FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

[VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Halaman 1 dari 2 1, 2  Next

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Muslim-Zone [VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Post by Admin on Fri May 22, 2015 10:38 pm

Topik ini menjadi begitu hangat dan menjadi perbincangan utamanya di Media Sosial, bermula dari Peristiwa pada acara peringatan Isra' wal Mi'raj di Istana Negara, Jakarta (Jumat, 15/5/2015). Dimana pembacaan Al-Quran pada saat itu oleh Qori Muhammad Yasser Arafat dibacakan dengan Langgam Jawa yang terdengar begitu asing bahkan tidak lazim di telinga Kaum Muslimin pada umumnya. Berbagai komentar pun keluar dari beberapa Tokoh-tokoh Islam. Namun didalam menyikapi hal ini tentunya harus dengan kepala dingin serta kembali kepada tuntunan Rasulullah SAW yaitu kroscek atau bertabayyun sebelum menuduhkan yang macam-macam.
Untuk itu mari kita dengarkan pendapat dari salah-satu tokoh dan juga merupakan Qori' Internasional yang tidak asing lagi yaitu KH Muammar ZA mengenai hal ini.


Dan bagi yang belum menonton Video nya pada Acara Isra' wal Mi'raj di Istana Negara , Jakarta (Jumat, 15/5/2015)



Terakhir diubah oleh Admin tanggal Sun May 24, 2015 6:58 pm, total 3 kali diubah
avatar
Admin
Administrator
Administrator

Male
Posts : 1099
Kepercayaan : Islam
Location : Tanah Melayu
Join date : 03.08.11
Reputation : 55

http://laskarislam.indonesianforum.net

Kembali Ke Atas Go down

Muslim-Zone Re: [VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Post by Mutiaraa on Sat May 23, 2015 1:43 am

ada lagi di youtube langgam seriosa.lengkap dg instrumen musik dan dirigentnya.

yg penting tajwidnya benar,shg tidak mengubah arti
avatar
Mutiaraa
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Female
Posts : 1383
Kepercayaan : Islam
Location : DKI
Join date : 20.01.14
Reputation : 29

Kembali Ke Atas Go down

Muslim-Zone Re: [VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Post by mang odoy on Sun May 24, 2015 1:12 am

@Mutiaraa wrote:ada lagi di youtube langgam seriosa.lengkap dg instrumen musik dan dirigentnya.

yg penting tajwidnya benar,shg tidak mengubah arti

mantaff.... otak muslim dah pada canggih...

sekalian aja mba mut... baca quran pake musik Punk... yang nyanyiin si Billy Joe dari Greenday...

kapan kapan... bikin komentar aja... "mau boker/beol di tengah mall juga gak apa apa... yang penting tbuka celana sama ****...sepanjang ngeden nya bener..ya ga apa apa.."

mang odoy
KAPTEN
KAPTEN

Posts : 4233
Kepercayaan : Islam
Join date : 11.10.11
Reputation : 86

Kembali Ke Atas Go down

Muslim-Zone Re: [VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Post by mang odoy on Sun May 24, 2015 4:11 am

@Admin wrote:
Topik ini menjadi begitu hangat dan menjadi perbincangan utamanya di Media Sosial, bermula dari Peristiwa pada acara peringatan Isra' wal Mi'raj di Istana Negara, Jakarta (Jumat, 15/5/2015). Dimana pembacaan Al-Quran pada saat itu oleh Qori Muhammad Yasser Arafat dibacakan dengan Langgam Jawa yang terdengar begitu asing bahkan tidak lazim di telinga Kaum Muslimin pada umumnya. Berbagai komentar pun keluar dari beberapa Tokoh-tokoh ke-Agama-an. Namun didalam menyikapi hal ini tentunya harus dengan kepala dingin serta kembali kepada tuntunan Rasulullah SAW yaitu kroscek atau bertabayyun sebelum menuduhkan yang macam-macam.
Untuk itu mari kita dengarkan pendapat dari salah-satu tokoh dan juga merupakan Qori' Internasional yang tidak asing lagi yaitu KH Muammar ZA mengenai hal ini.

beginii nii...kalo punya presiden aliran METALLICA...

usil

mang odoy
KAPTEN
KAPTEN

Posts : 4233
Kepercayaan : Islam
Join date : 11.10.11
Reputation : 86

Kembali Ke Atas Go down

Muslim-Zone Re: [VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Post by THOR on Sun May 24, 2015 12:55 pm

Jujur saya jg begitu sedih mendengar Al-Qur'an ini yang di lagukan dengan langgam jawa...dan disaat yg sama jg bertanya2 kenapa bisa sampai sekelas menteri Agama yg mengizinkannya dan dengan alasan sentuhan budaya Indonesia??

kalau mengikuti pola pikir Menteri Agama ini, maka akan didapati kesimpulan bahwa cukup dengan membaca dengan benar dan tdk melanggar Tajwid maka diperbolehkan... padahal Nabi sendiri memberi isyarat bahwa lagukanlah bacaan Al-Qur'an itu dengan langgam arab (simak video diatas).

Jangan pernah sekali-kali kita menggampangkan urusan yg seperti ini, karena bisa jd kedepannya akan ADA Al-Qur'an yg dibacakan dengan langgam2 yg lain semisal melayu, dangdut, hip-hop dll 
NAUDZUBILLAH SUMMA NAUDZUBILLAH!
avatar
THOR
KOPRAL
KOPRAL

Male
Age : 28
Posts : 20
Kepercayaan : Islam
Location : indonesia
Join date : 12.05.15
Reputation : 1

Kembali Ke Atas Go down

Muslim-Zone Re: [VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Post by mang odoy on Sun May 24, 2015 2:24 pm

Mentri Agama jg gk bakal berkutik..kalo presiden nya bener dan punya prinsip ke Islama an...

mang odoy
KAPTEN
KAPTEN

Posts : 4233
Kepercayaan : Islam
Join date : 11.10.11
Reputation : 86

Kembali Ke Atas Go down

Muslim-Zone Re: [VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Post by dee-nee on Sun May 24, 2015 2:26 pm

@mang odoy wrote:
@Mutiaraa wrote:ada lagi di youtube langgam seriosa.lengkap dg instrumen musik dan dirigentnya.

yg penting tajwidnya benar,shg tidak mengubah arti

mantaff.... otak muslim dah pada canggih...

sekalian aja mba mut... baca quran pake musik Punk... yang nyanyiin si Billy Joe dari Greenday...

kapan kapan... bikin komentar aja... "mau boker/beol di tengah mall juga gak apa apa... yang penting tbuka celana sama ****...sepanjang ngeden nya bener..ya ga apa apa.."

tidak pro atau kontra antara mang odoy dan mutiara ...
setiap orang punya hak untuk berpendapat ....

piss piss

tapi biar netral ... saya bawa tiga link berikut :

avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Muslim-Zone Re: [VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Post by dee-nee on Sun May 24, 2015 2:45 pm

http://www.konsultasisyariah.com/membaca-al-quran-dengan-langgam-jawa/#

link wrote:Pertanyaan :
Assalamu’alaikum
Benarkah membaca Al-Qur’an dengan langgam jawa itu tak boleh?
Jika tidak boleh, lantas dari manakah nada-nada Tilawah yang biasa kita dengar selama ini datangnya? Apakah Rasul juga mengajarkan?

Terimakasih.
Dari Muhammad Baskoro

Jawaban:
Wa’alaikum salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Cara baca al-Quran seperti yang dilakukan si qari itu mengikuti gaya macapat, terutama tembang mijil. Tembang macapat-mijil, merupakan salah satu jenis irama lagu bagi masyarakat jawa. Tidak jauh berbeda dengan irama dangdut, pop, jazz, dst. Hanya saja, mengingat irama ini lebih terikat dengan kedaerahan, penyebarannya tidak lebih luas dibanding irama yang lain.

Namun apapun itu, kita sepakat ini irama lagu.

Ada dua sudut pandang yang bisa kita berikan untuk kasus di atas,

Pertama, hukum membaca al-Quran dengan irama (lahn)

Dr. Ibrahim bin Sa’d ad-Dausiri – ketua lembaga studi Ilmu al-Quran di King Saud Unniversity – menjelaskan,

Irama bacaan al-Quran ada dua,

Pertama, irama yang mengikuti tabiat asli manusia, tanpa dibuat-buat, tanpa dilatih. Ini cara baca umumnya masyarakat ketika melanutnkan ayat suci al-Quran. Dan ini diperbolehkan, bahkan termasuk dianjurkan ketika seseorang membaca al-Quran. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ليس منَّا من لم يتغنَّ بالقرآن

Bukan termasuk golonganku, orang yang tidak melagukan al-Quran. (HR. Bukhari 7527).

Melagukan bacaan al-Quran sebagaimana yang dilakukan para imam ketika mengimami shalat.

Kedua, irama bacaan al-Quran yang dibuat-buat, mengikuti irama musik, atau irama lagu tertentu.

Yang semacam ini tidak bisa dilakukan kecuali melalui latihan. Ada nada-nada tertentu, yang itu bisa keluar dari aturan tajwid. Cara baca semacam ini hukumnya terlarang.

Selanjutnya Dr. Ibrahim ad-Dausiri membawakan keterangan al-Hafidz Ibnu Katsir,

والغرض أن المطلوب شرعا إنما هو التحسين بالصوت الباعث على تدبر القرآن وتفهمه والخشوع والخضوع والانقياد للطاعة ، فأما الأصوات بالنغمات المحدثة المركبة على الأوزان والأوضاع الملهية والقانون الموسيقائي فالقرآن ينزه عن هذا ويُجلّ ، ويعظم أن يسلك في أدائه هذا المذهب

Yang diajarkan oleh syariat adalah memperindah bacaan al-Quran karena dorongan ingin mentadabburi al-Quran, memahaminya, berusaha khusyu, tunduk, karena ingin mentaati Allah. Adapun bacaan al-Quran dengan lagu yang tidak pernah dikenal, mengikuti irama, tempo, cengkok lagu, dan nada musik, maka seharusnya al-Quran diagungkan, dan dimuliakan dari cara baca semacam ini. (Fadhail al-Quran, hlm. 114).

Keterangan lain disampaikan Imam Ibnul Qoyim,

وكل من له علم بأحوال السلف يعلم قطعاً أنهم براء من القراءة بألحان الموسيقى المتكلفة التي هي إيقاعات وحركات موزونة معدودة محدودة ، وأنهم أتقى لله من أن يقرؤوا بها ويسوِّغوها

Semua orang yang mengetahui keadaan ulama salaf, dia akan sangat yakin bahwa mereka berlepas diri dari cara baca al-Quran dengan mengikuti irama musik yang dipaksa-paksakan. Menyesuaikan dengan cengkok, genre, dan tempo nada lagu. Mereka sangat takut kepada Allah untuk membaca al-Quran dengan gaya semacam ini atau membolehkannya. (Zadul Ma’ad, 1/470).

Dan sangat jelas, si qari itu membaca dengan irama lagu, bukan karena bawaan asli cara dia membaca al-Quran. Kita bisa melihat sangat jelas, kesan dipanjang-panjangkan, merusak kaidah tajwid, dalang rangka mengikuti irama macapat. Padahal itu dibaca di acara resmi negara. Di dengar oleh banyak orang yang paham bacaan al-Quran.

Kedua, liberalisasi al-Quran

Barangkali ini yang perlu lebih mendapatkan perhatian. Untuk generasi saat ini, langgam lagu macapat hampir terlupakan. Hanya digunakan untuk suasana resmi hiburan resepsi pernikahan. Masyarakat jawa sendiri sudah banyak yang meninggalkannya. Ketika kita belajar al-Quran di surau atau TPA, kita tidak pernah diajari cara membaca al-Quran seperti itu.

Karena itu, wajar ketika ada orang yang membaca al-Quran dengan langgam yang aneh tersebut, spontan memicu banyak reaksi dari kaum muslimin. Jika itu satu hal yang lumrah bagi mereka, tidak akan mereka permasalahkan.

Ini kembali satu kata, ‘menciptakan sensasi’ dan suasana baru dalam bacaan al-Quran. Ulah orang-orang liberal, untuk memancing emosi kaum muslimin. Dengan niat yang tidak baik, bisa jadi tidak jauh jika ini dimasukkan  dalam kategori istihza’ (mempermainkan) terhadap al-Quran

Bukan Pengaruh Bahasa

Terlalu jauh jika berasalan bahwa itu karena bawaan lagu daerah. Sampaipun seorang muslim yang pinter macapat, ketika dia membaca al-Quran, dia akan membacanya dengan lagu yang mengikuti kaidah tajwid, dan bukan macapat.

Ini berbeda dengan orang yang membaca al-Quran dengan langgam asli karena pengaruh lidah daerah. Tanpa ada kesan dipaksa-paksakan. Seperti orang sunda yang membaca huruf fa dengan pa atau orang jawa yang kesulitan baca ‘ain sehingga terbaca ngain, dst. yang ini murni terjadi di luar kesengajaan.

Semoga Allah menyelamatkan kaum muslimin dari pengaruh jahat orang-orang liberal.

Allahu a’lam.

dari link diatas saya mengambil kesimpulan :

Bahwa ada aturan dalam membaca Al Quran (yang ini jelas)
Irama bacaan al-Quran ada dua ... dst (silahkan baca yang merah)

dan menurut Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) ... apa yang dibacakan si Qari dalam youtube ... melanggar dua azaz yang merah (silahkan baca yang biru)

Pandangan saya : katakanlah apa yang dijelaskan Ustadz Ammi Nur Baits bisa saya terima ... tetapi tentu tidak perlu harus langsung disambung dengan tuduhan liberalisasi Al Quran dsb ... karena jatuhnya su'udzon

dan belum tentu pihak si qari tidak punya dalil sahih untuk itu ...

walaupun dalam hal ini saya sepakat dengan pandangan Ustadz Ammi Nur Baits yang merah ... tapi saya masih perlu konfirmasi terkait yang biru .... misalnya .... menurut link diatas

Kedua, irama bacaan al-Quran yang dibuat-buat, mengikuti irama musik, atau irama lagu tertentu.
Yang semacam ini tidak bisa dilakukan kecuali melalui latihan. Ada nada-nada tertentu, yang itu bisa keluar dari aturan tajwid


Dan sangat jelas, si qari itu membaca dengan irama lagu, bukan karena bawaan asli cara dia membaca al-Quran. Kita bisa melihat sangat jelas, kesan dipanjang-panjangkan, merusak kaidah tajwid, dalang rangka mengikuti irama macapat.

1. apakah ulama lain juga sepakat bahwa si qari sudah merusak kaidah tajwid ??
2. dalam hal ini ... saya lihat tulisan mutiara pun tidak salah

@mutiara wrote:ada lagi di youtube langgam seriosa.lengkap dg instrumen musik dan dirigentnya.
yg penting tajwidnya benar,shg tidak mengubah arti

apakah si qari dinilai merusak kaidah tajwid atau tidak >>> ya mari kita simak link lain

3. tulisan mang odoy pun juga ga salah ....

@mang odoy wrote:sekalian aja mba mut... baca quran pake musik Punk... yang nyanyiin si Billy Joe dari Greenday

ya kalau musik punk itu akhirnya dilakukan untuk merendahkan Al Quran (seperti tulisan yang ungu) ... tentu saja kesalahan besar
tapi ... apakah kita bisa langsung menghakimi si qari ... bahwa dia dengan sengaja melakukan itu untuk merendahkan Al Quran

balik2nya .... apakah si qari dinilai merusak kaidah tajwid atau tidak >>> ya mari kita simak link lain
kalaupun dinilai merusak ... tentu tidak bisa juga langsung "didakwa" telah dengan sengaja melakukan itu untuk merendahkan Al Quran
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Muslim-Zone Re: [VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Post by dee-nee on Sun May 24, 2015 3:36 pm

http://www.nugarislurus.com/2015/05/soal-bacaan-quran-dengan-langgam-jawa-nu-garis-lurus-kecam-keras-menag.html#axzz3b2QU0Ix9

link wrote:Soal Bacaan Qur’an Dengan Langgam Jawa, NU Garis Lurus Kecam Keras Menag

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin melalui akun twitternya mengaku bahwa pencetus ide membaca al qur’an dengan langgam Jawa adalah dirinya bukan atas perintah Presiden Jokowi. Pengakuannya ini pun mendapat kecaman keras tokoh NU Garis Lurus KH. Lutfi Bashori Alwi.

“Menteri agama Lukman Hakim adalah tokoh liberal terselubung. Bukti pengaturan lagu Alquran dengan langgam Jawa adalah hasil rekayasa Lukman Hakim. Rasanya Lukman Hakim sudah tidak pantas menjadi Menteri Agama, atau barangkali lebih tepat jika ada istilah Menteri Sekte Liberal”. (KH. Lutfi Bashori Alwi)

Seni baca Al Qur’an ialah bacaan Al Qur’an yang bertajwid diperindah oleh irama dan lagu.

Al Qur’an tidak lepas dari lagu. Di dalam melagukan Al Qur’an atau taghonni dalam membaca Al Qur’an akan lebih indah bila diwarnai dengan macam-macam lagu. Untuk melagukan Al Qur’an , para ahli qurro di Indonesia membagi lagu atas 7 (tujuh) macam bagian. Antara lain sebagai berikut :

1. Bayati
2. Shoba
3. Hijaz
4. Nahawand
5. Rost
6. Jiharkah
7. Sikah

Dari 7 ( tujuh ) macam lagu di atas masih dibagi dalam beberapa cabang. Macam – macam lagu dan cabangnya antara lain :
1. Bayati
a. Qoror
b. Nawa
c. Jawab
d. Jawabul jawab
e. Nuzul ( turun )
f. Shu’ud ( naik )

2. Shoba
a. Dasar
b. Ajami/Ala Ajam
Quflah Bustanjar/Qofiyah

3. Hijaz
a. Dasar
b. Kard
c. Kurd
d. Kard-Kurd
e. Variasi

4. Nahawand
a. Dasar
b. Jawab
c. Nakriz
d. Usysyaq

5. Rost
a. Dasar
b. Nawa/Rost ala Nawa

6. Jiharkah
a. Nawa
b. Jawab

7. Sikah
a. Dasar
b. Iraqi
c. Turki
d. Ramal (fales)

Dalam MTQ ( Musabaqoh Tilawatil Qur’an ) ada beberapa materi penilaian. Antara lain :
1. Materi penilaian bidang tajwid, terdiri dari :
a. Makharijul huruf
b. Shifatul huruf
c. Ahkamul huruf
d. Ahkamul mad wal qoshr

2. Materi penilaian bidang fashohah dan adab, terdiri dari :
a. Al Waqf wal – ibtida
b. Muroatul kalimat wal kharokat
c. Muroatul kalimat wal ayat
d. Adabut tilawah

3. Materi penilaian bidang irama dan suara, terdiri dari:
a. Suara
b. Irama dan variasi
c. Keutuhan dan tempo lagu
d. Pengaturan nafas

Kesalahan dalam bidang suara dan irama
1. Kesalahan dalam suara terdiri dari :
a. Suara kasar
b. Suara pecah
c. Suara parau
d. Suara lemah

2. Kesalahan dalam irama terdiri dari :
a. lagu yang tidak utuh
b. tempo lagu yang terlalu cepat atau terlalu lambat
c. irama dan variasi yang tidak indah
d. pengaturan nafas yang tidak terkendali

Mengenal Nagham (Irama) Al Quran dan Kilasan Sejarahnya

Kognisi dan psikomotorik umat Islam terhadap nagham tidak selazim ilmu tajwid. Kata nagham secara etimologi paralel dengan kata ghina yang bermakna lagu atau irama. Secara terminologi nagham dimaknai sebagai membaca Al Quran dengan irama (seni) atau suara yang indah dan merdu atau melagukan Al Quran secara baik dan benar tanpa melanggar aturan-aturan bacaan.

Keberadaan ilmu nagham, tidak sekedar realisasi dari firman Allah dalam suroh Al Muzzammil ayat 4,”Bacalah Al Quran itu secara tartil”, akan tetapi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari eksistensi manusia sebagai makhluk yang berbudaya yang memiliki cipta, rasa, dan karsa. Rasa yang melahirkan seni (termasuk nagham) merupakan bagian integral kehidupan manusia yang didorong oleh adanya daya kemauan dalam dirinya. Kemauan rasa itu sendiri timbul karena didorong oleh karsa rohaniah dan pikiran manusia.

Nagham merupakan salah satu dari sekian ekspresi seni yang menjadi bagian integral hidup manusia. Bahkan nagham ini telah tumbuh sejak lama. Ibnu Manzur menyatakan bahwa ada dua teori tentang asal mula munculnya nagham Al Quran. Pertama, nagham Al Quran berasal dari nyanyian nenek moyang bangsa Arab. Kedua, nagham terinspirasi dari nyanyian budak-budak kafir yang menjadi tawanan perang.

Kedua teori tersebut menegaskan bahwa lagu-lagu Al Quran berasal dari khazanah tradisional Arab (tentu saja berbau padang pasir). Dengan teori ini pula ditegaskan bahwa lagu-lagu Al Quran idealnya bernuansa irama Arab. Sehingga apa yang pernah ditawarkan Mukti Ali dalam sebuah kesempatan pertemuan ilmiah tentang pribumisasi lagu-lagu Al Quran (misalnya menggunakan langgam es lilin dan dandang gulo) tidak dapat diterima. Pada Masa akhir ini sesuai dengan perkembangan maka melalui teori konvergensi asal bersesuaian dengan nahga arab klasik.

Meski kedua teori tersebut hampir benar adanya tapi tetap saja muncul permasalahan. Jika memang benar nagham Al Quran berasal dari seni Arab lalu siapakah yang pertama kali mengkonversikannya untuk lagu Al Quran ? Sampai di sini ketidakjelasan. Dan lagi, jika memang benar nagham Al Quran berasal dari nyanyian tentu dapat direpresentasikan dalam not balok atau oktaf tangga nada. Tapi kenyataannya tidaklah demikian, nagham Al Quran sangat sulit ditransfer ke dalam notasi angka atau nada. Dan karena sifat eksklusifisme inilah kemudian yang “memaksa” bahwa metode sima’i, talaqqi, dan musyahafah merupakan satu-satunya cara dalam mentransmisikan lagu-lagu Al Quran

Pada zamannya, Rasulullah SAW adalah seorang qari’ yang membaca Al Quran dengan suara indah dan merdu. Abdullah bin Mughaffal pernah mengilustrsikan suara Rasulullah dengan terperanjatnya unta yang ditunggangi Nabi ketika Nabi melantunkan suroh Al Fath. Para sahabat juga memiliki minta yang besar terhadap ilmu nagham ini. Sejarah mencatat sejumlah sahabat yang berpredikat sebagai qari’, diantaranya adalah : Abdullah Ibnu Mas’ud dan Abu Musa Al Asy’ari. Pada periode tabi’in, tercatat Umar bin Abdul Aziz dan Safir Al Lusi sebagai qari’ kenamaan. Sedangkan periode tabi’ tabi’in dikenal nama Abdullah bin Ali bin Abdillah Al Baghdadi dan Khalid bin Usman bin Abdurrahman.

Kendati di masa awal Islam sudah tumbuh lagu-lagu Al Quran, namun perkembangannya tak bisa dilacak karena tak ada bukti yang dapat dikaji. Hal ini dimungkinkan karena pada saat itu belum ada alat perekam suara. Transformasi seni baca Al Quran berlangsung secara sederhana dan turun temurun dari generasi ke generasi. Sejarah juga tak mencatat perkembangan pasca tabi’in. Apresiasi terhadap seni Al Quran semakin tenggelam seiring dengan semakin maraknya umat Islam melakukan olah akal (berfilsafat), olah batin (tasawwuf), dan olah laku ibadah (berfiqh). Selain itu, barangkali ini yang paling mendasar bahwa dibutuhkan kemampuan khusus untuk masuk dalam kualifikasi qari’, terumata menyangkut modal suara. Modal ini lebih merupakan hak perogratif Allah untuk diberikan kepada yang dikehendaki-Nya.

Pada abad ke-20, kedua model lagu tersebut masuk ke Indonesia. Transmisi lagu-lagu tersebut dilakukan oleh ulama-ulama yang mengkaji ilmu-ilmu agama di sana yang pulang ke tanah air untuk mengembangkan ilmunya, termasuk seni baca Al Quran. Lagu Makkawi sangat digandrungi di awal perkembangannya di Indonesia karena liriknya yang sangat sederhana dan relatif datar. Lagu Makkawi mewujud dalam barzanji. Beberapa qari’ yang menjadi eksponen aliran ini adalah : KH Arwani, KH Sya’roni, KH Munawwir, KH Abdul Qadir, KH Damanhuri, KH Saleh Ma’mun, KH Muntaha, dan KH Azra’i Abdurrauf.

Memasuki paruh abad 20, seiring dengan eksebisi qari’ Mesir ke Indonesia, mulai marak berkembangan lagu model Mishri. Pada tahun 60-an pemerintah Mesir mensuplai sejumlah maestro qari’ seperti Syeikh Abdul Basith Abdus Somad, Syeikh Musthofa Ismail, Syeikh Mahmud Kholil Al Hushori, dan Syeikh Abdul Qadir Abdul Azim. Animo dan atensi umat Islam Indonesia terhadap lagu-lagu Mishri demikian tinggi. Hal ini disebabkan karakter lagu Mishri yang lebih dinamis dan merdu. Keadaan ini cocok dengan kondisi alam Indonesia. Sejumlah qari’ yang menjadi elaboran lagu Mishri adalah : KH Bashori Alwi, KH Mukhtar Lutfi, KH Aziz Muslim, KH Mansur Ma’mun, KH Muhammad Assiry, dan KH Ahmad Syahid.

Seni baca Al Quran baru menampakkan geliatnya pada awal abad 20 M yang berpusat di Makkah dan Madinah serta di Indonesia sebagai negeri berpenduduk mayoritas Muslim yang sangat aktif mentransfer ilmu-ilmu agama (termasuk nagham) sejak awal 19 M. Hingga hari ini Makkah dan Mesir merupakan kiblat nagham dunia. Masing-masing kiblat memiliki karakteristik tersendiri. Dalam makkawi dikenal lagu Banjakah, Hijaz, Mayya, rakby, Jiharkah, Sikah, dan Dukkah. Sementara pada Misri terdapat Bayyati, Hijaz, Shoba, Rashd, Jiharkah, Sikah, dan Nahawand.

Nagham Yang sangat sering ditampilkan Qari /Qari’ah dimasa kini:

1. Nagham bayati yang terdiri dari  bayati qoror, bayati  nawa, bayati jawab, bayati jawabul jawab

2. Nagham shaba yang terdiri dari shoba Asli, shoba jawab, shoba ajami salalim su’ud, shoba ajami salalim nuzul. Shoba bastanjar

3. nagham Hijaz yang terdiri dari hijaz asli, hijas kard, hijaz kard-kurd, hijaz kurd

4.Nagham nahawand yang terdiri nahawand asli , nahawand usysyaq

5. Naghan sikka yang terdiri diri sikka asli,sikka ramal, sikka misri, sikka turki

6. Naghan ras yang terdiri dari ras asli, ras alan nawa, ras syabir

Nagham ini bisa dikembangkan dengan bermacam variasi, yang dikembangkan dengan banyak mendengarkan bacaan syeh Mustopha Ismail,syeh mustopa Ghalwas  dan lainnya dan juga dengan banyak mendengarkan lagu-lagu padang pasir dari sumber aslinya, seperti lagu-lagu ummi kulsum, Muhammad Abdul Wahhad dan lannya. Kita dapat mengembangkan sendiri dan bisa juga dengan memasukkan irama lainnya yang munasabah (sesuai).

Pembacaan Al Quran dengan langgam Jawa yang dilaksanakan di Istana Negara dalam rangka memperingati Isra’ Mi’raj tak hanya menjadi perbincangan didalam negeri.

Qari’ internasional, Syaikh Abdullah bin Ali Bashfar pun ikut memberikan komentarnya mengenai qira’at dengan Langgam Jawa tersebut.

Seperti dikutip dari Fimadani, Ahad (17/05), Syeikh Ali Bashfar memberikan kritik dan catatan terkait video muratal dengan lagu Dandang gulo macapat Jawa tersebut yang dibacakan oleh Muhammad Yaser Arafat.

–  Kesalahan tajwid; dimana panjang mad-nya dipaksakan mengikuti kebutuhan lagu.

– Kesalahan lahjah (logat). Membaca Al-Qur’an sangat dianjurkan menggunakan lahjah Arab, sebagaimana orang Arab membacanya. Dalam hadist disebutkan: “Iqra’ul qur’aana biluhuunil ‘Arobi wa ashwaatiha”.

– Kesalahan takalluf, yakni memaksakan untuk meniru lagu yang tidak lazim dalam membaca Al-Qur’an.


Yang cukup berbahaya jika ada kesalahan niat, yaitu merasa perlu menonjolkan kejawaan atau keindonesiaan atau kebangsaan dalam berinteraksi dengan al Qur’an, membangun sikap ashabiyyah dalam ber-Islam.

Dan yang paling fatal jika ada maksud memperolok-olokkan ayat-ayat Allah yang mereka samakan dengan lagu-lagu wayang dalam suku Jawa.


Beliau mengakhiri catatannya dengan berdoa, “Allahu yahdinaa wa yahdiihim. Semoga Allah memberikan petunjuk dalam menjaga dan menda’wahkan Al-Qur’an. Wallahu a’lam.”

Tanggapan MUI

Wakil Sekretariat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnaen mengungkapkan membaca Alquran dengan menggunakan langgam Jawa di Istana Negara, telah mempermalukan Indonesia di kancah internasional. Tengku merasa banyak kesalahan, baik dari segi tajwid, fashohah, dan lagunya.

Menurutnya, pembacaan ayat-ayat Alquran dengan menggunakan langgam Jawa adalah hal konyol. Dalam Alquran sudah dijelaskan kitab suci itu diturunkan dengan huruf dan bahasa Arab asli.

Jadi membacanya juga mesti sesuai pada saat Alquran diturunkan ke bumi. “Ibadah itu sudah digariskan Allah dan Rasul-Nya. Dalam Alquran dijelaskan bahwa Alquran itu diturunkan dalam lisan Arab asli. Nabi juga mengatakan Alquran untuk dialek Quraisy, jadi membacanya harus dengan cara bagaimana Alquran itu diturunkan,” papar Tengku seperti dikutip Republika, Ahad (17/5).

Selain itu, Tengku menambahkan, lagu untuk pembacaan Alquran sendiri sudah disepakati para Qurra yang ada di dunia. “Lagunya yang sudah disepakati para Qurra’ tingkat dunia adalah lagu standar yang selama ini ada yakni husaini bayati, hijaz, shoba, nahqand, rast, sikkah, jaharkah atau Ajami,” tuturnya.

Dia juga menilai akan lahir keanehan jika Alquran dibaca dengan menggunakan langgam tertentu seperti lagu Cina, Batak, seriosa, Indian, Jawa, Sunda, dan lainnya. “Hal itu tentu akan merusak keindahan Alquran sendiri. Bayangkan lah jika lagu Jawa dinyanyikan pakai cara seriosa, maka penciptanya akan protes dan keindahannya hilang,” ucap Tengku.

Sebelumnya diberitakan dalam sebuah acara di Istana Negara yang dihadiri Presiden Jokowi, jajaran menteri dan perwakilan negara sahabat, dilantunkan pembacaan ayat suci Alquran dengan langgam Jawa.

wakakakakaka ... panjang yah

piss  piss

point-nya adalah yang orange ... terkait kritik dan catatan dari Syeikh Ali Bashfar ... bahwa ada kesalahan tajwid, logat, dan takalluf yang dilakukan si qari

untuk kesalahan tajwid >>> link ini mungkin sudah menjawab link pertama
sementara untuk logat dan takalluf >>> saya pribadi kok menilai agak aneh bila kita (orang non-arab) diharuskan mengikuti logat Arab ... sementara untuk takalluf (lazim tak lazim pun sifatnya relative)

Jadi ... saya pribadi hanya bawa point tentang kesalahan tajwid

Terkait yang ungu ... ya seperti saya sebut diatas >>> ketakutan apapun itu perlu ... tapi bukan artinya karena dasar ketakutan ini ... maka kita bisa langsung membuat kesimpulan tanpa ada bukti

catatan : saya tidak bilang link ini sudah menuduh si qari melakukan yang ungu loh .... yang underline hanya sekedar refleksi dari saya

sementara tentang tanggapan MUI >>> mohon maaf ... tidak terlalu jadi fokus saya ... karena menurut saya uraian MUI keluar berdasarkan lubuk hati (perasaan) MUI ... yang tentu tidak bisa dijadikan dalil dalam beragumentasi (walaupun wajib untuk dipertimbangkan)
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Muslim-Zone Re: [VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Post by dee-nee on Sun May 24, 2015 3:48 pm

http://nasional.tempo.co/read/news/2015/05/18/078667038/Menteri-Agama-Akan-Festivalkan-Baca-Quran-Langgam-Nusantara

link wrote:Menteri Agama Akan Festivalkan Baca Quran Langgam Nusantara

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menjelaskan bahwa gagasan pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa pada peringatan Isra Miraj di Istana Negara, Jumat malam, 15 Mei 2015, berasal dari dia. Saat itu Muhammad Yasser Arafat melantunkan Surah An-Najm ayat 1-15 dengan cengkok atau langgam Jawa.

Acara yang dihadiri Presiden Joko Widodo, sejumlah pejabat, dan duta besar negara Islam itu menuai kontroversi. Ahmad Annuri, pakar pengajaran Al-Quran dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, menuduh pemerintah melakukan liberalisasi agama Islam.

"Tujuan pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa adalah menjaga dan memelihara tradisi Nusantara dalam menyebarluaskan ajaran Islam di Tanah Air," kata Lukman dalam cuitannya. Dia menyimak semua kritikan dan menghargai yang memberi apresiasi.

Lukman memang peduli dengan hal ini. Pada Rabu, 6 Mei 2015, dia menghadiri acara ulang tahun ke-18 Bayt Al-Quran dan Museum Istiqlal di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. Dia mengatakan Indonesia memiliki ciri khas Islam Nusantara, misalnya seni membaca Al-Quran dengan qiraah Sunda, Jawa, Madura, dan atau langgam khas dalam negeri lainnya.

Bila didapatkan qari (pelantun Al-Quran) yang bisa membaca dengan langgam Melayu, Bugis, Medan, atau dengan langgam apa pun, ucap dia, itu merupakan ciri Nusantara kita. “Saya pikir itu akan sangat memperkaya khazanah qiraah kita, dan suatu saat menarik juga kita festivalkan dalam acara-acara tertentu," tutur Lukman saat itu.

Kementerian Agama selama ini memiliki beberapa qari yang menguasai ilmu membaca Al-Quran (tajwid) dan bisa melantunkan ayat-ayat dengan langgam Jawa, Sunda, Madura, dan Aceh. Langgam Al-Quran ala Indonesia itu, kata dia, merupakan bentuk pengembangan budaya untuk mencintai Al-Quran lewat seni.

Upaya itu juga sejalan dengan pengkajian dan penerapan pesan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari. "Tentu saja dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah ilmu tajwid," ucap putra mantan Menteri Agama Saifuddin Zuhri itu.


Menurut Lukman, kemampuan kita menggali khazanah Islam Nusantara akan membuat Indonesia menjadi model dalam mempromosikan Islam berkarakter yang menghargai keberagaman agama, budaya, bahasa, dan etnik.

"Di saat banyak negara berpenduduk muslim lainnya dilanda berbagai konflik yang bernuansa agama, Islam Nusantara bisa menjadi oase baru bagi dunia Islam dan masyarakat dunia pada umumnya," ujarnya.

Sejauh ini, terdapat tujuh tipe bacaan Al-Quran atau lebih dikenal dengan Qiraah Sabah di dunia Islam. Tujuh langgam itu berkembang pada masa awal Islam berkembang atau sejak masa sahabat hidup bersama Nabi Muhammad SAW.

Ketujuh qiraah biasanya dibedakan berdasarkan lajnah (dialek), tafkhim (pensyahduan bacaan), tarqiq (pelembutan), imla (pengejaan), madd (panjang nada), qasr (pendek nada), tasydid (penebalan nada), dan takhfif (penipisan nada).

Salah satu contoh, sebagian orang Arab mengucapkan vocal "e" sebagai ganti dari "a", seperti ayat "wadh-dhuhaa" yang dibaca oleh sebagian orang dengan "wadh-dhuhee".

so ... pointnya ada di yang merah

Jadi si mentri berniat untuk >>> memperkaya khazanah qiraah dst
Upaya itu juga sejalan dengan pengkajian dan penerapan pesan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari. "Tentu saja dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah ilmu tajwid," ucap putra mantan Menteri Agama Saifuddin Zuhri itu

yang jadi masalah ... tajwid si qari ternyata salah .... (tambahan : kata si Syeikh)
maka ... mari di-diskusikan bagaimana baiknya ...
terus teang saya kurang setuju dengan niat pak mentri ... walaupun saya tau niat-nya baik
tapi ...

saya sepakat dengan tulisan ungu link NU diatas

Yang cukup berbahaya jika ada kesalahan niat, yaitu merasa perlu menonjolkan kejawaan atau keindonesiaan atau kebangsaan dalam berinteraksi dengan al Qur’an, membangun sikap ashabiyyah dalam ber-Islam.

Dan yang paling fatal jika ada maksud memperolok-olokkan ayat-ayat Allah yang mereka samakan dengan lagu-lagu wayang dalam suku Jawa.

takutnya ... hal2 seperti ini jadi seperti "menggampangkan" bahasa asli ... sementara makna dan isi bahasa tidak sama antara satu dengan bahasa lain
apalagi kalau bicara bahasa Al Quran

depag saja belum tentu 100% benar dalam menterjemahkan Al Quran


Terakhir diubah oleh dee-nee tanggal Mon May 25, 2015 7:26 am, total 1 kali diubah (Reason for editing : ada tambahan)
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Muslim-Zone Re: [VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Post by dee-nee on Sun May 24, 2015 5:59 pm

link lain dari dua tokoh NU dan Muhammadiyah

http://www.merdeka.com/peristiwa/ini-kata-quraish-shihab-tentang-baca-alquran-pakai-langgam-jawa.html

link wrote:Ini kata Quraish Shihab tentang baca Alquran pakai langgam Jawa
Merdeka.com - Belakangan ini penggunaan langgam Jawa dalam tilawah masih menjadi perdebatan. Seperti lantunan ayat suci AlQuran yang dibacakan qori Muhammad Yasser Arafat di Istana Negara pada Jumat (15/5) lalu.

Sang qori membaca ayat suci AlQuran dengan langgam Jawa dalam acara peringatan Isra Miraj di Istana Negara. Qori Yasser Arafat saat itu membaca Surah An Najm ayat 1-15.

Apakah menggunakan langgam Jawa diperbolehkan? Banyak ulama yang berbeda pendapat tentang hal ini.

Mantan Menteri Agama Muhammad Quraish Shihab punya pendapat tentang penggunaan langgam Jawa dalam tilawah. Berikut ini penjelasannya seperti merdeka.com lansir dari quraishshihab.com, Rabu (20/5):

Beberapa hari belakangan ini terdengar banyak pembicaraan menyangkut bacaan al-Quran dengan langgam Jawa. Ada yang menerima dengan baik, ada juga yang menolak, bahkan ada yang mengecam dan menuduh dengan tuduhan yang keji.

Tidak dapat disangkal bahwa ada tatacara yang harus diindahkan dalam membaca al-Quran, misalnya tentang di mana harus/boleh memulai dan berhenti, bagaimana membunyikan huruf secara mandiri dan pada saat pertemuannya dengan berbagai huruf dalam satu kalimat, dan lain-lain. Inilah syarat utama untuk penilaian baik atau buruknya satu bacaan. Nah, bagaimana dengan langgam atau nadanya? Hemat penulis, tidak ada ketentuan yang baku. Karena itu, misalnya, kita biasa mendengar qari dari Mesir membaca dengan cara yang berbeda dengan nada dan langgam qari dari Saudi atau Sudan. Atas dasar itu, apalah salahnya jika qari dari Indonesia membacanya dengan langgam yang berbeda selama ketentuan tajwidnya telah terpenuhi? Bukankah Nabi saw. menganjurkan agar al-Quran dibaca dengan suara merdu dan langgam yang baik, tanpa menentukan langgam tertentu? Nah, jika langgam Jawa dinilai baik dan menyentuh bagi orang Jawa atau Bugis bagi orang Bugis, dan lain-lain, maka bukankah itu lebih baik selama ketentuan bacaan telah terpenuhi?

Memang ada riwayat yang dinisbahkan kepada Nabi saw. yang menganjurkan agar al-Quran dibaca dengan langgam Arab. Konon beliau bersabda: Bacalah al-Quran dengan langgam Arab dan suara (cara pengucapan) mereka; jangan sekali-kali membacanya dengan langgam orang-orang fasiq dan dukun-dukun. Nanti akan datang orang-orang yang membacanya dengan mengulang-ulangnya seperti pengulangan para penyanyi dan para pendeta atau seperti tangisan orang yang dibayar untuk menangisi seorang yang meninggal dunia.

Hadits tersebut kalaupun dinilai shahih, maka itu bukan berarti bahwa langgam selain langgam Arab beliau larang. Bukankah beliau menganjurkan untuk membaca dengan baik dan indah, apalagi sementara pakar hadits menilai riwayat yang diriwayatkan oleh an-Nasaiy al-Baihaqy dan at-Thabarani di atas lemah karena dalam rangkaian perawinya terdapat Baqiyah bin al-Walid yang dikenal lemah dalam riwayat-riwayatnya. Demikian, wa Allah Alam.

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/05/22/noqem3-din-berkomentar-soal-baca-alquran-dengan-langgam-jawa

link wrote:Din Berkomentar Soal Baca Alquran dengan Langgam Jawa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Ketua Umum Pemimim Pusat (PP) Muhamadiyah, Din Syamsuddin berharap langgam Jawa dalam membaca Alquran tidak menjadi isu kontroversial yang menimbulkan pro kontra berlebihan.

Meski tidak ada larangannya, Din mengimbau agar pemerintah tidak berpretensi terhadap langgam daerah sebagai pilihan bangsa Indonesia. "Hal itu memecah belah kita, kita sudah punya banyak masalah," kata Din saat ditemui Republika, Kamis(21/5).

Din mengungkapkan, secara normatif theologi tidak ada larangan baik sunnah maupun Alquran dengan pelantunan langgam di luar langgam Arab. Menurutnya, sejatinya Alquran berbahasa Arab dan turun di sana sehingga wajar jika ditransmisikan menggunakan langgam di sana.

"Walapun saya tidak tahu langgam yang digunakan rasulullah langgam gimana? apakah sama dengan yang kita gunakan yang diwarisi para qori," kata Din.

Langgam itu, lanjut Din, dikenal oleh khalayak pada umumnya yang kemudian menjadi tradisi di Indonesia. Ketua Majelis Ulama Indonesia ini pun mengungkapkan, selama tidak ada larangan pada langgam tertentu diharapkan tidak menimbulkan pertentangan di masyarakat.

Meski demikian, Din menjelaskan, kriteria dalam membaca Alquran harus sesuai dengan tajwid serta mahrajnya sehingga huruf dapat benar panjang dan pendeknya. Hal itu, jelas Din, demi mencegah perubahan arti ketika membacakannya. "Jangan sampai pelanggaman itu merubah arti itu menjadi fatal," ujar Din.

dari dua pendapat diatas ... saya setuju dengan Din Syamsuddin ... khususnya yang bold ....

Tapi ....

menarik baca quote mang odoy

@mang odoy wrote:Mentri Agama jg gk bakal berkutik..kalo presiden nya bener dan punya prinsip ke Islama an...

saya pribadi tidak berani kalau diminta menilai ke-islaman orang lain ...
tapi kalau saya ditanya pendapat saya tentang Jokowi ...

Jokowi ini ternyata memang "gila"

wakakakakakakaka

lanjut ke bawah .....




avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Muslim-Zone Re: [VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Post by dee-nee on Sun May 24, 2015 6:48 pm

ga jadi lanjut dulu deh ... kapan2 aja

piss piss

sampai di kalimat "Jokowi memang gila" saja dulu

gila = berani tidak populer .... berani menjadi kontroversi ... berani "ekstrim" ... berani membuka masalah (yang selama ini "dianggap" bukan masalah)"
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Muslim-Zone Re: [VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Post by dee-nee on Sun May 24, 2015 11:00 pm

Ada lagi yang menarik

piss piss

http://mui.or.id/mui/homepage/berita/berita-singkat/rektor-iiq-sangat-boleh-baca-al-quran-langgam-indonesia.html

link wrote:Rektor IIQ: Sangat Boleh, Baca al-Quran Langgam Indonesia

KH Ahsin Sakho Muhammad menegaskan, cara membaca al-Quran merupakan hasil karya seni manusia yang dirangkum dalam Kalamullah. Hal tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam melainkan lahir dari seni budaya masyarakat tertentu.

“Ini adalah perpaduan yang baik antara Kalamullah dari langit yang menyatu dengan bumi yakni budaya manusia. Itu sah diperbolehkan,” kata Ahsin Sakho, Rektor Institut Ilmu Alquran (IIQ) periode 2014, yang juga pimpinan Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Cirebon, kepada ROL, Ahad (17/5/2015).

Hanya saja, Ahsin yang doktor ilmu al-Qur’an lulusan universitas di Saudi Arabia ini melanjutkan, bacaan pada langgam budaya harus tetap mengacu seperti yang diajarkan Rasul dan para sahabatnya. Dalam hal ini, tajwid dalam hukum bacaannya. “Panjang pendeknya, mahrajnya,” kata dia.

Ahsin menjelaskan, cara membaca al-Quran yang mengacu pada langgam budaya Indonesia sangat diperbolehkan dan tidak ada dalil shahih yang melarang hal demikian. Hanya saja, dia melanjutkan, dirinya belum pernah mendengar Jawabul Jawab di dalam langgam Cina, atau pun di Indonesia.

“Tetapi jika hanya sekedar langgam Jawa, Sumatera, Sunda, Melayu, dan lainnya, itu sah saja selama memperhatikan hukum bacaan semestnya. Itu kreatifitas budayanya,” kata dia.

Ahsin lebih lanjut mengungkapkan, saat ini masyarakat Indonesia hanya mengenal satu pintu dalam mendengarkan cara melantunkan al-Quran. Seluruhnya terangkum dalam tujuh seni dalam membaca al-Quran, yakni Bayyati, Shoba, Nahawand, Hijaz, Rost, Sika, dan Jiharka.

Dalam ketujuh jenis qiraah itu terdapat tingkatan dan variasi nada yang berbeda-beda. “Sejarah cara melantunkan al-Quran ini berasal dari Iran. Banyak orang Arab yang mempelajarinya ke Parsi, Iran. Meskipun ada 40 jenis cara membaca al-Quran, tapi yang dinilai layak hanya tujuh ini,” ungkapnya.

Ahsin mengisahkan, langgam bacaan al-Quran berasal dari Iran. Kala itu, orang Makkah dan Madinah sedang membersihkan Ka’bah. Di sana ada orang Farsi yang sedang melantunkan bacaan al-Quran dengan langgam nada lagu asal negerinya.
“Ketika itu orang Makkah kemudian menerapkannya ke dalam bacaan al-Quran dan ternyata merdu didengar. Sejak saat itu pun lahirlah lagu syarqi yang bernuansa ketimuran,” kata dia.


Dalam melantunkan al-Quran, kata Ahsin, ada yang bernada sedih dan bernada gembira dalam membaca setiap surah di dalamnya. “Itu akan lebih bermakna dan bagus. Misalkan saat menjelaskan neraka ataupun surga,” ujarnya

yang bold menarik ga ??

avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Muslim-Zone Re: [VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Post by frontline defender on Mon May 25, 2015 4:10 am

Kedua, irama bacaan al-Quran yang dibuat-buat, mengikuti irama musik, atau irama lagu tertentu.
Yang semacam ini tidak bisa dilakukan kecuali melalui latihan. Ada nada-nada tertentu, yang itu bisa keluar dari aturan tajwid

Dan sangat jelas, si qari itu membaca dengan irama lagu, bukan karena bawaan asli cara dia membaca al-Quran.
berdasarkan :
Ahsin mengisahkan, langgam bacaan al-Quran berasal dari Iran. Kala itu, orang Makkah dan Madinah sedang membersihkan Ka’bah. Di sana ada orang Farsi yang sedang melantunkan bacaan al-Quran dengan langgam nada lagu asal negerinya.
“Ketika itu orang Makkah kemudian menerapkannya ke dalam bacaan al-Quran dan ternyata merdu didengar.
(kalau kisah tsb benar) maka argumen tsb terbukti mengada-ada!

Kita bisa melihat sangat jelas, kesan dipanjang-panjangkan, merusak kaidah tajwid, dalang rangka mengikuti irama macapat.
emangnya adzan nggak dipanjang2kan, sampai berapa kharakat tu? argumen yang mengada-ada!
avatar
frontline defender
MAYOR
MAYOR

Posts : 6460
Kepercayaan : Islam
Join date : 17.11.11
Reputation : 137

Kembali Ke Atas Go down

Muslim-Zone Re: [VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Post by mang odoy on Mon May 25, 2015 4:38 am

Emang ADZAN adalah AYAT SUCI...???

Komentar yg asal nguap..

mang odoy
KAPTEN
KAPTEN

Posts : 4233
Kepercayaan : Islam
Join date : 11.10.11
Reputation : 86

Kembali Ke Atas Go down

Muslim-Zone Re: [VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Post by Mutiaraa on Mon May 25, 2015 6:53 am

yg penting tajwidnya benar,sehingga TIDAK MENGUBAH ARTI.

itu syarat pokoknya.

sekarang banyak lagu rohani Islam yg menyertakan ayat Quran,dilagukan,apa haram?

kembali lagi pada syarat pokok tadi,tajwidnya harus benar dan tidak mengubah makna ayat.

dan yg penting juga adalah Niatnya harus benar,bukan untuk.memperolok firman tuhan,tapi untuk memperindah bacaan tanpa mengubah arti.

masalahnya yg tahu Niat/Nawaitu tiap orang itu hanya Allah.


Terakhir diubah oleh Mutiaraa tanggal Mon May 25, 2015 6:56 am, total 1 kali diubah
avatar
Mutiaraa
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Female
Posts : 1383
Kepercayaan : Islam
Location : DKI
Join date : 20.01.14
Reputation : 29

Kembali Ke Atas Go down

Muslim-Zone Re: [VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Post by Mutiaraa on Mon May 25, 2015 6:53 am

yg penting tajwidnya benar,sehingga TIDAK MENGUBAH ARTI.

itu syarat pokoknya.

sekarang banyak lagu rohani Islam yg menyertakan ayat Quran,dilagukan,apa haram?

kembali lagi pada syarat pokok tadi,tajwidnya harus benar dan tidak mengubah makna ayat.
avatar
Mutiaraa
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Female
Posts : 1383
Kepercayaan : Islam
Location : DKI
Join date : 20.01.14
Reputation : 29

Kembali Ke Atas Go down

Muslim-Zone Re: [VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Post by dee-nee on Mon May 25, 2015 7:48 am

another link

http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1431011215&=baca-quran-langgam-jawa-haramkah.htm

link wrote:Baca Quran Langgam Jawa, Haramkah?

Pertanyaan:
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Ustadz, ramai di media sosial perbedatan masalah hukum membaca Al-Quran dengan langgam Jawa. Ada yang mengharamkan dan ada juga yang membolehkan. Lalu bagaimana tanggapan ustadz dalam masalah ini, apakah hukumnya boleh atau tidak?

Mohon penjelasan yang adil dan seimbang serta mencerahkan. Terima kasih.

Wassalam

Jawaban:

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dalam masalah ini memang wajar terjadi perbedaan pandangan di antara banyak pihak. Sesama pihak-pihak yang memang ahli di bidang ilmu baca Al-Quran, yaitu para qari dan ulama qiraat pun kita menemukan perbedaan pendapat.

Dan lucunya, perbedaan pendapat ini pun menular juga di kalangan yang bukan ahlinya, yaitu mereka yang bukan qari' dan bukan pula ulama ahli qiraat. Mereka yang boleh jadi baca Qurannya pun masih ngalor-ngidul, blang bentong tidak karuan, tetapi tiba-tiba merasa menjadi ahli qiraat nomor wahid. Mereka ini dengan mudahnya menuding-nuding kesana kesini dan menyalah-nyalahkan siapa pun yang dianggapnya berseberangan cara pandang.

Kita harus maklum dengan kelakuan kalangan awam yang rasa sok tahu ini. Apalagi ada juga yang mengakit-ngaitkannya dengan urusan politik, sampai saya juga dapat SMS yang mengingatkan bahwa Indonesia layak dapat adzab dan  dihancurkan Allah gara-gara pemerintah dzalim membiarkan masalah ini.

Sekilas buat sebagian kita mendengarkan Al-Quran dibaca dengan langgam Jawa ini memang terasa aneh. Karena biasanya yang kita dengar semuanya nada-nada bacaan Al-Quran itu khas timur tengah (middle east). Tetapi kali ini nada-nadanya punya nuansa khas tanah air, yaitu nada-nada Jawa. Buat yang biasa mendengarkan wayang, terasa ini bukan bacaan Al-Quran tetapi tembang-tembang khas di pewayangan.

Sehingga wajar bila ada yang terlalu mudah main haramkan saja, khususnya bila yang mendengar itu orang-orang Arab sana. Jangankan kuping mereka, kuping kita yang asli made in Indonesia pun merasa rada aneh. Tetapi apakah sekedar merasa aneh lantas hukumnya jadi haram?

Dalam hal ini sebaiknya kita yang awam ini jangan terlalu mudah main bikin fatwa sendiri. Ada baiknya kita serahkan kepada para ulama ahli qiraat yang memang ahlinya. Kalau pun ada perbedaan pendapat dari mereka, setidaknya kita tidak mengambil alih hal-hal yang bukan wewenang kita.

A. Pendapat Yang Mengharamkan

Ada beberapa ulama ahli qiraat yang sudah berfatwa tentang haramnya membaca Al-Quran dengan langgam Jawa ini. Salah satunya adalah Syeikh Ali Bashfar yang bermukim di Saudi Arabia. Salah seorang muridnya ada yang mengirimkan rekaman bacaan Al-Quran dengan langgam Jawa ini. Dan kemudian jawaban dari beliau berupa larangan.
Kesalahan tajwid; dimana panjang mad-nya dipaksakan mengikuti kebutuhan lagu.

Kalau saya cermati apa yang beliau fatwakan itu, setidaknya saya mencatat ada empat masalah yang beliau tuturkan, antara lain adalah :

1. Kesalahan Lahjah

Kesalahan nomor satu dari rekaman yang diperdengarkan itu menurut beliau adalah kesalahan lahjah si pembacanya yang cenderung orang Jawa. Seharusnya lahjahnya harus lahjah Arab.

Dan banyak orang yang mengharamkan hal ini dengan berdalil kepada hadits berikut :

Bacalah Al-Quran dengan lagu dan suara orang Arab. Jauhilah lagu/irama ahlkitab dan orang orang fasiq. Nanti akan ada orang datang setelahku membaca Alquran seperti menyanyi dan melenguh, tidak melampau tenggorokan mereka. Hati mereka tertimpa fitnah, juga hati orang yang mengaguminya. (HR. Tarmidzi)

2. Dianggap Memaksakan Diri (Takalluf)

Kesalahan kedua dianggap adanya semacam sikat memaksakan, atau takalluf. Pembacanya dianggap terlalu memaksakan untuk meniru lagu yang 'tidak lazim' dalam membaca Al-Quran.

3. Dicurigai Ashabiyah

Ditambahkan lagi dalam fatwa beliau bahwa ada kecurigaan yang dianggap cukup berbahaya, yaitu bila ada niat merasa perlu menonjolkan kejawaan atau keindonesiaan. Hal ini dianggap membangun sikap ashabiyyah dalam ber-Islam. Padahal ashabiyah itu hukumnya haram.

4. Khawatir Memperolok Al-Quran

Dan yang paling fatal jika ada maksud memperolok-olokkan ayat-ayat Allah yang mereka samakan dengan lagu-lagu wayang dalam suku Jawa.

Maka dengan dasar empat masalah di atas dianggap bahwa membaca Al-Quran dengan langgam Jawa itu tidak boleh dilakukan. Nampaknya fatwa beliau ini kemudian disebar-luaskan di berbagai media, dan siapapun bisa membacanya.

B. Pendapat Yang Membolehkan

Sementara kita juga menemukan ulama ahli qiraat di Indonesia, sebut saja misalnya KH. Prof. Dr. Ahsin Sakho Muhammad. Beliau seorang pakar ilmu yang langka: ilmu-ilmu Al-Quran. Lulus sebagai doktor dari Jamiah Islamiyah Madinah dengan prestasi mumtaz syaraful ulaa alias cumlaude.  Kiprah beliau di dunia ilmu qiraat di Indonesia tidak perlu dipertanyakan lagi. Beliau pernah menjadi rektor dan guru besar di Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta dan menjadi team pentashih terjemahan Al-Quran di Departemen Agama RI.

Kalau kita tanyakan masalah ini kepada beliau, nampaknya pandangan jauh beliau lebih luas. Barangkali karena beliau memang orang Indonesia asli yang paham betul karakter bacaan Al-Quran bangsa ini. Beliau mengatakan sebagai berikut :

"Ini adalah perpaduan yang baik antara seperti langit kallamullah yang menyatu dengan bumi yakni budaya manusia. Itu sah diperbolehkan. Hanya saja, bacaan pada langgam budaya harus telap berpacu seperti yang diajarkan Rasul dan para sahabatnya. Dalam hal ini, tajwid dalam hukum bacaannya, panjang pendeknya dan mahrajnya".

Lebih lanjut beliau menambahkan :

"Cara membaca Al-Quran yang mengacu pada langgam budaya Indonesia sangat diperbolehkan dan tidak ada dallil shahih yang melarang hal demikian. Hanya saja, saya belum pernah mendengar 'jawabul jawab' di dalam langgam Cina, atau pun di Indonesia. Tetapi jika hanya sekedar langgam Jawa, Sumatra, Sunda, Melayu dan lainnya itu sah saja, selama memperhatikan hukum bacaan semestnya. Itu kratifitas budayanya".

1. Hadits Larangan Selain Langgam Arab
Lalu bagaimana dengan hadits yang mana Rasulullah SAW mengharamkan kita menggunakan langgam selain Arab? Terjemahan haditsnya kurang lebih seperti berikut ini :

Bacalah Al-Quran dengan lagu dan suara orang Arab. Jauhilah lagu/irama ahlkitab dan orang orang fasiq. Nanti akan ada orang datang setelahku membaca Alquran seperti menyanyi dan melenguh, tidak melampau tenggorokan mereka. Hati mereka tertimpa fitnah, juga hati orang yang mengaguminya. (HR. Tarmidzi)

a. Sanad Yang Lemah

Dari sisi sanad sebenarnya kalau ditelurusui kedudukan hadis ini tersebut tergolong dalam hadis dha'if (lemah). Karena salah satu sanad perawinya ada yang terputus sehingga hadits itu menjadi dhoif. Bahkan ada muhaddits yang mengatakan bahwa hadits ini termasuk munkar dan bukan termsuk hadist.

Maka dari sisi derajat hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah alias tidak perlu dipakai.

b. Langgam Arab Yang Mana?

Negeri Arab di masa Rasulullah SAW sangat sempit dan terbatas, seputar Mekkah, Madinah dan kisaran jaziarah Arabia saja. Di luar itu tidak pernah disebut Arab. Habasyah, Mesir, Yaman, Palestina, Suriah, Iraq, Iran di masa itu masih bukan Arab. Agama yang dianut penduduknya bukan agama Islam, mereka dianggap sebagai bangsa-bangsa kafir non Arab. Bahkan bahasa mereka pun juga bukan bahasa Arab.

Jadi kalau pun hadits Rasulullah SAW yang dhaif itu masih mau dipaksa-paksa juga untuk dipakai, tetap saja tidak tepat. Seandainya hadits itu dibilang shahih, dan larangan Rasulullah SAW itu 'terpaksa' kita ikuti juga, maka nagham atau irama cara baca Al-Quran yang kita kenal selama ini pun harusnya terlarang. Sebab nagham Bayyati, Shoba, Nahawand, Hijaz, Rost, Sika, dan Jiharka itu bukan dari Mekkah atau Madinah, bahkan bukan dari Jaziarah Arab.

Ketujuh jenis nagham itu malah berasal dari Iran. Dan Iran di masa Rasulullah SAW bukan negeri Arab. Bahkan sampai hari ini pun tidak pernah dianggap sebagai negara Arab. Pemerintah Iran sendiri pun tidak pernah mengaku-ngaku sebagai negara Arab. Bahasa resmi mereka pun juga bukan bahasa Arab melainkan bahasa Persia.

Jadi kalau mau melarang langgam Jawa misalnya, maka tujuh langgam yang sudah kita kenal sepanjang sejarah Islam itu pun harus dilarang juga, lantaran bukan langgam Arab sebagaimana yang dimaksud oleh Rasulullah SAW.

2. Lahjah Tidak Benar

Lahjah yang dianggap tidak benar oleh Syeikh Ali Basfar itu boleh jadi memang demikian. Maksudnya si pembacanya dianggap kurang baik bacaannya. Dan itu biasa, semua yang pernah ikut daurah Al-Quran dengan beliau pasti pernah merasakan disalah-salahkan ketika dianggap lahjah kita kurang pas di telinga beliau.

Namun kita harus membedakan antara lahjah dengan langgam. Yang beliau kritisi adalah lahjahnya yang kurang tepat dan itu harus diakui. Membaca Al-Quran memang harus dengan lahjah yang benar. SIfat-sifat huruf, makharijul huruf dan juga hukum-hukum yang berlaku pada ilmu tajwid memang wajib ditaati dan dijalankan dengan benar.

Tetapi langgam adalah sesuatu yang lain dan berbeda. Karena langgam merupakan irama atau nada, bukan lahjah. Contoh mudahnya, ketika membunyikan huruf shad, pipi harus kembung. Huruf ra' kadang harus dibaca tebal kadang harus tipis. Ini semua adalah lahjah dan bukan irama.

Sedangkan langgam itu adalah irama dan nada, sama sekali tidak ada hubungannya dengan titik artikulasi, pelafalan huruf ataupun hukum-hukum seperti idzhar, idgham, iqlab dan ikhfa'. Dan kalau sudah masuk wilayah irama dan nada, tiap bangsa dan tiap negeri pasti punya ciri khas yang identik dan tidak bisa dipisahkan.

Kalau kita mendengar orang Cina asli di Tiongkok sana sedang membaca Al-Quran, pasti kita akan merasakan ada 'nada-nada' khas Cina. Begitu juga kalau kita dengar orang Melayu membaca Al-Quran, kita akan merasakan nuansa khas nada-nada kemelayuan. Apakah ini dianggap melanggar ketentuan membaca Al-Quran? Jawabnya tentu tidak sama sekali.

Tetapi ketika orang Jawa keliru membunyikan huruf 'ain menjadi 'ngain', atau huruf ha' dibaca menjadi 'kha' atau huruf ba' yang dibunyikannya lebih nge-bass karena lahjah Jawanya, disitulah letak kekeliruan yang harus diluruskan. Adapun nada bacaan yang terasa nada Jawa selama tidak menyalahi hukum-hukum bacaan, tentu tidak jadi masalah.

3. Langgam Jawa = Menghidupkan Ashabiyah?

Adapun masalah membaca Al-Quran dianggap menghidupkan ashabiyah, jelas sekali bahwa yang jadi masalah bukan pada langgamnya tetapi pada niat dan tujuan untuk menghidupkan ashabiyah. Kalau memang niatnya semata-mata ingin menghidup-hidupkan ashaiyah, tentu saja hukumnya haram.

Tetapi bagaimana kita bisa pastikan bahwa yang membacanya punya niat tersebut? Lantas bagaimana kalau si pembacanya sama sekali tidak punya niatan dan maksud untuk menghidup-hidupkan ashabiyah? Apakah kita tetap memaksanya harus ashabiyah?

Ketika kita menyanyikan lagu Indonesia Raya, bukankah itu juga ashabiyah? Ketika kita mengibarkan sang saka Merah Putih, bukankah itu ashabiyah? Apakah haram kita menyanyikannya dan mengibarkan bendera Merah Putih?

4. Langgam Jawa = Menjelekkan Al-Quran

Apalagi kalau dikatakan bahwa langgam Jawa itu dianggap menjelekkan Al-Quran. Tentu sifatnya sangat subjektif sekali. Apa benar qari yang lahjahnya sempurna, tajwidnya benar dan suaranya fasih luar biasa, ketika membaca Al-Quran dengan langgap Jawa lantas niatnya ingin mengolok-ngolok dan menjelekkan Al-Quran?

Kesimpulan

Apa yang saya tulis di atas semuanya bukan pendapat saya, tetapi hanya hasil kutipan dan saduran dari pendapat para pakar ilmu qiraat semata. Dan kalau ada dua pendapat yang saling bertentangan, kita harus maklum. Namanya saja masalah ijtihad, para ahlinya silahkan berbeda pendapat.

Sementara kita yang bukan ahli ilmu qiraat, apalagi yang kualitas bacaan Al-Qurannya masih parah dan bermasalah besar, sebaiknya kita menahan diri untuk tidak ikut-ikutan berfatwa. Biarkan saja para pakarnya yang berbeda pendapat, sebab mereka memang ahlinya. Mereka berhak dan punya kompetensi untuk itu.

Adapun kita, mari kita duduk manis saja mendengarkan para pakar berbeda pendapat, tidak perlu merasa jadi pahlawan kesiangan di bidang yang sama sekali bukan keahlian kita.

Dari pada bikin komen terlalu jauh ternyata kurang tepat, lebih baik kita tahu diri. Saya sendiri agak segan menuliskan masalah ini, karena tahu persis bahwa para pakarnya saja sudah berbeda pendapat. Jangan pula bertanya saya ikut yang mana.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc., MA

Saya memberi link ini supaya netral ...

Terkait kesimpulan (khususnya underline) ... saya sepakat ....
Tapi karena forum ini adalah forum diskusi .... saya pikir tidak ada salahnya masing2 netter mengajukan pendapat mereka (kalau mau) ... tidak perlu duduk manis juga

Diskusi ini bukan untuk dijadikan ajang siapa benar dan salah >>> Ya kan pak Admin ??

menulis dengan gaya menulis masing2 netter juga ga masalah ... yang penting masing2 netter CT (cukup tau) ..... bahwa semua niatnya adalah mengajukan pendapat ... bukan untuk menjatuhkan

piss
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Muslim-Zone Re: [VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Post by frontline defender on Mon May 25, 2015 9:24 am

@mang odoy wrote:Emang ADZAN adalah AYAT SUCI...???

Komentar yg asal nguap..
adzan kan sunnah Nabi, apakah sunnah Nabi itu bukan bagian dari ayat suci?

QS. 33:21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

bahkan jika tidak ada ayat tsb, apakah adzan itu tidak berasal dari Allah, sehingga dengan begitu tidak setara dengan ayat suci?
avatar
frontline defender
MAYOR
MAYOR

Posts : 6460
Kepercayaan : Islam
Join date : 17.11.11
Reputation : 137

Kembali Ke Atas Go down

Muslim-Zone Re: [VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Post by mang odoy on Mon May 25, 2015 9:42 pm

Adzan cmn selevel Syair..
beda dgn Quran yg sudah jelas kesuciannya..

ya udah... kalo mau ikut ikutan kristen ya silahkan...lama lama tar Perlombaan baca ayat Quran pake Organ Tunggal kaya di Gereja kalo hari minggu.... sekalian nt panitia nya..

dah makin kacow dah umat islam indonesia kalo presidennya anak band...

mang odoy
KAPTEN
KAPTEN

Posts : 4233
Kepercayaan : Islam
Join date : 11.10.11
Reputation : 86

Kembali Ke Atas Go down

Muslim-Zone Re: [VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Post by frontline defender on Wed May 27, 2015 3:37 pm

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ زَيْدٍ بْنِ عَبْدِ رَبّهِ قَالَ: لَمَّا اَجْمَعَ رَسُوْلُ اللهِ ص اَنْ يَضْرِبَ بِالنَّاقُوْسِ يَجْمَعَ لِلصَّلاَةِ النَّاسَ وَ هُوَ لَهُ كَارِهٌ لِمُوَافَقَتِهِ النَّصَارَى طَافَ بِى مِنَ اللَّيْلِ طَائِفٌ وَ اَنَا نَائِمٌ رَجُلٌ عَلَيْهِ ثَوْبَانِ اَخْضَرَانِ وَ فِى يَدِهِ نَاقُوْسٌ يَحْمِلُهُ، قَالَ، فَقُلْتُ لَهُ: يَا عَبْدَ اللهِ، اَتَبِيْعُ النَّاقُوْسَ؟ قَالَ: وَ مَا تَصْنَعُ بِهِ؟ قُلْتُ: نَدْعُوْ بِهِ اِلَى الصَّلاَةِ. قَالَ: اَفَلاَ اَدُلُّكَ عَلَى خَيْرٍ مِنْ ذلِكَ؟ قَالَ: فَقُلْتُ: بَلَى. قَالَ: تَقُوْلُ: اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ. اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ. اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ. حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ. حَيَّ عَلَى اْلفَلاَحِ. حَيَّ عَلَى اْلفَلاَحِ. اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ. لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ. قَالَ: ثُمَّ اسْتَأْخَرْتُ غَيْرَ بَعِيْدٍ قَالَ: ثُمَّ تَقُوْلُ اِذَا اَقَمْتَ الصَّلاَةَ: اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَّ اِلهَ اِلاَّ اللهُ. اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ. حَيَّ عَلَى اْلفَلاَحِ.قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ. قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ. اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ. لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ. قَالَ: فَلَمَّا اَصْبَحْتُ اَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص فَاَخْبَرْتُهُ بِمَا رَأَيْتُ، قَالَ: فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّ هذِهِ لَرُؤْيَا حَقّ اِنْ شَاءَ اللهُ. ثُمَّ اَمَرَ بِالتَّأْذِيْنِ فَكَانَ بِلاَلٌ مَوْلَى اَبِىْ بَكْرٍ يُؤَذّنُ بِذلِكَ وَ يَدْعُوْ رَسُوْلَ اللهِ ص اِلَى الصَّلاَةِ. قَالَ فَجَاءَهُ فَدَعَاهُ ذَاتَ غَدَاةٍ اِلَى اْلفَجْرِ فَقِيْلَ لَهُ. اِنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص نَائِمٌ قَالَ فَصَرَخَ بِلاَلٌ بِاَعْلَى صَوْتِهِ: اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مّنَ النَّوْمِ. قَالَ سَعِيْدُ بْنُ اْلمُسَيَّبِ: فَاُدْخِلَتْ هذِهِ اْلكَلِمَةُ فِى التَّأْذِيْنِ اِلَى صَلاَةِ اْلفَجْرِ. احمد 4: 43

Dari 'Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbih, ia berkata, "Ketika Rasulullah SAW sudah menyetujui dipukulnya lonceng guna memanggil orang-orang untuk shalat, padahal sebenarnya beliau tidak menyukainya, karena menyerupai orang-orang Nashrani, maka pada suatu malam ketika aku ('Abdulah bin Zaid) tidur, tiba-tiba aku bermimpi, ada seorang laki-laki yang mengenakan dua pakaian hijau, mengelilingiku, sedang di tangannya ada lonceng yang dibawanya". 'Abdullah bin Zaid berkata : Lalu aku bertanya kepadanya, "Hai hamba Allah, apakah lonceng itu akan kau jual ?". Ia menjawab, "Akan kau pergunakan untuk apa ?". 'Abdullah bin Zaid berkata : Saya menjawab, "Akan kupergunakan memanggil (orang) untuk shalat". Orang tersebut lalu berkata, "Maukah engkau, kutunjukkan yang lebih baik daripada itu ?". 'Abdullah bin Zaid berkata : Aku menjawab, "Ya, baiklah". Ia berkata, "Yaitu hendaklah engkau ucapkan : Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Asyhadu allaa ilaaha illallaah, Asyhadu allaa ilaaha illallaah. Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah, Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah. Hayya 'alash shalaah, Hayya 'alash-shalaah. Hayya 'alal falaah, Hayya 'alal falaah. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Laa ilaaha illallaah". 'Abdullah bin Zaid berkata : Kemudian aku mundur tidak seberapa jauh. Lalu orang itu berkata, "Apabila engkau iqamah, sebutlah Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Asyhadu allaa ilaaha illallaah. Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah. Hayya 'alash shalaah. Hayya 'alal falaah. Qad qaamatish-shalaah, Qad qaamatish-shalaah. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Laa ilaaha illallaah". 'Abdullah bin Zaid berkata, Kemudian setelah waktu pagi aku datang kepada Rasulullah SAW untuk menceritakan kepada beliau apa yang aku impikan itu". 'Abdullah bin Zaid berkata : Kemudian Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya ini adalah mimpi yang benar, insya Allah". Kemudian Nabi SAW memerintahkan adzan. Maka Bilal maula Abu Bakar beradzan dengan lafadh-lafadh tersebut dan menyeru Rasulullah SAW untuk shalat. 'Abdullah bin Zaid berkata, "Lalu pada suatu pagi Bilal datang kepada Nabi SAW, memanggil beliau untuk shalat Shubuh. Lalu dikatakan kepadanya bahwa Rasulullah SAW masih tidur, lalu Bilal mengeraskan suaranya dengan suara yang tinggi :Ashsholaatu khoirum minan nauum (Shalat itu lebih baik dari pada tidur)". Sa'id bin Musayyab (perawi) berkata, "Lalu lafadh ini dimasukkan ke dalam bagian dari adzan untuk shalat Shubuh". [HR. Ahmad, juz 4, hal. 43]

haditsnya palsu? atau tidak jelas keasliaannya, sehingga boleh2 saja kalaulah mau manggil shalat pake lonceng/kentongan/gong/bel/alarm/sirine, tanpa bacaan/syair adzan?
avatar
frontline defender
MAYOR
MAYOR

Posts : 6460
Kepercayaan : Islam
Join date : 17.11.11
Reputation : 137

Kembali Ke Atas Go down

Muslim-Zone Re: [VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Post by isaku on Wed May 27, 2015 5:02 pm

Pendapat saya kemaren di trit sebelah tak pindah sini:


@isaku wrote:Berhubung muncul langgam jawa piss

Betul bahwa tidak ada dalil irama bagaimana yang boleh/tidakboleh digunakan, dan di kampung2 atau dimanapun tempat belajar mengajar AlQuran boleh jadi menggunakan irama berbeda2, mungkin juga terpengaruh budaya setempat. TAPI mencari2, mencoba2 dan lebih2 menyiarkan/memasyarakatkan irama2 baru menurut saya TAK PATUT dan TIDAK PERLU.

Cukuplah Tilawah AlQuran yang sudah diturunkan turun temurun oleh ulama2 ahli AlQuran yang dikumandangkan. Wallahu a'lam.

========
Umpama saya pura2 jadi ahli fiqh, maka hukum melagukan AlQuran adalah:
1. Melagukan AlQuran dengan suara/irama yang indah adalah SUNNAH

Berhubung cara yang diajarkan Rasulullah dalam mengajarkan AlQuran adalah muraja'ah, maka indah dimaksud adalah dalam lingkup seluruh pengajaran AlQuran oleh guru2 tsb turun temurun.

2. Melagukan AlQuran dengan irama tertentu hukum asalnya adalah MUBAH,
tapi bisa berubah menjadi makruh atau bahkan haram jika merusak kaedah2 membaca yang benar.

AlQuran itu sendiri sudah indah, maka tidak perlu make up terlalu tebal atau hiasan terlalu banyak yang justru bisa saja menutupi keindahannya. Wallahu 'alam.

piss
===========
Ambil contoh:
1. Apakah guru2 paud, tk, tpa punya irama sendiri ketika mengajar anak2nya? Ya, dan itu tidak termasuk Bayyati, hijaz dll, iramanya sangat sederhana hanya sekedar membedakan panjang 1 harokat dan 2 harokat. Itu sah2 saja.

2. Orang tua saya dan Anda atau bahkan pengurus/jamaah Masjid yang mebaca AlQuran sebelum adzan dimanapun boleh jadi punya irama masing2 dalam membaca AlQuran. Itupun sah2 saja karena toh tidak semua orang mampu bernyanyi, apakah nyanyi dangdut, pop, rok, jazz, seriosa, atau bahkan ada yang buta nada. Irama mereka ketika membaca sebatas mendekati bagaimana guru2 masing2 mengajarkan.

=============

Bagaimana cara para Qari Qariah seluruh dunia belajar irama? Mereka belajar dari guru2 masing2 umumnya langsung dengan membaca AlQuran (memang ada juga beberapa guru -untuk murid pemula- yang menggunakan syair untuk belajar irama menghindari kesalahan pembacaan AlQuran gara2 mengikuti irama), Biasanya seseorang yang berani tampil sebagai guru tilawah hampir bisa dipastikan sudah memahami kaedah2 membaca AlQuran yang benar, baik dari tajwid, makharijulhuruf, sifatulhuruf, ahkamulmad, ahkamulwaqaf wal-ibtida dst.


Lalu bagaimana cara membaca AlQuran dengan langgam jawa misalnya? Pertama anda harus cari dulu lagu jawa mana yang akan Anda gunakan, seterusnya anda harus cocokkan ayat yang bagaimana yang sesuai dengan lagu atau anda perlu menggubah lagu tsb agar cocok untuk semua tanda waqof. Apakah semua orang bisa melakukannya? Saya pastikan tidak. Artinya untuk membaca AlQuran yang benar dengan langgam jawa harus ada 1 atau beberapa orang ahli AlQuran yang bisa dengan tepat membaca dan kemudian mengajarkannya, dan langgam tersebut dikemudian hari harus diturunkan dengan sanad yang tidak putus untuk memastikan para pengikutnya tetap mengikuti kaedah2 membaca AlQuran yang benar. Belum lagi langgam tersebut akan menghadapi fitnah ketika yang dilagukan bukan lagi AlQuran, karena memang tidak berawal dari AlQuran.



Tambahan http://www.islamedia.co/2015/05/ulama-al-azhar-meralat-pendapatnya_26.html

Islamedia -  Beredar berita bahwa sejumlah Ulama Al-Azhar di Cairo Mesir membolehkan Pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa, sebagaimana ramai menjadi pembicaraan di media sosial oleh para netizen.

Disebutkan bahwa seorang Mahasiswa Pascasarjana Indonesia yang sedang menempuh program S2 di Universitas Al-Azhar menunjukkan video rekaman Pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa kepada sejumlah Masyaikh Al-Azhar

Syaikh Thaha Hubaisyi pada awalnya mengatakan, “Masmuh (dipersilahkan), boleh dengan syarat tetap memperhatikan makhraj dan kaidah tajwid, karena seorang yang membaca Al Quran dengan bahasa Arab ketika yang membacanya mengerti atau tidak, tepat atau tidak hakikatnya maknanya telah sampai kepada Allah.”

Namun, saat dikonfirmasi ulang oleh tim Front Pembela Islam(FPI) Mesir, Syaikh Thaha Hubaisyi menyatakan beberapa penjelasan dan meralat pendapatnya.

Berikut 4 penjelasan Ulama Al-Azhar tentang pembacaan Al-Qur'an dengan langgam Jawa yang disampaikan oleh Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab melalui halaman Facebook pribadinya:
1. Ada beberapa kesalahan seperti berlebihan dalam memanjangkan ghunnah dan harakat, sehingga diduga kuat bahwa qira’at tersebut tidak shahih dan tidak boleh.

2. Sangat terkejut ketika tahu bahwa Langgam tersebut aslinya digunakan untuk seni/musik (Lahwu wal-Malaa’ib).

3. Mengaku bahwa ia sebelumnya ketika ditanya Mahasiswa Indonesia memang membolehkannya, karena saat itu si mahasiswa mengatakan qira’at ini “sudah biasa” dijadikan untuk baca Al-Qur’an di Indonesia, dan tidak menjelaskan bahwa langgam ini asalnya digunakan untuk pertunjukan seni, bahkan tidak diperdengarkan (suara qari).

4.Kejadian serupa pernah terjadi di Mesir, yaitu membaca Al-Qur’an dengan langgam seni musik, tapi Al-Azhar segera menentang dan melarangnya.

isaku
KAPTEN
KAPTEN

Male
Posts : 3590
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 17.09.12
Reputation : 141

Kembali Ke Atas Go down

Muslim-Zone Re: [VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Post by mang odoy on Wed May 27, 2015 11:27 pm

@atas

ini baru MUSLIM MODERAT...

kalo cuman Shalawat ane gk keberatan dipakein langgam Jawa... tapi kalo ayat Quran... kefyet miying aja bro...!!
KURANG AJAR itu namanya..

mang odoy
KAPTEN
KAPTEN

Posts : 4233
Kepercayaan : Islam
Join date : 11.10.11
Reputation : 86

Kembali Ke Atas Go down

Muslim-Zone Re: [VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Post by dee-nee on Thu May 28, 2015 1:35 am

Ada yang menarik dari kalimat bung isaku

@isaku wrote:
AlQuran itu sendiri sudah indah, maka tidak perlu make up terlalu tebal atau hiasan terlalu banyak yang justru bisa saja menutupi keindahannya. Wallahu 'alam.

piss

sebenarnya ini nyambung dengan kalimat saya yang bold

sampai di kalimat "Jokowi memang gila" saja dulu

gila = berani tidak populer .... berani menjadi kontroversi ... berani "ekstrim" ... berani membuka masalah (yang selama ini "dianggap" bukan masalah)"

Semua orang mungkin tau bagaimana perkembangan Islam di nusantara (khususnya di Jawa terkait wali songo) .... pada waktu itu beberapa diantara para wali menyebarkan Islam (berdakwah) dengan cara pendekatan budaya ... misalnya dengan wayang dsb

Cara berdakwah dengan wayang jelas tidak pernah dilakukan Nabi ... tapi apakah cara seperti ini juga disebut yang ungu ?? ... padahal kita semua tau bahwa cara tersebut dilakukan supaya dakwah bisa lebih mudah sampai ke "pemirsa"

Apakah dalam hal ini kita akan mengatakan para wali itu sudah melebih2kan cara berdakwah Rasullulah ??

bila nyambung dengan langgam jawa >>> mungkin bila jaman itu (jaman wali songo) ada rekaman youtube yang bisa dikirim ke Mesir atau Arab ... para ulama Arab dan Mesir juga akan mengatakan hal yang sama terkait cara berdakwah dengan wayang ini  

nyambung ke bold : faktanya dakwah dengan wayang memang terjadi (tapi apakah dakwah semacam ini disebut make-up) ?? .... maka sama saja .... faktanya langgam jawa itu memang ada (tapi apakah pembacaan Al Quran semacam ini disebut make-up) ??

a. Bagaimana bila ternyata langgam jawa JUSTRU lebih "membumi" bagi sebagian orang (khususnya orang jawa) ??
b. Bagaimana bila sebetulnya ... dipelosok jawa sana (saya hanya menduga2) ... sudah ada tradisi membaca Al Quran dengan langgam jawa karena justru lebih masuk ke kuping "pendengar" ... masuk ke kuping = masuk ke hati (qolbu)
c. Kita tidak tahu ... tapi bagaimana bila ternyata memang ada cara membaca Al Quran dengan langgam "tradisional" (tidak harus jawa) di sebagian wilayah Indonesia

Saya-pun pernah dengar adzan dengan langgam sunda di youtube >>> apakah ini disebut makeup juga (berkaitan dengan point a, b, dan c) ??

misalnya disambung dengan point bung isaku

Betul bahwa tidak ada dalil irama bagaimana yang boleh/tidakboleh digunakan, dan di kampung2 atau dimanapun tempat belajar mengajar AlQuran boleh jadi menggunakan irama berbeda2, mungkin juga terpengaruh budaya setempat. TAPI mencari2, mencoba2 dan lebih2 menyiarkan/memasyarakatkan irama2 baru menurut saya TAK PATUT dan TIDAK PERLU.

merah : yang menjadi polemik adalah bagaimana bila irama2 itu justru tidak baru .... langgam jawa memang baru di telinga kita ... di telinga orang Arab dan Mesir ... di telinga Habib Rizieq .... tapi bisa disebut sangat tua di kuping orang2 yang sudah terbiasa dengan irama tersebut ...

bagaimana bila tujuh langgam yang baku (Bayyati, Shoba, dsb) malah lebih baru di telinga mereka .... (logikanya sama dengan berdakwah dengan wayang)
bagaimana bila berdakwah (menyiarkan pesan2) dengan media wayang JUSTRU lebih lama (tradisional) dibanding cara berdakwah lainnya

Islam masuk ke Indonesia abad 10 .... jadi sebelumnya ....seharusnya di seluruh wilayah sudah mengenal irama tradisional atau cara berdakwah tradisional

Kalau pendapat saya ... bukan TIDAK PERLU .... tapi BELUM PERLU >>> nyambung ke bawah (^)

piss  piss
------------------------------------------

disatu pihak .... saya setuju dengan bung isaku

Lalu bagaimana cara membaca Al Quran dengan langgam jawa misalnya? Pertama anda harus cari dulu lagu jawa mana yang akan Anda gunakan, seterusnya anda harus cocokkan ayat yang bagaimana yang sesuai dengan lagu atau anda perlu menggubah lagu tsb agar cocok untuk semua tanda waqof. Apakah semua orang bisa melakukannya? Saya pastikan tidak. Artinya untuk membaca Al Quran yang benar dengan langgam jawa harus ada 1 atau beberapa orang ahli Al Quran yang bisa dengan tepat membaca dan kemudian mengajarkannya, dan langgam tersebut dikemudian hari harus diturunkan dengan sanad yang tidak putus untuk memastikan para pengikutnya tetap mengikuti kaedah2 membaca Al Quran yang benar. Belum lagi langgam tersebut akan menghadapi fitnah ketika yang dilagukan bukan lagi AlQuran, karena memang tidak berawal dari Al Quran.

biru : kesimpulannya : disatu pihak adalah kesalahan besar bila ada orang yang menganggap gampang (sepele) membaca Al Quran yang benar dengan langgam non-baku .... tapi di pihak lain adalah kesalahan besar juga bila ada orang yang mengganggap tidak ada satupun manusia yang mampu melakukan hal tersebut

merah : bila yang dilagukan bukan lagi Al Quran >>> jelas salah ..... tapi bila yang dilagukan adalah Al Quran >>> justru yang fitnah yang salah

---------------------------------------------------------

(*) : kalau pendapat saya ... bukan TIDAK PERLU .... tapi BELUM PERLU >>> karena saya kok lebih suka bila penyampaian agama (Islam) dengan media budaya lebih difokuskan pada moral dan nilai2 Islam -nya dahulu >>> menurut saya yang seperti ini lebih urgent daripada mengusung irama tradisional

misalnya : budaya lokal tentang musyawarah mufakat, kesederhanaan, sikap tidak riya dan sombong, peduli alam, dsb

tapi .... bukan berarti membaca Al Quran dengan langgam jawa harus dilarang (selama seluruh aturan dan kaidah terpenuhi)

piss piss


Terakhir diubah oleh dee-nee tanggal Thu May 28, 2015 3:19 am, total 1 kali diubah
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 182

Kembali Ke Atas Go down

Muslim-Zone Re: [VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Post by Mutiaraa on Thu May 28, 2015 2:06 am

membaca Quran dg nada datar tanpa irama pun boleh,mau dg irama dilagukan pun boleh,yang penting tajwidnya benar,artinya benar.

nah tinggal cek saja,apakah yg dg irama lnggm jawa,seriosa,bahkan langgam arab sekalipun itu,sudah benar tajwid dan makna katanya...

soal nawaitu,kembali kepada Allah.
avatar
Mutiaraa
LETNAN DUA
LETNAN DUA

Female
Posts : 1383
Kepercayaan : Islam
Location : DKI
Join date : 20.01.14
Reputation : 29

Kembali Ke Atas Go down

Muslim-Zone Re: [VIDEO] Pendapat Qori Internasional KH Muammar ZA mengenai Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa dan Sunda

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Halaman 1 dari 2 1, 2  Next

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik