FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Penyeimbangan antara AKAL, NURANI, & AGAMA

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Penyeimbangan antara AKAL, NURANI, & AGAMA

Post by Admin on Thu Dec 01, 2011 8:55 pm



Dewasa ini, kemiskinan dan kebodohan sudah bukan merupakan sesuatu yang bisa dianggap sepele. Bahkan beberapa Negara, termasuk Negara kita Indonesia, menjadikan kemiskinan dan kebodohan sbg musuh yg utama. Namun sayangnya ketika kita lihat di medan, ternyata kebanyakan dari orang yang mengalami problematika ini adalah orang Islam. Lantas apakah ada praktek zuhud di sini..??
Atau memang ada sisi-sisi qona’ah (nerimo ing pandum – Jawa)...??

Usut diusut jawabnya adalah tidak.

Kemudian apa masalah sebenarnya....???
Pada dasarnya yang melatarbelakangi semua masalah di dunia ini menurut saya adalah krisis identitas.....
Penafsiran tentang krisis identitas di sini sebenarnya amatlah banyak namun dalam pembahasan ini hanya terkhusus pada krisis identitas sebagai makhluk yang memiliki akal, nurani, dan agama. Manusia diberi kelebihan oleh Allah dari makhluk lain berupa akal, nurani, dan agama....
Namun ketidaktawazunan atau ketidakseimbangan pemakaian ketiganya itulah yang menyebabkan berbagai masalah yang timbul. Kita lihat dan coba bandingkan.....
Ketika akalnya maju namun nurani dan agama kualitasnya rendah maka hasilnya adalah manusia yang licik atau culas. Tanpa dibatasi oleh norma agama dan bisikan nurani orang akan bertindak sewenang-wenang dan bisa saja mengatakan bahwa pembenaran pendapat ataupun logika adalah tanpa batas dan segala-galanya. Padahal Allah mempunyai sifat yaitu Maha Mutlak yang berarti bahwa pembenaran mutlak suatu logika adalah milik Allah dan kebenaran itu murni terletak di tangan Allah.

Beda halnya ketika hanya nurani saja yang maju tanpa adanya penyeimbangan ruhiyah (agama) dan pemakaian akal (ilmu). Orang bisa saja hanya mengikuti hati nurani tanpa mengetahui apa yang sebenarnya dia hadapi dan apa saja yang harus dia lakukan. Bisa saja dia dibodohi orang lain sedangkan dia hanya mengedepankan aspek nurani dalam setiap tindakannya.

Lain lagi ketika seseorang hanya mengedepankan masalah agama dengan tanpa menyeimbangkan ilmu dan nurani...
Apa yang bisa terjadi...??
Kemungkinan terburuk adalah taqlidul amal (amalan-amalan yang ada karena ikut-ikutan saja kepada nenek moyang atau generasi sebelumnya tanpa dasar) atau yang lebih sering dikenal dengan istilah ‘Saklek’..hal ini juga semakin memperkeruh ajaran agama karena bisa saja memunculkan bid’ah-bid’ah yang sesat dan ajaran baru tanpa atsar dan dasar yang kuat.....sedangkan kita umat Islam telah diajari bagaimana kita hanya diperbolehkan saklek kepada Rasulullah....
Pun saklek kepada Rasulullah ini pasti juga ada atsar yang jelas.....

Ketidakseimbangan antara agama juga mengakibatkan kecintaan terhadap akhirat yang ekstra berlebihan.... Padahal dalam ajaran Islam, Rasulullah telah memerintahkan kita untuk menyeimbangkan antara urusan akhirat dan dunia.....
Kalaupun hanya mengejar akhiratnya saja lantas esensi dari diturunkannya kita di muka bumi ini sebagai khalifah fil ardl (pemimpin di muka bumi) terletak dimana....??
Kesemuanya ini benar-benar membutuhkan ketawazunnan antara akal, nurani, dan agama...

Dalam segitiga agama, akal dan nurani, maka keterkaitan antara ketiganya tak dapat dipisahkan. Dalam pencapaian agama yang sempurna kita dituntut untuk selalu mempelajari ilmu dan mencari kebenaran di setiap perkara yang ada. Dan dalam pencarian ilmu, parameter ketuhananlah yang membatasi logika berfikir manusia. Keterkaitan tersebut akan lebih kompleks dan terarah dengan adanya nurani atau bisikan kalbu untuk selalu mencari kebenaran dan melakukan hal-hal yang benar seperti dalam kisah Nabi Ibrahim dalam perjalanannya mencari Tuhan. (QS 6:77)

Kita berprasangka baik saja bahwa semua orang pasti punya nurani sekecil apapun nurani tersebut....
Dan ketika agama dan akal bagus maka nuranipun pasti turut serta mempengaruhi kemajuan agama dan akal tersebut......
Tanpa mengindahkan pentingnya nurani, di sini kita persempit pembahasan ini ke agama dan akal yang mana akal akan diimplementasikan dalam bentuk ilmu......

Saya pernah mendengar bahwa agama tanpa ilmu buta,... ilmu tanpa agama sesat....maksud kalimat ini kurang lebih seperti penjabaran sebelumnya.....
Ketika tidak ada tawazun (keseimbangan) antara agama dan ilmu maka ketimpanganlah yang akan terjadi..... Kondisi-kondisi social kemasyarakatan yang buruk,..sistem perekonomian yang carut marut dan krisis moral yang terjadi merupakan imbas dari ketidaktawazunan antara agama dan ilmu......
Bahkan kebodohanpun juga ada hubungannya dengan ketidakseimbangan ini. Karena dalam agama Islam telah diperintahkan untuk menuntut ilmu mengingat dari pentingnya ilmu itu sendiri. Dan ilmu jika dirasa-rasa tanpa agama pun juga rasanya gersang.....

Mengapa begitu mudah saya mengatakan demikian karena sejarah pernah membuktikan hal tersebut......
Rasulullah SAW pernah bersabda “uthlubul ‘ilma walau bissiin” yang artinya “carilah ilmu walau sampai ke negeri Cina” dan “uthlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi” yang artinya “carilah ilmu sejak dari buaian hingga kuburan (liang lahat)"....
Mengapa Negara Cina...??
Karena saat itu peradaban yang paling maju adalah Negara Cina....
Selain itu orang Cina dikenal ulet dalam segala bidang dan juga hadits ini mengindikasikan bahwa kita tidak mempunyai batasan wilayah dalam mencari ilmu......
Mengapa dari buaian hingga kuburan....??
Hal ini menunjukkan bahwa kewajiban menuntut ilmu itu tanpa batas usia.....
Semua orang berhak menuntut ilmu baik itu tua, muda, atau masih kecil sekalipun....begitu banyak ayat maupun hadits yang menjelaskan tentang keutamaan dan kewajiban mencari ilmu dalam Islam....

Berangkat dari seruan Rasulullah SAW tersebut, ilmu pengetahuan menjadi sasaran umat Muslim dalam media2 pembelajaran dan menjadikan peradaban Islam di zaman abad pertengahan benar-benar menggetarkan dunia. Saat itu dapat dilihat dan dinikmati dalam sejarah bagaimana Islam mendominasi aliran-aliran laju ilmu pengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu. Ulama-ulama atau yang sekarang lebih terkenal dengan sebutan ilmuwan dulunya didominasi oleh orang Islam. Gabungan antara kegigihan, semangat, pantang menyerah dan kepatuhan terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya menjadi satu dalam semangat untuk menciptakan sebuah peradaban dalam dunia ilmu. Peradaban inilah yang pada zaman abad pertengahan menjadi sebuah peradaban tinggi yang bahkan tak satupun peradaban baru yang mampu menyainginya. Peradaban inilah yang pada akhirnya member jalan bagi Renaissance dan Revolusi Ilmiah.

Ketika Islam lahir,.....Islam telah membuat satu lompatan besar dalam dunia sains......
Kota-kota seperti Baghdad, Damaskus, Spanyol, Kairo dan Cordova merupakan pusat peradaban. Di kota-kota inilah ilmuwan Muslim membuat kemajuan luar biasa dalam diterapkannya ilmu pengetahuan serta macam-macam teorinya. Pertukaran ide menuju Revolusi Ilmiah benar-benar terjadi di sana, contohnya di Spanyol. Bersamaan dengan itu, Eropa justru mengalami masa-masa gelap di mana tidak ada infrastruktur atau pemerintah pusat. Namun pihak Gereja (yang pada saat itu merupakan institusi terkuat di Eropa) berhasil meyakinkan masyarakat Eropa bahwa kaum Muslimin merupakan kaum level rendah secara kultural dibandingkan mereka sehingga masyarakat Eropa berfikir bahwa kemajuan Sains di Spanyol bukanlah merupakan temuan yang penting. Karena pemikiran seperti inilah Eropa tidak sedikitpun dapat mengambil manfaat dari peradaban Islam di Spanyol sebelum abad ke 11. Berbeda dengan Cina yang telah mampu melihat perkembangan peradaban yang ada di wilayah pusat peradaban kaum Muslim. Sehingga saat itu Cina mengalami kemajuan pula bersama-sama dengan Spanyol.

Cordova yang merupakan ibukota Muslim Spanyol dalam waktu singkat telah menjadi pusat semua cahaya dan pembelajaran di seluruh wilayah Eropa. Sarjana dan Mahasiswa dari berbagai belahan dunia maupun Eropa sendiri datang ke Cordova untuk belajar. Kontras dalam aktivitas intelektual ini ditunjukkan terbalik dengan satu contoh: “Pada abad ke kesembilan, perpustakaan biara St Gall adalah perpustakaan yang terbesar di Eropa. Perpustakaan ini membanggakan 36 jilid. Pada saat bersamaan, Cordova berisi lebih dari 500.000 jilid.”

Kemudian gagasan tentang kampus merupakan konsep yang dipinjam dari umat Islam. Perguruan tinggi pertama muncul di dunia Islam di akhir 600-an dan awal 700-an. Di Eropa, beberapa perguruan tinggi yang paling awal adalah Universitas Paris dan Oxford. Mereka didirikan di abad ketiga belas. Sistem pendanaan dan sistem perguruan tinggi inipun mirip dengan sistem yang ada di perguruan tinggi Islam. Tidak hanya itu, organisasi internal perguruan tinggi Eropa inipun sangat mirip dengan orang Islam. Misalnya ide Graduate (Sahib) dan Sarjana (Mutafaqqih) merupakan turunan langsung dari istilah Islam.

Dalam bidang Matematika, angka nol (0) dan sistem desimal diperkenalkan ke Eropa yang menjadi dasar bagi Revolusi Ilmiah. Angka-angka Arab pun juga ditransfer ke Eropa. Hal ini membuat tugas-tugas matematika menjadi lebih mudah. Masalah-masalah yang dapat berhari-hari diselesaikan sekarang dapat bisa dipecahkan dalam waktu beberapa menit. Karya-karya Al Khawarizmi (Alghorismus) diterjemahkan dalam bahasa latin. Alghorismus, dari siapa istilah Algoritma diturunkan, menulis Sindhind, kumpulan tabel astronomi. Dia juga meletakkan dasar untuk aljabar dan menemukan metode untuk menangani masalah-masalah matematika yang kompleks seperti akar kuadrat dan kompleks pecahan. Dia melakukan berbagai eksperimen, mengukur tinggi atmosfer bumi dan menemukan prinsip lensa pembesar. Banyak dari buku-bukunya yang telah diterjamahkan ke dalam bahasa-bahasa Eropa.Trigonometri bekerja dengan Alkirmani Toledo diterjemahkan ke dalam bahasa Latin (dari mana kita mendapatkan fungsi sinus dan kosinus) bersama dengan pengetahuan Yunani Geometri oleh Euclid.

Seiring dengan metematika, pengetahuan lain di bidang ilmu fisika juga ditransfer. Kontribusi sains Islam kini sedang diterjemahkan dengan cepat dan ditransfer dari Spanyol ke seluruh Eropa. Ibnu Hairham yang mempunyai karya Optics, dimana ia berhubungan dengan 50 pertanyaan yang diajukan Optical Cendikiawan Muslim oleh kaum Frank, diterjemahkan secara luas. Kaum Muslimin jugalah yang menemukan prinsip Pendulum, yang digunakan untuk mengukur waktu. Banyak dari prinsip-prinsip Isaac Newton berasal dari kontribusi mantan ilmuwan Islam....

Dalam bidang kimia sejumlah karya-karya Islam juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin.....
Salah satu bidang studi di daerah ini adalah alkimia.....
Kaum muslim dengan mengeksplorasi berbagai elemen mampu mengembangkan dengan baik materi dan teori kimia. Jabir ibn-Hayyan (Gebber) adalah kimiawan terkemuka di dunia muslim. Beberapa sarjana kimia mengatakan bahwa pengenalan metode ilmiah adalah berasal darinya. Sejumlah besar istilah yang digunakan dalam kimia seperti alcohol, alkali, alembic dan lain sebagainya merupakan turunan dari Bahasa Arab.

Kedokteran juga merupakan salah satu ilmu yang dieksplorasi dari umat Islam.....
Biasanya setiap kota besar memiliki rumah sakit. Rumah sakit di Kairo mempunyai lebih dari 8.000 tempat tidur dengan bangsal terpisah antara penyakit disentri, deman, sakit mata, ruang bedah dan lainnya. Al-Rhazes adalah salah satu dokter yang paling terkenal dan beliau adalah penulis Sejarah Islam. Dia menemukan asal usul penyakit cacar dan menunjukkan bahwa seseorang hanya mendapatkan penyakit tersebut sekali dalam seumur hidupnya. Beliau juga yang menemukann bagaimana terbentuknya sistem kekebalan tubuh dan bagaimana cara kerjanya. Dokter-dokter Muslim jugalah yang pertama kali menyadari sifat-sifat penyakit menular. Namun seperti karya yang lainnya juga, karya di bidang kedokteran ini juga ditransfer ke dalam Bahasa Latin.

Semua pengetahuan ini ditransfer dari Muslim ke Eropa sebagai bahan baku Revolusi Ilmiah dan Renaissance. Walaupun demikian, tetap diakui dunia bahwa Kaum Muslim tidak hanya lulus pada karya-karya klasik Yunani namun juga telah berhasil memperkenalkan teori-teori baru kepada dunia ketika Renaissance terjadi. Jadi, meskipun banyak kontribusi Islam pergi tidak diakui (hilang ditelan Renaissance) namun mereka tetap memainkan peran integral dalam transformasi Eropa.

Menilik fakta sejarah yang sedemikian hebat tentang pengaruh Islam terhadap perkembangan ilmu pengetahuan lantas memunculkan sebersit pikiran tersendiri dalam benak kita.....
Mengapa kejayaan tersebut tidak dapat diulangi sekali lagi di zaman sekarang ini....???
Saya pernah membaca dalam sebuah situs sensus yang mengatakan bahwa dalam seratus tahun, ada 100 orang non Muslim mendapatkan penghargaan Nobel namun hanya 1 saja orang muslim yang mendapat nobel.(kalau tidak salah aliran Islam sesat apa gitu..??)

Kalimat di atas ironis sekali ketika kita melihat sejarah bahwa zaman abad pertengahan lalu kaum Musliminlah yang memegang ilmu pengetahuan.......
Jawabannya adalah bukan terletak pada Islamnya yang bermasalah namun lebih ke oknum-oknum Islamnya....
Saat umat Islam kualitas agamanya bagus maka sains pun maju dan ketika kualitas agama umat Islam turun maka kualitas sainsnya pun turun.....
Islam merupakan agama yang tinggi. Ia selalu tinggi dan ajarannya sangat sempurna dan bisa ditawazunkan dengan segala hal, baik dari segi ukhrawi (keakhiratan) maupun aspek duniawi (keduniaan) yang termasuk di dalamnya ada sains. Di sini letak permasalahannya adalah kualitas dari segi agama umat Islam yang turun sehingga implementasi dalam dunia ilmu juga sedikit....

Dari semua pemaparan yang telah berusaha dijelaskan, ada beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan dalam perbaikan menuju peradaban Islam ke depan dan perbaikan kualitas umat secara integral yang pada akhirnya nanti akan kembali mengimbas pada dunia sains.

Yang pertama dan yang paling utama adalah perbaikan kehidupan. Untuk starting point yang paling bagus untuk memulai perbaikan kehidupan adalah Sholat. Mengapa harus sholat?? Karena fungsi sholat adalah mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dari ayat ini dapat ditarik satu benang merah bahwa esensi sholat adalah membawa ketaatan-ketaatan dalam sholat keluar sholat. Dalam sholat, orang diajari untuk khusyu’ dan khudhu’ yaitu suatu konsentrasi penuh ketaatan dan ketundukan yang terimplementasikan dalam ketertiban menjalankan sholat dan ketakutan seorang hamba karena hendak bertemu dengan penguasanya. Kita juga diajari bagaimana ketaatan terhadap pemimpin dan juga ketenangan penuh ketundukan dalam menghadap Rabb selaku Tuhan semesta alam maupun pemecah suatu masalah. Praktek sholat ini seperti semacam terapi ruhiyah tersendiri yang akan membawa pengaruh dalam perbaikan akhlak dan budi.

Yang kedua yaitu memperbaiki keyakinan. Keyakinan akan agama kita, keyakinan untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah dan Rasul-Nya. Dari sini akan berimbas ke perbaikan moral dimana umat Islam lebih bisa memaknai dan mengamalkan seluruh perintah Allah dan rasul-Nya tek terkecuali anjuran untuk menuntut ilmu tanpa batasan wilayah dan waktu.

Yang ketiga yaitu mentawazunkan antara niat, keyakinan, terapi sholat dan ghirah untuk selalu mencari kebenaran dalam tiap aspek kehidupan mulai dari diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Tidak perlu semangat yang menggebu-gebu, yang penting ghirah untuk ber-Islam itu selalu ada dan konstan atau paling tidak naik sedikit demi sedikit. Praktek tawazun mulai dari diri sendiri, keluarga dan masyarakat inilah yang nantinya akan membentuk suatu masyarakat yang madani.

Ketiga langkah di atas merupakan pembangunan karakter yang dilakukan oleh Rasulullah dalam membangun civil society TERBAIK sepanjang sejarah yang tercatat hanya kurang lebih 23 tahun lamanya pada saat itu.....
Lantas hal yang dapat kita lakukan untuk memperoleh kembali kejayaan dan peradaban yang pernah hilang di kala Renaissance dengan dua cara menurut saya. Yang pertama harus mulai dari diri kita. Dengan tiga pembangunan karakter diri di atas memungkinkan kita menjadi khoiru ummat versi dua setelah zaman Rasulullah, sahabat dan generasi sesudahnya. Yang kedua mungkin adalah dengan jalan terus menerus melakukan dakwah kepada orang-orang non Islam apalagi yang memiliki kredibilitas di bidang ilmu pengetahuan maupun sains. Maka ketika dia beiman dan masuk Islam, asset maupun otak mereka akan tercatat sebagai asset orang Islam atau asset Islam.

Langkah-langkah tersebut terangkum jadi satu dalam pembangunan masyarakat berperadaban tinggi kembali.... Diharapkan demikian karena di sini yang dipakai adalah sistem didik yang pernah dilakukan oleh Rasulullah dengan berpegang pada Al Qur’an dan As Sunnah.... Selain itu juga praktek mulai dari diri sendiri, keluarga dan masyarakat juga harus dilakukan. Namun tak dapat dipungkirin juga, kesadaran dari masing-masing individu Islamlah yang paling penting diharapkan ada di sini.....
Terakhir hanya ada satu pertanyaan, Kaum Muslimin tinggal memilih mau melanjutkan jalan menuju kemenangan dan Peradaban Islam atau berbelok ke jalan lain. Jawabannya hanya ada pada diri kita masing-masing.......
avatar
Admin
Administrator
Administrator

Male
Posts : 1099
Kepercayaan : Islam
Location : Tanah Melayu
Join date : 03.08.11
Reputation : 56

http://laskarislam.indonesianforum.net

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik