FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Follow_me
@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Halaman 2 dari 3 Previous  1, 2, 3  Next

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by keroncong on Mon Oct 01, 2012 8:42 pm

First topic message reminder :

Barangsiapa yang melihat kondisi kaum Muslimin dan mau merenungkan realita kehidupan mereka, maka tidak akan ada perdebatan antara Muslim yang taat (konsis) dalam masalah mendengar dan menikmati lagu yang baik.

Sesungguhnya telinga seorang Muslim pada umumnya telah terikat dengan mendengar sesuatu yang baik, ia menikmati dan merasakannya setiap hari. Yakni bacaan Al Qur'an Al Karim. Telinganya mendengar tartil Al Qur'an dan tajwidnya dengan suara yang merdu dari para Qari' yang terbaik, juga melalui suara adzan yang menyentuh pendengarannya setiap hari lima kali dengan suara yang indah. Ini merupakan warisan dari kenabian, karena Nabi SAW pernah berkata kepada sahabat yang mendapat mimpi tentang adzan, "Ajarkanlah adzan itu kepada Bilal, karena suara bilal itu sangat merdu."

Suara yang indah itu juga bisa didengar melalui acara-acara keagamaan yang dibacakan di dalamnya nasyid-nasyid yang menarik, dengan suara indah, sehingga dapat menyentuh hati dan menggetarkan perasaan.

Selain itu dapat juga didengar melalui pujian-pujian untuk Nabi SAW, sebagaimana diwariskan oleh kaum Muslimin ketika mereka mendengarkan nasyid yang menarik dari anak-anak wanita kaum anshar, sebagai sambutan atas kehadiran Rasulullah SAW:

Terbitlah bulan purnama di tengah-tengah kita,
dari Tsaniyyatil Wada'.
Wajib bagi kita untuk bersyukur,
selama ia berdakwah menyeru ke jalan Allah.

Saya ingat bahwa sejak kurang lebih dua puluh tahun yang lalu saya mendengar nasyid ini dari murid-murid wanita Madrasah Islamiyah di lndonesia, air mata kami bercucuran, karena terasa haru.

Pada masa dahulu kaum Muslimin bisa membuat untuk diri mereka berbagai jenis lagu untuk dinikmati oleh telinga. Mereka dapat menghibur diri mereka dan memperindah nuansa kehidupan dengan lagu-lagu itu, terutama di pedesaan dan kampung-kampung. Kami juga merasakannya pada waktu kecil dan di masa muda. Semuanya merupakan bentuk lagu yang tumbuh dari lingkungan yang sehat, menggambarkan nilai-nilainya, dan tidak menjadi masalah sama sekali.

Di antaranya lagi seni "Al Mawaawil" jenis peralatan musik yang dengan alat ini manusia bernyanyi untuk diri mereka sendiri atau mereka berkumpul untuk mendengarkannya dari orang yang baik suaranya di antara mereka. Kebanyakan mereka berbicara tentang cinta dan persahabatan, sebagian yang lainnya berbicara tentang dunia dan keindahannya, serta mengadu tentang kezhaliman manusia dan hari-hari ... dst.

Kebanyakan mereka menyanyi tanpa alat, sebagian lagi menggunakan "Arghul" (biola), dan di antara para artis ada yang membuat "Al Mawwaf" pada saat yang sama ia menyanyi.

Di antara lagu-lagu yang baik adalah yang didapatkan melalui kisah-kisah yang digubah menjadi lagu-lagu perjuangan para pahlawan bangsa, pahlawan perjuangan yang gigih dan pemberani. Lagu-lagu itu didengar oleh masyarakat, mereka turut menyanyikan dan mengulang-ulangnya. Banyak di antaranya sampai mereka hafal, seperti kisah "Adham Asy Syarqawi," "Syafiqah dan Mutawalli," "Ayyub Al Mishri," kisah "Sa'ad Al Yatim" dan yang lainnya.

Ada juga yang diangkat dari perjuangan bangsa bagi para pahlawan yang terkenal, seperti "Abu Zaid Al Hilali." Orang-orang berkumpul untuk mendengarkan kisah tersebut melalui syair yang dibacakan dengan lagu-lagu. Ini sangat menarik, seperti fiIm berseri atau sinetron pada saat ini.

Didapatkan juga melalui lagu-lagu hari raya, hari-hari gembira dengan acara-acaranya yang menggembirakan, seperti pesta perkawinan, kelahiran anak, acara khitanan, kehadiran tamu yang ditunggu-tunggu, kesembuhan seseorang, berpulangnya orang dari ibadah haji dan lain-lain.

Masyarakat membuat lagu-lagu atau pantun-pantun yang menandai saat-saat dan momen-momen tertentu atau pada acara yang beragam, seperti saat memetik buah atau panen raya dan lainnya. Seperti juga tembangnya para pekerja, buruh yang bekerja di sebuah proyek dan mereka yang bersama-sama mengangkat beban yang berat, kemudian melagukan bersama-sama, "Haila, haila, shalli 'AIa Nabi." Ini mempunyai landasan syar'i dari perbuatan sahabat, yaitu ketika mereka membangun masjid Nabawi dan memikul batu-batu di pundak mereka sambil melagukan:

"Ya Allah sesungguhnya kehidupan (yang hakiki) adalah kehidupan akhirat, maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin."

Sampai ibu-ibu pun ketika mengayun-ayun anak-anaknya dan menidurkan mereka mempergunakan lagu-lagu, mereka memiliki kata-kata yang terkenal, seperti, "Ya Rabbi yanam, ya Rabbi yanaam."

Saya masih teringat di setiap bulan Ramadhan Mubarak, masyarakat Islam membangunkan manusia di tengah malam dengan sajak dan irama genderang mereka yang membawa kenikmatan telinga.

Dan yang menarik untuk diceritakan di sini adalah suara pedang-pedang di pasar-pasar dan di jalan-jalan yang ditawarkan berkeliling. Mereka menawarkan barangnya dengan suara dan irama yang teratur, mereka berpacu sambil menyanyi, seperti juga penjual buah dan sayur-sayuran.

Demikianlah kita dapatkan seni ini, yakni seni menyanyi telah menyertai seluruh kehidupan, baik secara agama maupun dunia dan manusia pun menerimanya secara naluriah. Mereka tidak mendapatkan ajaran agama melarang yang demikian itu dan ulama mereka pun tidak memandang budaya bangsa ini sebagai suatu alternatif. Bahkan seringkali lagu-lagu itu dibumbui dengan lirik-lirik yang mengandung nilai-nilai agama, keimanan dan ruhani serta akhlaq yang mulia. Seperti bergabungnya antara jasad dengan ruh, berupa tauhid, dzikrullah, doa, shalawat kepada Nabi SAW dan lainnya

Inilah yang saya saksikan di Mesir, Syam, Maroko dan di negara-negara Arab lainnya.



Silahkan Baca juga Artikel berikut :
Dalil Ulama' yang Memperbolehkan Lagu
keroncong
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 65
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 67

Kembali Ke Atas Go down


hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty Re: hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by EbisuSensei on Thu Oct 04, 2012 10:12 am

@SEGOROWEDI wrote:
@EbisuSensei wrote:
MUI atau Majelis Ulama Indonesia dipandang sebagai otoritas yang mengeluarkan fatwa.
Jadi secara bahasa kasar, bisa dianggap sebagai pengganti Rosulullah SAW.
Karena lembaga tersebut yang melakukan pengkajian terhadap hukum2 dalam Islam.

yang ngasih otoritas menggantikan muhammad siapa?
MUI itu ijtima.
Lebih jelasnya nanti2 saja dech.. pisspiss
EbisuSensei
EbisuSensei
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2734
Kepercayaan : Islam
Location : Indonesia
Join date : 27.12.11
Reputation : 24

Kembali Ke Atas Go down

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty Re: hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by Guest on Thu Oct 04, 2012 10:31 am

@EbisuSensei wrote:
MUI itu ijtima.
Lebih jelasnya nanti2 saja dech.. pisspiss
Itulah yang saya istilahkan dengan :
Islam yang BUKAN dilakukan oleh Muhammad
avatar
Guest
Tamu


Kembali Ke Atas Go down

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty Re: hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by EbisuSensei on Thu Oct 04, 2012 4:52 pm

duren swt wrote:
@EbisuSensei wrote:
MUI itu ijtima.
Lebih jelasnya nanti2 saja dech.. pisspiss
Itulah yang saya istilahkan dengan :
Islam yang BUKAN dilakukan oleh Muhammad

Jadi MUI itu lembaga yang mengkaji hadis2.

Hadis2 itu ada yang sahih dan ada yang dhoif.

Dan MUI lah yang menyaring.
EbisuSensei
EbisuSensei
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2734
Kepercayaan : Islam
Location : Indonesia
Join date : 27.12.11
Reputation : 24

Kembali Ke Atas Go down

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty Re: hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by Guest on Thu Oct 04, 2012 5:44 pm

@EbisuSensei wrote:

Jadi MUI itu lembaga yang mengkaji hadis2.

Hadis2 itu ada yang sahih dan ada yang dhoif.

Dan MUI lah yang menyaring.
Kapir aja tau nyaring mana yang shahih dan mana yang ga ... lha tinggal cek di lidwa kok
basi
avatar
Guest
Tamu


Kembali Ke Atas Go down

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty Re: hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by aliumar on Thu Oct 04, 2012 5:56 pm

Jadi MUI itu lembaga yang mengkaji hadis2.

Hadis2 itu ada yang sahih dan ada yang dhoif.

Dan MUI lah yang menyaring.
mana ayatnya yg memberi wewenang kpd MUI utk menyaring hadis2 ?
avatar
aliumar
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2663
Kepercayaan : Katolik
Location : Padang
Join date : 20.06.12
Reputation : 29

Kembali Ke Atas Go down

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty Re: hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by SEGOROWEDI on Thu Oct 04, 2012 6:27 pm


MUI tidak mengharamkan musik.
tapi..
muhammad mengharamkan musik

ikut mui atau ikut muhammad?
ehmm
avatar
SEGOROWEDI
BRIGADIR JENDERAL
BRIGADIR JENDERAL

Posts : 43894
Kepercayaan : Protestan
Join date : 12.11.11
Reputation : 124

Kembali Ke Atas Go down

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty Re: hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by EbisuSensei on Thu Oct 04, 2012 6:40 pm

duren swt wrote:
Kapir aja tau nyaring mana yang shahih dan mana yang ga ... lha tinggal cek di lidwa kok
basi
Sikap sok tahumu ini wajar, karena kamu belum tahu, apa dan bagaimana MUI itu.
Pelajari sendiri aja, karena terlalu panjang.
Dan juga harus mencakup masalah yang ditanyakan @aliumar.

Atau cari di website MUI, disitu banyak penjelasan.

Intinya MUI adalah lembaga musyawarah para ulama.
Dan musyawarah adalah hal yang utama, untuk memecahkan berbagai permasalahan, dalam agama Islam.
EbisuSensei
EbisuSensei
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2734
Kepercayaan : Islam
Location : Indonesia
Join date : 27.12.11
Reputation : 24

Kembali Ke Atas Go down

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty Re: hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by EbisuSensei on Thu Oct 04, 2012 6:43 pm

@SEGOROWEDI wrote:
MUI tidak mengharamkan musik.
tapi..
muhammad mengharamkan musik

ikut mui atau ikut muhammad?
ehmm
Baca lagi diatas, Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis tidak melarang musik.
Makanya kembalikan ke MUI saja, gitu aja kok repot.. hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 488368979
EbisuSensei
EbisuSensei
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2734
Kepercayaan : Islam
Location : Indonesia
Join date : 27.12.11
Reputation : 24

Kembali Ke Atas Go down

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty Re: hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by Guest on Thu Oct 04, 2012 6:55 pm

@EbisuSensei wrote:
Baca lagi diatas, Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis tidak melarang musik.
Makanya kembalikan ke MUI saja, gitu aja kok repot.. hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 488368979
Mo tanya ni .... yang dihalalkan kok nanggung ya cuma no 4

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah bersabda: "Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan
1. zina,
2. sutera,
3. minuman keras
dan
4. musik."

(HR. Bukhari dan Abu Daud)




Pertanyaan :
Karena anda terus menerus bersandar pada FATWA ULAMA .... bolehkah anda terima bila suatu saat ada fatwa penghalalan poin nomer 1-3 ??

ehmm

avatar
Guest
Tamu


Kembali Ke Atas Go down

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty Re: hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by EbisuSensei on Thu Oct 04, 2012 6:59 pm

duren swt wrote:
@EbisuSensei wrote:
Baca lagi diatas, Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis tidak melarang musik.
Makanya kembalikan ke MUI saja, gitu aja kok repot.. hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 488368979
Mo tanya ni .... yang dihalalkan kok nanggung ya cuma no 4

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah bersabda: "Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan
1. zina,
2. sutera,
3. minuman keras
dan
4. musik."

(HR. Bukhari dan Abu Daud)




Pertanyaan :
Karena anda terus menerus bersandar pada FATWA ULAMA .... bolehkah anda terima bila suatu saat ada fatwa penghalalan poin nomer 1-3 ??

ehmm

Nggak usah berandai-andai.
Nanti pusing sendiri lhoo..
EbisuSensei
EbisuSensei
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2734
Kepercayaan : Islam
Location : Indonesia
Join date : 27.12.11
Reputation : 24

Kembali Ke Atas Go down

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty Re: hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by SEGOROWEDI on Thu Oct 04, 2012 7:03 pm

@EbisuSensei wrote:
Baca lagi diatas, Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis tidak melarang musik.
Makanya kembalikan ke MUI saja, gitu aja kok repot.. hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 488368979

mana hadisnya? (yang tidak melarang musik)
ehmm
avatar
SEGOROWEDI
BRIGADIR JENDERAL
BRIGADIR JENDERAL

Posts : 43894
Kepercayaan : Protestan
Join date : 12.11.11
Reputation : 124

Kembali Ke Atas Go down

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty Re: hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by EbisuSensei on Thu Oct 04, 2012 7:07 pm

@SEGOROWEDI wrote:
@EbisuSensei wrote:
Baca lagi diatas, Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis tidak melarang musik.
Makanya kembalikan ke MUI saja, gitu aja kok repot.. hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 488368979

mana hadisnya? (yang tidak melarang musik)
ehmm
Post #13 oleh bro @Barnabas
EbisuSensei
EbisuSensei
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2734
Kepercayaan : Islam
Location : Indonesia
Join date : 27.12.11
Reputation : 24

Kembali Ke Atas Go down

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty Re: hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by SEGOROWEDI on Thu Oct 04, 2012 7:13 pm

muhammad yang plin-plan
keputusan di tangan mui
avatar
SEGOROWEDI
BRIGADIR JENDERAL
BRIGADIR JENDERAL

Posts : 43894
Kepercayaan : Protestan
Join date : 12.11.11
Reputation : 124

Kembali Ke Atas Go down

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty Re: hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by Foxhound on Thu Oct 04, 2012 7:19 pm

@abu hanan wrote:
makan adalah boleh..
menjadi berpahala ketika memakan yg halal.
menjadi berdosa ketika memakan yg haram.

Ini saya tahu ada ayat AQ nya.

bermusik adalah boleh..

Ini ada hadits yang berkata haram sesuai dikutip, ada hadits yang eksplisit bilang boleh nggak? Kalau hadits cuma menulis peristiwa2, boleh dikategorikan sebagai hadits yang tidak sah karena bertentangan dengan hadits yang bilang musik itu haram nggak? (sama seperti kasus susu menyusui)


menjadi berdosa ketika lirik-gaya menyanyi adalah gak sesuai syariat.
menjadi berpahala ketika lirik itu adalah ajakan utk berbuat baik/dzikir.

Yang ini ada dasarnya apa ya, hadits atau ayat AQ?
Foxhound
Foxhound
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 612
Kepercayaan : Protestan
Location : Jakarta
Join date : 28.09.12
Reputation : 57

Kembali Ke Atas Go down

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty Re: hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by keroncong on Thu Oct 04, 2012 10:51 pm

Masalah nyanyian, baik dengan musik maupun tanpa alat musik,
merupakan masalah yang diperdebatkan oleh para fuqaha kaum
muslimin sejak zaman dulu. Mereka sepakat dalam beberapa hal
dan tidak sepakat dalam beberapa hal yang lain.

Mereka sepakat mengenai haramnya nyanyian yang mengandung
kekejian, kefasikan, dan menyeret seseorang kepada
kemaksiatan, karena pada hakikatnya nyanyian itu baik jika
memang mengandung ucapan-ucapan yang baik, dan jelek apabila
berisi ucapan yang jelek. Sedangkan setiap perkataan yang
menyimpang dari adab Islam adalah haram. Maka bagaimana
menurut kesimpulan Anda jika perkataan seperti itu diiringi
dengan nada dan irama yang memiliki pengaruh kuat? Mereka
juga sepakat tentang diperbolehkannya nyanyian yang baik
pada acara-acara gembira, seperti pada resepsi pernikahan,
saat menyambut kedatangan seseorang, dan pada hari-hari
raya. Mengenai hal ini terdapat banyak hadits yang sahih dan
jelas.

Namun demikian, mereka berbeda pendapat mengenai nyanyian
selain itu (pada kesempatan-kesempatan lain). Diantara
mereka ada yang memperbolehkan semua jenis nyanyian, baik
dengan menggunakan alat musik maupun tidak, bahkan
dianggapnya mustahab. Sebagian lagi tidak memperbolehkan
nyanyian yang menggunakan musik tetapi memperbolehkannya
bila tidak menggunakan musik. Ada pula yang melarangnya sama
sekali, bahkan menganggapnya haram (baik menggunakan musik
atau tidak).

Dari berbagai pendapat tersebut, saya cenderung untuk
berpendapat bahwa nyanyian adalah halal, karena asal segala
sesuatu adalah halal selama tidak ada nash sahih yang
mengharamkannya. Kalaupun ada dalil-dalil yang mengharamkan
nyanyian, adakalanya dalil itu sharih (jelas) tetapi tidak
sahih, atau sahih tetapi tidak sharih. Antara lain ialah
kedua ayat yang dikemukakan dalam pertanyaan Anda.

Kita perhatikan ayat pertama:

"Dan diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan
perkataan yang tidak berguna ..."

Ayat ini dijadikan dalil oleh sebagian sahabat dan tabi'in
untuk mengharamkan nyanyian.

Jawaban terbaik terhadap penafsiran mereka ialah sebagaimana
yang dikemukakan Imam Ibnu Hazm dalam kitab Al Muhalla. Ia
berkata: "Ayat tersebut tidak dapat dijadikan alasan dilihat
dari beberapa segi:

Pertama: tidak ada hujah bagi seseorang selain Rasulullah
saw. Kedua: pendapat ini telah ditentang oleh sebagian
sahabat dan tabi'in yang lain. Ketiga: nash ayat ini justru
membatalkan argumentasi mereka, karena didalamnya
menerangkan kualifikasi tertentu:

"'Dan diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan
perkataan yang tidak berguna untulc menyesatkan (manusia)
dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan
Allah itu olok-olokan ..."

Apabila perilaku seseorang seperti tersebut dalam ayat ini,
maka ia dikualifikasikan kafir tanpa diperdebatkan lagi.
Jika ada orang yang membeli Al Qur'an (mushaf) untuk
menyesatkan manusia dari jalan Allah dan menjadikannya bahan
olok-olokan, maka jelas-jelas dia kafir. Perilaku seperti
inilah yang dicela oleh Allah. Tetapi Allah sama sekali
tidak pernah mencela orang yang mempergunakan perkataan yang
tidak berguna untuk hiburan dan menyenangkan hatinya - bukan
untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Demikian juga
orang yang sengaja mengabaikan shalat karena sibuk membaca
Al Qur'an atau membaca hadits, atau bercakap-cakap, atau
menyanyi (mendengarkan nyanyian), atau lainnya, maka orang
tersebut termasuk durhaka dan melanggar perintah Allah. Lain
halnya jika semua itu tidak menjadikannya mengabaikan
kewajiban kepada Allah, yang demikian tidak apa-apa ia
lakukan."

Adapun ayat kedua:

"Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak
bermanfaat, mereka berpaling daripadanya ..."

Penggunaan ayat ini sebagai dalil untuk mengharamkan
nyanyian tidaklah tepat, karena makna zhahir "al laghwu"
dalam ayat ini ialah perkataan t*l*l yang berupa caci maki
dan cercaan, dan sebagainya, seperti yang kita lihat dalam
lanjutan ayat tersebut. Allah swt. berfirman:

"Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak
bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata:
"Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu,
kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan
orang-orang jahil." (A1 Qashash: 55)

Ayat ini mirip dengan firman-Nya mengenai sikap
'ibadurrahman (hamba-hamba yang dicintai Allah Yang Maha
Pengasih):

"... dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka
mengucapkan kata-kata yang baik." (Al Furqan: 63)

Andaikata kita terima kata "laghwu" dalam ayat tersebut
meliputi nyanyian, maka ayat itu hanya menyukai kita
berpaling dari mendengarkan dan memuji nyanyian, tidak
mewajibkan berpaling darinya.

Kata "al laghwu" itu seperti kata al bathil, digunakan untuk
sesuatu yang tidak ada faedahnya, sedangkan mendengarkan
sesuatu yang tidak berfaedah tidaklah haram selama tidak
menyia-nyiakan hak atau melalaikan kewajiban.

Diriwayatkan dari Ibnu Juraij bahwa Rasulullah saw.
memperbolehkan mendengarkan sesuatu. Maka ditanyakan kepada
beliau: "Apakah yang demikian itu pada hari kiamat akan
didatangkan dalam kategori kebaikan atau keburukan?" Beliau
menjawab, "Tidak termasuk kebaikan dan tidak pula termasuk
kejelekan, karena ia seperti al laghwu, sedangkan Allah
berfirman:

"Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang
tidak dimaksud (untuk bersumpah) ..." (Al Ma'idah: 89)

Imam Al Ghazali berkata: "Apabila menyebut nama Allah Ta'ala
terhadap sesuatu dengan jalan sumpah tanpa mengaitkan hati
yang sungguh-sungguh dan menyelisihinya karena tidak ada
faedahnya itu tidak dihukum, maka bagaimana akan dikenakan
hukuman pada nyanyian dan tarian?"

Saya katakan bahwa tidak semua nyanyian itu laghwu, karena
hukumnya ditetapkan berdasarkan niat pelakunya. Oleh sebab
itu, niat yang baik menjadikan sesuatu yang laghwu (tidak
bermanfaat) sebagai qurbah (pendekatan diri pada Allah) dan
al mizah (gurauan) sebagai ketaatan. Dan niat yang buruk
menggugurkan amalan yang secara zhahir ibadah tetapi secara
batin merupakan riya'. Dari Abu Hurairah r.a. bahwa
Rasulullah saw. bersabda:

"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kamu, tetapi ia
meIihat hatimu." (HR Muslim dan Ibnu Majah)
keroncong
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 65
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 67

Kembali Ke Atas Go down

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty Re: hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by EbisuSensei on Fri Oct 05, 2012 9:09 am

@SEGOROWEDI wrote:muhammad yang plin-plan
keputusan di tangan mui
lhoo.. lhoo.. kok masih suka berdelusi siiiih?
Malu doong sama yunior2mu yang canggih2 seperti @duren dan @fox.
Saya pikir kamu sudah bersedia berpikir waras.

Coba, sekarang saya ingin mengetahui kestabilan pikiranmu.
Silahkan tuliskan, penjelasan saya di postingan #28, dengan bahasamu.

bisa / nggak?
EbisuSensei
EbisuSensei
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2734
Kepercayaan : Islam
Location : Indonesia
Join date : 27.12.11
Reputation : 24

Kembali Ke Atas Go down

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty Re: hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by SEGOROWEDI on Fri Oct 05, 2012 9:39 am

@EbisuSensei wrote:
@SEGOROWEDI wrote:muhammad yang plin-plan
keputusan di tangan mui
lhoo.. lhoo.. kok masih suka berdelusi siiiih?
Malu doong sama yunior2mu yang canggih2 seperti @duren dan @fox.
Saya pikir kamu sudah bersedia berpikir waras.

Coba, sekarang saya ingin mengetahui kestabilan pikiranmu.
Silahkan tuliskan, penjelasan saya di postingan #28, dengan bahasamu.

bisa / nggak?

yang ngemeng kek gini siapa:
Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis tidak melarang musik.
Makanya kembalikan ke MUI saja, gitu aja kok repot


padahal
dalam hadis yang lain muhammad melarang musik

apa gak plin-plan itu namanya?
dan kuasa ada di tangan mui

avatar
SEGOROWEDI
BRIGADIR JENDERAL
BRIGADIR JENDERAL

Posts : 43894
Kepercayaan : Protestan
Join date : 12.11.11
Reputation : 124

Kembali Ke Atas Go down

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty Re: hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by EbisuSensei on Fri Oct 05, 2012 9:41 am

@SEGOROWEDI wrote:
@EbisuSensei wrote:
@SEGOROWEDI wrote:muhammad yang plin-plan
keputusan di tangan mui
lhoo.. lhoo.. kok masih suka berdelusi siiiih?
Malu doong sama yunior2mu yang canggih2 seperti @duren dan @fox.
Saya pikir kamu sudah bersedia berpikir waras.

Coba, sekarang saya ingin mengetahui kestabilan pikiranmu.
Silahkan tuliskan, penjelasan saya di postingan #28, dengan bahasamu.

bisa / nggak?

yang ngemeng kek gini siapa:
Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis tidak melarang musik.
Makanya kembalikan ke MUI saja, gitu aja kok repot


padahal
dalam hadis yang lain muhammad melarang musik

apa gak plin-plan itu namanya?
dan kuasa ada di tangan mui

Saya meminta kamu apa ya?


Terakhir diubah oleh EbisuSensei tanggal Fri Oct 05, 2012 4:23 pm, total 1 kali diubah
EbisuSensei
EbisuSensei
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2734
Kepercayaan : Islam
Location : Indonesia
Join date : 27.12.11
Reputation : 24

Kembali Ke Atas Go down

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty Re: hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by abu hanan on Fri Oct 05, 2012 4:16 pm

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالخَمْرَ وَالمَعَازِفَ
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah bersabda: "Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras dan musik." (HR. Bukhari)

ma’azif, yang berasal dari kata ‘azafa yang berarti berpaling.

bicara tentang alat.......
Al-Laits t berkata: “Al-ma’azif adalah alat-alat musik yang dipukul.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Al-ma’azif adalah alat-alat musik.”
Al-Qurthubi meriwayatkan dari Al-Jauhari bahwa al-ma’azif adalah nyanyian.
Yang terdapat dalam Shihah-nya bahwa yang dimaksud adalah alat-alat musik.

Ada pula yang mengatakan maknanya adalah suara-suara yang melalaikan.

Ad-Dimyathi berkata: “Al-ma’azif adalah genderang dan yang lainnya berupa sesuatu yang dipukul.” (lihat Tahdzib Al-Lughah, 2/86, Mukhtarush Shihah, hal. 181, Fathul Bari, 10/57)

Al-Imam Adz-Dzahabi t berkata: “Al-ma’azif adalah nama bagi setiap alat musik yang dimainkan, seperti seruling, gitar, dan klarinet (sejenis seruling), serta simba.” (Siyar A’lam An-Nubala`, 21/158)

sayah secara sederhana sesuai kemampuan sayah dalam hadits
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah bersabda: "Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras dan musik." (HR. Bukhari)

dibaca;
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah bersabda: "Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras dan nyanyian/bermusik yang melalaikan atow menyebabkan berpaling atow lupa diri." (HR. Bukhari)


fox wrote:
ah wrote:menjadi berdosa ketika lirik-gaya menyanyi adalah gak sesuai syariat.
menjadi berpahala ketika lirik itu adalah ajakan utk berbuat baik/dzikir.
Yang ini ada dasarnya apa ya, hadits atau ayat AQ?


al mukminun 3
dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,

reaksi berlebihan seperti mencintai para penyanyi idola mereka melebihi kecintaan mereka kepada Allah Ta’ala yang menciptakannya, ini adalah fitnah yang amat besar.

contoh lirik lagu;
engkaulah segalanyah
engkaulah hidupku
-->>ditujukan ketika keluarin jurus gombal

tentang gaya yg menjadi haram itu jika berbusana gak sesuai syariat.meskipun berkerudung tetapi dibalut kain yg tetap memperlihatkan lekuk tubuh tetaplah haram.

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. [QS. Al A’raaf : 26]

baju ketat dan membalut seluruh tubuh tidak dapat dikatakan menutup aurat..karena aurat tetap jelas dipandang meski terbalut.menutupnyah sih iyah tapi menonjolkan aurat..jadi sama juga idem...


untuk orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas
maka kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang luas
abu hanan
abu hanan
GLOBAL MODERATOR
GLOBAL MODERATOR

Male
Age : 85
Posts : 7999
Kepercayaan : Islam
Location : soerabaia
Join date : 06.10.11
Reputation : 224

Kembali Ke Atas Go down

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty Re: hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by keroncong on Sat Oct 06, 2012 6:15 am

Sebenarnya fiqih Islam itu punya sekian pandangan yang tidak hanya satu versi dalam memandang hukum musik dan lagu.

Apa yang ditulis pada situs salafi itu adalah sebuah pendapat yang bisa diterima, karena memang didukung oleh banyak ulama dan disertai dengan dalil-dalilnya. Namun bukan berarti pendapat itu adalah satu-satunya pendapat tentang musik. Ternyata ulama salaf pun tidak semuanya sepakat untuk mengharamkan musik secara mutlaq. Meski memang umumnya memakruhkan atau tidak menganjurkan seseorang untuk bermain musik. Bahkan di dalam banyak bab fiqih memang kita temukan bahwa diantara jual beli yangdiharamkan adalah memperjual belikan alat-alat musik.

Tapi sekali lagi, bila kita luaskan kajian kita dan telaah atas pendapat fiqih, maka kita pasti akan mendapatkan bahwa keharaman musik bukanlah sesuatu yang disepakati oleh semua ulama.

Bagaimana Islam berbicara tentang nyanyian dan musik ? Istilah yang biasa dipakai dalam madzhab Hanafi pada masalah nyanyian dan musik sudah masuk dalam ruang lingkup maa ta’ummu bihi balwa (sesuatu yang menimpa orang banyak). Sehingga pembahasan tentang dua masalah ini harus tuntas. Dan dalam memutuskan hukum pada dua masalah tersebut, apakah halal atau haram, harus benar-benar berlandaskan dalil yang shahih (benar) dan sharih (jelas). Dan tajarud, yakni hanya tunduk dan mengikuti sumber landasan Islam saja yaitu Al- Qur’an, Sunnah yang shahih dan Ijma. Tidak terpengaruh oleh watak atau kecenderungan perorangan dan adat-istiadat atau budaya suatu masyarakat.

Sebelum membahas pendapat para ulama tentang dua masalah tersebut dan pembahasan dalilnya. Kita perlu mendudukkan dua masalah tersebut. Nyanyian dan musik dalam Fiqh Islam termasuk pada kategori muamalah atau urusan dunia dan bukan ibadah. Sehingga terikat dengan kaidah: Hukum dasar pada sesuatu (muamalah) adalah halal (mubah). Hal ini sesuai firman Allah SWT. : Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” (QS Al-Baqarah 29). Sehingga untuk memutuskan hukum haram pada masalah muamalah termasuk nyanyian dan musik harus didukung oleh landasan dalil yang shahih dan sharih. Rasulullah saw. bersabda: ”Sesungguhnya Allah ‘Aza wa Jalla telah menetapkan kewajiban, janganlah engkau lalaikan, menetapkan hudud, jangan engkau langgar, mengharamkan sesuatu jangan engkau lakukan. Dan diam atas sesuatu, sebagai rahmat untukmu dan tidak karena lupa, maka jangan engkau cari-cari (hukumnya) “ (HR Ad-Daruqutni). “Halal adalah sesuatu yang Allah halalkan dalam kitab-Nya. Dan haram adalah sesuatu yang Allah haramkan dalam kitab-Nya. Sedangkan yang Allah diamkan maka itu adalah sesuatu yang dima’afkan” (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Hakim ) Pada hukum nyanyian dan musik ada yang disepakati dan ada yang diperselisihkan. Ulama sepakat mengharamkan nyanyian yang berisi syair-syair kotor, jorok dan cabul. Sebagaimana perkataan lain, secara umum yang kotor dan jorok diharamkan dalam Islam. Ulama juga sepakat membolehkan nyanyian yang baik, menggugah semangat kerja dan tidak kotor, jorok dan mengundang syahwat, tidak dinyanyikan oleh wanita asing dan tanpa alat musik. Adapaun selain itu para ulama berbeda pendapat, sbb:

Jumhur ulama menghalalkan mendengar nyanyian, tetapi berubah menjadi haram dalam kondisi berikut:

Jika disertai kemungkaran, seperti sambil minum khomr, berjudi dll.
Jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah seperti menyebabkan timbul cinta birahi pada wanita atau sebaliknya.
Jika menyebabkan lalai dan meninggalkan kewajiban, seperti meninggalkan shalat atau menunda-nundanya dll.

Madzhab Maliki, asy-Syafi’i dan sebagian Hambali berpendapat bahwa mendengar nyanyian adalah makruh. Jika mendengarnya dari wanita asing maka semakin makruh. Menurut Maliki bahwa mendengar nyanyian merusak muru’ah. Adapun menurut asy-Syafi’i karena mengandung lahwu. Dan Ahmad mengomentari dengan ungkapannya:” Saya tidak menyukai nyanyian karena melahirkan kemunafikan dalam hati”.

Adapun ulama yang menghalalkan nyanyian, diantaranya: Abdullah bin Ja’far, Abdullah bin Zubair, Al-Mughirah bin Syu’bah, Usamah bin Zaid, Umran bin Hushain, Muawiyah bin Abi Sufyan, Atha bin Abi Ribah, Abu Bakar Al-Khallal, Abu Bakar Abdul Aziz, Al-Gazali dll. Sehingga secara umum dapat disimpulkan bahwa para ulama menghalalkan bagi umat Islam mendengarkan nyanyian yang baik-baik jika terbebas dari segala macam yang diharamkan sebagaimana disebutkan diatas.

Sedangkan hukum yang terkait dengan menggunakan alat musik dan mendengarkannya, para ulama juga berbeda pendapat. Jumhur ulama mengharamkan alat musik. Sesuai dengan beberapa hadits diantaranya, sbb: ”Sungguh akan ada di antara umatku, kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat-alat yang melalaikan". (HR Bukhari) ” Dari Nafi bahwa Ibnu Umar mendengar suara seruling gembala, maka ia menutupi telingannya dengan dua jarinya dan mengalihkan kendaraannya dari jalan tersebut. Ia berkata:”Wahai Nafi’ apakah engkau dengar?”. Saya menjawab:”Ya”. Kemudian melanjutkan berjalanannya sampai saya berkata :”Tidak”. Kemudian Ibnu Umar mengangkat tangannya, dan mengalihkan kendaraannya ke jalan lain dan berkata: Saya melihat Rasulullah saw. mendengar seruling gembala kemudian melakukan seperti ini” (HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah). Dari Umar bin Hushain, bahwa Rasulullah saw. berkata tentang umat ini:” Gerhana, gempa dan fitnah. Berkata seseorang dari kaum muslimin:”Wahai Rasulullah kapan itu terjadi?” Rasul menjawab:” Jika biduanita, musik dan minuman keras dominan” (HR At-Tirmidzi). Para ulama membicarakan dan memperselisihkan hadits-hadits tentang haramnya nyanyian dan musik. Hadits pertama diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, dari Abi Malik Al Asy'ari ra. Hadits ini walaupun terdapat dalam hadits shahih Bukhori, tetapi para ulama memperselisihkannya. Banyak diantara mereka yang mengatakan bahwa hadits ini adalah mualaq (sanadnya terputus), diantaranya dikatakan oleh Ibnu Hazm. Disamping itu diantara para ulama menyatakan bahwa matan dan sanad hadits ini tidak selamat dari kegoncangan (idtirab). Katakanlah, bahwa hadits ini shohih, karena terdapat dalam hadits shohih Bukhori, tetapi nash dalam hadits ini masih bersifat umum, tidak menunjuk alat-alat tertentu dengan namanya. Batasan yang ada adalah bila ia melalaikan.

Hadits kedua dikatakan oleh Abu Dawud sebagai hadits mungkar. Kalaupun hadits ini shohih, maka Rasulullah saw. tidak jelas mengharamkannya. Bahkan Rasulullah saw mendengarkannya sebagaimana juga yang dilakukan oleh Ibnu Umar. Sedangkan hadits ketiga adalah hadits ghorib. Dan hadits-hadits lain yang terkait dengan hukum musik, jika diteliti ternyata tidak ada yang shohih.

Adapun ulama yang menghalalkan musik sebagaimana diantaranya diungkapkan oleh Imam Asy-Syaukani dalam kitabnya, Nailul Authar adalah sbb: Ulama Madinah dan lainnya, seperti ulama Dzahiri dan jama’ah ahlu Sufi memberikan kemudahan pada nyanyian walaupun dengan gitar dan biola”. Juga diriwayatkan oleh Abu Manshur Al-Bagdadi As-Syafi’i dalam kitabnya bahwa Abdullah bin Ja’far menganggap bahwa nyanyi tidak apa-apa, bahkan membolehkan budak-budak wanita untuk menyanyi dan beliau sendiri mendengarkan alunan suaranya. Dan hal itu terjadi di masa khilafah Amirul Mukminin Ali ra. Begitu juga Abu Manshur meriwayatkan hal serupa pada Qodhi Syuraikh, Said bin Al Musayyib, Atho bin abi Ribah, Az-Zuhri dan Asy-Sya’bi.

Imam Al-Haramain dalam kitabnya, An-Nihayah dan Ibnu Abi Ad-Dunya yang menukil dari Al-Itsbaat Al-Muarikhiin; bahwa Abdullah bin Zubair memiliki budak-budak wanita dan gitar. Dan Ibnu Umar pernah kerumahnya ternyata disampingnya ada gitar , Ibnu Umar berkata:” Apa ini wahai sahabat Rasulullah saw. kemudian Ibnu Zubair mengambilkan untuknya, Ibnu Umar merenungi kemudian berkata:” Ini mizan Syami( alat musik) dari Syam?”. Berkata Ibnu Zubair:” Dengan ini akal seseorang bisa seimbang”. Dan diriwayatkan dari Ar-Rowayani dari Al-Qofaal bahwa madzhab Malik bin Anas membolehkan nyanyian dengan alat musik.

Demikianlah pendapat ulama tentang mendengarkan alat musik. Dan jika diteliti dengan cermat, maka ulama muta’akhirin yang mengharamkan alat musik karena mereka mengambil sikap waro’(hati-hati). Mereka melihat kerusakan yang timbul dimasanya. Sedangkan ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabi’in menghalalkan alat musik karena mereka melihat memang tidak ada dalil baik dari Al-Qur’an maupun hadits yang jelas mengharamkannya. Sehingga dikembalikan pada hukum asalnya yaitu mubah.

Oleh karena itu bagi umat Islam yang mendengarkan nyanyian dan musik harus memperhatikan faktor-faktor berikut:

Pertama: Lirik Lagu yang Dilantunkan.
Hukum yang berkaitan dengan lirik ini adalah seperti hukum yang diberikan pada setiap ucapan dan ungkapan lainnya. Artinya, bila muatannya baik menurut syara', maka hukumnya dibolehkan. Dan bila muatanya buruk menurut syara', maka dilarang.

Kedua: Alat Musik yang Digunakan.
Sebagaimana telah diungkapkan di muka bahwa, hukum dasar yang berlaku dalam Islam adalah bahwa segala sesuatu pada dasarnya dibolehkan kecuali ada larangan yang jelas. Dengan ketentuan ini, maka alat-alat musik yang digunakan untuk mengiringi lirik nyanyian yang baik pada dasarnya dibolehkan. Sedangkan alat musik yang disepakati bolehnya oleh jumhur ulama adalah ad-dhuf (alat musik yang dipukul). Adapun alat musik yang diharamkan untuk mendengarkannya, para ulama berbeda pendapat satu sama lain. Satu hal yang disepakati ialah semua alat itu diharamkan jika melalaikan.

Ketiga: Cara Penampilan.
Harus dijaga cara penampilannya tetap terjaga dari hal-hal yang dilarang syara' seperti pengeksposan cinta birahi, seks, pornografi dan ikhtilath.

Keempat: Akibat yang Ditimbulkan.
Walaupun sesuatu itu mubah, namun bila diduga kuat mengakibatkan hal-hal yang diharamkan seperti melalaikan shalat, munculnya ulah penonton yang tidak Islami sebagi respon langsung dan sejenisnya, maka sesuatu tersebut menjadi terlarang pula. Sesuai dengan kaidah Saddu Adz dzaroi' (menutup pintu kemaksiatan) .

Kelima: Aspek Tasyabuh.
Perangkat khusus, cara penyajian dan model khusus yang telah menjadi ciri kelompok pemusik tertentu yang jelas-jelas menyimpang dari garis Islam, harus dihindari agar tidak terperangkap dalam tasyabbuh dengan suatu kaum yang tidak dibenarkan. Rasulullah saw. bersabda: ”Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk mereka” (HR Ahmad dan Abu Dawud)

Keenam: Orang yang menyanyikan.
Haram bagi kaum muslimin yang sengaja mendengarkan nyanyian dari wanita yang bukan muhrimnya. Sebagaimana firman Allah SWT.: :”Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik” (QS Al-Ahzaab 32) Demikian kesimpulan tentang hukum nyanyian dan musik dalam Islam semoga bermanfaat bagi kaum muslimin dan menjadi panduan dalam kehidupan mereka. Amiin.
keroncong
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 65
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 67

Kembali Ke Atas Go down

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty Re: hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by keroncong on Thu Oct 18, 2012 2:32 pm

MENGAPA ULAMA MUTAAKHIRUN BERSIKAP KERAS DALAM MASALAH LAGU?

Sebagai catatan mengapa para ulama, fiqih mutaakhirin itu lebih bersikap keras untuk melarang lagu-lagu terutama dengan alat-alat musik, daripada ulama fiqih masa lalu, ini karena beberapa sebab atau alasan sebagai berikut:
Mengambil Sikap Hati-hati, Bukan Mengambil yang Lebih Mudah

Sesungguhnya ulama dahulu itu lebih banyak mengambil yang paling mudah, sedangkan ulama akhir cenderung bersikap hati-hati atau bersikap keras. Ini bisa dilihat dari perkembangan penjelasan fiqih dan fatwa sejak masa sahabat dan masa-masa setelahnya. Contoh-contohnya sangat banyak dan tidak terhitung.
Tertarik dengan hadits-hadits Dha'if dan Palsu

Sesungguhnya kebanyakan fuqaha' mutuakhirin terancam dengan adanya hadits-hadits dha'if atau palsu yang memenuhi kitab-kitab, selain bahwa kebanyakan mereka bukan ahli seleksi riwayat dan pen-tahkiq-an sanad. Sehingga hadits-hadits seperti itu menjadi sangat laku, terutama dengan tersebarnya isu tentang banyaknya sanad hadits-hadits dha'if itu dapat saling memperkuat.
Kondisi Lagu-lagu yang Sedang Mendominasi

Kondisi lagu-lagu sekarang ini kebanyakan menyimpang dan keluar batas. Inilah yang membuat para ulama mengambil sikap melarang dan mengharamkan Ada setidaknya dua realitas berkenaan dengan lagu-lagu ini, yang keduanya mempengaruhi para ulama fiqih.
Pertama, Lagu-lagu Porno dan Cabul

Lagu-lagu porno telah menjadi bagian yang tidak bisa terpisah dari kehidupan kalangan elit yang tenggelam dalam kelezatan duniawi, mengabaikan shalat, serta mengikuti syahwat, dan mencampur-adukkan lagu dengan kemaksiatan. Ditambah lagi dengan minum khamr, berkata bohong. dan mempermainkan gadis-gadis cantik (para artis) sebagaimana itu semua pernah terjadi pada suatu masa tertentu dari zaman Abbasiyah, sehingga mendengarkan lagu dalam keadaan seperti ini dapat menimbulkan perbuatan porno, cabul dan kefasikan terhadap perintah Allah.

Sangat disayangkan bahwa dunia seni (termasuk dunia perfilman) saat ini sudah tercemari oleh banyak penyakit. Inilah yang memaksa setiap orang dari para artis dan penyanyi itu untuk bertaubat kepada Allah - semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka- dengan menyesal dan meninggalkan sama sekali dunianya dan lari dengan membawa agamanya.
Kedua, Lagu-lagu Shufi

Yang kedua adalah "Lagu-Lagu shufi" yang sering dinamakan dengan "Lagu Agama." Ini mereka jadikan sebagai sarana untuk membangkitkan kerinduan dan menggerakkan hati untuk menuju Allah. Seperti halnya yang dilakukan oleh orang terhadap untanya. Unta itu menjadi semangat berjalan ketika mendengar suara yang indah, sehingga merasa ringan dengan beban yang berat dan merasa pendek untuk menempuh jalan yang jauh. Orang-orang sufi menganggap lagu-lagu atau pujian itu sebagai ibadah kepada Allah atau minimal dapat membantu mereka untuk beribadah dan bertaqarrub kepada Allah.

Inilah yang diingkari oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya, Imam Ibnul Qayyim yang kedua-duanya sangat keras terhadap lagu-lagu seperti itu. Terutama Ibnu Qayyim di dalam kitabnya "Ighatsul Lahafaan" yang memaparkan segala alasannya untuk mengharamkan lagu-lagu. Ini jelas tidak seperti biasanya, tidak dengan dalil yang shahih, tidak pula dengan dalil yang sharih. Karena ia dan gurunya telah memandang hal itu sebagai suatu bentuk ibadah yang tidak disyari'atkan dan mengadakan sesuatu yang belum pernah ada dimasa Rasulullah SAW tidak pula di masa sahabat. Sehingga hal itu dianggap bid'ah terutama apabila diadakan di masjid, Ibnu Qayyim membacakan suatu nasyid untuk menentang mereka:

Ia membaca Al Kitab (Al Qur'an), lalu mereka lagukan,
bukan karena rasa takut, tetapi lagunya yang lalai dan pelupa.
Ia melagukan seperti keledai yang berteriak,
demi Allah mereka tidak bernyanyi karena Allah!
Rabana, seruling dan irama yang merdu,
maka sejak kapan kamu melihat ibadah dengan permainan ?

Di dalam sebagian fatwanya, Ibnu Taimiyah memperbolehkan nyanyian, apabila untuk menghilangkan beban berat dan menghibur diri.
Fiqh Imam Ghazali dalam Masalah ini

Saya yakin bahwa sesungguhnya pendapat imam Ghazali tentang masalah lagu-lagu dan bantahannya yang mendalam terhadap beberapa alasan orang-orang yang mengatakan haramnya mendengar lagu, jawabannya yang tuntas dan dukungannya terhadap dalil-dalil orang-orang yang memperbolehkannya serta standar yang beliau sebutkan tentang beberapa faktor yang dapat mengalihkan dari mendengar yang diperbolehkan menjadi yang diharamkan. Itu semua termasuk sikap yang paling adil yang menggambarkan keadilan, keseimbangan dan toleransi syari'at sehingga relevan untuk setiap tempat dan masa.

Sesungguhnya fiqih Imam Ghazali di dalam kitabnya "Ihya'" secara umum merupakan fiqih yang bebas dari ikatan madzhab-madzhab. Bahkan menjadi mujtahid mutlak, yang belum melihat syari'at dari cakrawala yang luas. Ini juga terlihat dalam masalah-masalah yang lainnya. Untuk memahaminya memerlukan studi khusus yang kiranya pantas untuk diajukan dalam kurikulum pengajaran di perguruan tinggi.

Beberapa Faktor yang Mengalihkan dan Mubah Menjadi Haram

Imam Al Ghazali menjelaskan beberapa faktor yang mengalihkan dari diperbolehkannya mendengar lagu menjadi tidak. Yakni meliputi lima penyebab sebagai berikut:

Pertama. Faktor yang ada pada penyanyi, yaitu seorang wanita yang tidak halal untuk dipandang dan dikhawatirkan terjadi fitnah apabila memperdengarkannya. Sehingga haramnya di sini dikarenakan takut fitnah, bukan lagunya itu sendiri.

Di sini Imam Ghazali lebih menitikberatkan pengharaman atas dasar takut terhadap fitnah. Ini dikuatkan dengan hadits mengenai dua gadis budak yang ada di rumah 'Aisyah. Diketahui bahwa saat itu Nabi SAW turut mendengar suaranya dan tidak dikhawatirkan adanya fitnah, karena itu beliau tidak berlindung. Ini bisa berbeda-beda tergantung pada keadaan subyek dan audiensnya (apakah wanita, laki-laki, apakah pemuda atau orang yang sudah tua). Karena itu kita katakan, boleh bagi orang yang sudah tua mencium isterinya ketika puasa, dan tidak boleh hal itu bagi pemuda.

Kedua. Faktor yang ada pada alat musik, yaitu apabila menunjukkan lambang para pencium atau para banci. Alat-alat itu ialah seruling, autaar dan genderang kecil. Inilah tiga jenis alat musik yanng dilarang, adapun selain itu, tetap pada asalnya yaitu diperbolehkan. Seperti duf (rebana), meskipun ada jalaajil (kempyang), seperti juga beduk, syahin, memukul dengan qadhib dan alat-alat lainnya.

Ketiga. Faktor yang ada pada isi lagu, yaitu sya'ir-sya'irnya. Apabila di dalamnya terkandung kata-kata mencaci dan kata-kata kotor, atau perkataan dusta terhadap Allah dan Rasul-Nya atau terhadap sahabat seperti yang dilakukan oleh orang-orang syi'ah yang mencaci maki para sahabat. Maka mendengarkannya menjadi haram, baik dengan irama atau tidak, karena pendengar itu ikut serta seperti yang dilagukan. Demikian juga lagu-lagu yang menyebutkan ciri-ciri wanita di hadapan pria, adapun menyebutkan ciri-ciri secara umum maka yang shahih tidak diharamkan melagukannya, baik dengan irama atau tidak. Dan bagi pendengar tidak boleh mempertunjukkan kepada wanita tertentu, apabila hendak dipertunjukkan maka hendaklah dipertunjukkan kepada wanita yang halal baginya. Jika ditunjukkan kepada wanita lain, maka ia telah bermaksiat kepada Allah. Dan jika memang demikian ia harus menjauhi dari mendengarkan lagu.

Keempat. Faktor yang ada pada pendengar yang dikeluarkan oleh syahwatnya. Biasanya ini dirasakan oleh kaum muda, maka mendengarkan haram baginya. Baik pemuda yanng dirundung cinta kasih terhadap orang tertentu atau tidak. Sesungguhnya dia tidak boleh mendengar syair lagu tentang sifat-sifat pelipis atau pipi, berpisah dan bertemu. Karena kalau ia mendengar, akan bangkit syahwatnya dan tertuju kepada wanita tertentu. Syetan akan meniupkan dalam dirinya sehingga hiduplah api syahwat dan berkembanglah motivasi untuk berbuat maksiat.

Kelima. Apabila pendengar itu termasuk orang awam dan tidak mengalahkan cintanya kepada Allah SWT, maka mendengarkan tidak mengapa. Atau dia tidak dikuasai oleh syahwatnya sehingga mendengarkannya menjadi tidak terlarang. Tetapi mendengarkan itu diperbolehkan bagi dia seperti jenis kelezatan-kelezatan lainnya yang diperbolehkan. Hanya saja apabila dia mengisi selurnh waktunya untuk itu, maka ia termasuk orang yang bodoh yang tidak diterima kesaksiannya. Karena terus-menerus berbuat demikian itu suatu kesalahan, sebagaimana jika dosa kecil itu terus menerus dilakukan secara rutin, maka akan menjadi dosa besar. Demikian juga hal-hal yang diperbolehkan, jika berlebihan dan secara terus-menerus dilakukan akhirnya akan menjadi dosa kecil. Termasuk dalam hal ini adalah bermain catur. Sesungguhnya ia mubah, akan tetapi apabila berlebihan dan secara rerus-menerus dilakukan maka akan berubah menjadi makruh yang sangat. Banyak sekali hal yang diperbolehkan termasuk roti, tetapi bila berlebihan menjadi haram, seperti hal-hal yang mubah lainnya.

Kalau dilihat dari keterangan Imam Ghazali ini, berarti seruling dan autaar termasuk faktor yang menjadikan haramnya lagu-lagu, karena syara' sendiri melarang yang demikian itu.

Imam Ghazali telah berijtihad di dalam mencari alasan tidak diperbolehkannya, maka beliau benar-benar bagus dalam mencari alasan dan menafsirkannya. Yaitu ketika mengatakan bahwa syari'at tidak melarang lagu-lagu itu karena kelezatannya. Karena jika disebabkan kelezatan niscaya akan menjadi standar bahwa setiap yang lezat bagi manusia itu dilarang. Akan tetapi minuman keras itu diharamkan dan kebutuhan manusia sendiri memutuskan untuk benar-benar dipisahkan dari minuman keras. Sebagaimana diharamkan berkhalwat dengan wanita lain (bukan muhrim), karena itu merupakan muqaddimah zina (bersetubuh). Diharamkan memandang paha, karena itu bisa sampai kemaluan, dan diharamkan khamr yang sedikit, karena hal itu sebagai pengantar menuju mabuk. Tidak ada satupun yang diharamkan kecuali ada pengantar yang juga diharamkan, agar meniadi pelindung (preventif) bagi bahaya yang lebih besar.

Karena itu autaar dan seruling diharamkan, ikut dengan pengharaman khamr, karena tiga alasan:

Sesungguhnya alat itu bisa mendorong seseorang untuk minum khamr, karena kelezatan yang diperoleh dengan musik jenis ini bisa sempurna kalau dengan minum khamr.
Sesungguhnya alat itu bagi orang yang masih baru dalam minum khamr, akan mengingatkan kepada majelis-majelis hiburan dengan minum ... sedangkan ingat itu menjadi penyebab bangkitnya kerinduan.
Berkumpul dengan musik itu sudah menjadi kebiasaan orang-orang yang menjadi ahli maksiat (fasik), maka dilarang untuk menyerupai mereka. Karena barang siapa yang menyerupai suatu kaum, berarti ia termasuk kaum itu.

Setelah pembahasan yang baik tersebut, Imam Ghazali mengatakan, "Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya alasan pengharaman musik itu bukan sekedar kenikmatan yang baik. Tetapi standar asalnya adalah penghalalan seluruh yang baik, kecuali jika penghalalan itu membawa kerusakan." Allah SWT berfirman:

"Katakanlah, "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?" (Al A'raf: 32)

Semoga Allah memberi rahmat kepada Imam Al Ghazali, karena sebenarnya tidak ada nash yang shahibuts-tsubuut (benar dan tetap pijakannya) sarihud-dalalah (sanadnya shahih dan maknanya jelas) yang melarang autaar dan seruling sebagaimana yang beliau kira. Tetapi beliau mengambil hadits-hadits yang diriwayatkan mengenai masalah ini sebagai masalah yang seakan tidak diperselisihkan, kemudian berupaya untuk menafsirkannya sebagaimana yang kita sebutkan. Kalau seandainya beliau mengetahui kelemahan sanad riwayat hadits dalam masalah ini, maka beliau tidak akan payah-payah untuk menafsirkan hadits ini, yang jelas alasan-alasan yang dikemukakan ini bermanfaat bagi orang yang tidak menganggap hadits tersebut lemah.
keroncong
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 65
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 67

Kembali Ke Atas Go down

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty Re: hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by Foxhound on Thu Oct 18, 2012 2:40 pm

@abu hanan wrote:
reaksi berlebihan seperti mencintai para penyanyi idola mereka melebihi kecintaan mereka kepada Allah Ta’ala yang menciptakannya, ini adalah fitnah yang amat besar.

contoh lirik lagu;
engkaulah segalanyah
engkaulah hidupku
-->>ditujukan ketika keluarin jurus gombal

oot dikit:
Kalau mencintai Muhammad lebih dari AllohSWT, kategori fitnah yang amat besar kagak bang Abu?



tentang gaya yg menjadi haram itu jika berbusana gak sesuai syariat.meskipun berkerudung tetapi dibalut kain yg tetap memperlihatkan lekuk tubuh tetaplah haram.

baju ketat dan membalut seluruh tubuh tidak dapat dikatakan menutup aurat..karena aurat tetap jelas dipandang meski terbalut.menutupnyah sih iyah tapi menonjolkan aurat..jadi sama juga idem...

Yah bang Abu.....

Bang Abu pikir kalau cewek dadanya menonjol itu karena auratnya yg menonjol?!?

Kebanyakan juga cuma BH nya doank yang menonjol... isinya diganjal.... hanya bbrp yang benar2 menonjol.

---------------------------------------------------------------

Jadi kesimpulannya... musik haram apa halal nieh?
Foxhound
Foxhound
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 612
Kepercayaan : Protestan
Location : Jakarta
Join date : 28.09.12
Reputation : 57

Kembali Ke Atas Go down

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty Re: hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by musicman on Fri Oct 19, 2012 11:46 am


Jadi kesimpulannya... musik haram apa halal nieh?
musik yg kayak gimana dulu nih?

udah dijelasin diatas kayaknya...

panas
musicman
musicman
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2226
Kepercayaan : Islam
Join date : 07.10.11
Reputation : 124

Kembali Ke Atas Go down

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty Re: hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by Foxhound on Fri Oct 19, 2012 1:08 pm

@musicman wrote:musik yg kayak gimana dulu nih?

udah dijelasin diatas kayaknya...

panas

Saya baca penjelasan di atas, semua versi pribadi ulama... pembenaran demi pembenaran antara yang halal dan yang haram.

Yang versi Muhammad aja murni ada nggak? Kalau emang Alquran diam soal musik, kan katanya 'dimaafkan'... tetapi muhammad kan ndak bilang gitu? Lha sunnahnya gimana?

(ntar kalau terbukti haram, nicknya diganti haram-man ya?) piss
Foxhound
Foxhound
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 612
Kepercayaan : Protestan
Location : Jakarta
Join date : 28.09.12
Reputation : 57

Kembali Ke Atas Go down

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty Re: hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by musicman on Sat Oct 20, 2012 9:13 pm

@Foxhound wrote:
@musicman wrote:musik yg kayak gimana dulu nih?

udah dijelasin diatas kayaknya...

panas

Saya baca penjelasan di atas, semua versi pribadi ulama... pembenaran demi pembenaran antara yang halal dan yang haram.

Yang versi Muhammad aja murni ada nggak? Kalau emang Alquran diam soal musik, kan katanya 'dimaafkan'... tetapi muhammad kan ndak bilang gitu? Lha sunnahnya gimana?

(ntar kalau terbukti haram, nicknya diganti haram-man ya?) piss
Musik itu bukan sunnah, krn Nabi sendiri tidak pernah memainkan musik. Dalam bbrp kali kesempatan beliau mendiamkan musik tanpa melarang, dengan acuan kondisi itu maka musik dalam batas2 tertentu tidak dilarang.

musicman
musicman
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2226
Kepercayaan : Islam
Join date : 07.10.11
Reputation : 124

Kembali Ke Atas Go down

hukum nyanyian dan seni musik dalam islam - Page 2 Empty Re: hukum nyanyian dan seni musik dalam islam

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Halaman 2 dari 3 Previous  1, 2, 3  Next

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik