FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Minoritas Kristen Israel

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Minoritas Kristen Israel

Post by Rindu on Mon May 02, 2016 1:50 pm


  • Sama seperti berbagai kelompok minoritas lain, umat Kristen sekarang paham bahwa bertugas dalam militer Israel merupakan hal mendasar bagi integrasi mereka di Israel. Banyak warga Kristen dan minoritas lain di Israel sama-sama takut: mereka semakin memahami bahwa di kawasan ini, Israel menjadi satu-satunya pulau aman yang memungkinkan mereka memiliki kemerdekaan serta hak-hak demokratis.
  • Umat Kristen dan minoritas bertumbuh subur di Israel, sementara di negara-negara lain di Timur Tengah termasuk Otoritas Palestina, mereka sangat menderita akibat gerakan dan penganiayaan oleh Islam ---- hingga dipaksa untuk lenyap.
  • Berbeda dari propaganda yang tersebar, di sana tidak "apartheid" dalam bentuk apapun. Tak ada jalan yang hanya dilewati kaum Yahudi.
  • Di Israel, para anggota minoritas Kristen dan Muslim menduduki semua jenis jabatan tinggi negeri ini --- sama seperti warga Yahudi Israel yang menginginkan karir yang sukses. Ada hakim Mahkamah Agung warga Maronit Kristen, Salim Jubran, namanya.
  • Yang kini ramai didiskusikan di kawasan itu adalah bagaimana masyarakat Eropa diam-diam menginginkan agar Israel dihapuskan juga berharap bahwa hukum baru mereka, bersamaan dengan kekerasaan ala kuno Arab berhasil.

Tahun silam, Israel mengakui keberadaan satu kelompok Kristen di dalam lingkup perbatasan negeri ini. Kaum Aramea, nama kelompok itu. Tindakan ini, tak pernah atau tak bakal pernah dilakukan oleh negara Arab atau Muslim dari Timur Tengah. Israel justru sebaliknya mengakui adanya kelompok agama dan etnis yang berbeda: yaitu masyarakat pribumi era masa lalu kawasan Bulan Sabit Subur itu.
Bahasa mereka, Bahasa Aram. Bahasa itu dituturkan Yesus, berabad-abad sebelum Islam muncul di kawasan itu.
Israel bukan saja mendukung serta memberikan hak sipil penuh kebebasan dan hak hukum untuk hidup secara damai dan menjalankan agama seperti mereka inginkan kepada umat Kristen serta minoritas lain seperti kaum Muslim, Druz, Baha'i dan siapa saja tetapi juga memberikan kesempatan kepada masyarakat minoritas untuk berkembang sebagai masyarakat minoritas dengan semua implikasi akibat perbedaan budaya. Kelompok-kelompok minoritas itu mencakup juga masyarakat Arab, misalnya, diterima dengan senang hati untuk masuk dalam Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Tetapi berbeda dari warga Yahudi, mereka tidak direkrut untuk bertempur. Pendiri Israel, Perdana Menteri David Ben Gurion tidak menginginkan warga Arab merasa seolah diwajibkan memerangi "para saudara" mereka.
Di Israel, para anggota minoritas Kristen dan Muslim menduduki semua jenis jabatan tinggi negeri ini --- sama seperti warga Yahudi Israel yang menginginkan karir yang sukses. Ada hakim Mahkamah Agung warga Maronit Kristen, Salim Jubran, namanya.
Berbeda dari propaganda yang tersebar, di sana tidak "apartheid" dalam bentuk apapun. Tak ada jalan yang hanya dilewati kaum Yahudi. Jalan-jalan itu justru ada di Arab Saudi, yang memang punya jalan-jalan "apartheid" yang sebenarnya, karena hanya kaum Muslim yang boleh bepergian ke Mekkah.
Lebih jauh lagi, Israel, melakukan semuanya ini, di sebuah lingkungan tempat nyaris semua tetangganya---kerapkali menjadi musuh-musuh kemanusiaan yang paling brutal. Negara-negara tetangga yang menginginkan Israel dihapuskan kerap sungguh-sungguh menjalankan niatnya agar keinginan mereka tercapai. Yang menyedihkan, banyak warga Eropa bergabung di dalamnya. Semua orang sudah menyaksikan upaya-upaya jahat Uni Eropa untuk menghancurkan Israel secara ekonomi. Caranya adalah dengan melabeli barang-barang yang dihasilkan di kawasan-kawasan yang dipersengketakan. Persyaratan ini tidak pernah dibuat dengan negara lain yang mengalami sengketa perbatasan. Dengan demikian, langkah ini justru menghambat proses perdamaian yang sama-sama bermaksud untuk diwujudkan.
Warga Eropa memang tidak menipu siapapun. Bagi Israel, "hukuman" mereka yang malu–malu namun sadis yang menganggap diri benar hanya berarti melemparkan ribuan warga Palestina keluar dari pekerjaan dengan gaji bagus, yang benar-benar dibutuhkan. Keputusan itu juga mendorong banyak warga Palestina yang baru dikeluarkan menuju biro penanganan pengangguran sebagai jalan terakhir; yaitu ekstremisme dan terorisme Islam. Ironisnya, warga Eropa ini, yang guna memuaskan keingininan mereka untuk melukai kaum Yahudi dengan berpura-pura membantu warga palestina, sebetulnya benar-benar menyebarluaskan bibit baru para teroris yang kemudian bakal datang ke Eropa sekaligus memperlihatkan kepada mereka apa yang mereka pikirkan tentang sikap munafik itu.
Yang kini ramai didiskusikan di kawasan itu adalah bagaimana masyarakat Eropa diam-diam menginginkan agar Israel dihapuskan juga berharap bahwa hukum baru mereka, bersamaan dengan kekerasaan ala kuno Arab berhasil. Dengan cara itu, masyarakat Eropa bisa berpura-pura pada diri sendiri bahwa mereka "tidak ada hubungan sama sekali dengan hal itu." Warga Eropa ini perlu tahu mereka memang tidak sedang menipu siapapun.
Sementara itu, terlepas dari kenyataan bahwa Israel terpaksa berurusan dengan fron-fron Eropa serta Amerika termasuk juga kerapkali dengan berbagai ancaman pembasmian massal (genosida) oleh kaum Muslim, terus aktif memperkuat berbagai komunitas minoritasnya melalui beragam program yang disponsori oleh negara. Di antaranya, adalah program lima tahun untuk mengembangkan berbagai komunitas minoritas Arab Israel dan kelompok minoritas lain yang dilaksanakan oleh pemerintah pada 30 Desember 2015 lalu dengan biaya mencapai 4 miliar dolar AS [sekitar Rp 52 triliun]. Menteri Kesetaraan Sosial Gila Gamliel dari Partai Likud bertanggung jawab menjalankan rencana ini. Perdana Menteri Netanyahu, yang secara tidak adil dikecam, selama beberapa tahun terakhir telah mengoperasikan lembaga "Otoritas Pembangunan Ekonomi Sektor Arab, Druz dan Kirkas." Lembaga itu dipimpin oleh seorang warga Muslim Arab, Aiman Saif yang mengendalikan anggaran besar bernilai hampir 1,8 miliar dolar AS [sekitar Rp 23,4 triliun] yang sebagian besar terserap pada berbagai kota dan desa Arab guna mengembangkan infrastruktur modern, zona industri, peluang kerja, pendidikan dan unsur-unsur lainnya. Sisa dana itu dialokasikan untuk membantu desa-desa Kristen di Galilea.
Warga Arab punya bagian sendiri dalam Kementerian Pendidikan. Bagian itu dipimpin oleh warga muslim Arab, Abdalla Khateeb yang juga bertanggung jawab terhadap dana sebesar 230 juta dolar [sekitar Rp 3 triliun].
Sama seperti berbagai kelompok minoritas lain, umat Kristen sekarang paham bahwa bertugas dalam militer Israel merupakan hal mendasar bagi integrasi mereka di Israel. Banyak warga Kristen dan minoritas lain di Israel sama-sama takut: mereka semakin memahami bahwa di kawasan ini, Israel menjadi satu-satunya pulau aman yang memungkinkan mereka memiliki kemerdekaan serta hak-hak demokratis. Komunitas Arab Muslim di Israel termasuk umat Kristen dan komunitas berbahasa Arab lain melihat nasib tragis para saudara mereka di Suriah, Irak, Libanon dan negara-negara Arab lain. Kaum Muslim saling membunuh; kelompok Muslim fanatik membutuh kaum Kristen, mencabut mereka dari lingkungan sosial mereka, menggorok leher mereka, membakar mereka hidup-hidup, menenggelamkan mereka dalam sangkar-sangkar dan tentu saja menyalibkan mereka, bahkan anak kecil sekalipun. Kaum minoritas Israel sangat sadari kenyataan ini. Juga tidak mereka pahami mengapa tidak seorang pun mengecam para penjahat itu sebagai iblis. Mereka takut pemusnahan itu berkembang, pertama-tama mengarah ke tanah suci Israel, kemudian menuju Eropa.
Rasa takut ini menjadi salah satu alasan semakin meningkatnya jumlah umat Kristen mengajukan diri untuk berdinas di IDF: Ada 30% rekrutmen dilakukan secara sukarela; sementara dalam masyarakat Yahudi, ada 57% yang wajib direkrut. Sekarang ini bahkan lebih dari 1000 warga Arab Muslim yang aktif bekerja dalam IDF.
Kami semua sadari bahaya yang ditimbulkan oleh kelompok jihadi Islam fanatik seperti Hamas. Karena itu, kami semakin berkomitmen untuk melindungi satu-satunya negara pluralis ini.
Komunitas tempat penulis artikel ini berada, yaitu kelompok Kristen Aramea, berasal dari akar etnis dan budaya Aramea – Fenisia, sesungguhnya berbasis di Suriah, Libanon, Irak. Selama lebih dari 1.400 tahun menyusul penaklukan Islam, umat Kristen Aramea dipaksa untuk beralih menggunakan bahasa Arab. Malah akhir-akhir ini mereka dipaksa meningggalkan rumah mereka di Suriah dan Irak. Mereka tidak punya status di Arab dan negara-negara Islam, yang sebagian besar diperintah berdasarkan hukum Shariah Islam. Umat Kristen Aramea juga tidak punya status di kawasan Otoritas Palestina yang kini menguasasi kawasan Yudea dan Samaria.
Kami sadari ada sejumlah kelompok Kristen seperti kelompok Sabeel, Kairos Palestina dan lain-lain yang hidup di bawah ibu jari Otoritas Palestina, yang masih merasa perlu bermanis mulut kepada para tuan Muslim Arab yang menaklukan mereka.
Yerusalem itu terbuka kepada siapa pun. Tetapi tidak selalu demikian terjadi, khususnya selama berada di bawah yurisdiksi Yordania, hingga 1967. Bukan saja kaum Yahudi tidak diijinkan memasukinya, tetapi juga 38.000 batu nisan kaum Yahudi pun diambil dari Pemakaman Gunung Zaitun kemudian digunakan sebagai bahan bangunan dan lantai untuk toilet warga Yordania.
Para anggota Arab Muslim di Knesset [Parlemen] Israel menolak hak umat Kristen untuk mempertahankan warisan unik mereka. Pada 5 Februari 2014 lalu, anggota Knesset Haneen Zoabi dari Partai Daftar Persatuan Arab (United Arab List) mengancam para wakil Kristen Israel yang melobi Komisi Penempatan Kerja Knesset guna mendukung undang-undang yang bakal menambahkan para wakil Kristen pada komisi untuk kesetaraan karyawan dalam Kementerian Eonomi. Zoabi menolak deklarasi bahwa mereka adalah etnis Kristen Aramea yang terpisah. Dia ngotot memaksakan identitas Arab dan Palestina atas mereka. Identifikasi itu, tentu saja, sama salahnya jika kita umat Kristen memaksakan bahwa kaum Muslim Arab menyebut diri Pribumi Amerika. Terlepas dari upaya Zoabi dan koleganya, undang-undang itu disahkan, berkat koalisi para anggota Knesset --- dengan mayoritas anggota Knesset Yahudi yang memberikan suara dukungan.
Insiden ini menggambarkan bagaimana sikap sejumlah warga Muslim Arab. Mereka meminta tetangga Yahudi mereka membantu mereka mempertahankan warisan Muslim Arab mereka, namun, pada saat yang sama, mereka justru melarang minoritas etnis lain atas hak-hak yang sama.
Sebaliknya, mereka berupaya menerapkan Arabisasi dan Palestinanisasi dengan ancaman dan paksaan. Pada September 2014 lalu misalnya, seorang wantia Kristen Aramea berpangkat kapten dalam jajaran IDF, Areen Shaabi dikejar sekelompok aktivis Muslim Arab di Nazareth. Sembari meneriakan "Allahu Akbar," mereka mengancamnya. Pada malam itu juga, ban-ban mobil sang kapten mereka robek.
Mayor IDF, Ehab Shlayan, seorang umat Kristen Aramea di Nazareth serta pendiri Christian Recruitment Forum (Forum Perekrutan Umat Kristen) mengalami nasib serupa. Ketika terbangun pada pagi buta bulan Agustus 2015, dia melihat bahwa bendera Palestina sudah didirikan di depan pintu rumahnya malam itu. Pada Perayaan Natal, 24 Desember 2014, tiga puluh Muslim melemparkan batu dan botol kaca menyerang seorang tentara Kristen berusia 19 tahun, Majd Rawashdi beserta rumahnya.

Mayor IDF Ehab Shlayan (kiri jauh) adalah warga Kristen Aramea dari Nazareth dan pendiri Forum Perekrutan Kristen yang mendorong umat Kristen Aramea Israel untuk memasuki dunia militer negeri itu. Anggota Knesset Arab Muslim, Haneen Zoabi (kanan) baru-baru ini mengancam para wakil Kristen Israel, menolak deklarasi mereka bahwa mereka adalah etnis Kristen Aramea yang terpisah dan ngotot memaksakan identitas Arab dan Palestina atas mereka.
Semua ini kemunafikan tingkat paling tinggi yang bercampur baru dengan rasisme.
Dalam sebuah ucapan Natal resmi kepada umat Kristen Israel pada 24 Desember 2014 lalu, Perdana Menteri Netanyahu mengatakan:
"Kaum minoritas Israel, termasuk lebih dari satu juta warga Arab, senantiasa punya hak sipil yang penuh. Pemerintah Israel tidak bakal pernah bertoleransi terhadap diskriminasi terhadap kaum wanita. Penduduk Kristen Israel bakal selalu bebas menjalankan agama mereka. Inilah satu-satunya tempat di Timur Tengah tempat umat Kristen benar-benar bebas menjalankan agama mereka. Mereka tidak boleh takut; mereka tidak boleh tinggalkan tempat ini. Tatkala umat Kristen berlarut-larut diserang di begitu banyak tempat di begitu banyak negara di Timur Tengah, saya bangga umat Kristen Israel itu bebas menjalankan agama mereka. Saya juga bangga bahwa ada komunitas Kristen yang sedang bertumbuh subur di Israel."
Umat Kristen dan minoritas bertumbuh subur di Israel, sementara di negara-negara lain di Timur Tengah termasuk Otoritas Palestina, mereka sangat menderita akibat gerakan dan penganiayaan oleh Islam ---- hingga dipaksa untuk lenyap.
Shadi Khalloul, adalah pendiri Gerakan Aram Bangsa Israel (Israeli Aramaic Movement). Sebelum menamatkan pendidikannya di Universitas Nevada, Las Vegas, dia menjadi anggota militer. Ia mencapai pangkat letnan dalam Divisi Terjun Payung IDF. Dia juga pengusaha, pemimpin komunitas dan kandidat untuk parlemen Israel.
http://id.gatestoneinstitute.org/7751/minoritas-kristen-israel

Rindu
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 333
Kepercayaan : Lain-lain
Location : bumi
Join date : 09.05.14
Reputation : 7

Kembali Ke Atas Go down

Re: Minoritas Kristen Israel

Post by isaku on Mon May 02, 2016 3:49 pm

Fr Pierbattista Pizzaballa, Penjaga Tanah Suci, juru bicara Katolik senior telah menyatakan bahwa kelambanan polisi dan budaya pendidikan yang mendorong anak-anak Yahudi untuk memupuk pandangan mereka terhadap orang-orang Kristen dengan "penghinaan" dan telah membuat hidup semakin "tak tertahankan" bagi banyak orang Kristen. Pernyataan Fr Pizzaballa datang setelah ekstremis pro-pemukim menyerang sebuah biara Trappist di kota Latroun, membakar pintu, dan menutupi dinding dengan grafiti anti-Kristen dengan mencela Kristus sebagai "monyet". Insiden ini menyusul serangkaian aksi pembakaran dan vandalisme, pada tahun 2012, menargetkan tempat-tempat ibadah Kristen, termasuk Biara abad ke-11 Salib Yerusalem, di mana slogan-slogan seperti "Matilah Kristen" dan grafiti ofensif lainnya ditulis pada dinding-dindingnya. Menurut sebuah artikel di Telegraph, pemimpin Kristen merasa bahwa isu yang paling penting bahwa Israel telah gagal mengatasi adalah praktik beberapa sekolah Yahudi Ultra-Ortodoks untuk mengajarkan anak-anak bahwa itu adalah kewajiban agama menyalahgunakan siapa pun di Tahbisan Suci mereka, sehingga orang-orang Yahudi Ultra-Ortodoks, termasuk anak-anak berumur delapan, meludahi anggota ulama Kristen setiap hari.[19]

---

Pada bulan November 2009, Berlanty Azzam, seorang mahasiswa Kristen Palestina dari Gaza, diusir dari Betlehem dan tidak diizinkan untuk melanjutkan belajar. Dia memiliki dua bulan tersisa untuk menyelesaikan gelar. Berlanty Azzam mengatakan militer Israel memborgolnya, ditutup matanya, dan meninggalkan dia menunggu selama berjam-jam di pos pemeriksaan dalam perjalanan kembali dari sebuah wawancara kerja di Ramallah. Dia menggambarkan insiden itu sebagai "menakutkan" dan mengklaim pejabat Israel memperlakukan dia seperti seorang kriminal dan melarang dirinya dalam pendidikan hanya karena ia adalah seorang Kristen Palestina dari Gaza.[25]

----

Dalam sebuah jajak pendapat 2006 dari Kristen di Bethlehem oleh Pusat Palestina untuk Penelitian dan Dialog Budaya, 90% melaporkan memiliki teman Muslim, 73,3% setuju bahwa Otoritas Palestina memperlakukan warisan Kristen di kota dengan hormat, dan 78% disebabkan eksodus berkelanjutan Kristen dari Betlehem ke pendudukan Israel dan pembatasan perjalanan di daerah.[36] Daniel Rossing, Kementerian Israel kepala penghubung Agama 'Kristen pada 1970-an dan 1980-an, telah menyatakan bahwa situasi bagi mereka di Gaza menjadi jauh lebih buruk setelah pemilihan dimenangkan Hamas. Dia juga menyatakan bahwa Otoritas Palestina, yang mengandalkan Kristen Barat untuk dukungan keuangan, memperlakukan minoritas secara adil. Ia menyalahkan penghalang Tepi Barat Israel sebagai masalah utama bagi orang-orang Kristen.[28]

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dalam laporan tahun 2006 tentang kebebasan beragama mengecam Israel karena pembatasan pada perjalanan ke tempat-tempat suci Kristen dan Otoritas Palestina untuk kegagalan dalam membasmi kejahatan anti-Kristen. Hal ini juga melaporkan bahwa mandat memberikan perlakuan istimewa dalam pelayanan sipil dasar untuk orang-orang Yahudi dan yang terakhir melakukannya bagi umat Islam. Laporan tersebut menyatakan bahwa, secara umum, warga Muslim dan Kristen biasa menikmati hubungan baik dan kontras dengan ketegangan hubungan Yahudi dan non-Yahudi.[27] Sebuah laporan BBC 2005 juga menggambarkan Muslim dan hubungan Kristen sebagai "kedamaian".[26]

https://id.wikipedia.org/wiki/Kristen_Palestina

isaku
KAPTEN
KAPTEN

Male
Posts : 3520
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 17.09.12
Reputation : 138

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik