FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.

evaluasi tarbiyah Follow_me
@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI


Join the forum, it's quick and easy

FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.

evaluasi tarbiyah Follow_me
@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI
FORUM LASKAR ISLAM
Would you like to react to this message? Create an account in a few clicks or log in to continue.

evaluasi tarbiyah

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

evaluasi tarbiyah Empty evaluasi tarbiyah

Post by keroncong Thu Feb 02, 2012 8:18 pm


Landasan evaluasi
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (Q.S. 59:18)

Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab (atsar shahabat)

Untuk apa evaluasi dilakukan
Abbas Asisi mengklasifikasikan mutarabbi menjadi tiga kategori, yaitu:
 Manusia yang berperilaku dengan akhlak islamiyah, yaitu orang yang rajin beribadah dan rajin ke masjid. Orang seperti ini harus dinomorsatukan, karena mereka lebih dekat dengan dakwah kita, sehingga tidak membutuhkan tenaga yang banyak dan untuk mengajak mereka pun tidak banyak kesulitan, insya Allah.
 Manusia yang berperilaku dengan akhlak asasiyah, yaitu orang yang tidak taat beragama, tetapi tidak mau terang-terangan dalam berbuat maksiat karena ia masih menghormati harga dirinya. Orang-orang semacam ini menempati urutan kedua.
 Manusia yang berperilaku dengan akhlak jahiliyah, yaitu orang yang bukan dari golongan pertama atau kedua. Dialah orang yang tidak peduli terhadap orang lain, sedang orang lain mencibirnya karena perbuatan dan perangainya yang jelek.
Kategori yang dirumuskan oleh Abbas Asisi ini menunjukkan bahwa mutarabbi memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Untuk mengetahuinya perlu dilakukan sebuah proses penilaian. Penilaian (evaluasi) seperti ini sering disebut evaluasi karakteristik mutarabbi. Evaluasi ini dilakukan sebelum proses tarbiyah berlangsung yang kita bisa katakan evaluasi pra proses tarbiyah.
Selain evaluasi pra-proses tarbiyah, ada juga evaluasi pada proses tarbiyah tersebut. Jadi prosesnya dievaluasi, agar prosesnya dapat dipantau dan dapat diperbaiki di kesempatan berikutnya Apalagi dalam dakwah, proses menjadi sebuah komponen yang menjadi perhatian lebih. Untuk itu evaluasi bukan saja pada akhir proses yang sering difahami orang, tetapi evaluasi itu ada pada proses itu. Apakah prosesnya sudah benar atau belum. Apakah prosesnya sudah efektif atau belum. Pentingnya evaluasi dalam proses tarbiyah dianjurkan oleh Rasulullah secara implisit “Berkhutbahlah sesuai dengan kadar akal mereka”. Indikator keefektifan proses adalah sesuai dengan kadar akan mutarabbi. Jadi proses seperti apa yang sesuai kadar akal mutarabbi. Di dalamnya terdapat makna bahwa evaluasi untuk menentukan tujuan mana yang belum direalisasikan, sehingga tindakan perbaikan yang cocok dapat diadakan. Dan memberikan informasi kepada murobbi tentang cocok tidaknya strategi mengajar yang ia gunakan, supaya kelebihan dan kekurangan strategi mengajar tersebut dapat ditentukan. Juga bisa bermanfaat dalam merencanakan prosedur untuk memperbaiki rencana pelajaran, dan menentukan apa saja sumber belajar perlu digunakan.
Hasil (output) dari tarbiyah sudah bisa dipastikan harus diukur, karena hasil tarbiyah harus dapat menentukan mutarabbi sudah pada kategori mana/kategori apa. Dengan kata lain evaluasi untuk mengukur kompetensi atau kapabilitas siswa apakah mereka telah merealisasikan tujuan yang telah ditentukan.
Dari penjelasan ini evaluasi dapat dilakukan untuk mengukur mutarabbi yang akan diproses, mengukur prosesnya, dan mengukur hasil prosesnya. Untuk lebih jelasnya bagan berikut dapat diperhatikan

input ---------------------------- proses ------------------------------ output

evaluasi evaluasi evaluasi

Bagaimana meng-Evaluasi?
Evaluasilah pra-mutarrabi (pra proses). Hal ini untuk mengetahui baru sampai di mana kemampuan mutarrabi yang akan mengikuti proses tarbiyah tersebut, hingga posisinya jelas. Dan murobi dapat mengetahui proses apa yang akan diselenggarakan yang tertuang dalam perencanaan proses tarbiyah.
Wujud evaluasinya bisa mutarabbi mengisi check list (daftar isian) yang diambil dari muwasofat yang ada pada masing-masing jenjang, bisa murabbi melakukan wawancara, dan atau dengan menggunakan observasi/investigasi ke rumah mutarabbi.
Evaluasilah proses tarbiyahnya
Setelah masuk mutarabbi yang telah terevaluasi, kini giliran mengevaluasi prosesnya. Mengevaluasi proses disyaratkan memiliki perencanaan tarbiyah, karena dari sanalah kita dapat mengevaluasinya. Apa yang kita rencanakan dapat menjadi bahan evaluasi proses. Dengan perencanaan kita bisa tahu berapa banyak materi yang telah disampaikan. Berapa sering pertemuan tarbiyah kita selenggarakan. Metode apa yang telah kita pakai. Berapa kali kita menyelenggarakan mabit atau jalasah ruhiyah untuk akhowat. Dan yang tidak kalah penting adalah apakah cukup menarik atau cukup efektif proses tarbiyah yang telah kita selenggarakan. Untuk mengukur hal ini bisa kita adakan jurnal setiap pertemuan. Bisa dituangkan lewat buku tulis, secarik kertas, dan atau lisan oleh mutarabbi.
Evaluasilah ketika peserta selesai belajar
Evaluasi inilah yang banyak difahami orang, dan banyak orang sudah melakukan. Evaluasi ini digunakan untuk melihat apakah output yang dicanangkan yang telah tertuang dalam muwasofat, terpenuhi atau belum. Dan ini menjadi tolok ukur dari dua komponen (input dan proses), apakah keduanya baik atau belum. Wujud evaluasi ini bisa berbentuk tes tertulis, lisan, ‘ngobrol’ (curhat), investigasi, diskusi, mencocokkan muwasofat dengan membuat daftar cek (check list), membuat karya tulis, menggarap proyek, mengarang, silatuhim, dan lain-lain.

Aspek yang harus dipantau dalam evaluasi
Secara keseluruhan evaluasi tarbiyah baik pra, proses, maupun hasil dirangkum ke dalam 3 aspek yang harus dievaluasi, yaitu:
Evaluasilah kognitifnya
Pada kurikulum tarbiyah islamiyah terdapat tujuan-tujuan instruksional yang telah dirumuskan. Tujuan tersebut diantaranya “mengetahui hasil-hasil ibadah”. Pada tujuan ini, yang ingin diraih setelah proses tarbiyah berlangsung adalah tujuan untuk meraih aspek kognitif. Sehingga aspek kognitif menjadi sebuh aspek yang mesti dievaluasi. Untuk mengetahui lebih jauh seputar kognitif ini, kita ikuti uraian berikut:
Kognitif memiliki tingkatan, yaitu:
Tingkat pengetahuan (knowledge)
Evaluasi kognitif untuk tingkatan pengetahuan bila yang ingin diketahui tingkat menghafal atau mengingat kembali atau mengulang kembali mutarabbi yang pernah diterimanya. Evaluasi pada tingkat ini dapat digunakan untuk mengetahui apakah tujuan berikut tercapai atau tidak, yaitu “dapat menyebutkan sarana dan media untuk bertafakkur.”
Tingkat pemahaman (comprehension)
Evaluasi untuk tingkatan pemahaman bila yang ingin diketahui kemampuan mutarabbi dalam mengartikan, menafsirkan, menterjemahkan, atau menyatakan sesuatu dengan caranya sendiri tentang pengetahuan yang pernah diterimanya. Evaluasi pada tingkat ini dapat digunakan untuk mengetahui apakah tujuan berikut tercapai atau tidak, yaitu “memahami kewajibannya terhadap orang lain, khususnya keluarga terdekat, dengan senantiasa menekankan kewajiban pada dirinya dan bukan pada haknya.”


Tingkat penerapan (application)
Evaluasi untuk tingkatan penerapan bila yang ingin diketahui kemampuan mutarabbi dalam menggunakan pengetahuan untuk memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari. Evaluasi pada tingkat ini dapat digunakan untuk mengetahui apakah tujuan berikut tercapai atau tidak, yaitu “mutarabbi menerapkan kewajiban-kewajiban rumah tangga dan menjadi teladan anggota keluarga yang lain.”
Tingkat analisa (analysis)
Evaluasi untuk tingkatan analisa bila yang ingin diketahui kemampuan mutarabbi dalam merinci dan membandingkan pengetahuan atau data yang begitu rumit serta mengklasifikasikannya menjadi beberapa kategori, dengan tujuan agar dapat mengenal hubungan dan kedudukan masing-masing data terhadap data lain. Evaluasi pada tingkat ini dapat digunakan untuk mengetahui apakah tujuan berikut tercapai atau tidak, yaitu “mutarabbi mampu menginventarisir ide-ide dan pemikirannya.”
Tingkat sintesa (synthesis)
Evaluasi untuk tingkatan sintesa bila yang ingin diketahui kemampuan mutarabbi dalam mengaitkan dan menyatukan berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga terbentuk pola baru yang lebih menyeluruh. Evaluasi pada tingkat ini dapat digunakan untuk mengetahui apakah tujuan berikut tercapai atau tidak, yaitu “mutarabbi mampu memformulasikan ide-ide dan pemikirannya.”
Tingkat evaluasi (evaluation)
Evaluasi untuk tingkatan evaluasi bila yang ingin diketahui kemampuan mutarabbi dalam membuat perkiraan atau keputusan yang tepat berdasarkan kriteria atau pengetahuan yang dimilikinya. Evaluasi pada tingkat ini dapat digunakan untuk mengetahui apakah tujuan berikut tercapai atau tidak, yaitu “mutarabbi mampu membedakan sistem politik yang fungsional dan disfungsional.”
Wujud tes yang bisa dipakai untuk mengukur penguasaan kognitif antara lain: diskusi, karya ilmiah, mengarang, tes tulis, mengisi daftar check, jurnal.
Evaluasilah afektifnya
Selain itu tujuan tarbiyah ada yang berbunyi “merasakan kekhusyuan dan kenikmatan dalam beribadah”. Tujuan ini bukan sekedar mutarabbi mengetahui hasil-hasil ibadah, tetapi mutarabbi memiliki sikap terhadap aktivitas ibadah tersebut. Dan sikap yang diinginkan adalah merasakan kekhusyuan dan kenikmatan. Sehingga pada aspek ini yang dievaluasi adalah aspek afektifnya.
Afektif juga memiliki tingkatan, yaitu:
Tingkat menerima (receiving)
Evaluasi afektif untuk tingkat menerima bila yang ingin diketahui tingkat kesadaran, kesediaan dan kemauan mutarabbi pada Islam. Evaluasi pada tingkat ini dapat digunakan untuk mengetahui apakah tujuan berikut tercapai atau tidak, yaitu “menyadari kewajiban bekerja dan berpenghasilan dengan memilih pekerjaan yang sesuai dengan kecenderungan dan spesialisasinya.”
Tingkat menanggapi (responding)
Evaluasi untuk tingkat menanggapi bila yang ingin diketahui adalah tingkat kemauan dan kemampuan untuk bereaksi terhadap suatu kejadian, proses, stimulus yang ditunjukkan oleh bentuk partisipasi dalam berbagai bentuk. Evaluasi pada tingkat ini dapat digunakan untuk mengetahui apakah tujuan berikut tercapai atau tidak, yaitu “mutarabbi menerapkan spesialisasi yang dimilikinya dalam upaya mendukung kerja dakwah serta tanggung jawab rumah tangga dengan menjalaninya secara serius dan tekun.”
Tingkat menilai (valuing)
Evaluasi untuk tingkat menilai bila yang ingin diketahui adalah tingkat pengakuan secara objektif (jujur) bahwa Islam dan segala yang melingkupinya adalah agama yang benar yang diikuti oleh kemauan untuk menerimanya (istislam) dengan ditunjukkan oleh sikap atau perilaku. Evaluasi pada tingkat ini dapat digunakan untuk mengetahui apakah tujuan berikut tercapai atau tidak, yaitu “mutarabbi mampu menerapkan adab-adab Islam di rumah.”
Tingkat organisasi (organization)
Evaluasi untuk tingkat organisasi bila yang ingin diketahui adalah tingkat konseptualisasi nilai-nilai Islam dan menyusun hubungan antar nilai-nilai tersebut, kemudian memilih nilai yang terbaik/tepat untuk diterapkan. Evaluasi pada tingkat ini dapat digunakan untuk mengetahui apakah tujuan berikut tercapai atau tidak, yaitu “mengutamakan produk-produk Islam ketika berbelanja dan tidak membelinya di toko-toko non muslim meskipun harganya lebih murah.”
Tingkat karakterisasi (characterization)
Evaluasi untuk tingkat karakteristik bila yang ingin diketahui adalah tingkat internalisasi nilai-nilai Islam sehingga menjadi karakternya. Nilai Islam telah menjadi ciri pribadinya. Evaluasi pada tingkat ini dapat digunakan untuk mengetahui apakah tujuan berikut tercapai atau tidak, yaitu “mutarabbi mampu membiasakan diri hidup teratur.”
Wujud tes yang bisa dipakai untuk mengukur penguasaan afektif antara lain: diskusi, karya ilmiah, mengarang, tes tulis, mengisi daftar check, jurnal.
Evaluasilah psikomotornya
Kemudian ada juga tujuan yang berbunyi “mempraktekan kiat-kiat mencapai kekhusyuan dalam shalat.” Tujuan ini dirancang bahwa tarbiyah harus sampai pada tingkat ‘amal yang artinya tarbiyah harus sampai pada aspek psikomotor. Sehingga aspek psikomotor menjadi sebuah aspek yang tidak boleh dilewatkan. Dalam aspek psikomotor tidak ada tingkatan seperti pada aspek kognitif dan afektif, namun dapat dibagi dalam beberapa kelompok. Kelompok- kelompok tersebut adalah
Gerakan seluruh badan (gross bodily movement)
Evaluasi yang dilakukan pada kelompok ini bila murabbi ingin mengetahui sudah sampai dimana kemampuan gerak fisik mutarabbi secara keseluruhan. Evaluasi pada tingkat ini dapat digunakan untuk mengetahui apakah tujuan berikut tercapai atau tidak, yaitu “mutarabbi mampu melakukan latihan fisik dengan teratur 10-15 menit setiap hari.”
Gerakan yang terkoordinasi (coordinated movement)
Evaluasi yang dilakukan pada kelompok ini bila murabbi ingin mengetahui sudah sampai dimana kemampuan koordinasi gerak fisik mutarabbi antara fungsi salah satu atau lebih indera manusia dengan salah satu anggota badannya. Evaluasi pada tingkat ini dapat digunakan untuk mengetahui apakah tujuan berikut tercapai atau tidak, yaitu “mutarabbi mampu menulis rosmu al-bayan dengan baik.”
Komunikasi nonverbal (nonverbal communication)
Evaluasi yang dilakukan pada kelompok ini bila murabbi ingin mengetahui sudah sampai dimana kemampuan komunikasi mutarabbinya dengan menggunakan simbol atau isyarat, misalnya: isyarat dengan tangan, anggukan kepala, ekspresi wajah, dan lain-lain. Evaluasi pada tingkat ini dapat digunakan untuk mengetahui apakah tujuan berikut tercapai atau tidak, yaitu “mutarabbi mampu membiasakan diri untuk murah senyum (ramah) di depan orang lain.”
Kebolehan dalam berbicara (speech behaviour)
Evaluasi yang dilakukan pada kelompok ini bila murabbi ingin mengetahui sudah sampai dimana kemampuan dalam berbicara yang dihubungkan dengan koordinasi gerakan tangan atau anggota badan lainnya, dengan ekspresi muka dan kemampuan bicara. Evaluasi pada tingkat ini dapat digunakan untuk mengetahui apakah tujuan berikut tercapai atau tidak, yaitu “mutarabbi mampu berbicara sesuai adab dan ketentuan yang ada dalam al-Quran (bagi akhowat).”
Wujud tes yang bisa dipakai untuk mengukur penguasaan psikomotor adalah praktek langsung.
keroncong
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 70
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 67

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik