarakan hal yang sama. “Likulli
saqith laqith, setiap yang jatuh pasti ada yang memungut. Begitu pepatah Arab,”
komentar seorang mahasiswa Indonesia atas gagasan Masdar, khususnya tentang
haji.

Masdar sendiri mengaku, gagasannya tentang waktu pelaksanaan haji
sudah ia cetuskan sejak awal 1990-an. Di majalah Tempo untuk pertama kali Masdar
mensosialisasikan pikirannya. Tapi hingga kini, ia sendiri belum mempraktikkan
apa yang ia gagas. “Saya sendiri belum mencoba karena belum punya duit,” begitu
kilahnya seperti tertulis dalam sebuah wawancara di situs Jaringan Islam Liberal
(JIL).

Gagasan Masdar tentang haji mulai dimunculkan kembali ketika
tragedi Mina pada musim haji lalu menelan korban 254 jamaah. “Apakah ibadah haji
itu sudah menjadi semacam arena “pembantaian”? Nyatanya, haji telah menimbulkan
kesulitan yang luar biasa, bahkan korban jiwa yang tidak sedikit,” demikian
Masdar dalam situs JIL.

Berbekal semangat “penyelamatan” lalu Masdar
merumuskan beberapa gagasan. Menurutnya, firman Allah dalam surat Al Baqarah:
197, “Al hajj asyhurun ma’lumat...,” terang benderang menegaskan waktu
pelaksanaan ibadah haji adalah beberapa bulan (3) yang sudah dimaklumkan. Masih
menurut Masdar, haji, tak ubahnya dengan shalat, adalah ibadah yang dalam
kategori muwassa’, mempunyai waktu pelaksanaan yang panjang dan longgar. “Ini
tidak ubahnya seperti shalat isya. Waktu yang dibutuhkan lebih kurang 10 sampai
20 menit saja, sementara waktu yang disediakan membentang selama kurang lebih
sembilan jam,” argumen Masdar di JIL.

Selain itu, hadits Rasulullah yang
menyatakan kudzu anni manasikakum, ambillah contoh dariku manasik kalian,
ditafsirkan Masdar hanya sebatas tata cara atau prosesi semata, bukan menyangkut
waktu. Sedangkan hadits lain yang menyatakan al hajju arafah, haji adalah
Arafah, menurut Masdar, selama ini dipahami terlalu berlebihan. Dengan bahasa
yang lebih halus, tokoh yang tercantum sebagai anggota komisi fatwa MUI ini juga
menyatakan, bahwa perjalanan haji Rasulullah yang hanya sekali seumur hidup
beliau, tak bisa dijadikan dasar bahwa berhaji di luar bulan Dzulhijjah berhukum
tidak sah.

Selain korban jiwa, waktu haji seperti sekarang, menjebak umat
Islam dalam praktik mubadzir besar-besaran atas fasilitas haji yang hanya
digunakan beberapa hari dalam setahun. Fasilitas seperti penginapan di Mina,
telekomunikasi, transportasi, jaringan air minum sampai jalan tol, menurut
Masdar, hanya dimanfaatkan maksimal empat hari dalam setahun. “Bagaimana pun,
ini merupakan tabdzir yang tidak diizinkan oleh Allah SWT,” terang
Masdar.

Menanggapi gagasan-gagasan Masdar F. Mas’udi yang oleh beberapa
pihak disebut sebagai ijtihad, pakar ilmu hadits, DR. Daud Rasyid. MA
mengatakan, secara syar’i, pandangan Masdar tidak bisa disebut sebagai ijtihad.
Lebih jauh Daud Rasyid menjelaskan, jika dilakukan secara sadar bisa
dikategorikan penyimpangan. “Ini bukan ijtihad, ini penyimpangan. Bahkan bisa
dikategorikan riddah, kejahatan,” tegas Daud Rasyid.

Doktor ilmu hadits
bermarga Sitorus ini juga membeberkan, bahwa Masdar F. Mas’udi belum memenuhi
syarat untuk menjadi seorang mujtahid. “Pendidikannya tidak memadai, pengetahuan
dan pendalamannya juga masih dipertanyakan,” tandasnya. Daud Rasyid mengatakan,
gerakan-gerakan semacam ini adalah kejahatan pemikiran yang
terorganisir.

Daud Rasyid yang juga dosen di Lembaga Pengetahuan Islam
dan Arab ini meyakini ada kekuatan asing di belakang gerakan liberalisme dan
sekulerisme dalam tubuh umat Islam. “Ada kekuatan asing yang mendanai mereka.
Tidak mungkin yang begini datang dari kantong mereka sendiri. Pasti ada kekuatan
asing yang menggerakkan mereka melakukan perusakan terhadap Islam dan ajaran
Islam,” ujar pria berjenggot lebat ini.

Dengan pemikiran dan track record
kontroversi seperti yang dimiliki Masdar F. Mas’udi, Daud Rasyid bisa memahami
kegeraman yang muncul di antara mahasiswa Al Azhar, Mesir. “Tentang ancaman mati
itu, saya bisa memahami. Opini Masdar memang sudah keterlaluan. Tapi sebaiknya,
tak perlu membesar-besarkan, dia tidak ada apa-apanya.”

Dari jajaran
Nahdlatul Ulama, Irfan Zidny, salah seorang anggota Rais Syuriah NU, tak bisa
menerima pemikiran Masdar, khususnya tentang pelaksanaan waktu haji. Irfan Zidny
juga mengaku terkaget-kaget ketika muncul tulisan Masdar di media massa yang
mengatasnamakan anggota Syuriah PBNU. “Saya pernah dimintai tanggapan oleh
Masdar, tapi saya tolak. Karena yang diungkapkan jelas-jelas bertentangan dengan
manasik, sebab itulah saya tolak,” Irfan menegaskan.

Secara struktur,
jabatan Katib Syuriah yang dipegang oleh Masdar saat ini berada beberapa tingkat
di bawah lembaga Rais Syuriah. Maka tak ganjil jika Irfan Zidny, sebagai anggota
Rais Syuriah mempertanyakan Masdar yang seolah-olah berbicara memakai namai
Katib Syuriah. Tidak saja itu, dalam tulisannya di situs JIL yang berjudul
Meninjau Ulang Waktu Pelaksanaan Haji, Masdar bahkan mencantumkan jabatannya
sebagai salah satu anggota Komisi Fatwa di Majelis Ulama Indonesia.

Lebih
lanjut Irfan menerangkan, dirinya berencana akan membawa pemikiran Masdar soal
haji ini ke Muktamar NU. Meski belum ada ketetapan, rencananya Muktamar NU akan
digelar pada bulan November mendatang. “Atau kalau tidak, sebelumnya saya akan
bawa masalah ini ke Bathsul Masail,” janjinya.

Tentang pelaksanaan haji
sendiri, Irfan mengatakan tidak sependapat dengan Masdar. “Sesuai ajaran
manasik, tidak ada wuquf lebih dari satu. Dalam rukun haji, wuquf itu cuma satu,
pada tanggal 9 Dzulhijjah. Mulai dari ba’da Dzuhur sampai Maghrib. Satu hari
saja,” terang kiai kelahiran Banyuwangi yang lama bermukim di Baghdad
ini.

Berbeda dengan Masdar yang menjadikan dalil agama tidak memberatkan
lalu merumuskan haji boleh selama tiga bulan, Irfan pun menggunakan dalil yang
sama. Bedanya, Irfan menegaskan, agama tidak memberatkan harus diartikan jangan
ada pemaksaan. “Pemerintah yang mengatur. Kalau hanya bisa mengatur satu juta,
jangan membuka dan paksakan untuk dua juta jamaah. Atau sesuai besarnya. Agama
itu ringan, asal kita tahu hukumnya,” jelas Irfan yang juga tergabung sebagai
anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia.

Gagasan-gagasan dari
kalangan muda NU memang kerap mengundang kontroversi. Abdurrahman Wahid atau Gus
Dur tercantum sebagai generasi awal. Masdar F. Mas’udi pada barisan selanjutnya.
Dan yang terbaru adalah Ulil Absar Abdalla dengan gerakan Islam Liberalnya. Ada
yang menanggapi pemikiran orang-orang tersebut di atas sebagai sebuah perbedaan.
Tapi tidak bagi Habib Rizieq Shihab, Ketua Front Pembela Islam. “Ada perbedaan,
ada pula penyimpangan. Pada yang beda, kita wajib toleran. Tapi terhadap
penyimpangan, wajib hukumnya memberikan perlawanan,” seru habib sohor dari Tanah
Abang ini.

Lebih lanjut Habib Rizieq mengatakan, jika penyimpangan kita
anggap perbedaan, sama artinya umat diajak untuk toleran terhadap penyimpangan.
“Masdar, Ulil, Nurcholis Madjid dan gerakan-gerakan seperti JIL menawarkan
penyimpangan bukan perbedaan,” katanya. Menurut Habib Rizieq, sikap Limra
Zainuddin, Presiden PPMI Mesir yang tegas terhadap Masdar adalah bentuk sikap
yang harus diberikan kepada orang-orang dengan pemikiran liberal dan
sekuler.

Jika demikian, apakah kita tidak sedang menghakimi pemikiran?
“Kalau kita bicara pemikiran, orang-orang seperti Masdar, Ulil dan kawan-kawan
ini sesungguhnya sudah kadaluarsa. Mereka baru menginjak masa ephuoria kebebasan
berpikir. Kelompok pertama yang mendewakan akal sebagai sumber hukum adalah
mu’tazilah. Artinya, ini bukan persoalan baru. Yang kita lakukan ini bukan
pemasungan kebebasan berpikir. Tapi, melindungi dan menegakkan kebenaran itu
sendiri,” jelasnya antusias.

Tentang pemikiran haji yang digagas Masdar,
Habib Rizieq sama sekali tak setuju jika ada yang menyebutnya sebagai ijtihad.
“Ini bukan sebuah ijtihad yang akan mengantarkan kita pada perbendaan pendapat.
Tapi ini adalah penyimpangan karena kedangkalan ilmu Masdar F. Mas’udi,”
terangnya lagi.

Selain itu, ada faktor X yang turut mendorong gerakan
penyimpangan ini berjalan. Yakni kekuatan asing dan pendukung pemikiran
menyimpang. “Saya pernah dialog terbuka dengan Richard Gozney, Duta Besar
Inggris. Dia mengaku bahwa menyediakan beasiswa untuk anak-anak Indonesia.
Apalagi untuk santri. Tapi apakah mungkin Barat membiayai santri kita agar jadi
ulama yang baik? Tidak masuk akal. Barat membiayai santri kita untuk belajar
Islam versi mereka. Sehingga, kalau mereka pulang ke tanah air bisa menjadi
corong untuk merusak akidah.”

Meski demikian, Habib Rizieq percaya, bahwa
orang-orang berpikiran menyimpang hanya sebagian kecil saja dalam tubuh NU atau
Muhammadiyah. Buktinya, meski secara organisasi NU menolak penerapan syariat
Islam dan Piagam Djakarta, hampir 100% santri-santri pesantren NU yang tersebar
dari Sabang sampai Merauke merindukan formalisasi syariat Islam.

Hal ini
dibenarkan oleh Irfan Zidny, bahwa dalam tubuh NU sendiri ada yang gerah dengan
pernyataan orang-orang seperti Masdar dan Ulil. “Khusus untuk wuquf saja, sudah
ada masukan dari Lasem dan Semarang. Kalau sudah dianggap merusak Islam, kita
akan bawa ke rapat Syuriah. Selama ini masih dianggap pemikiran,” tukas
Zidny.

Setuju atau tidak, diam-diam liberalisme dan sekulerisme telah
mulai merambah ke berbagai tubuh kaum Muslim. Pada kadar tertentu, memang masih
bisa disikapi sebagai wacana dan pemikiran. Tapi jika umat tak paham, suatu saat
kita hanya bisa terkaget-kaget dan tak berdaya. Maka, seperti kata pepatah,
mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. (Sabili)
avatar
darussalam
Co-Administrator
Co-Administrator

Male
Posts : 411
Kepercayaan : Islam
Location : Brunei Darussalam
Join date : 25.11.11
Reputation : 10

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik