FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Karen Armstrong

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Karen Armstrong

Post by isaku on Sun Mar 10, 2013 3:34 pm

http://id.wikipedia.org/wiki/Karen_Armstrong

Karen Armstrong (lahir 14 November 1944 di Wildmoor, Worcestershire, Inggris) adalah seorang pengarang, feminis dan penulis tentang agama-agama Yudaisme, Kristen, Islam dan Buddhisme. Ia dilahirkan dalam sebuah keluarga Irlandia yang setelah kelahiran Karen pindah ke Bromsgrove dan kemudian ke Birmingham.

Biografi
Dari 1962 hingga 1969, Karen Armstrong menjadi seorang biarawati dari Ordo Society of the Holy Child Jesus. Ini adalah ordo pengajaran, dan setelah ia melewati masa-masa sebagai postulan dan novisiat hingga mengucapkan kaulnya sebagai biarawati, ia dikirim ke St Anne's College, Universitas Oxford. Di sana ia belajar sastra dan sejarah Inggris. Armstrong meninggalkan ordonya pada waktu studinya. Setelah lulus ia masuk ke program doktoral (tetap di Oxford) tentang Alfred, Lord Tennyson. Ia melanjutkan studinya ini sementara kemudian mengajar di Universitas London, tetapi tesisnya ditolak oleh seorang penguji luar. Akhirnya ia meninggalkan akademia tanpa menyelesaikan studi doktornya.

Pada masa ini kesehatan Armstrong memburuk (Armstrong sejak kecil telah menderita epilepsi, namun pada waktu itu belum didiagnosis, seperti digambarkannya dalam bukunya The Spiral Staircase (2004)) dan setelah penyesuaian dirinya kembali dengan kehidupan di masyarakat luas. Pada 1976, ia menjadi guru bahasa Inggris di sekolah perempuan di Dulwich, tetapi epilepsinya membuat ia terlalu banyak absen, sehingga ia diberhentikan pada 1981.

Armstrong menerbitkan Through the Narrow Gate pada 1982, yang menggambarkan kehidupan yang dibatasi dan sempit yang dialaminya di biara (dan menyebabkan ia banyak dimusuhi oleh orang-orang Katolik Britania). Pada 1984 ia diminta menulis dan menyajikan sebuah dokumenter tentang kehidupan St. Paul. Penelitian untuk dokumenter ini membuat Armstrong kembali menyelidiki agama, meskipun sebelumnya ia telah meninggalkan ibadah keagamaan setelah ia keluar dari biara. Sejak itu ia menjadi penulis yang produktif, banyak dipuji dan dikritik dalam topik-topik yang menyangkut ketiga agama monoteistik. Pada 1999, Pusat Islam California Selatan menghormati Armstrong, atas usahanya "mempromosikan saling pengertian antara agama-agama."

Armstrong telah menulis sejumlah artikel untuk The Guardian. Bukunya yang terbaru, The Great Transformation: The Beginning of Our Religious Traditions, diterbitkan pada Maret 2006; bukunya yang berikut, revisi biografi Muhammad, dijadwalkan terit pada musim gugur 2006 dari Atlas Books/HarperCollins.

Teori tentang fundamentalisme agama
Armstrong mengajukan teori tentang fundamentalisme agama, yang penting dalam memahami gerakan-gerakan ini yang muncul pada akhir abad ke-15 dan abad ke-20.

Yang sentral bagi penafsirannya tentang sejarah adalah pemahaman bahwa budaya-budaya pra-modern memiliki dua cara berpikir yang saling melengkapi dan saling membutuhkan, berbicara dan mengetahui: mitos dan logos. Mitos berkaitan dengan makna; ia "memberikan orang sebuah konteks yang membuat kehidupan mereka sehari-hari masuk akal (=makes sense). Mitos mengarahkan perhatian mereka kepada yang kekal dan yang universal." Logos, sebaliknya, berkaitan dengan masalah-masalah praktis. Ia menempa, menguraikan pemahaman-pemahaman (=insight) lama, menguasai lingkungan, dan menciptakan hal-hal yang baru dan segar. Armstrong berpendapat bahwa masyarakat Barat modern telah kehilangan pemahaman tentang mitos dan menobatkan logos sebagai dasarnya. Narasi mitis dan ritual serta makna-makna yang terkait kepadanya telah kehilangan otoritas dibandingkan dengan apa yang rasional, pragmatis dan ilmiah - tetapi yang tidak mampu mengurangi atau mengangkat penderitaan dan kedukaan manusia, dan tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang nilai yang ultima dari kehidupan manusia. Namun, bukannya malah sama sekali menolak penekanan modern dan menggantinya dengan keseimbangan yang lama, si pengarang berpendapat, kaum fundamentalis agama tanpa sadar telah mengubah mitos iman mereka menjadi logos. Fundamentalisme adalah anak dari modernitas, dan kaum fundamentalis pada dasarnya adalah orang modern

Keyakinan
Armstrong adalah seorang pakar agama-agama yang telah banyak menghasilkan berbagai tulisan mengenai berbagai agama. Ia melukiskan keyakinannya dalam sebuah wawancara di C-Span pada 2000:
Biasanya saya menggambarkan diri saya, mungkin dengan bercanda, sebagai seorang monoteis freelance (=bebas). Saya menggali sumber keyakiinan saya dari ketiga-tiga iman Abraham. Saya tidak dapat melihat salah satu daripadanya memiliki monopoli terhadap kebenaran, masing-masing daripadanya mempunyai keunggulan dibandingkan yang lainnya. Masing-masing mempunyai geniusnya sendiri dan masing-masing mempunyai kelemahan dan tumit Achillesnya sendiri. Tetapi baru-baru ini saya menulis tentang kehidupan singkat (cerita) dari Sang Buddha, dan saya merasa terpesona oleh apa yang dikatakan beliau tentang spiritualitas, tentang yang ultima (=yang tertinggi, terpenting), tentang welas asih dan tentang perlunya membuang ego sebelum kita dapat berjumpa dengan yang ilahi. Dan, menurut pandangan saya, semua tradisi besar mengatakan hal yang sama dalam cara yang lebih kurang sama, meskipun dari permukaan tampak mereka berbeda-beda

Bibliografi

Through the Narrow Gate (1981), ISBN 0-333-31136-1 Menerobos Kegelapan: Sebuah Autobiografi Spiritual - edisi bahasa Indonesia

Beginning the World (1983), ISBN 0-333-35017-0
The First Christian: Saint Paul's Impact on Christianity (1983), ISBN 0-330-28161-5
Tongues of Fire: An Anthology of Religious and Poetic Experience (1985), ISBN 0-670-80878-4
The Gospel According to Woman: Christianity's Creation of the Sex War in the West (1986), ISBN 0-241-11449-7
Holy War (1988), ISBN 0-333-44544-9
Muhammad: A Western Attempt to Understand Islam (1991), ISBN 0-575-05012-8
The English Mystics of the Fourteenth Century (1991), ISBN 1-85626-023-2
A History of God: From Abraham to the Present, the 4000 Year Quest for God (1993), ISBN 0-434-02456-2 Sejarah Tuhan - edisi bahasa Indonesia, terbitan Mizan

The End of Silence: Women and the Priesthood (1993), ISBN 1-85702-145-2
In the Beginning: A New Interpretation of Genesis (1996), ISBN 0-00-628014-5
Jerusalem: One City, Three Faiths (1996), ISBN 0-00-255522-0
The Battle for God: Fundamentalism in Judaism, Christianity and Islam (2000), ISBN 0-00-255523-9 Berperang demi Tuhan - edisi bahasa Indonesia, terbitan Mizan

Buddha (2000), ISBN 0-297-64625-7
Islam: A Short History (2000), ISBN 0-297-64372-X
Faith After September 11th (2002), ISBN 90-807191-1-0
The Spiral Staircase (2004), ISBN 0-00-712228-4
A Short History of Myth (2005), ISBN 1-84195-644-9
The Great Transformation: The World in the Time of Buddha, Socrates, Confucius and Jeremiah (2006), ISBN 1-903809-75-4 terbit di AS dengan judul The Great Transformation: The Beginning of Our Religious Traditions (2006), ISBN 0-375-41317-0


isaku
KAPTEN
KAPTEN

Male
Posts : 3590
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 17.09.12
Reputation : 141

Kembali Ke Atas Go down

Re: Karen Armstrong

Post by isaku on Sun Mar 10, 2013 3:39 pm

http://islamlib.com/id/artikel/untung-ada-karen-armstrong

Untung Ada Karen Armstrong

Oleh Ihsan Ali-Fauzi



Karya-karya Armstrong sebenarnya tak istimewa benar. Dalam biografinya mengenai Nabi Muhammad, misalnya, tidak ada perspektif atau pengetahuan yang baru sama sekali. Karyanya tak sebanding dengan karya-karya para sarjana lain seperti Martin Lings, Montgomery Watt atau Maxime Rodinson. Yang disukai para pembaca dari Armstrong adalah pendekatannya yang empatik. Ia paling tertarik dengan aspek-aspek konkret dari kehidupan keagamaan Islam, misalnya, dan mencoba memahami motif-motif terdalamnya.

Ketika peristiwa 11 September terjadi, kaum muslim di AS ketar-ketir. Mereka khawatir, gejolak anti-teroris akan tumpah menjadi kebencian terhadap kaum muslim. Memang ada penjelasan bahwa para teroris itu, sekalipun muslim dan membawa-bawa Islam untuk membenarkan tindakan mereka, tidak mewakili kaum muslim. Tapi bukankah orang sering lupa bertindak atas dasar kepala dingin, apalagi di tengah kemarahan kala itu?

Saya sendiri, yang kebetulan sedang belajar di Ohio, mengalami reaksi beragam. Saya tinggal di perumahan yang disubsidi pemerintah dan dihuni banyak rakyat AS yang miskin. Suatu ketika, seorang tetangga bertanya dengan nada tak ramah: “Anda muslim, ya?” Di lain waktu, istri saya yang kebetulan berjilbab, diolok-olok laki-laki yang memberi isyarat dengan jari tengah bernada melecehkan. Dari negara bagian lain, kami mendengar berita bahwa beberapa toko milik orang Arab dibakar. Di Columbus, ibukota Ohio, sebuah masjid atau Islamic Center diserang orang-orang tak dikenal.

Tapi kami juga tahu bahwa di banyak tempat lain, banyak orang atau tempat khusus milik kaum muslim dilindungi kalangan agamawan non-muslim. Di Athens, sebuah kota kecil di Ohio, misalnya, persis sehari setelah 11 September, Islamic Center didatangi kalangan agamawan yang ingin menegaskan bahwa kaum muslim tidak perlu khawatir. Karena gagal bertemu pengurus yang sedang tidak di tempat kala itu, mereka menempelkan keterangan di pintu Islamic Center, yang menegaskan niat mereka itu.

Khususnya dalam situasi tegang seperti itulah kami merasa beruntung karena ada penulis seperti Karen Armstrong. Penulis Inggris ini dikenal sebagai penulis buku-buku agama yang amat produktif dan hampir semuanya menjadi best-seller. Selain menulis mengenai tema-tema tertentu dalam agama Kristen yang secara khusus didalaminya (ia pernah menjalani hidup sebagai calon biarawati, sebelum akhirnya hengkang), ia menulis mengenai perbandingan dan sejarah agama, biografi Nabi Muhammad dan Budha, dan sebuah sejarah Islam ringkas. Seraya bermarkas di rumahnya di London, ia rajin diundang ke berbagai penjuru dunia, menyebarkan spiritualitas yang baginya tidak harus berbasis agama tertentu. Ia menyebut dirinya monoteis freelance.

Karya-karya Armstrong sebenarnya tak istimewa benar. Dalam biografinya mengenai Nabi Muhammad, misalnya, tidak ada perspektif atau pengetahuan yang baru sama sekali. Karyanya tak sebanding dengan karya-karya para sarjana lain seperti Martin Lings, Montgomery Watt atau Maxime Rodinson. Cukup jelas bahwa ia juga tak menguasai bahasa Arab, hingga sejumlah kesalahan penulisan terjadi dalam bukunya (madrasahs, misalnya, ditulis madaris). Ia hanya mensistesiskan karya-karya terdahulu, dan menuliskannya secara popular dan sederhana.

Yang disukai para pembaca dari Armstrong adalah pendekatannya yang empatik. Ia paling tertarik dengan aspek-aspek konkret dari kehidupan keagamaan Islam, misalnya, dan mencoba memahami motif-motif terdalamnya. Dalam sejarah ringkasnya mengenai Islam, misalnya, ia sempat mendiskusikan beragamnya fundamentalisme modern tanpa mengaitkannya secara tendensius dengan Islam. Ia mencoba memahami fundamentalisme dari dalam, memotret para aktivisnya sebagai pengikut sebuah iman yang merasa terancam oleh otoritarianisme sekular yang mendominasi dunia Islam. Kita dibawa masuk ke dalam pikiran terdalam orang-orang yang bersedia mati, sambil membawa bom di tubuhnya, yang merasa putus asa dengan kelaliman para penguasa.

Katanya, sikapnya banyak dibentuk oleh Marshal Hodgson, bekas guru Nurcholish Madjid dan Amien Rais di Universitas Chicago, yang memperkenalkannya kepada the science of compassion. Dengan bekal itu, katanya, kita bisa turut merasakan apa yang orang lain rasakan, sehingga dalam diri kita ada ruang untuk menerima mereka. Ia juga terkesan dengan Wilfred C. Smith, yang mendirikan Lembaga Kajian Islam di Universitas McGill pada akhir 1950-an. Untuk mengerti Islam sungguh-sungguh, ahli Islam India ini mensyaratkan agar lembaga di McGill itu diisi oleh sedikitnya 50% mahasiswa Islam. Ia juga berprinsip: apa yang saya katakan mengenai Islam baru valid jika kaum muslim sendiri berkata “amin” kepadanya.

Dengan sikap mental inilah Armstrong menulis buku-bukunya. Biografinya mengenai Muhammad disukai banyak orang Islam. Kata Akbar Ahmed – seorang pemuka muslim di AS asal Pakistan – kepadanya, “Buku Anda itu sebuah kisah cinta. Seandainya Anda sempat bertemu Sang Nabi, Anda tentunya akan bersedia menjadi istrinya yang ke-15!” Berkat itu pula Armstrong diundang untuk berceramah pada sebuah acara maulid Nabi! Padahal ia belum pernah menemukan seorang pemuka muslim diundang berceramah di Hari Natal, katanya.

Di AS, karya Armstrong menjadi pembanding yang berarti bagi karya-karya penulis lain seperti Bernard Lewis, yang di AS juga menjadi penulis best seller. Beda dari Armstrong, Lewis adalah seorang esensialis yang melihat Islam hanya dari sudut pandang kaum fundamentalis. Hanya ada satu Islam baginya, dan Islam itu adalah Islam “keras”. Karyanya yang paling tipikal adalah What Went Wrong?, yang ditulis sebelum, tetapi diterbitkan sesudah peristiwa 11 September. Di situ ia menyatakan bahwa Islam sudah dan pada dasarnya memang akan terus berbenturan dengan Barat, kecuali jika perubahan mendasar berlangsung di dunia Islam (yang ia ragukan). Tidak ada kualifikasi mengenai Islam, atau Barat: semuanya monolitik dan tak akan berubah. Karya itu memenuhi nafsu yang bergejolak di dada sebagian rakyat AS: seakan mereka memperoleh konfirmasi mengenai mengapa “Islam” menyerang mereka secara keji.

Berkat karya-karya Armstrong, Lewis tak lagi bertengger di jajaran penulis best-sellers sendirian. Karya-karya mereka kini bisa ditemukan berjejeran di toko-toko waralaba seperti Wall Mart, dengan harga murah. Karya-karya Armstrong juga menandai makin seringnya Islam dibicarakan di luar kampus di AS.

Karya-karya itu memang tidak dalam secara kesarjanaan, tetapi kesederhanaannya justru berguna untuk dibaca kalangan luas. Karya-karya itulah yang turut membentuk pandangan bahwa Islam itu warna-warni. Bahwa bahkan kalangan yang disebut fundamentalis pun memiliki alasan yang membuat kita bisa mengerti mengapa mereka siap sedia bunuh diri. Armstrong mengecam keras peristiwa 11 September, tetapi ia juga mengerti mengapa begitu banyak orang di dunia Islam yang tidak suka sama pemerintahan AS.

Kaum muslim Indonesia semestinya juga bisa belajar banyak dari Armstrong, sambil membaca terjemahan karya-karyanya yang belakangan banyak diterbitkan di sini. Sikapnya mestinya mendorong kita untuk lebih bersikap empatik terhadap pandangan orang lain, baik itu muslim atau bukan. Harus ada ruang dalam hati kita untuk memahami sikap, pikiran dan pilihan orang lain. Mestinya ada sejenis relativisme internal dan eksternal pada diri kita, sehingga kita tidak terpaku pada kepastian-kepastian yang biasanya kita pegang: siapa tahu ada sejemput kebenaran pada orang lain! Bukankah Islam mengajarkan bahwa Kebenaran Mutlak (al-haqq) hanya Allah?

Membaca karya-karya Armstrong, juga Hodgson dan Smith yang memberinya inspirasi, saya terus terang sering kecewa jika bertemu dengan uraian seorang muslim yang terlalu menyederhanakan mengenai pihak lain. Mengenai kehidupan di Barat, misalnya, yang disinggung melulu soal kebebasan seksual dan yang menyerempet itu. Seakan semua orang Barat seperti itu. Seakan itu gejala umum di sana.

Bagi saya, Armstrong telah ikut “menyelamatkan” kaum muslim dari perasaan ketar-ketir mereka di AS. Mudah-mudahan karya-karyanya juga turut mewarnai kaum muslim di tempat-tempat lain. Agar dunia diisi lebih banyak lagi orang yang bersedia membuka diri, ingin memahami orang lain, tidak mau menang sendiri dengan kepastian-kepastian yang absolut. Dengan begitu dunia rasanya akan lebih damai bagi semuanya.[]

Ihsan Ali-Fauzi, kandidat Doktor pada Ohio University, Amerika.

isaku
KAPTEN
KAPTEN

Male
Posts : 3590
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 17.09.12
Reputation : 141

Kembali Ke Atas Go down

Re: Karen Armstrong

Post by isaku on Sun Mar 10, 2013 3:45 pm

http://susandevy.com/2012/05/07/muhammad-biografi-sang-nabi-karen-armstrong/

Muhammad, Biografi sang Nabi – Karen Armstrong

“Tidak ada perubahan sosial dan politik radikal yang pernah dicapai dalam sejarah manusia, tanpa pertumpahan darah.” – Karen Armstrong

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal “(QS 8 : 2)

Karen Armstrong menulis autobiografi Muhammad, sang Nabi, pertama pada 1992 dengan niat untuk memberikan pandangan yang netral pada dunia barat setelah skandal “Ayat-ayat Setan” oleh Salman Rusdie, karena dunia barat tidak dapat memahami betapa tersinggungnya dunia Islam oleh novel ini,

“Menurut mereka, Islam adalah kepercayaan yang tidak toleran dan fanatik sehingga layak untuk direndahkan, kepekaan kaum muslim yang dilukai oleh gambaran Rusdie tentang Nabi mereka dalam The Satanic Verses tidaklah penting” – Armstrong


Dan pada 2001, sekali lagi Armstrong merevisi buku ini setelah kejadian 9/11 , dimana dia menemukan bahwa stigma barat terhadap dunia Islam masih belum berubah sejak perang salib.

Untuk apa buku ini saya baca ? Sebagai orang yang terlahir dengan agama ini, agak sulit untuk membayangkan bahwa dunia barat memiliki pandangan yang jauh berbeda tentang Nabi Muhammad, bagi mereka Al-Quran bukan kitab suci namun karangan Muhammad belaka, Muhammad bukan nabi, Islam tidak menghargai wanita, Muhammad adalah penggila wanita, perang jihad adalah bukti bahwa Islam adalah agama yang penuh kekerasan. Sementara di dunia timur mengetahui bahwa sesungguhnya Islam bukanlah agama yang penuh dengan kekerasan, namun kita menemui banyak kendala untuk membuktikan hal itu, terutama setelah 9/11, dan buku ini yang merupakan karangan seorang non-muslim, adalah bagai jembatan yang menghubungkan kedua belah pihak yang saling berseberangan.



Dibandingkan dengan beberapa buku biografi Muhammad yang sudah pernah saya baca, memang buku ini tidak memberikan suatu hal yang baru, bahkan ada beberapa bagian dari masa-masa hidup Muhammad yang dihilangkan, tetapi intinya Armstrong ingin menitikberatkan pada bagian-bagian penting yang dapat membuktikan pada dunia barat bahwa Islam tidak seperti apa yang selama ini mereka percayai.

Dengan menggunakan metode pendekatan historis sosial-psikologinya, Armstrong memberikan insight yang berbeda, ada beberapa hal yang selama ini saya tidak pikirkan sebelumnya diantaranya alasan terjadinya perang jihad (selama ini kita beranggapan bahwa itu adalah perintah Tuhan semata) dan juga latar belakang terjadinya pembantaian atau genocide satu klan yahudi di Madinah oleh Muhammad, Berkali-kali Armstrong menekankan bahwa suku arab adalah suku yang sangat primitif, jauh lebih terbelakang dibandingkan dengan Persia dan Romawi, hingga dengan memahami hal itu, kita dapat memaklumi apa sebenarnya keadaan yang dihadapi Nabi dan umatnya.

Perang Jihad

Setelah hijrah dari Mekah ke Madinah, kaum Mujahirin (kaum muslim yang berhijrah) mengalami kesulitan dalam memenuhi kehidupannya sehari-hari, karena mereka sebagian besar mereka berasal dari kaum pedagang, sementara kehidupan di Madinah adalah kehidupan bertani, menggantungkan hidup pada kaum Anshor tidak mungkin dilakukan selamanya, hingga akhirnya kaum mujahirin mulai melakukan “penjarahan” atau “Gazw” pada rombongan pedagang Mekah yang melintasi jalur perdagangan, ini adalah kebiasaan suku arab yang lazim dilakukan untuk memenuhi kehidupan saat masa-masa sulit, agak sulit untuk dicerna namun alasan untuk bertahan hidup menjadi dasar terjadinya perang jihad hingga turunnya Wahyu Tuhan yang memerintahkan untuk berperang, bukan untuk membasmi kaum kafir, seperti yang kita pahami selama ini.

Armstrong menekankan bahwa Jihad bukan salah satu Rukun Islam, Jihad bukan tiang utama Islam, baik perang maupun perdamaian dapat dilakukan sesuai dengan kondisi yang terjadi saat itu, dan Muhammad bersama umatnya hidup dalam masa yang penuh kekalutan, dan saat itu perdamaian hanya dapat dicapai dengan pedang.

Konsep ini berbeda dengan agama lain, terutama agama Kristen, yang berkali-kali Armstrong mengutip : “memberikan pipi lain” jika diserang oleh musuh, dalam artian bahwa Kristen tidak mengenal konsep penyerangan terhadap musuh-musuh mereka, sementara itu Islam memerangi Tirani dan Ketidakadilan.

Sejatinya kaum Mujahirin tidak memiliki kemampuan berperang yang memadai, begitu juga dengan kaum Anshor yang mayoritas adalah petani, dan tiba-tiba saja Muhammad tampil menjadi pemimpin perang yang handal, menjadi ahli strategi perang yang jenius, melatih kaumnya dengan penuh kedisiplinan, menyusun strategi perang dan merapatkan barisan pasukan muslim dalam satu komandonya, hingga kaum muslim memperoleh kemenangan mutlak pada perang Badar. Efek moral dari perang Badar sangatlah besar, hingga Muhammad dan kaumnya yang selama ini menjadi sasaran cemoohan, setelah kemenangan di perang Badar mendapat kepercayaan diri dan pandangan yang baru.

Pembantaian/Genocide satu kaum Yahudi

Dalam beberapa buku biografi Muhammad lainnya, kisah memilukan tentang pembantaian suku Yahudi, klan Quraizah, tidak tersentuh, ini wajar karena bagi kita saat ini pun sulit menerima bahwa Nabi pernah melakukan ethnic-cleansing seperti yang dilakukan para penjahat perang lainnya. Dan kejadian ini dipelintir oleh dunia barat sebagai bukti bahwa Muhammad adalah sosok yang sadis dan barbar.

Namun tidak tepat menilai kejadian ini dengan standar saat ini, masyarakat arab yang primitif tidak mengenal konsep hukum dan tatanan pemerintahan, dan kondisi umat muslim yang serba terjepit dalam bahaya, perbuatan klan Quraizah nyaris menghancurkan kaum muslim di Madinah. Jika Muhammad membiarkan mereka pergi dari Madinah, mereka sudah pasti akan bergabung dengan klan-klan yahudi lainnya diluar Madinah dan menyusun strategi untuk bersama menyerang kaum muslim, pada saat yang sama kaum muslim masih harus berhadapan dengan pasukan kaum Quraisy dari Mekah.

Tidak seorang pun tekejut atau menentang keputusan pembantaian ini, justru eksekusi ini menjadi pesan bagi klan-klan yahudi lainnya bahwa kaum muslim tidak takut pada mereka,

Penting untuk dicatat bahwa tidak selamanya hubungan antara kaum muslim dan yahudi diwarnai oleh kekerasan, setelah pembantaian itu, Muhammad dan kaum muslim masih hidup berdampingan di Madinah dengan klan-klan yahudi lainnya, dan pada masa kejayaan kerajaan Islam, kaum Yahudi bersama kaum Kristen hidup damai dan sejahtera, hingga terbentuknya negara israel saat ini.

Dan setelah pembantaian ini, Muhammad tidak lagi berperang sepanjang hidupnya, ia mulai menerapkap pax Islamica atas jazirah arab, berikutnya sang Nabi mengambil jalan perdamaian dan rekonsiliasi dengan musuh-musuhnya, hingga akhirnya sang Nabi beserta umat Islam dapat kembali memasuki Mekah dengan aman.

Poligami, Hijab dan Kesetaraan Gender

Perkawinan sang Nabi dengan beberapa wanita seakan menjadi bukti bahwa ia adalah seorang yang maniak dengan wanita, namun kenyataannya semua perkawinannya (kecuali dengan Khadijah) adalah perkawinan politik, bukan berdasarkan pada free-will atau suka-sama-suka, dan hanya satu istri Nabi yang perawan saat dinikahi yaitu Aisyah. Istri-istri Nabi mewakilkan faksi-faksi penting dalam umat Islam, Perkawinan tersebut merupakan aliansi politik yang dirancang dengan hati-hati, bertujuan untuk mempersatukan umat Islam yang pada saat itu belum memiliki tatanan pemerintahan yang baik.

Walau rumah tangga sang Nabi sangat tidak lazim dan aneh, tidak bisa disangkal bahwa para istri-istri tersebut hidup bahagia bersama sang Nabi, Aisyah meriwayatkan bahwa sang Nabi lebih baik dan lembut padanya dibandingkan dengan ayahnya sendiri, dan sang Nabi tidak sungkan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, bermain bersama istrinya dan bersenda gurau.

Pada dasarnya ayat yang memperbolehkan laki-laki untuk berpoligami tidak dirancang untuk meningkatkan atau memperbaiki kehidupan seksual mereka, namun untuk menjaga tatanan sosial dalam umat muslim, terutama pada masa sulit seperti perang dimana setelah banyak laki-laki yang wafat meninggalkan istri-istri, juga saudara perempuan dan kerabat lainnya yang membutuhkan perlindungan, oleh karena itu, dengan adanya kebolehan berpoligami, para janda perang bisa mendapatkan perlindungan dari kaum pria. Namun dalam kondisi normal, poligami hampir tidak bisa dilakukan, karena pada ayat berikutnya dijelaskan bahwa pria tidak akan mungkin bisa berlaku adil diantara istri-istrinya, hingga lebih disarankan untuk memiliki satu istri saja.

Apa yang sudah dicapai sang Nabi dalam peningkatan hak-hak wanita sungguh luar biasa untuk bangsa seprimitif arab itu, salah satunya adalah hak wanita untuk menerima warisan dan hak untuk menjadi saksi, sedangkan dunia barat harus menunggu sampai abad ke 19 sebelum wanita dapat menikmati hak yang sama seperti pria.

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (Al-Ahzab : 35)

Dan tentang Hijab yang saat ini dipandang sebagai simbol penindasan pria terhadap wanita, pada awalnya Hijab dirancang untuk untuk mencegah terjadinya perbuatan buruk pada istri-istri Nabi yang bisa dimanfaatkan oleh para musuhnya, Jilbab atau Hijab tidak untuk merendahkan status wanita, tapi justru merupakan simbol status wanita yang lebih tinggi dibandingkan wanita biasa, para istri sang Nabi adalah figur penting dalam umat islam, dan mereka dihormati dengan Hijabnya.

Hingga pada masa itu Hijab menjadi simbol kekuasaan dan pengaruh seorang wanita. Ketika istri-istri pasukan perang salib melihat penghormatan kaum muslim terhadap para wanitanya dengan Hijab sebagai simbolnya, mereka pun mengenakan Hijab dengan harapan dapat memperoleh perlakuan yang baik dari kaum prianya dan lebih dihormati, seperti penghormatan kaum muslim terhadap kaum muslimah.

Pada bab terakhir, Armstrong menarik benang merah antara perabadan Islam dan dunia barat yang menurutnya memiliki satu sejarah yang sama namun saat ini saling berseberangan satu dengan yang lainnya, hingga perbedaan ini memberi dampak negatif pada kedua pihak, timbulnya stigma Islam fundamentalis adalah akibat dari ketidakpahaman barat terhadap Islam dan sejarahnya, kedua belah pihak harus saling memahami dan sadar bahwa mereka adalah sederajat, salah satu titik untuk memulainya adalah dengan memahami sosok Muhammad, seorang tokoh yang rumit, penuh kasih, memiliki kecerdasan yang luar biasa, yang mengusung Islam sebagai agama yang penuh perdamaian.

Menurut saya, apa yang sudah Armstrong upayakan untuk membuktikan siapa sebenarnya sosok Muhammad dalam perspektif barat, adalah salah satu hal yang memberikan pengaruh yang cukup signifikan untuk dunia Islam pada umumnya, dengan adanya karya ini, setidaknya dunia barat memiliki acuan yang seimbang untuk menilai tokoh yang rumit seperti Muhammad. Tidak berlebihan rasanya jika saya memiliki pandangan bahwa dunia Islam berhutang budi pada Armstrong untuk upayanya ini.



isaku
KAPTEN
KAPTEN

Male
Posts : 3590
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 17.09.12
Reputation : 141

Kembali Ke Atas Go down

Re: Karen Armstrong

Post by njlajahweb on Sat Feb 17, 2018 1:12 pm

amstrong berjasa pada islam sekarang tinggal umat islamnya, 

kalau umat islam setiap pagi mengumandangkan suara adzan dengan terlalu keras, maka apakah bisa membuat agama lain tertarik pada islam?atau justru sebaliknya
avatar
njlajahweb
KOLONEL
KOLONEL

Female
Posts : 16143
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 116

Kembali Ke Atas Go down

Re: Karen Armstrong

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik