FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.

Topics tagged under 58 on FORUM LASKAR ISLAM Follow_me
@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Waktu sekarang Sat Feb 29, 2020 1:16 pm

Ditemukan 6 data yang cocok

Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

@RHCP wrote:
@Azed wrote:Menurut pengertian saya, yg tidak boleh di jadikan panutan, tdk boleh di ikuti, tdk boleh di copas, tdk boleh di contoh dan semacam itu adalah memang SIFAT-nya (tentunya hanya yg jelek).

Dlm bhs kita, SIFAT juga disebut >> karakter, akhlak, perilaku, dsb.

Kalau bukan karena sifat yg jadi pertimbangannya, lalu menurut anda apanya ?

++

Lho, gitu doang?? Mana uraian dan penjelasannya?? wkwkwk...

Padahal penafsiran bang azed tsb. sudah MENGGESER MAKNA dari LARANGAN ALLAH utk MENJADIKAN yahudi/kristen sebagai awliya (PEMIMPIN/teman setia/penolong/pelindung). Menjadi hanya LARANGAN MENJADIKAN SIFAT yahudi/kristen sebagai panutan (meniru sifat mereka).

LARANGAN Allah itu bukan hanya karena SIFAT mereka. Yang paling jelas adalah karena "sebagian mereka adalah teman setia/penolong/sekutu/pemimpin bagi sebagian yang lain", yaitu dalam MEMUSUHI ISLAM dan umatnya. Karena mereka ngga akan ridho, kecuali muslim meninggalkan millah ISLAM dan mengikuti millah yahudi/kristen (al baqarah 120).

Saya tidak menggeser makna. Ada kemungkinan anda yg salah memahami tulisan saya, tapi bisa juga saya yg pahamnya salah.

Kita lihat, ini referensi saya dari artikel DR. Quraish Shihab, stressing yg biru dan bold. Lengkapnya di post #4. Untuk menyingkat, saya quote seperlunya, semoga tdk menghilangkan alur maknanya :

“Jadi, mereka dinilai enggan mengikuti tuntunan Tuhan tapi senang mengikuti tuntunan jahiliah,” katanya dalam pengajian Tafsir Al-Qur’an di salah satu stasiun TV swasta.

Lalu, dilanjutkan oleh ayat 51 surat Al-Maidah. Kalau memang seperti itu sikap orang-orang Yahudi dan Nasrani – mengubah kitab suci mereka, enggan mengikuti Al-Qur’an, keinginannya mengikuti jahiliyah, – “Maka wahai orang-orang beriman janganlah engkau menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai awliya.”

Bagi Quraish Shihab, hubungan ayat ini dan ayat sebelumnya sangat ketat. “Kalau begitu sifat-sifatnya, jangan jadikan mereka awliya (1). Nah, awliya itu apa?,” tanyanya memantik diskusi sebelum mengkaji lebih dalam.

‘Awliya’ ialah jamak atau bentuk plural dari ‘wali’. Di Indonesia, kata ini populer sehingga ada kata wali-kota, wali-nikah dst. Wali ialah, kata penulis Tafsir Al Misbah ini, pada mulanya berarti “yang dekat”. Karena itu, waliyullah juga bisa diartikan orang yang dekat dengan Allah.

Seseorang yang dekat pada yang lain, berarti ia senang padanya. Karena itu, iblis jauh  dari kebaikan karena ia tidak senang.“Dari sini, kata ‘wali’ yang jamaknya ‘awliya’ memiliki makna bermacam-macam.”

“Dalam ayat ini, jangan angkat mereka –Yahudi dan Nasrani- yang sifatnya seperti dikemukakan pada ayat sebelumnya menjadi wali atau orang dekatmu. Sehingga engkau membocorkan rahasia kepada mereka.”

Dengan demikian, ‘awliya’ bukan sebatas bermakna pemimpin, kata Quraish Shihab. “Itu pun, sekali lagi, jika mereka enggan mengikuti tuntunan Allah dan hanya mau mengikuti tuntunan Jahiliyah seperti ayat yang lain.”

Namun kalau pergaulan sehari-hari, dagang, membeli barang dari tokonya dsb, tidaklah dilarang. Selanjutnya ayat ini berbicara tentang sebagian mereka adalah awliya bagi sebagian yang lain. Artinya, sebagian orang Yahudi bekerjasama dengan orang Nasrani yang walaupun keduanya beda agama namun kepentingannya sama, yaitu mencederai kalian. (2)

Oleh sebab itu, Al-Qur’an berpesan, “Siapa yang menjadikan mereka itu orang yang dekat, yaitu meleburkan kepribadiannya sebagai Muslim sehingga sama keadaannya (sifat-sifatnya) dengan mereka, oleh ayat ini diaggap sama dengan mereka.”(3)


Ini yg saya pahami dari uraian diatas :
(1) Yg jadi pertimbangan adalah SIFAT-nya yg buruk
(2) Tentunya tdk hanya soal milah & akidah, tapi juga keselamatan fisik & jiwa
(3) Bersifat seperti mereka, meniru/mengikuti sifat mereka (yg buruk), dsb

Saya korelasikan dg terjemahan ini (Hasan Qaribullah & Ahmad Darwish) :

Bilievers, take neither Jews nor Nazarenes for your guides. They are guides of one another. Whosoever of you takes them for a guide shall become one of their number. Allah does not guide the wrongdoers.

Terjemahan bebas :
Hai orang-orang yg beriman, jangan seorangpun mengambil Yahudi maupun Nasrani sebagai guide-mu(1). Mereka menjadi guide(2) satu dg lainnya. Siapapun diantaramu yg menjadikan mereka sebagai guide(3), akan menjadi sama dg mereka. Allah tidak memberi petunjuk orang yg zalim.

Pemahaman saya atas arti guide :
(1). Saya tdk tahu apa istilah yg tepat dlm bhs Indonesia.
(2) & (3) Sama pengertian dg DR. Quraish Shihab

Saya hanya mengambil istilah yg dipakai >> Guide. Karena guide itu pengertian secara umum tdk hanya sekedar menjadikan pihak lain sebagai teman setia, teman, pemimpin, dsb. tapi juga sebagai orang yg digugu dan ditiru, panutan. Saya tdk tau istilah yg tepat, tapi analoginya seperti peran si guide - turis yg di guide.

Trus menurut anda dimana letak saya nggesernya ?
Yg benernya menurut anda gimana ?

@RHCP wrote:
@Azed wrote:Saya kesulitan mengikuti cara anda berargumen yg inkonsisten, beberapa diantaranya kontradiktip. Saya tdk bisa menanggapi satu persatu cara berargumen anda yg “aneh” . Coba lihat salah satunya postingan terakhir, apa yg saya tanyakan (merah) dan apa respon anda (biru).

Di #13 nulis ; awliya'a means "friends and allies" (teman dan sekutu).
Di #58 ngutib hadis ; Janganlah kamu berteman kecuali dengan orang yang beriman.

Berbasis pd arti “awliya=friends” dan hadis dilarang “berteman” dg orang yg tdk beriman yg anda posting itulah kemudian saya mengembangkannya. Anda berapologi kesana kemari melenceng dari apa yg dipersoalkan. Yg selalu anda jadikan basis berapologi adalah “teman setia”, bukannya “teman”.

Kenapa anda tdk konsisten, apakah anda menyadari bhw “tdk boleh berteman dg non muslim” itu tdk mungkin dilakukan ?. Malah belakangan bilang bhw nabi Muhammad juga bergaul dg non muslim dan menulis bhw Allah tdk melarang bergaul dg mereka.

Apanya yang ngga konsisten?? wkwkwkwk....
Menurut Quraish Shihab, arti dari awliya/wali (singular) adalah "YANG DEKAT". Kenapa bang azed maksa awliya itu artinya "TEMAN" bukan TEMAN DEKAT/SETIA"??

Kalo awliya = friends and allies itu berarti TEMAN dan SEKUTU (yang JELAS bukan "sekedar teman"). TEMAN dan sekutu adalah PERTEMANAN UNTUK BEKERJA SAMA dan saling tolong menolong.

Silakan cek sendiri hadist nabi yang SENGAJA bang azed permasalahin dan di-ulur2 utk sekedar "pengalihan issue" thd topik utama). wkwkwkwkwk.....
usil
لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِيٌّ
“Janganlah engkau berteman kecuali dengan orang mukmin, dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.”

Hadits nabi itu secara khusus adalah LARANGAN berteman, KECUALI dengan orang beriman. Dan kata2 "memakan makananmu" disitu adalah indikasi dari pertemanan yang akrab.

Dan Allah memang TIDAK MELARANG berteman wajar (dalam arti bermuamalah), dengan non muslim dan itu ada dalil ayatnya, yg contoh dan penjelasannya pun udah gw kasih. Bahkan bang azed sendiri yang posting contoh muamalah (dokter dan pilot non-muslim) oleh Prof. Quraish... (masa' bedain gitu doang harus pake penjabaran detail???).

Maka pendapat bahwa berteman/bermuamalah (bukan ber-awliya) dengan non muslim itu DILARANG, itu cuma mengada-ada. Dan jujur aja, gw jadi berasumsi kalo bang Azed ini bukannya ngga paham, tapi (maaf) cuma belaga pilon doang, untuk menghindari topik UTAMA..?? wkwkwk...
ehmm
@Azed wrote:Terjemahan awliya = teman setia, khususnya di Al Maidah 51 setau saya HANYA ada di versi Depag yg baru. Saya sudah mengecek di 17 terjemahan versi Inggris (softwarenya bisa donlot di google play), satu versi Al Misbah (DR. Qurasih Shihab), tdk ada yg menterjemahakan “loyal friend, close friend, crony” (teman setia/dekat/karib).

Tapi esensinya, menurut saya sih terserah akan ngambil pengertian yg mana. Toh yg akan melaksanakan kan yg meyakininya, bukan orang lain. Yg bertanggung jawab ya individu masing2.
++

Bang azed setuju dengan versi Quraish Shihab, khan?? Dan menurut beliau, awliya/wali (singular) = "YANG DEKAT". Awliya bukan SEBATAS BERMAKNA pemimpin. Dalam konteks hubungan antar manusia, berarti persahabatan yang begitu kental.

Bang azed juga beralasan kurang setuju awliya diartiin pemimpin (krn bau2 ORBA). Setelah mentok, terus ganti terjemahan "guide =pembimbing" (udah gw bantah). Pake terjemanan "TEMAN" (bawa2 ibnu katsir) juga udah gw bantah.

Bang azed keberatan pake terjemahan "teman setia", ngga cocok (krn bau2 DEPAG). Yang awalnya posting begini :
@azed wrote:Menurut kabar, Al Maidah 51 cetakan th 70-an masih diterjemahkan “teman setia”. ....... - maaf cut- .....
Setelah orba jatuh, Depag merevisi lagi (2002).

Tapi terakhir2 malah pake alasan begini....???
@azed wrote:Terjemahan awliya = teman setia, khususnya di Al Maidah 51 setau saya HANYA ada di versi Depag yg baru.

Terus bang azed sebenarnya mw pake terjemahan siapa/yang mana sih?? Quraish shihab?? DEPAG?? orang bule?? orang sudan?? Emangnya kita tinggal dimana??

Justru argumen2 bang azed sendiri yang ngga konsisten dan kontradiktif?!!
lol
@Azed wrote:Soal pertanyaan balik anda, saya jawab yg no. 1 saja.
Yg no 2 biar anda yg jawab sendiri.

Setidaknya dlm soal Al Maidah 51, sejauh yg saya tau, ada penjelasan sebab musababnya, ada latar belakangnya, ada Asbab Al Nuzul-nya. Allah TIDAK AKAN melarang “ber-awlya” dg Yahudi-Nasrani tanpa sebab, tdk hanya semata-mata karena mereka Yahudi-Nasrani.

ALLAH MELARANG mukminin menjadikan "yahudi/nasrani" sebagai AWLIYA (secara muhkamat). Bahkan kalo dilihat asbabun nuzulnya (Lebih kurang begini: Dua orang dari golongan anshor terikat oleh perjanjian untuk saling membela dengan Yahudi Bani Qainuqa’ yang memerangi rasulullah. Abdullah bin Ubay tidak melibatkan diri sedangkan ‘Ubadah bin ash-Shamit memilih untuk berpihak kepada rasulullah saaw. dan turunlah al maidah 51). MAKA penafsiran itu jadi semakin jelas. Dan umat jaman itu (umat TERBAIK), LANGSUNG sami'na wa atho'na".

Alasan yang sangat jelas TERSURAT adalah karena "sebagian yahudi/kristen adalah teman setia/penolong/sekutu/pemimpin bagi sebagian yahudi/kristen yang lain", yaitu dalam MEMUSUHI ISLAM dan umatnya. Karena mereka ngga akan ridho, kecuali kaum muslimin meninggalkan millah ISLAM dan mengikuti millah yahudi/kristen (al baqarah 120).

Disatu sisi anda “enggan” menerima terjemahan “friends” dan hadis “berteman” => teman biasa, dan tetap pada pengertian “teman setia”. Disisi lain, anda justru mengatakan bhw kalau hanya sekedar teman biasa ya gak masalah, bahkan bilang nabi juga begitu, Allah juga tdk melarang.

Saya sebenarnya hanya ingin “membantu” anda untuk konsisten pd referensi, toh anda sudah punya jawabannya yg bagus. Ketidak konsistenan pd referensi bisa membingungkan orang lain, setidaknya saya.

Berkali-kali saya mencoba memancing anda dg contoh terjemahan lain yg menterjemahkan “awliya” dlm pengertian “teman biasa”. Artinya, anda tdk sendirian, ada referensi pembandingnya, tidak salah. Tapi disalah pahami, … yawdah.

Maaf kalau begitu, saya tdk bermaksud buruk.

@RHCP wrote:
@Azed wrote:Mempolitisir = mempolitisasi = mempolitikkan = memperalat agama, dsb.

Bang azed paham khan definisi politik (dalam islam)??

Secara sederhana, definisi politik adalah usaha yang ditempuh suatu umat untuk mewujudkan kemaslahatan bersama. (kalo sekuler tujuannya BAGI2 KEKUASAAN)
@Azed wrote:Ulama atau cendekiawan lain mungkin menyebutnya dg istilah berbeda. Kebetulan saja ketika itu yg saya ingat secara spontan dan kemudian saya tulis : “mempolitisir”. Tapi esensinya sama : menjadikan agama sebagai alat politik, kendaraan politik, atau apalah istilahnya yg semuanya dlm pengertian tidak pada tempatnya.

Kalau cari referensi jangan hanya dg key word tunggal, apalagi cuma dari Hidayatullah dot com,.

Urusan berpolitik dalam islam adalah urusan AGAMA. Politik dalam ISLAM adalah; usaha yg dilakukan BERDASARKAN SYARIAT ISLAM dengan TUJUAN untuk mewujudkan kemaslahatan umat ISLAM.
" Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah "(Ali Imran : 110)

Jadi NGGA ada alasan untuk mengatakan bahwa umat islam "mempolitisir AGAMA/SYARIAT ISLAM". Pada awalnya ulama mengajukan sila pertama dari pancasila KETUHANAN YANG MAHA ESA plus 7 kata (yg terpaksa dihilangkan karena pengaruh sekuler). Akibatnya jaman sekarang muncul istilah "jangan mempolitisir ayat" atw "jangan menggunakan agama islam untuk berpolitik". Padahal itu adalah racun sekuler. Tujuannya adalah utk MENJAUHKAN umat ISLAM dari syariat ISLAM.

Wkwkwkwk... Gw baru pake satu rujukan aja, bang azed udah belepotan jawabnya, apalagi kalo gw pake lebih dari satu...?? Ayooo, semangat... Jangan sia2kan usaha "silent supporter" yang udah bela2in "ngelike" tuh....?!! Ngiahahahaha....
usil
@Azed wrote:Me-mutar2-kan lidah = memutar balikkan lidah = memutar balikkan fakta = distortion statement, dsb.

Itu hanya bisa dilakukan oleh orang yg mengerti makna sebenarnya, tapi mengajarkan secara berbeda dg tujuan yg pasti tidak benar. Samasekali berbeda dg muffasir (ahli tafsir) yg memang berusaha menafsirkan sesuai kemampuannya dg tujuan yg benar.

Sebenarnya ini kan istilah2 yg sederhana dan umum, mestinya sudah tdk perlu dijelaskan. Tapi karena anda mendesak terus, ya inilah jawaban saya.

Kalau memahami istilahnya saja keliru, maka yg dibahas pasti juga keliru. Semakin panjang membahas, semakin banyak kekeliruannya. Makanya saya enggan menanggapi.

Metafora "memutar2 lidah" itu gw insya Allah lumayan paham. Yang gw pengen tahu itu dalil bang azed, yg sebelumnya bawa2 istilah “memutar-mutarkan lidah”
“memutar-mutarkan lidah” dlm manafsirkannya, kemudian mengatakan bhw “ini kebenaran dari Allah”. Supaya disangka bhw yg dia katakan itu sebagian dari firman Allah, padahal bukan. Sedang dia sendiri sadar apa yg dilakukannya

Apakah ayat ini??
“Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah.… (Ali Imran:78)

Sejauh yang gw tahu, yang dimaksud "memutar-mutar lidahnya membaca al-Kitab” adalah kebiasaan yahudi/kristen MENGUBAH ISI kitab mereka untuk menyembunyikan kebenaran, setelah mereka memahaminya.

Pertanyaan: Kalo para ulama menafsirkan ayat al Quran kemudian ada perbedaan tafsir diantara mereka itu khan wajar. TAPI ulama mana yang sanggup MENGUBAH ISI al Quran, yang mendapat jaminan pemeliharaan dari ALLAH langsung??

Ini contoh yg disebut mempolitisir/memperalat agama dan distortion statement ;

Ketika Megawati maju sbg capres, muncul permainan ayat Allah pakai An Nisa 4:34 >> Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, .

Ayat ini kemudian dipahamkan kpd masyarakat dg cara "memutar-mutarkan lidah" oleh sebagian jurkam lawan politiknya. Tujuannya tentu untuk menjustifikasi penolakan thd capres perempuan. Padahal jelas2 ayat itu tak ada kaitannya dg soal pemerintahan, tapi soal rumah tangga dlm hubungannya sbg suami-istri.

Ada pula hadis rasul  yg sering di sebut2 sbg penjelasannya : “Jika suatu urusan diserahkan kpd yg bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya” . Tapi dibelokkan menjadi : “Jika suatu urusan diserahkan kpd kaum wanita, maka tunggulah kehancurannya”.

Ayat dicuplik, dipotong, diartikan tdk sesuai konteks, dipakai untuk tujuan yg salah. Hadis rasulpun dipalsukan sbg pendukung.
by Azed
on Thu Nov 10, 2016 9:22 pm
 
Search in: AL-QUR'AN, TAFSIR & ASBABUN NUZUL
Topik: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat
Balasan: 134
Dilihat: 9999

Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

@Azed wrote:Menurut pengertian saya, yg tidak boleh di jadikan panutan, tdk boleh di ikuti, tdk boleh di copas, tdk boleh di contoh dan semacam itu adalah memang SIFAT-nya (tentunya hanya yg jelek).

Dlm bhs kita, SIFAT juga disebut >> karakter, akhlak, perilaku, dsb.

Kalau bukan karena sifat yg jadi pertimbangannya, lalu menurut anda apanya ?

++

Lho, gitu doang?? Mana uraian dan penjelasannya?? wkwkwk...

Padahal penafsiran bang azed tsb. sudah MENGGESER MAKNA dari LARANGAN ALLAH utk MENJADIKAN yahudi/kristen sebagai awliya (PEMIMPIN/teman setia/penolong/pelindung). Menjadi hanya LARANGAN MENJADIKAN SIFAT yahudi/kristen sebagai panutan (meniru sifat mereka).

LARANGAN Allah itu bukan hanya karena SIFAT mereka. Yang paling jelas adalah karena "sebagian mereka adalah teman setia/penolong/sekutu/pemimpin bagi sebagian yang lain", yaitu dalam MEMUSUHI ISLAM dan umatnya. Karena mereka ngga akan ridho, kecuali muslim meninggalkan millah ISLAM dan mengikuti millah yahudi/kristen (al baqarah 120).
@Azed wrote:Saya kesulitan mengikuti cara anda berargumen yg inkonsisten, beberapa diantaranya kontradiktip. Saya tdk bisa menanggapi satu persatu cara berargumen anda yg “aneh” . Coba lihat salah satunya postingan terakhir, apa yg saya tanyakan (merah) dan apa respon anda (biru).

Di #13 nulis ; awliya'a means "friends and allies" (teman dan sekutu).
Di #58 ngutib hadis ; Janganlah kamu berteman kecuali dengan orang yang beriman.

Berbasis pd arti “awliya=friends” dan hadis dilarang “berteman” dg orang yg tdk beriman yg anda posting itulah kemudian saya mengembangkannya. Anda berapologi kesana kemari melenceng dari apa yg dipersoalkan. Yg selalu anda jadikan basis berapologi adalah “teman setia”, bukannya “teman”.

Kenapa anda tdk konsisten, apakah anda menyadari bhw “tdk boleh berteman dg non muslim” itu tdk mungkin dilakukan ?. Malah belakangan bilang bhw nabi Muhammad juga bergaul dg non muslim dan menulis bhw Allah tdk melarang bergaul dg mereka.

Apanya yang ngga konsisten?? wkwkwkwk....
Menurut Quraish Shihab, arti dari awliya/wali (singular) adalah "YANG DEKAT". Kenapa bang azed maksa awliya itu artinya "TEMAN" bukan TEMAN DEKAT/SETIA"??

Kalo awliya = friends and allies itu berarti TEMAN dan SEKUTU (yang JELAS bukan "sekedar teman"). TEMAN dan sekutu adalah PERTEMANAN UNTUK BEKERJA SAMA dan saling tolong menolong.

Silakan cek sendiri hadist nabi yang SENGAJA bang azed permasalahin dan di-ulur2 utk sekedar "pengalihan issue" thd topik utama). wkwkwkwkwk.....
usil
لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِيٌّ
“Janganlah engkau berteman kecuali dengan orang mukmin, dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.”

Hadits nabi itu secara khusus adalah LARANGAN berteman, KECUALI dengan orang beriman. Dan kata2 "memakan makananmu" disitu adalah indikasi dari pertemanan yang akrab.

Dan Allah memang TIDAK MELARANG berteman wajar (dalam arti bermuamalah), dengan non muslim dan itu ada dalil ayatnya, yg contoh dan penjelasannya pun udah gw kasih. Bahkan bang azed sendiri yang posting contoh muamalah (dokter dan pilot non-muslim) oleh Prof. Quraish... (masa' bedain gitu doang harus pake penjabaran detail???).

Maka pendapat bahwa berteman/bermuamalah (bukan ber-awliya) dengan non muslim itu DILARANG, itu cuma mengada-ada. Dan jujur aja, gw jadi berasumsi kalo bang Azed ini bukannya ngga paham, tapi (maaf) cuma belaga pilon doang, untuk menghindari topik UTAMA..?? wkwkwk...
ehmm
@Azed wrote:Terjemahan awliya = teman setia, khususnya di Al Maidah 51 setau saya HANYA ada di versi Depag yg baru. Saya sudah mengecek di 17 terjemahan versi Inggris (softwarenya bisa donlot di google play), satu versi Al Misbah (DR. Qurasih Shihab), tdk ada yg menterjemahakan “loyal friend, close friend, crony” (teman setia/dekat/karib).

Tapi esensinya, menurut saya sih terserah akan ngambil pengertian yg mana. Toh yg akan melaksanakan kan yg meyakininya, bukan orang lain. Yg bertanggung jawab ya individu masing2.
++

Bang azed setuju dengan versi Quraish Shihab, khan?? Dan menurut beliau, awliya/wali (singular) = "YANG DEKAT". Awliya bukan SEBATAS BERMAKNA pemimpin. Dalam konteks hubungan antar manusia, berarti persahabatan yang begitu kental.

Bang azed juga beralasan kurang setuju awliya diartiin pemimpin (krn bau2 ORBA). Setelah mentok, terus ganti terjemahan "guide =pembimbing" (udah gw bantah). Pake terjemanan "TEMAN" (bawa2 ibnu katsir) juga udah gw bantah.

Bang azed keberatan pake terjemahan "teman setia", ngga cocok (krn bau2 DEPAG). Yang awalnya posting begini :
@azed wrote:Menurut kabar, Al Maidah 51 cetakan th 70-an masih diterjemahkan “teman setia”. ....... - maaf cut- .....
Setelah orba jatuh, Depag merevisi lagi (2002).

Tapi terakhir2 malah pake alasan begini....???
@azed wrote:Terjemahan awliya = teman setia, khususnya di Al Maidah 51 setau saya HANYA ada di versi Depag yg baru.

Terus bang azed sebenarnya mw pake terjemahan siapa/yang mana sih?? Quraish shihab?? DEPAG?? orang bule?? orang sudan?? Emangnya kita tinggal dimana??

Justru argumen2 bang azed sendiri yang ngga konsisten dan kontradiktif?!!
lol
@Azed wrote:Soal pertanyaan balik anda, saya jawab yg no. 1 saja.
Yg no 2 biar anda yg jawab sendiri.

Setidaknya dlm soal Al Maidah 51, sejauh yg saya tau, ada penjelasan sebab musababnya, ada latar belakangnya, ada Asbab Al Nuzul-nya. Allah TIDAK AKAN melarang “ber-awlya” dg Yahudi-Nasrani tanpa sebab, tdk hanya semata-mata karena mereka Yahudi-Nasrani.

ALLAH MELARANG mukminin menjadikan "yahudi/nasrani" sebagai AWLIYA (secara muhkamat). Bahkan kalo dilihat asbabun nuzulnya (Lebih kurang begini: Dua orang dari golongan anshor terikat oleh perjanjian untuk saling membela dengan Yahudi Bani Qainuqa’ yang memerangi rasulullah. Abdullah bin Ubay tidak melibatkan diri sedangkan ‘Ubadah bin ash-Shamit memilih untuk berpihak kepada rasulullah saaw. dan turunlah al maidah 51). MAKA penafsiran itu jadi semakin jelas. Dan umat jaman itu (umat TERBAIK), LANGSUNG sami'na wa atho'na".

Alasan yang sangat jelas TERSURAT adalah karena "sebagian yahudi/kristen adalah teman setia/penolong/sekutu/pemimpin bagi sebagian yahudi/kristen yang lain", yaitu dalam MEMUSUHI ISLAM dan umatnya. Karena mereka ngga akan ridho, kecuali kaum muslimin meninggalkan millah ISLAM dan mengikuti millah yahudi/kristen (al baqarah 120).
@Azed wrote:
Mempolitisir = mempolitisasi = mempolitikkan = memperalat agama, dsb.

Bang azed paham khan definisi politik (dalam islam)??

Secara sederhana, definisi politik adalah usaha yang ditempuh suatu umat untuk mewujudkan kemaslahatan bersama. (kalo sekuler tujuannya BAGI2 KEKUASAAN)
@Azed wrote:Ulama atau cendekiawan lain mungkin menyebutnya dg istilah berbeda. Kebetulan saja ketika itu yg saya ingat secara spontan dan kemudian saya tulis : “mempolitisir”. Tapi esensinya sama : menjadikan agama sebagai alat politik, kendaraan politik, atau apalah istilahnya yg semuanya dlm pengertian tidak pada tempatnya.

Kalau cari referensi jangan hanya dg key word tunggal, apalagi cuma dari Hidayatullah dot com,.

Urusan berpolitik dalam islam adalah urusan AGAMA. Politik dalam ISLAM adalah; usaha yg dilakukan BERDASARKAN SYARIAT ISLAM dengan TUJUAN untuk mewujudkan kemaslahatan umat ISLAM.
" Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah "(Ali Imran : 110)

Jadi NGGA ada alasan untuk mengatakan bahwa umat islam "mempolitisir AGAMA/SYARIAT ISLAM". Pada awalnya ulama mengajukan sila pertama dari pancasila KETUHANAN YANG MAHA ESA plus 7 kata (yg terpaksa dihilangkan karena pengaruh sekuler). Akibatnya jaman sekarang muncul istilah "jangan mempolitisir ayat" atw "jangan menggunakan agama islam untuk berpolitik". Padahal itu adalah racun sekuler. Tujuannya adalah utk MENJAUHKAN umat ISLAM dari syariat ISLAM.

Wkwkwkwk... Gw baru pake satu rujukan aja, bang azed udah belepotan jawabnya, apalagi kalo gw pake lebih dari satu...?? Ayooo, semangat... Jangan sia2kan usaha "silent supporter" yang udah bela2in "ngelike" tuh....?!! Ngiahahahaha....
usil
@Azed wrote:Me-mutar2-kan lidah = memutar balikkan lidah = memutar balikkan fakta = distortion statement, dsb.

Itu hanya bisa dilakukan oleh orang yg mengerti makna sebenarnya, tapi mengajarkan secara berbeda dg tujuan yg pasti tidak benar. Samasekali berbeda dg muffasir (ahli tafsir) yg memang berusaha menafsirkan sesuai kemampuannya dg tujuan yg benar.

Sebenarnya ini kan istilah2 yg sederhana dan umum, mestinya sudah tdk perlu dijelaskan. Tapi karena anda mendesak terus, ya inilah jawaban saya.

Kalau memahami istilahnya saja keliru, maka yg dibahas pasti juga keliru. Semakin panjang membahas, semakin banyak kekeliruannya. Makanya saya enggan menanggapi.

Metafora "memutar2 lidah" itu gw insya Allah lumayan paham. Yang gw pengen tahu itu dalil bang azed, yg sebelumnya bawa2 istilah “memutar-mutarkan lidah”
“memutar-mutarkan lidah” dlm manafsirkannya, kemudian mengatakan bhw “ini kebenaran dari Allah”. Supaya disangka bhw yg dia katakan itu sebagian dari firman Allah, padahal bukan. Sedang dia sendiri sadar apa yg dilakukannya

Apakah ayat ini??
“Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah.… (Ali Imran:78)

Sejauh yang gw tahu, yang dimaksud "memutar-mutar lidahnya membaca al-Kitab” adalah kebiasaan yahudi/kristen MENGUBAH ISI kitab mereka untuk menyembunyikan kebenaran, setelah mereka memahaminya.

Pertanyaan: Kalo para ulama menafsirkan ayat al Quran kemudian ada perbedaan tafsir diantara mereka itu khan wajar. TAPI ulama mana yang sanggup MENGUBAH ISI al Quran, yang mendapat jaminan pemeliharaan dari ALLAH langsung??
by RHCP
on Wed Nov 09, 2016 1:47 am
 
Search in: AL-QUR'AN, TAFSIR & ASBABUN NUZUL
Topik: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat
Balasan: 134
Dilihat: 9999

Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat

@RHCP wrote:
@Azed wrote:
@RHCP wrote:
@azed wrote:
@RHCP wrote:"Sekedar berteman" itu khan maksudnya sekedar saling kenal/berbuat baik/berlaku adil/tidak mengganggu dlsb. Yang bukan dalam arti "berteman" erat/dekat/karib dlsb.

Hadis larangan berteman dan larangan makanan kita dimakan mereka itu masuk kategori yg mana, sekedar berteman atau teman dekat ?.

Kan gak nyebut tuh di hadis ; “boleh asal sekedar teman”

Lha, emangnya al maidah 51 menyebut2 LARANGAN "MENIRU SIFAT" yahudi/kristen??
Jawab itu dulu deh... wkwkwk...

Soal sifat, nanti insyaallah sampai kesana.

Itu khan fokus permasalahan juga, kenapa "nanti"??
Tafsiran al maidah 51 adalah fokus dari thread ini. Maka fokus bahasannya adalah LARANGAN menjadikan yahudi/kristen sebagai AWLIYA yang artinya kurang lebih; penolong, pelindung, teman setia, wali, pembimbing, pengurus, PEMIMPIN..

Jadi kalo ada penafsiran model begini : LARANGAN MENJADIKAN SIFAT yahudi/kristen sebagai "panutan" terhadap al maidah 51, maka ini adalah persoalan menarik dan perlu diskusi lebih lanjut.
@Azed wrote:Mas bro belum menjelaskan pertanyaan saya. Bukankah dg menunjukkan hadis tsb, anda ingin meyakinkan kpd saya dan semua pembaca, bhw menurut hadis (i.e perintah nabi) :
- Melarang muslim berteman kecuali dengan orang yang beriman, dan
- Melarang ada yang memakan makanan muslim kecuali orang yang bertakwa.

Tapi (soal teman) anda malah berpendapat >> nggak apa2 asal sekedar berteman.
So, menurut anda, yg tidak boleh itu kalau menjadi teman setia.

Allah MELARANG berteman setia/dekat/akrab dengan non-muslim, itu udah JELAS.
previous
Tapi Allah tidak MELARANG untuk bergaul/bermuamalah dgn non-muslim, yaitu misalnya; hubungan saling mengenal, tidak mengganggu, bersikap adil, membantu kesulitan (duniawi), berbuat baik dll.
“Allah TIDAK MELARANG kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al Mumtahanah: 8)

Dengan kata lain Allah tidak melarang (bergaul/bermuamalah), Allah hanya MEMBATASI agar jangan sampai (berwala' atw loyal) dengan mereka. Makanya gw rada HERAN. Masa' sih begitu doang sulit banget memahami maksudnya??
@Azed wrote:Pertanyaannya :
Apa sebabnya tdk boleh berteman/berteman setia dg non muslim ?.
Atau, mengapa sekedar berteman boleh, lebih dari itu tidak boleh
?.

Saya ingin pencerahan mas bro, apa alasannya.
Atau apakah ndak perlu alasan apapun, hanya semata-mata karena mereka non muslim.

Pertanyaan balik :
1. Apakah sebelum melaksanakan PERINTAH/LARANGAN Allah, kita HARUS TAHU dulu SEBAB/ALASAN/HIKMAHnya??
2. Apakah kita TIDAK YAKIN kalo PERINTAH/LARANGAN Allah itu PASTI untuk KEBAIKAN??
ehmm
Tapi OK lah...
Mudah2an dua ayat ini cukup dijadikan "ALASAN"
"Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti millah mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (Al-Baqarah:120)

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah:216)

Boleh jadi TIDAK "berteman setia" dengan non-muslim itu terasa SULIT dan tidak menyenangkan bagi seseorang, padahal itu adalah bentuk perlindungan dari Allah. Hal ini sekaligus bentuk UJIAN dari Allah bagi orang2 beriman. PATUH atw NGEYEL, kembali kepada pilihan masing2.

Menurut pengertian saya, yg tidak boleh di jadikan panutan, tdk boleh di ikuti, tdk boleh di copas, tdk boleh di contoh dan semacam itu adalah memang SIFAT-nya (tentunya hanya yg jelek).

Dlm bhs kita, SIFAT juga disebut >> karakter, akhlak, perilaku, dsb.

Kalau bukan karena sifat yg jadi pertimbangannya, lalu menurut anda apanya ?

++

Saya kesulitan mengikuti cara anda berargumen yg inkonsisten, beberapa diantaranya kontradiktip. Saya tdk bisa menanggapi satu persatu cara berargumen anda yg “aneh” . Coba lihat salah satunya postingan terakhir, apa yg saya tanyakan (merah) dan apa respon anda (biru).

Di #13 nulis ; awliyā'a means "friends and allies" (teman dan sekutu).
Di #58 ngutib hadis ; Janganlah kamu berteman kecuali dengan orang yang beriman.

Berbasis pd arti “awliya=friends” dan hadis dilarang “berteman” dg orang yg tdk beriman yg anda posting itulah kemudian saya mengembangkannya. Anda berapologi kesana kemari melenceng dari apa yg dipersoalkan. Yg selalu anda jadikan basis berapologi adalah “teman setia”, bukannya “teman”.

Kenapa anda tdk konsisten, apakah anda menyadari bhw “tdk boleh berteman dg non muslim” itu tdk mungkin dilakukan ?. Malah belakangan bilang bhw nabi Muhammad juga bergaul dg non muslim dan menulis bhw Allah tdk melarang bergaul dg mereka.

Terjemahan awliya = teman setia, khususnya di Al Maidah 51 setau saya HANYA ada di versi Depag yg baru. Saya sudah mengecek di 17 terjemahan versi Inggris (softwarenya bisa donlot di google play), satu versi Al Misbah (DR. Qurasih Shihab), tdk ada yg menterjemahakan “loyal friend, close friend, crony” (teman setia/dekat/karib).

Tapi esensinya, menurut saya sih terserah akan ngambil pengertian yg mana. Toh yg akan melaksanakan kan yg meyakininya, bukan orang lain. Yg bertanggung jawab ya individu masing2.

++

Soal pertanyaan balik anda, saya jawab yg no. 1 saja.
Yg no 2 biar anda yg jawab sendiri.

Setidaknya dlm soal Al Maidah 51, sejauh yg saya tau, ada penjelasan sebab musababnya, ada latar belakangnya, ada Asbab Al Nuzul-nya. Allah TIDAK AKAN melarang “ber-awlya” dg Yahudi-Nasrani tanpa sebab, tdk hanya semata-mata karena mereka Yahudi-Nasrani.

@RHCP wrote:
@Azed wrote:Yg tdk relevan, saya abaikan.
Yg lain saya hold dulu, biar fokus yg ini.

Terus bahasan # pesan ulama "jangan politisir ayat" dan "memutar2 lidah" # gimana, bang Azed?? Sepertinya kalo dilanjutkan lumayan bermanfaat bwt nambah wawasan.

Mempolitisir = mempolitisasi = mempolitikkan = memperalat agama, dsb.

Ulama atau cendekiawan lain mungkin menyebutnya dg istilah berbeda. Kebetulan saja ketika itu yg saya ingat secara spontan dan kemudian saya tulis : “mempolitisir”. Tapi esensinya sama : menjadikan agama sebagai alat politik, kendaraan politik, atau apalah istilahnya yg semuanya dlm pengertian tidak pada tempatnya.

Kalau cari referensi jangan hanya dg key word tunggal, apalagi cuma dari Hidayatullah dot com,.

-

Me-mutar2-kan lidah = memutar balikkan lidah = memutar balikkan fakta = distortion statement, dsb.

Itu hanya bisa dilakukan oleh orang yg mengerti makna sebenarnya, tapi mengajarkan secara berbeda dg tujuan yg pasti tidak benar. Samasekali berbeda dg muffasir (ahli tafsir) yg memang berusaha menafsirkan sesuai kemampuannya dg tujuan yg benar.

Sebenarnya ini kan istilah2 yg sederhana dan umum, mestinya sudah tdk perlu dijelaskan. Tapi karena anda mendesak terus, ya inilah jawaban saya.

Kalau memahami istilahnya saja keliru, maka yg dibahas pasti juga keliru. Semakin panjang membahas, semakin banyak kekeliruannya. Makanya saya enggan menanggapi.
by Azed
on Tue Nov 08, 2016 12:06 pm
 
Search in: AL-QUR'AN, TAFSIR & ASBABUN NUZUL
Topik: Bedah Almaidah 51: tanpa syarat atau bersyarat
Balasan: 134
Dilihat: 9999

LEGENDA SEVEN SLEEPERS

sisanya terjemahin sendiri ....
udah saya kasih tuh seluruh isi link .... ga pake image2an

untuk balasan #58 ... saya tulis setelah post ini
by dee-nee
on Wed May 27, 2015 2:53 pm
 
Search in: FORUM KHUSUS : (DISKUSI)
Topik: LEGENDA SEVEN SLEEPERS
Balasan: 114
Dilihat: 6122

SIAPAKAH SOSOK ZUL-QARNAYN DIMAKSUD DALAM ALQURAN (QS 18 : 83 – 98) ?

@Syalom aleykhem wrote:
@dee-nee wrote:
@Syalom aleykhem wrote:
@ngayarana wrote:Lalu apa hubungannya dengan pembahasan ini, terutama dengan sosok Zulqornaen dan Zoraster ini...?

Jangan berbelit belit mas.....

salah satu tafsir teman seukuwahmu seperti itu, kan anda suruh saya baca dari halaman 1[


Ini anda bawa2 saya sepertinya ... jadi gimana ?? ada masalah dengan statement saya ??

awalnya dari kalimat anda yang ini kan

syalom wrote:sdh bukan rahasia (fakta sejarah) agama bangsa persia zoroaster


sekarang gini deh ... saya minta anda terangkan tentang 3 orang majusi yang mendatangi bayi yesus
siapa mereka ?? apa agama mereka ?? berasal darimana mereka ?? dan karena apa mereka mendatangi yesus ??

tidak masalah koq
dgn majuzi buka saja lapak baru, & kita tidak mengagamakan orang majusi itu
jgn lupa anda masih punya janji yg belum ditepati di forum ini


jawab aja ... ga usah buka lapak baru >>> saya cuma mau confirm kalimat anda yang merah
dari situ bisa nyambung dengan yang biru >>> jadi anda juga bisa jawab pertanyaan saya >> "ada masalah dengan statement saya ??"

saya tanya tentang 3 orang majusi itu untuk mempertanggung jawabkan statement saya di thread ini
daripada anda tanya ke muslim lain yang jelas tidak punya kewajiban untuk membawa dalil saya

gitu loh ...

underline : janji yang mana ?? yang terjemahan itu ?? >>> kan udah saya tulis di thread SEVEN SLEEPERS >>> saya hutang dulu soal terjemahan
sebetulnya terjemahan itu mau dibawa ke thread mana sih ?? .... thread ini atau thread SEVEN SLEEPERS  ?? ... kalau thread ini >>> saya bisa debat thread SEVEN SLEEPERS khususnya #58

confirm dulu yang ungu
by dee-nee
on Thu May 07, 2015 12:51 am
 
Search in: DISKUSI EKSKLUSIF
Topik: SIAPAKAH SOSOK ZUL-QARNAYN DIMAKSUD DALAM ALQURAN (QS 18 : 83 – 98) ?
Balasan: 455
Dilihat: 10003

LEGENDA SEVEN SLEEPERS

No no ... maksud saya
kita kan belum selesai dari #58 ... dan disitu saya janji akan terjemahkan link saya (makanya #58 belum saya balas)

tentang #63 >> anda tanya pengakuan tentang apa ??

tentang asbabun nuzul bahwa memang rabbi2 itu mengakui jawaban Muhammad benar ??

confirm dulu pertnyaan #63
dan #58 saya hutang dulu >>> banyak yang bisa saya bantah kok di #58 ... (maaf ya belum sempet nerjemahin)

atau ada yang bersedia nerjemahin ?? nanti saya kasih article lengkapnya (tinggal copy paste ga pake image2)

piss
by dee-nee
on Thu May 07, 2015 12:21 am
 
Search in: FORUM KHUSUS : (DISKUSI)
Topik: LEGENDA SEVEN SLEEPERS
Balasan: 114
Dilihat: 6122

Kembali Ke Atas

Navigasi: