FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

benarkah nabi Muhammad buta huruf?

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

benarkah nabi Muhammad buta huruf?

Post by keroncong on Fri Jun 01, 2012 3:28 am

Dalam Al-Qur’an terdapat sejumlah ayat yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW meimiliki sifat Al-Ummi. Ayat-ayat tersebut antara lain:

“Orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka . Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya , mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-A’raf : 157)

Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk". (QS. Al-A’raf : 158)

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah . Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS. Al-Jumu’ah : 2)

Imam As-Suyuthi dalam tafsirnya Ad-Durul Mantsur menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sifat Ummi dalam ayat-ayat di atas adalah bahwa Rasulullah SAW tidak dapat menulis dan membaca. (Tafsir Ad-Durul Mantsur III/518)

Mungkin yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah bagimana seorang yang tidak bisa membaca dan menulis bisa menjadi seorang Nabi? Bukankah seorang nabi adalah pemimpin bagi umatnya yang seharusnya memiliki kualifikasi tertentu terutama kemampuan membaca dan menulis? Atau mungkin kita bisa mengajukannya dalam bentuk yang lain, tidakkah hal tersebut akan menimbulkan kesan negatif, karena seorang yang tidak mampu membaca dan menulis dianggap memiliki kekurangan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah benar jika ditujukan kepada orang lain apalagi di jaman kita sekarang ini. Tetapi jika pertanyaan tersebut ditujukan kepada Rasulullah SAW, maka hal tersebut adalah salah. Justeru karena Rasulullah SAW memiliki sifat Ummiy-lah, maka orang-orang yang mengingkari wahyu Alloh tidak bisa beranggapan bahwa apa yang disampaikan oleh beliau merupakan saduran dari kitab-kitab terdahulu atau hasil karya sastra orang lain Dalam Al-Qur’an , Alloh dengan tegas telah menjelaskan apa yang menjadi rahasia Ilahi ketika mengutus seorang Nabi yang Ummi. Alloh SWT berfirman :

“Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya sesuatu Kitabpun dan kamu tidak menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata benar-benar, ragulah orang yang mengingkari” (QS. Al-Anksbut : 48)

Seorang penulis Islam, Syeikh Aidh Al-Qarny menyatkan dalam salah satu bukunya :

“Beliau (Rasulullah SAW ) adalah tokoh yang besar, karena kekurangan yang ada pada yang lainnya akan menjadi kesempurnaan bagi dirinya. Bukankah ke-ummiy-an merupakan kekurangan? Karena kemampuan menulis adalah kesempurnaan. Akan tetapi ke-ummiy-an beliau merupakan kesempurnaan baginya. Seorang ummiy yang membawa kitab yang mamup melemahkan pendapat-pendapat orang yang mengingkarinya. Kitab tersebut bukan merupakan hasil tulisannay dan juga bukan hasil karyanya karena dia adalah ummiy” (Kuunuu Rabbaniyyiin hal. 153)

Wallahu A`lam Bish-Showab,


-|PROBLEM SOLVED |-

-| Cara 'Request' Membuka Kembali Thread di Topic solved |-
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

benarkah nabi Muhammad buta huruf?

Post by barabasmurtad on Sat Jun 23, 2012 1:29 pm

ichreza wrote:Dalam Al-Qur’an terdapat sejumlah ayat yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW meimiliki sifat Al-Ummi. Ayat-ayat tersebut antara lain:

“Orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka . Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya , mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-A’raf : 157)

Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk". (QS. Al-A’raf : 158)

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah . Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS. Al-Jumu’ah : 2)

Imam As-Suyuthi dalam tafsirnya Ad-Durul Mantsur menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sifat Ummi dalam ayat-ayat di atas adalah bahwa Rasulullah SAW tidak dapat menulis dan membaca. (Tafsir Ad-Durul Mantsur III/518)

Mungkin yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah bagimana seorang yang tidak bisa membaca dan menulis bisa menjadi seorang Nabi? Bukankah seorang nabi adalah pemimpin bagi umatnya yang seharusnya memiliki kualifikasi tertentu terutama kemampuan membaca dan menulis? Atau mungkin kita bisa mengajukannya dalam bentuk yang lain, tidakkah hal tersebut akan menimbulkan kesan negatif, karena seorang yang tidak mampu membaca dan menulis dianggap memiliki kekurangan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah benar jika ditujukan kepada orang lain apalagi di jaman kita sekarang ini. Tetapi jika pertanyaan tersebut ditujukan kepada Rasulullah SAW, maka hal tersebut adalah salah. Justeru karena Rasulullah SAW memiliki sifat Ummiy-lah, maka orang-orang yang mengingkari wahyu Alloh tidak bisa beranggapan bahwa apa yang disampaikan oleh beliau merupakan saduran dari kitab-kitab terdahulu atau hasil karya sastra orang lain Dalam Al-Qur’an , Alloh dengan tegas telah menjelaskan apa yang menjadi rahasia Ilahi ketika mengutus seorang Nabi yang Ummi. Alloh SWT berfirman :

“Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya sesuatu Kitabpun dan kamu tidak menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata benar-benar, ragulah orang yang mengingkari” (QS. Al-Anksbut : 48)

Seorang penulis Islam, Syeikh Aidh Al-Qarny menyatkan dalam salah satu bukunya :

“Beliau (Rasulullah SAW ) adalah tokoh yang besar, karena kekurangan yang ada pada yang lainnya akan menjadi kesempurnaan bagi dirinya. Bukankah ke-ummiy-an merupakan kekurangan? Karena kemampuan menulis adalah kesempurnaan. Akan tetapi ke-ummiy-an beliau merupakan kesempurnaan baginya. Seorang ummiy yang membawa kitab yang mamup melemahkan pendapat-pendapat orang yang mengingkarinya. Kitab tersebut bukan merupakan hasil tulisannay dan juga bukan hasil karyanya karena dia adalah ummiy” (Kuunuu Rabbaniyyiin hal. 153)

Wallahu A`lam Bish-Showab,

SAYA HERAN MENGAPA MUSLIMERS INI BANGGA PUNYA NABI SEORANG BUTAHURUF, KARENA SELURUH NABI DALAM ALKITAB YANG DIMULAI DARI NABI MUSA ADALAH NABI2 YANG BISA BACA TULIS ATAU APAKAH MUHAMMAD INI MAU DIANGGAP SUPER DAN NGEJIPLAK APA YANG DICATAT DALAM ALKITAB TENTANG YESUS YANG MENYATAKAN:
Joh 7:14 Waktu pesta itu sedang berlangsung, Yesus masuk ke Bait Allah lalu mengajar di situ.
Joh 7:15 Maka heranlah orang-orang Yahudi dan berkata: "Bagaimanakah orang ini mempunyai pengetahuan demikian tanpa belajar!"
Joh 7:16 Jawab Yesus kepada mereka: "Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku.
Joh 7:17 Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri.
Joh 7:18 Barangsiapa berkata-kata dari dirinya sendiri, ia mencari hormat bagi dirinya sendiri, tetapi barangsiapa mencari hormat bagi Dia yang mengutusnya, ia benar dan tidak ada ketidakbenaran padanya.

APAKAH PENGERTIAN ANDA TENTANG KATA2 INI???
SAYA AKAN POSTINGKAN DI SINI TENTANG KEHIDUPAN YESUS DAN DIMANA IA BERSEKOLAH SELAMA MASA2 YESUS YANG DIKATAKAN SEBAGAI "THE LOST YEARS OF JESUS"
KEHIDUPAN REMAJA YESUS


Menurut hukum Yahudi, usia seorang anak digolongkan dalam 8 tahapan:

1) YELED, "usia bayi";
2) YONEK, "usia menyusu";
3) OLEL, "lebih tua lagi dari menyusu";
4) GEMUL, "usia disapih";
5) TAPH, "usia mulai berjalan";
6) ULEM, "anak-anak";
7) NA'AR, "mulai tumbuh remaja"; dan
8) BAHAR, "usia remaja". [14]

Dari catatan tentang kehidupan Yesus dalam Injil, kita hanya membaca tiga klasifikasi usia saja yang dimuat, yaitu bayi (YELED), usia disapih (GEMUL), ketika ia diserahkan di Bait Allah di hadapan Simeon dan Anna, dan remaja (BAHAR, 12 tahun) ketika Yesus diajak Yusuf dan Maria, kedua orang tuanya, ke Yerusalem.

Mengapa Yesus muncul pada usia 12 tahun? Karena usia 12 bagi tradisi Yahudi zaman Yesus begitu penting, karena seorang anak laki-laki Yahudi harus melakukan upacara yang disebut BAR MITSVAH (anak Hukum). Menurut legenda Yahudi, pada usia 12 tahun Nabi Musa meninggalkan rumah putri Firaun, Samuel menerima suara yang berisi visi Ilahi, Salomo (Nabi Sulaiman) mulai menerima Hikmat Allah dan Raja Yosia menerima visi reformasi agung di Yerusalem [15].

Dalam rangkaian ritus Yahudi itu Yesus harus melakukan 'ALIYAH (naik) dan BEMAH (menghadap mimbar untuk menerima kuk hukum Taurat). Upacara ini dilakukan pada hari Sabat, karena itu disebut juga THEPILIN SHABAT.

Sejak abad-abad Pertengahan, usia BAR MITSVAH dilakukan pada usia 13 tahun [16]. Menurut literatur Yahudi abad pertengahan Sepher Gilgulim, semua anak Yahudi sejak usia 12 tahun, mulai menerima ruah (roh hikmat) dan pada usia 20 tahun ditambahkan baginya NISHAMA (reasonable soul, "jiwa akali").

Mulai usia 20 tahun tersebut seseorang harus memasuki sekolah khusus Yahudi (BET MIDRASH). Sedangkan tahapan-tahapan pendidikan Yahudi adalah sebagai berikut: MIQRA (membaca Taurat) mulai usia 5 tahun, MISHNA mulai usia 10 tahun, TALMUD pada usia 13 tahun (zaman Yesus 12 tahun); MIDRASH (madarasah) pada usia 20 tahun, dan sejak usia 30 tahun baru boleh mengajar di depan umum [17].

Alkitab memang tidak menjelaskan mengenai hal itu secara detail waktu-waktu yang dihabiskan Yesus pada masa kecil hingga dewasa. Hanya ada ayat-ayat yang implisit menyatakannya. Salah satunya adalah ini :

* Lukas 2:49-51
2:49 Jawab-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?"
2:50 Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka.
2:51 Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.

Perhatikan frasa "Mengapa engkau mencari AKU? Aku harus berada di-Rumah Bapa-ku." Saat itu Yesus mengucapkannya saat Ia berada di-Bait suci Yerusalem. Jadi dari ayat tsb, apabila kita kaitkan dengan budaya Yahudi pada masa itu, maka secara tradisi kita bisa memahami bahwa setiap anak-anak Israel harus sekolah hingga usia 17-19 tahun.

Lalu saat memasuki usia 20 tahun (usia madarasah), dan mereka yang mau melanjutkan sekolah theology, boleh memasuki pendidikan keimaman/ pengajar Taurat. Pendidikan imam Yahudi berlangsung kurang lebih 10 tahun. Mulai dari jabatan imam pendamping, imam muda, hingga imam kepala.

Bait Suci menjadi tempat pendidikan imam/ ahli-ahli Taurat. Maka dari itu Yesus berkata : "Mengapa engkau mencari AKU? Aku harus berada di-Rumah Bapa-ku (di-bait suci)" Lukas 2:49.

Dengan demikian jelas bagi kita bahwa Yesus sepanjang usia 12-19 tahun menempuh pendidikan umum sebagaimana anak-anak Israel yang lain, lalu memasuki usia 20-30 tahun, Ia menempuh & lulus pendidikan imam/ sebagai ahli Taurat di-bait suci. Baru kemudian menapak usia 30 tahun, Ia memasuki dunia pelayanan publik. Dengan di-awali oleh Baptisan Yohanes.

Adakah bukti bahwa Yesus pernah menempuh pendidikan imam?
Hal ini didasari atas 3 fakta :

1. Memang jenjang pendidikan imam Yahudi adalah 10 tahun (usia 20-30 tahun). Hal tsb saat ini di-teladani oleh banyak Sinode dalam jenjang Kependetaannya.
Misal :
Dari Deacon ke Pdp (Pendeta Pembantu) ---> 2 tahun.
Dari Pdp ke Pdm (Pendeta Muda) ---> 4 tahun
Dari Pdm ke Pdt (Pendeta Otonom) ---> 4 tahun
Total 10 tahun.

2. Para alumni / Lulusan sekolah imam itu biasanya dipanggil : Rabbi atau Guru. Sebutan ini Khas karena menunjukkan suatu jabatan. Tidak semua orang boleh dipanggil Rabbi atau Guru. Kecuali mereka yang pernah menempuh Study Theology di-sekolah-sekolah imam tsb. Gelar ini diucapkan oleh khalayak Yahudi apda masa itu karena Yesus pernah menjalani pendidikan sebagai ahli Taurat/ pendidikan keimaman. Banyak bukti Alkitab yang membuktikan Yesus dipanggil Rabbi atau Guru oleh masyarakat Yahudi yang bukan dari kalangan 12 murid-Nya. Dari situ kita dapat melihat bahwa Ia memang pernah menempuh pendidikan itu.

Bahkan ahli-ahli Taurat & para Farisi pun segan dengan Yesus dan mereka juga memanggil Yesus dgn sebutan : Rabbi, karena mereka memang tahu bahwa Yesus punya latar belakang pendidikan yang setara bahkan lebih tinggi dari mereka:

* Yohanes 8:3-4
8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.
8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.

3. Tidak semua orang punya hak / akses mengajar di-bait suci. Bahkan Yohanes Pembaptis aja tidak melakukan itu. Karena hanya mereka yang punya latar belakang pendidikan keimaman dan Taurat yang boleh mengajar di-Bait Suci. Dan karena Yesus mempunyai jabatan "Rabi", maka Ia diperbolehkan mengajar di-Bait suci:

* Yohanes 8:2
Pagi-pagi benar Yesus berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.

PENUTUP

Dari tahapan-tahapan pendidikan Yahudi pada zaman Yesus serta latar belakang agama dan budayanya, jelas bahwa spekulasi-spekulasi mengenai 18 tahun kehidupan Yesus yang hilang, sama sekali tidak mempunyai landasan sejarah. Jadi, kemana Yesus selama 12 tahun sampai 30? Jawabannya, berdasarkan data-data Injil sendiri (Matius 13:55; Markus 6:3), Yesus menjalani kehidupan sebagaimana layaknya anak-anak Yahudi dan ia bersama keluarganya bekerja di Nazaret sebagai tukang kayu.

Mengapa kisah kehidupan-Nya baru dicatat setelah usia 30 tahun? Karena memang demikianlah lazimnya kehidupan orang Yahudi, sedangkan usia 12 tahun juga disinggung karena sebagai usia BAR MITSVAH. Adanya spekulasi-spekulasi Yesus telah sampai di India untuk belajar yoga bersama guru-guru dari Timur Jauh sebenarnya adalah hanya cerita dongeng dan fiksi yang hanya menarik didengar, daripada dapat dibuktikan secara historis ataupun sebagai fakta sejarah.

Alkitab cukup memberikan informasi bahwa sejak kecil hingga berusia ± 30 tahun, Yesus Kristus tinggal di Nazaret :
* Lukas 2:51
LAI TB, Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.
KJV, And he went down with them, and came to Nazareth, and was subject unto them: but his mother kept all these sayings in her heart.
TR, και κατεβη μετ αυτων και ηλθεν εις ναζαρετ και ην υποτασσομενος αυτοις και η μητηρ αυτου διετηρει παντα τα ρηματα ταυτα εν τη καρδια αυτης
Translit. Interlinear, kai {lalu} katebê {Ia turun (dari Yerusalem)} met {bersama} autôn {mereka} kai {dan} êlthen {datang} eis {ke} nazaret {nazaret} kai {dan} ên hupotassomenos {tetap tunduk dibawah perintah/ didikan/ asuhan} autois {kepada mereka} kai {lalu} hê mêtêr {ibu} autou {-Nya} dietêrei {menyimpan} panta {semua} ta {itu} rêmata tauta {hal-hal ini} en {dalam} tê kardia {hati} autês {-nya}

Frasa "Ia tetap hidup dalam asuhan mereka", "ên hupotassomenos autois" menyiratkan bahwa Yesus tetap bersama orang tuanya. Perhatikan ' hupotassomenos' dari kata 'hupotasso' dibentuk dari kata 'hupo', "di bawah"; dan 'tasso', "perintah", "didikan", "asuhan".

Dengan ini Alkitab merujuk bahwa usia 30 tahun merupakan usia yang sering dirujuk dalam Alkitab untuk seseorang memulai "tugas"nya. Yusuf mulai menjadi penguasa muda Mesir saat berusia 30 tahun. Orang Yahudi yang "wajib tugas" ditentukan mulai usia 30 tahun hingga 50 tahun (Bilangan 4), Daud mulai menjadi raja saat berusia 30 tahun. Maka, adanya spekulasi-spekulasi Yesus sampai di India untuk belajar yoga bersama guru-guru dari Timur jauh, adalah fiksi yang hanya menarik didengar, ketimbang dibuktikan secara historis.



Di Mana Yesus Bersekolah?
DI MANA YESUS BERSEKOLAH ?
Hosea Sugiman Marantha *)
Sebagian orang Kristen berkata, “Wajarlah jika Yesus pandai dan cerdas, sebab Ia kan Anak Allah?”
Kecerdasan Yesus terlihat ketika berdiskusi dengan para alim ulama (Lukas 2:45-47) . Yesus sangat cerdas dan semua orang mengagumi-Nya.
Tidak sedikit orang Kristen hanya melihat satu sisi kehidupan Yesus. Mereka mengacungkan jempol terhadap kehebatan Yesus semata-mata karena Ia Anak Allah. Mereka mengabaikan sisi kehidupan Yesus lainnya karena Alkitab tidak menuliskan secara sistematis biografi Yesus. Misalnya, tidak tercatat di mana keberadaan Yesus pada umur 12-30 tahun? Dari abad ke abad hal ini menjadi perdebatan para teolog Kristen atau nonkristen.
Contoh lain, pengajaran Yesus luar biasa dan Ia menguasai baik bahasa Aram, Ibrani, maupun Yunani. Kapan dan di mana Yesus memperoleh semua itu? Alkitab tidak menjelaskan secara rinci.
Secara singkat, penulis akan mengupas kapan dan di mana Yesus bersekolah dengan lebih dulu memperhatikan sistem dan tempat pendidikan bangsa Yahudi ketika itu. Sistem pendidikan Yahudi secara tidak langsung menjadi cikal bakal pendidikan pada zaman Tuhan Yesus.


Sistem Pendidikan Bangsa Yahudi
Menurut Bambang Noorsena (2001), dalam hukum Yahudi usia seorang anak digolongkan dalam delapan tahapan: Yeled (usia bayi), Yonek (usia menyusu), Olel (lebih tua dari menyusu), Gemul (usia disapih), Taph (usia mulai berjalan), Ulem (anak-anak), Na’ar (mulai tumbuh remaja), Bahar (usia remaja).
Bangsa Yahudi berpandangan, manusia baru bisa dididik pada usia empat tahun. Menurut mereka anak usia satu tahun belum bisa dididik karena ia ibarat raja kecil yang hanya berbaring dari pagi sampai malam serta dikagumi dan dimanja tiap orang. Anak umur dua atau tiga tahun belum bisa dididik karena ia ibarat seekor babi jorok yang tangannya ingin memegang segala sesuatu lalu menjilat apa saja yang bisa dipegangnya (Andar Ismail, 1993). Pada umur empat tahun, seorang anak sudah mulai berbicara dengan baik.
Sistem pendidikan Yahudi amat terpadu karena semua cabang pengetahuan dikaitkan dengan teologi. Hukum adalah inti kurikulum (Merrill C. Tenney, 1953). Sebab itu orang Yahudi beranggapan, yang pertama-tama perlu diajarkan seorang ayah kepada anaknya yang baru bisa bicara adalah pengakuan percaya yang berbunyi, “Dengarlah hai orang Israel. Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan segenap kekuatanmu,” (Ulangan 6:4-5).
Pendidikan Bangsa Yahudi Sebelum Masa Pembuangan (Abad 6 SM)
Pertama, pendidikan melalui pekerjaan. Pada masyarakat Ibrani semua macam pekerjaan mempunyai hubungan yang erat dengan ketaatan kepada Allah. Misalnya, jika seorang anak laki-laki melihat dan menirukan ayahnya mencangkul di ladang atau sawah maka ia diberitahu bahwa hal ini dilakukan sebagai ketaatan kepada perintah Allah untuk mengusahakan bumi dengan segala isinya. Jika seorang anak perempuan sedang belajar membuat roti atau memasak, ia diberi tahu bahwa semua itu terjadi dalam rangka menaati perintah Allah agar manusia memelihara hidupnya dengan sehat.
Kedua, pendidikan melalui sejarah/tradisi lisan. Bangsa Israel yakin, Allah menyatakan diri dalam perbuatan-perbuatan-Nya di masa lampau. Karena itu keluarga mempunyai tugas penting untuk menyegarkan ingatan tentang sejarah dan mewariskan ingatan itu dari generasi ke generasi. Pewarisan dilakukan orang tua dengan menceritakan sejarah kepada anak-anaknya. Misalnya, Mazmur 78 adalah contoh tulisan sejarah bangsa tersebut.
Ketiga, pendidikan melalui upacara agama. Bangsa Yahudi mempunyai beberapa hari besar yang harus dirayakan baik Paskah, Pondok Daun, Pentakosta, hari raya Tahun Baru/meniup serunai, hari raya Pendamaian, hari raya Purin dan lainnya termasuk menguduskan hari Sabat. Setiap hari Sabat, ibu rumah tangga menyalakan pelita khusus kemudian memasang taplak meja bersih dan meletakkan dua potong roti sebagai lambang manna di padang gurun. Sang ayah akan menuangkan anggur dan mengucapkan doa Khidusin, yaitu doa pengudusan hari Sabat. Lalu anak-anak yang belum tahu, menanyakan arti lambang-lambang tersebut. Orang tua lalu menjawab dan hal ini digunakan sebagai kesempatan menjelaskan perbuatan Allah di masa lampau. Pendidikan ini tidak hanya mengajarkan sesuatu yang abstrak tetapi disertai contoh-contoh konkret.
Sistem Pendidikan Bangsa Yahudi Setelah Masa Pembuangan
Setelah masa pembuangan dari Babel sistem pendidikan bangsa Yahudi terpusat di sinagoge. Istilah Ibrani yang sejajar dengan kata “sinagoge” adalah “keneset”, yaitu kumpulan orang atau barang-barang untuk satu tujuan. Di dalam Alkitab, sinagoge adalah kumpulan sekelompok orang dari suatu tempat untuk beribadah atau gerakan bersama (Lukas 12:11; 21:12). Akhirnya kata ini berarti rumah atau bangunan tempat diadakannya pertemuan-pertemuan. Sinagoge menentukan sifat iman Yahudi melebihi badan atau kumpulan mana pun. Di sinilah agama Yahudi belajar bagaimana menafsirkan Taurat (Yeh 11:16). Berbeda dengan Bait Suci, sinagoge terdapat di seluruh negeri dan mempertemukan khalayak dengan pemimpin-pemimpin agama mereka.
Dalam Markus 1:21 dan Lukas 4:16, sinagoge disebut rumah ibadat. Tetapi pengertian ibadat bagi umat Yahudi berbeda dengan pengertian agama-agama lain pada zaman itu. Bagi agama-agama lain, beribadat berarti melakukan berbagai upacara, sembahyang dan mengheningkan pikiran. Tetapi bagi agama Yahudi, beribadat berarti belajar. Dalam sinagoge, orang membaca dan mempelajari kitab-kitab suci. Pola yang menghubungkan unsur ibadat dengan unsur belajar, hal seperti ini di kemudian hari diteruskan agama Kristen.
Di sinagoge murid menghafal kalimat-kalimat Taurat. Biasanya sang guru duduk di sebuah mimbar rendah dan murid-muridnya duduk di tanah di hadapannya dalam setengah lingkaran, seperti Paulus duduk “di bawah pimpinan Gamaliel” (Kis 22:3).
Setelah lebih maju dalam pelajarannya, murid akan mendengarkan ajaran nenek moyang yang diwariskan secara lisan (yang kemudian dibukukan dalam Misynah dan Talmud). Dan bila ia kelihatan cerdas dan tepat menangkap pelajaran, mungkin akan dikirim ke sekolah-sekolah untuk menjadi calon ahli Taurat.
Di sinagoge, murid-murid selain belajar Taurat, mereka juga dilatih membedakan berbagai permasalahan dengan jelas dan mengingat apa yang sudah dipelajari dengan tepat. Mereka menguasai betul apa yang mereka pelajari, dan mampu menafsirkan hukum sampai hal yang sekecil-kecilnya. Namun mereka tidak dilatih dalam kreativitas dan penyelidikan hal yang ilmiah. Karena itu mereka tidak mempunyai banyak pengetahuan tentang alam semesta yang merupakan mata pelajaran utama dalam sekolah-sekolah modern seperti sekarang.
Pada umumnya anak perempuan tidak dididik dalam sinagoge. Mereka dididik di rumah dalam keterampilan rumah tangga sebagai persiapan menikah. Semangat belajar yang tinggi adalah suatu ciri dalam kehidupan Yahudi. Mempelajari Taurat adalah tanda kesalehan, dan orang Yahudi yang taat meluangkan banyak waktu untuk mempelajari hukum. Karena pembinaan pendidikan dianggap sebagai suatu kewajiban agama, bangsa Yahudi memiliki standar intelektual yang tidak dimiliki bangsa-bangsa asing, seperti yang dikatakan Moore:
“…upaya untuk mendidik seluruh rakyat dalam pengetahuan keagamaannya menimbulkan suatu sistem pendidikan semesta yang unik, yang unsur-unsurnya tidak hanya terdiri dari membaca dan menulis tetapi juga suatu pelajaran bahasa kuno beserta kesusastraan klasik. Nilai-nilai intelektual serta keagamaan tinggi yang diterapkan oleh pendidikan akan membekas selamanya dalam ingatan, dan dapat dikatakan dalam watak bangsa Yahudi, dan lembaga yang diciptakan untuk itu tetap bertahan hingga hari ini.”
Orang Yahudi lebih menyukai pendidikan kejuruan. Para rabi mempunya suatu pepatah, “Barang siapa tidak mengajarkan suatu keterampilan kepada anaknya ia berarti menyuruh anaknya menjadi maling”.
Hampir semua anak Yahudi belajar bekerja dengan menggunakan tangan yang akan digunakan menunjang hidupnya kelak. Menurut Injil, Tuhan Yesus adalah seorang tukang kayu (Markus 6:3), atau mungkin seorang tukang batu (kata Yahudi yang diterjemahkan menjadi “tukang kayu” dapat pula berarti “tukang bangunan” atau “tukang batu”.Dalam Markus 6:1-6, kata “tukang kayu”diterjemahkan “ôåêôïí” (tekton) sedangkan dalam bahasa Ibrani “harash”. Artinya, “tukang kayu atau tukang batu (Lihat Ezra 3:7, Eermans: International Standard Bible Encyclopaedia, 1939, Vol. I, 580).
Pada zaman Yesus, seorang tekton di Israel adalah seorang perajin atau tukang yang terampil membuat rupa-rupa barang dari kayu, logam, besi atau batu. Paulus adalah seorang tukang kemah (Kis 18:3). Kecenderungan yang sehat dalam pendidikan keterampilan ini membuat pria Yahudi menjadi mandiri. Keterampilan fisiknya mengimbangi kekurangan dalam pengetahuan teoritis hingga mereka mampu mendapatkan pekerjaan yang menguntungkan.
Sinagoge selain berfungsi untuk beribadat dan belajar juga mempunyai fungsi sosial yang penting yaitu untuk berkumpul orang banyak guna mendiskusikan soal-soal masyarakat. Pada zaman sekarang, sinagoge masih merupakan salah satu tempat organisasi Yudaisme yang paling kuat peranannya dan pusat hidup keagamaan bangsa Yahudi.


Kapan dan Di mana Yesus Bersekolah?
Kapan Yesus bersekolah? Alkitab secara langsung tidak menulisnya. Perlu diketahui, tidak semua keterangan tentang Yesus dapat diperoleh dari Alkitab, tetapi sumber-sumber sejarah waktu itu dapat menolong kita mengetahui latar belakang kehidupan Yesus lebih utuh.
Pada zaman Tuhan Yesus, di negara-negara berkebudayaan tinggi seperti Mesir, India, Tiongkok, Yunani, dan Romawi, sudah mempunyai sekolah formal. Bangsa Israel zaman itu belum mempunyai kebudayaan tinggi namun sudah mempunyai sistem pendidikan formal. Berdasarkan catatan sejarah, di Israel sekolah formal yang pertama muncul sekitar 70 tahun sebelum zaman Tuhan Yesus.
Meskipun Alkitab tidak menjelaskan kapan dan di mana Yesus bersekolah, ada beberapa indikasi yang dapat menjadi dasar penjelasan bahwa Yesus pernah belajar:
Pertama, dalam Markus 6:1-2, di Nazaret tempat asal Yesus sudah ada tempat ibadah/sinagoge. Besar kemungkinan di Nazaret sudah ada sekolah sebab biasanya sinagoge digunakan sebagai sekolah sepanjang pekan. Jika jumlah murid terlalu banyak, biasanya gedung sekolah dibangun di sebelah sinagoge.
Jika di Nazaret belum ada sekolah, mungkin Ia bersekolah di Japha, kota besar dekat Nazaret, dan di sebelah utara juga ada kota besar yaitu Sepphoris (kota yang dibumihanguskan pasukan Romawi waktu Yesus berusia 10 tahun. Ada kemungkinan pada waktu tumbuh remaja, Yesus membantu ayah-Nya sebagai tukang untuk membangun kota tersebut. Jika demikian, maka besar kemungkinan Ia bersekolah di kota tersebut sebab pada waktu itu umumnya anak-anak Israel bersekolah sambil bekerja membantu orang tua.
Kedua, kecenderungan yang lain bahwa Yesus pernah bersekolah adalah ketika umur 12-30 tahun, di mana Alkitab tidak menjelaskan di mana dan apa yang dilakukan Yesus. Para pakar Alkitab berkesimpulan, pada umur 12-30 tahun Yesus juga belajar baik dengan guru-guru Yahudi maupun dari buku-buku pinjaman dari guru atau sinagoge.
Dan mengapa Yesus baru muncul pada usia 12 tahun? Karena usia 12 tahun bagi tradisi Yahudi zaman Yesus begitu penting. Sorang anak laki-laki Yahudi harus melakukan upacara yang disebut “Bar Mitzvah” (anak Hukum). Hal ini pernah dialami Musa yang meninggalkan rumah putri Firaun, Samuel pada usia yang sama menerima visi Ilahi dan Salomo yang juga menerima hikmat.
Sejak abad pertengahan, usia Bar Mitzvah dilakukan pada usia 13 tahun. Menurut literatur Yahudi abad pertengahan, Sheper Gilgulim, semua anak Yahudi sejak usia 12 tahun mulai menerima roh hikmat dan pada usia 20 tahun ditambahkan baginya jiwa akali “nishama”. Pada usia 20 tahun seseorang harus mulai memasuki sekolah khusus Yahudi yaitu Beth Midrash (rumah belajar) atau sekolah lanjutan. Tingkat sebelumnya adalah Beth Hassepher (rumah buku) yang merupakan sekolah tingkat dasar. Setelah umur 30 tahun baru mereka boleh mengajar di depan umum seperti yang dilakukan Yesus.
Jadi, ke mana dan apa yang dilakukan Yesus selama berusia 12-30 tahun? Berdasarkan Injil sendiri (Matius 13:55; Markus 6:3; Lukas 2:51), Yesus menjalani kehidupan seperti layaknya anak-anak Yahudi dan bersama keluarganya juga bekerja selain belajar. Jika ada spekulasi-spekulasi Yesus sampai ke India atau Tiongkok untuk belajar Yoga bersama guru-guru lain, adalah fiksi belaka yang hanya menarik didengar daripada dibuktikan secara historis.
Ketiga, dalam Lukas 4:16, Ia datang ke Nasaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat. Kata-kata “menurut kebiasaan-Nya” dapat diduga bahwa sama seperti banyak orang tua lainnya, Yusuf dan Maria sudah membiasakan Yesus ikut ke sinagoge setiap hari Sabat sejak usia dini yaitu empat tahun.
Keempat, kecenderungan yang lain untuk menduga bahwa Yesus pernah bersekolah adalah dalam pengajaran-Nya, Yesus menguasai berbagai bahasa asing dengan baik misalnya bahasa Aram. Bahasa ini pada masa Perjanjian Lama menjadi bahasa internasional dalam perdagangan dan hubungan kenegaraan.
Gunther Bornkmm, pakar Perjanjian Baru menyimpulkan dalam buku Jesus of Nazaret bahwa Yesus menguasai bahasa Ibrani klasik yang digunakan dalam kitab-kitab Suci dan bahasa Ibrani Rabinik yang digunakan di kalangan terpelajar. Selain bahasa Aram dan Ibrani, Ia juga menguasai bahasa Yunani. Hal ini terbukti ketika Yesus mampu berdiskusi dengan para ahli Taurat tentang kitab-kitab klasik.
Pakar Pendidikan Agama Kristen Lewis Sherill dalam buku The Rise of Christian Education menyimpulkan, Yesus bukan hanya menguasai kitab-kitab Suci Yahudi yang terbatas tetapi juga tulisan-tulisan klasik yang sekarang disebut apkriga pseudopigrafa. Penguasaan berbagai bahasa ini semakin terjalin jelas dalam dialognya dengan para alim ulama sehingga banyak orang yang kagum akan kehebatan-Nya (lihat Lukas 2:46-47).
Implementasinya
Jika kita melihat kembali kehidupan Yesus dari usia 4-30 tahun, kehidupan-Nya sudah dibiasakan sejak dini untuk belajar secara formal atau nonformal. Gaya kehidupan Yesus ini kemudian dilanjutkan gereja mula-mula, di mana kegiatannya waktu itu adalah belajar (Kis 2:32; 11:26; 8:26-40; Galatia 6:6; Fil 1:14). Jadi gereja mula-mula adalah gereja yang sibuk dengan kegiatan belajar dan mengajar. Hal ini tentunya pengaruh dari sistem pendidikan bangsa Yahudi baik sebelum masa pembuangan di Babel maupun setelah masa pembuangan dari Babel sampai zaman Tuhan Yesus.
Banyak tokoh dunia mengagumi Yesus Kristus yang disebut Guru Agung. Mahatma Gandi dan Soekarno, Presiden RI pertama, salut akan pengajaran Yesus yang penuh wibawa dan bijaksana.
Kehebatan Yesus yang menggema sampai sekarang ini janganlah kita nilai karena Ia adalah Putra Allah. Tetapi kita perlu melihat dari sisi lain bahwa selain Ia Putra Allah, Yesus juga manusia biasa. Walaupun Yesus Anak Allah, Ia juga menempuh upaya belajar (lihat Ibrani 5:8) . “åìáôçåí áðç ïïí ªðáôåçí” atau “emathen aph oon epathen” (Ia belajar dari apa yang Ia derita).
Yesus tidak mencari penderitaan tetapi Ia juga tidak menolak penderitaan. Yang dilakukan-Nya adalah Ia memanfaatkan penderitaan sebagai sarana belajar untuk menjadi taat kepada Bapa-Nya.
Kedudukan-Nya sebagai Anak Allah tidak membebaskan Yesus dari kewajiban belajar. Kalau Yesus sebagai Anak Allah saja masih perlu belajar, apalagi kita?
Marilah kita menjadikan hidup ini, hidup untuk belajar, baik belajar dari kegagalan, belajar dari pengalaman, belajar bersekutu, belajar menjadi taat, belajar menghadapi kesulitan, belajar sabar, belajar bijak, belajar mengalah untuk menang, belajar berjiwa besar, belajar mengampuni, belajar mencari kehendak Tuhan, dan sebagainya.

NAH, BILA YESUS SAJA SEBAGAI ANAK ALLAH BELAJAR, LAYAKKAH ANDA BANGGA MEMILIKI SEORANG NABI YANG BUTA HURUF????

barabasmurtad
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Age : 73
Posts : 408
Kepercayaan : Protestan
Location : bandung
Join date : 26.11.11
Reputation : 5

Kembali Ke Atas Go down

Re: benarkah nabi Muhammad buta huruf?

Post by hamba tuhan on Sat Jun 23, 2012 2:50 pm

@barabasmurtad wrote:
ichreza wrote:Dalam Al-Qur’an terdapat sejumlah ayat yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW meimiliki sifat Al-Ummi. Ayat-ayat tersebut antara lain:

“Orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka . Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya , mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-A’raf : 157)

Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk". (QS. Al-A’raf : 158)

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah . Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS. Al-Jumu’ah : 2)

Imam As-Suyuthi dalam tafsirnya Ad-Durul Mantsur menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sifat Ummi dalam ayat-ayat di atas adalah bahwa Rasulullah SAW tidak dapat menulis dan membaca. (Tafsir Ad-Durul Mantsur III/518)

Mungkin yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah bagimana seorang yang tidak bisa membaca dan menulis bisa menjadi seorang Nabi? Bukankah seorang nabi adalah pemimpin bagi umatnya yang seharusnya memiliki kualifikasi tertentu terutama kemampuan membaca dan menulis? Atau mungkin kita bisa mengajukannya dalam bentuk yang lain, tidakkah hal tersebut akan menimbulkan kesan negatif, karena seorang yang tidak mampu membaca dan menulis dianggap memiliki kekurangan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah benar jika ditujukan kepada orang lain apalagi di jaman kita sekarang ini. Tetapi jika pertanyaan tersebut ditujukan kepada Rasulullah SAW, maka hal tersebut adalah salah. Justeru karena Rasulullah SAW memiliki sifat Ummiy-lah, maka orang-orang yang mengingkari wahyu Alloh tidak bisa beranggapan bahwa apa yang disampaikan oleh beliau merupakan saduran dari kitab-kitab terdahulu atau hasil karya sastra orang lain Dalam Al-Qur’an , Alloh dengan tegas telah menjelaskan apa yang menjadi rahasia Ilahi ketika mengutus seorang Nabi yang Ummi. Alloh SWT berfirman :

“Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya sesuatu Kitabpun dan kamu tidak menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata benar-benar, ragulah orang yang mengingkari” (QS. Al-Anksbut : 48)

Seorang penulis Islam, Syeikh Aidh Al-Qarny menyatkan dalam salah satu bukunya :

“Beliau (Rasulullah SAW ) adalah tokoh yang besar, karena kekurangan yang ada pada yang lainnya akan menjadi kesempurnaan bagi dirinya. Bukankah ke-ummiy-an merupakan kekurangan? Karena kemampuan menulis adalah kesempurnaan. Akan tetapi ke-ummiy-an beliau merupakan kesempurnaan baginya. Seorang ummiy yang membawa kitab yang mamup melemahkan pendapat-pendapat orang yang mengingkarinya. Kitab tersebut bukan merupakan hasil tulisannay dan juga bukan hasil karyanya karena dia adalah ummiy” (Kuunuu Rabbaniyyiin hal. 153)

Wallahu A`lam Bish-Showab,

SAYA HERAN MENGAPA MUSLIMERS INI BANGGA PUNYA NABI SEORANG BUTAHURUF, KARENA SELURUH NABI DALAM ALKITAB YANG DIMULAI DARI NABI MUSA ADALAH NABI2 YANG BISA BACA TULIS ATAU APAKAH MUHAMMAD INI MAU DIANGGAP SUPER DAN NGEJIPLAK APA YANG DICATAT DALAM ALKITAB TENTANG YESUS YANG MENYATAKAN:
Joh 7:14 Waktu pesta itu sedang berlangsung, Yesus masuk ke Bait Allah lalu mengajar di situ.
Joh 7:15 Maka heranlah orang-orang Yahudi dan berkata: "Bagaimanakah orang ini mempunyai pengetahuan demikian tanpa belajar!"
Joh 7:16 Jawab Yesus kepada mereka: "Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku.
Joh 7:17 Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri.
Joh 7:18 Barangsiapa berkata-kata dari dirinya sendiri, ia mencari hormat bagi dirinya sendiri, tetapi barangsiapa mencari hormat bagi Dia yang mengutusnya, ia benar dan tidak ada ketidakbenaran padanya.

APAKAH PENGERTIAN ANDA TENTANG KATA2 INI???
SAYA AKAN POSTINGKAN DI SINI TENTANG KEHIDUPAN YESUS DAN DIMANA IA BERSEKOLAH SELAMA MASA2 YESUS YANG DIKATAKAN SEBAGAI "THE LOST YEARS OF JESUS"
KEHIDUPAN REMAJA YESUS


Menurut hukum Yahudi, usia seorang anak digolongkan dalam 8 tahapan:

1) YELED, "usia bayi";
2) YONEK, "usia menyusu";
3) OLEL, "lebih tua lagi dari menyusu";
4) GEMUL, "usia disapih";
5) TAPH, "usia mulai berjalan";
6) ULEM, "anak-anak";
7) NA'AR, "mulai tumbuh remaja"; dan
8) BAHAR, "usia remaja". [14]

Dari catatan tentang kehidupan Yesus dalam Injil, kita hanya membaca tiga klasifikasi usia saja yang dimuat, yaitu bayi (YELED), usia disapih (GEMUL), ketika ia diserahkan di Bait Allah di hadapan Simeon dan Anna, dan remaja (BAHAR, 12 tahun) ketika Yesus diajak Yusuf dan Maria, kedua orang tuanya, ke Yerusalem.

Mengapa Yesus muncul pada usia 12 tahun? Karena usia 12 bagi tradisi Yahudi zaman Yesus begitu penting, karena seorang anak laki-laki Yahudi harus melakukan upacara yang disebut BAR MITSVAH (anak Hukum). Menurut legenda Yahudi, pada usia 12 tahun Nabi Musa meninggalkan rumah putri Firaun, Samuel menerima suara yang berisi visi Ilahi, Salomo (Nabi Sulaiman) mulai menerima Hikmat Allah dan Raja Yosia menerima visi reformasi agung di Yerusalem [15].

Dalam rangkaian ritus Yahudi itu Yesus harus melakukan 'ALIYAH (naik) dan BEMAH (menghadap mimbar untuk menerima kuk hukum Taurat). Upacara ini dilakukan pada hari Sabat, karena itu disebut juga THEPILIN SHABAT.

Sejak abad-abad Pertengahan, usia BAR MITSVAH dilakukan pada usia 13 tahun [16]. Menurut literatur Yahudi abad pertengahan Sepher Gilgulim, semua anak Yahudi sejak usia 12 tahun, mulai menerima ruah (roh hikmat) dan pada usia 20 tahun ditambahkan baginya NISHAMA (reasonable soul, "jiwa akali").

Mulai usia 20 tahun tersebut seseorang harus memasuki sekolah khusus Yahudi (BET MIDRASH). Sedangkan tahapan-tahapan pendidikan Yahudi adalah sebagai berikut: MIQRA (membaca Taurat) mulai usia 5 tahun, MISHNA mulai usia 10 tahun, TALMUD pada usia 13 tahun (zaman Yesus 12 tahun); MIDRASH (madarasah) pada usia 20 tahun, dan sejak usia 30 tahun baru boleh mengajar di depan umum [17].

Alkitab memang tidak menjelaskan mengenai hal itu secara detail waktu-waktu yang dihabiskan Yesus pada masa kecil hingga dewasa. Hanya ada ayat-ayat yang implisit menyatakannya. Salah satunya adalah ini :

* Lukas 2:49-51
2:49 Jawab-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?"
2:50 Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka.
2:51 Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.

Perhatikan frasa "Mengapa engkau mencari AKU? Aku harus berada di-Rumah Bapa-ku." Saat itu Yesus mengucapkannya saat Ia berada di-Bait suci Yerusalem. Jadi dari ayat tsb, apabila kita kaitkan dengan budaya Yahudi pada masa itu, maka secara tradisi kita bisa memahami bahwa setiap anak-anak Israel harus sekolah hingga usia 17-19 tahun.

Lalu saat memasuki usia 20 tahun (usia madarasah), dan mereka yang mau melanjutkan sekolah theology, boleh memasuki pendidikan keimaman/ pengajar Taurat. Pendidikan imam Yahudi berlangsung kurang lebih 10 tahun. Mulai dari jabatan imam pendamping, imam muda, hingga imam kepala.

Bait Suci menjadi tempat pendidikan imam/ ahli-ahli Taurat. Maka dari itu Yesus berkata : "Mengapa engkau mencari AKU? Aku harus berada di-Rumah Bapa-ku (di-bait suci)" Lukas 2:49.

Dengan demikian jelas bagi kita bahwa Yesus sepanjang usia 12-19 tahun menempuh pendidikan umum sebagaimana anak-anak Israel yang lain, lalu memasuki usia 20-30 tahun, Ia menempuh & lulus pendidikan imam/ sebagai ahli Taurat di-bait suci. Baru kemudian menapak usia 30 tahun, Ia memasuki dunia pelayanan publik. Dengan di-awali oleh Baptisan Yohanes.

Adakah bukti bahwa Yesus pernah menempuh pendidikan imam?
Hal ini didasari atas 3 fakta :

1. Memang jenjang pendidikan imam Yahudi adalah 10 tahun (usia 20-30 tahun). Hal tsb saat ini di-teladani oleh banyak Sinode dalam jenjang Kependetaannya.
Misal :
Dari Deacon ke Pdp (Pendeta Pembantu) ---> 2 tahun.
Dari Pdp ke Pdm (Pendeta Muda) ---> 4 tahun
Dari Pdm ke Pdt (Pendeta Otonom) ---> 4 tahun
Total 10 tahun.

2. Para alumni / Lulusan sekolah imam itu biasanya dipanggil : Rabbi atau Guru. Sebutan ini Khas karena menunjukkan suatu jabatan. Tidak semua orang boleh dipanggil Rabbi atau Guru. Kecuali mereka yang pernah menempuh Study Theology di-sekolah-sekolah imam tsb. Gelar ini diucapkan oleh khalayak Yahudi apda masa itu karena Yesus pernah menjalani pendidikan sebagai ahli Taurat/ pendidikan keimaman. Banyak bukti Alkitab yang membuktikan Yesus dipanggil Rabbi atau Guru oleh masyarakat Yahudi yang bukan dari kalangan 12 murid-Nya. Dari situ kita dapat melihat bahwa Ia memang pernah menempuh pendidikan itu.

Bahkan ahli-ahli Taurat & para Farisi pun segan dengan Yesus dan mereka juga memanggil Yesus dgn sebutan : Rabbi, karena mereka memang tahu bahwa Yesus punya latar belakang pendidikan yang setara bahkan lebih tinggi dari mereka:

* Yohanes 8:3-4
8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.
8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.

3. Tidak semua orang punya hak / akses mengajar di-bait suci. Bahkan Yohanes Pembaptis aja tidak melakukan itu. Karena hanya mereka yang punya latar belakang pendidikan keimaman dan Taurat yang boleh mengajar di-Bait Suci. Dan karena Yesus mempunyai jabatan "Rabi", maka Ia diperbolehkan mengajar di-Bait suci:

* Yohanes 8:2
Pagi-pagi benar Yesus berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.

PENUTUP

Dari tahapan-tahapan pendidikan Yahudi pada zaman Yesus serta latar belakang agama dan budayanya, jelas bahwa spekulasi-spekulasi mengenai 18 tahun kehidupan Yesus yang hilang, sama sekali tidak mempunyai landasan sejarah. Jadi, kemana Yesus selama 12 tahun sampai 30? Jawabannya, berdasarkan data-data Injil sendiri (Matius 13:55; Markus 6:3), Yesus menjalani kehidupan sebagaimana layaknya anak-anak Yahudi dan ia bersama keluarganya bekerja di Nazaret sebagai tukang kayu.

Mengapa kisah kehidupan-Nya baru dicatat setelah usia 30 tahun? Karena memang demikianlah lazimnya kehidupan orang Yahudi, sedangkan usia 12 tahun juga disinggung karena sebagai usia BAR MITSVAH. Adanya spekulasi-spekulasi Yesus telah sampai di India untuk belajar yoga bersama guru-guru dari Timur Jauh sebenarnya adalah hanya cerita dongeng dan fiksi yang hanya menarik didengar, daripada dapat dibuktikan secara historis ataupun sebagai fakta sejarah.

Alkitab cukup memberikan informasi bahwa sejak kecil hingga berusia ± 30 tahun, Yesus Kristus tinggal di Nazaret :
* Lukas 2:51
LAI TB, Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.
KJV, And he went down with them, and came to Nazareth, and was subject unto them: but his mother kept all these sayings in her heart.
TR, και κατεβη μετ αυτων και ηλθεν εις ναζαρετ και ην υποτασσομενος αυτοις και η μητηρ αυτου διετηρει παντα τα ρηματα ταυτα εν τη καρδια αυτης
Translit. Interlinear, kai {lalu} katebê {Ia turun (dari Yerusalem)} met {bersama} autôn {mereka} kai {dan} êlthen {datang} eis {ke} nazaret {nazaret} kai {dan} ên hupotassomenos {tetap tunduk dibawah perintah/ didikan/ asuhan} autois {kepada mereka} kai {lalu} hê mêtêr {ibu} autou {-Nya} dietêrei {menyimpan} panta {semua} ta {itu} rêmata tauta {hal-hal ini} en {dalam} tê kardia {hati} autês {-nya}

Frasa "Ia tetap hidup dalam asuhan mereka", "ên hupotassomenos autois" menyiratkan bahwa Yesus tetap bersama orang tuanya. Perhatikan ' hupotassomenos' dari kata 'hupotasso' dibentuk dari kata 'hupo', "di bawah"; dan 'tasso', "perintah", "didikan", "asuhan".

Dengan ini Alkitab merujuk bahwa usia 30 tahun merupakan usia yang sering dirujuk dalam Alkitab untuk seseorang memulai "tugas"nya. Yusuf mulai menjadi penguasa muda Mesir saat berusia 30 tahun. Orang Yahudi yang "wajib tugas" ditentukan mulai usia 30 tahun hingga 50 tahun (Bilangan 4), Daud mulai menjadi raja saat berusia 30 tahun. Maka, adanya spekulasi-spekulasi Yesus sampai di India untuk belajar yoga bersama guru-guru dari Timur jauh, adalah fiksi yang hanya menarik didengar, ketimbang dibuktikan secara historis.



Di Mana Yesus Bersekolah?
DI MANA YESUS BERSEKOLAH ?
Hosea Sugiman Marantha *)
Sebagian orang Kristen berkata, “Wajarlah jika Yesus pandai dan cerdas, sebab Ia kan Anak Allah?”
Kecerdasan Yesus terlihat ketika berdiskusi dengan para alim ulama (Lukas 2:45-47) . Yesus sangat cerdas dan semua orang mengagumi-Nya.
Tidak sedikit orang Kristen hanya melihat satu sisi kehidupan Yesus. Mereka mengacungkan jempol terhadap kehebatan Yesus semata-mata karena Ia Anak Allah. Mereka mengabaikan sisi kehidupan Yesus lainnya karena Alkitab tidak menuliskan secara sistematis biografi Yesus. Misalnya, tidak tercatat di mana keberadaan Yesus pada umur 12-30 tahun? Dari abad ke abad hal ini menjadi perdebatan para teolog Kristen atau nonkristen.
Contoh lain, pengajaran Yesus luar biasa dan Ia menguasai baik bahasa Aram, Ibrani, maupun Yunani. Kapan dan di mana Yesus memperoleh semua itu? Alkitab tidak menjelaskan secara rinci.
Secara singkat, penulis akan mengupas kapan dan di mana Yesus bersekolah dengan lebih dulu memperhatikan sistem dan tempat pendidikan bangsa Yahudi ketika itu. Sistem pendidikan Yahudi secara tidak langsung menjadi cikal bakal pendidikan pada zaman Tuhan Yesus.


Sistem Pendidikan Bangsa Yahudi
Menurut Bambang Noorsena (2001), dalam hukum Yahudi usia seorang anak digolongkan dalam delapan tahapan: Yeled (usia bayi), Yonek (usia menyusu), Olel (lebih tua dari menyusu), Gemul (usia disapih), Taph (usia mulai berjalan), Ulem (anak-anak), Na’ar (mulai tumbuh remaja), Bahar (usia remaja).
Bangsa Yahudi berpandangan, manusia baru bisa dididik pada usia empat tahun. Menurut mereka anak usia satu tahun belum bisa dididik karena ia ibarat raja kecil yang hanya berbaring dari pagi sampai malam serta dikagumi dan dimanja tiap orang. Anak umur dua atau tiga tahun belum bisa dididik karena ia ibarat seekor babi jorok yang tangannya ingin memegang segala sesuatu lalu menjilat apa saja yang bisa dipegangnya (Andar Ismail, 1993). Pada umur empat tahun, seorang anak sudah mulai berbicara dengan baik.
Sistem pendidikan Yahudi amat terpadu karena semua cabang pengetahuan dikaitkan dengan teologi. Hukum adalah inti kurikulum (Merrill C. Tenney, 1953). Sebab itu orang Yahudi beranggapan, yang pertama-tama perlu diajarkan seorang ayah kepada anaknya yang baru bisa bicara adalah pengakuan percaya yang berbunyi, “Dengarlah hai orang Israel. Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan segenap kekuatanmu,” (Ulangan 6:4-5).
Pendidikan Bangsa Yahudi Sebelum Masa Pembuangan (Abad 6 SM)
Pertama, pendidikan melalui pekerjaan. Pada masyarakat Ibrani semua macam pekerjaan mempunyai hubungan yang erat dengan ketaatan kepada Allah. Misalnya, jika seorang anak laki-laki melihat dan menirukan ayahnya mencangkul di ladang atau sawah maka ia diberitahu bahwa hal ini dilakukan sebagai ketaatan kepada perintah Allah untuk mengusahakan bumi dengan segala isinya. Jika seorang anak perempuan sedang belajar membuat roti atau memasak, ia diberi tahu bahwa semua itu terjadi dalam rangka menaati perintah Allah agar manusia memelihara hidupnya dengan sehat.
Kedua, pendidikan melalui sejarah/tradisi lisan. Bangsa Israel yakin, Allah menyatakan diri dalam perbuatan-perbuatan-Nya di masa lampau. Karena itu keluarga mempunyai tugas penting untuk menyegarkan ingatan tentang sejarah dan mewariskan ingatan itu dari generasi ke generasi. Pewarisan dilakukan orang tua dengan menceritakan sejarah kepada anak-anaknya. Misalnya, Mazmur 78 adalah contoh tulisan sejarah bangsa tersebut.
Ketiga, pendidikan melalui upacara agama. Bangsa Yahudi mempunyai beberapa hari besar yang harus dirayakan baik Paskah, Pondok Daun, Pentakosta, hari raya Tahun Baru/meniup serunai, hari raya Pendamaian, hari raya Purin dan lainnya termasuk menguduskan hari Sabat. Setiap hari Sabat, ibu rumah tangga menyalakan pelita khusus kemudian memasang taplak meja bersih dan meletakkan dua potong roti sebagai lambang manna di padang gurun. Sang ayah akan menuangkan anggur dan mengucapkan doa Khidusin, yaitu doa pengudusan hari Sabat. Lalu anak-anak yang belum tahu, menanyakan arti lambang-lambang tersebut. Orang tua lalu menjawab dan hal ini digunakan sebagai kesempatan menjelaskan perbuatan Allah di masa lampau. Pendidikan ini tidak hanya mengajarkan sesuatu yang abstrak tetapi disertai contoh-contoh konkret.
Sistem Pendidikan Bangsa Yahudi Setelah Masa Pembuangan
Setelah masa pembuangan dari Babel sistem pendidikan bangsa Yahudi terpusat di sinagoge. Istilah Ibrani yang sejajar dengan kata “sinagoge” adalah “keneset”, yaitu kumpulan orang atau barang-barang untuk satu tujuan. Di dalam Alkitab, sinagoge adalah kumpulan sekelompok orang dari suatu tempat untuk beribadah atau gerakan bersama (Lukas 12:11; 21:12). Akhirnya kata ini berarti rumah atau bangunan tempat diadakannya pertemuan-pertemuan. Sinagoge menentukan sifat iman Yahudi melebihi badan atau kumpulan mana pun. Di sinilah agama Yahudi belajar bagaimana menafsirkan Taurat (Yeh 11:16). Berbeda dengan Bait Suci, sinagoge terdapat di seluruh negeri dan mempertemukan khalayak dengan pemimpin-pemimpin agama mereka.
Dalam Markus 1:21 dan Lukas 4:16, sinagoge disebut rumah ibadat. Tetapi pengertian ibadat bagi umat Yahudi berbeda dengan pengertian agama-agama lain pada zaman itu. Bagi agama-agama lain, beribadat berarti melakukan berbagai upacara, sembahyang dan mengheningkan pikiran. Tetapi bagi agama Yahudi, beribadat berarti belajar. Dalam sinagoge, orang membaca dan mempelajari kitab-kitab suci. Pola yang menghubungkan unsur ibadat dengan unsur belajar, hal seperti ini di kemudian hari diteruskan agama Kristen.
Di sinagoge murid menghafal kalimat-kalimat Taurat. Biasanya sang guru duduk di sebuah mimbar rendah dan murid-muridnya duduk di tanah di hadapannya dalam setengah lingkaran, seperti Paulus duduk “di bawah pimpinan Gamaliel” (Kis 22:3).
Setelah lebih maju dalam pelajarannya, murid akan mendengarkan ajaran nenek moyang yang diwariskan secara lisan (yang kemudian dibukukan dalam Misynah dan Talmud). Dan bila ia kelihatan cerdas dan tepat menangkap pelajaran, mungkin akan dikirim ke sekolah-sekolah untuk menjadi calon ahli Taurat.
Di sinagoge, murid-murid selain belajar Taurat, mereka juga dilatih membedakan berbagai permasalahan dengan jelas dan mengingat apa yang sudah dipelajari dengan tepat. Mereka menguasai betul apa yang mereka pelajari, dan mampu menafsirkan hukum sampai hal yang sekecil-kecilnya. Namun mereka tidak dilatih dalam kreativitas dan penyelidikan hal yang ilmiah. Karena itu mereka tidak mempunyai banyak pengetahuan tentang alam semesta yang merupakan mata pelajaran utama dalam sekolah-sekolah modern seperti sekarang.
Pada umumnya anak perempuan tidak dididik dalam sinagoge. Mereka dididik di rumah dalam keterampilan rumah tangga sebagai persiapan menikah. Semangat belajar yang tinggi adalah suatu ciri dalam kehidupan Yahudi. Mempelajari Taurat adalah tanda kesalehan, dan orang Yahudi yang taat meluangkan banyak waktu untuk mempelajari hukum. Karena pembinaan pendidikan dianggap sebagai suatu kewajiban agama, bangsa Yahudi memiliki standar intelektual yang tidak dimiliki bangsa-bangsa asing, seperti yang dikatakan Moore:
“…upaya untuk mendidik seluruh rakyat dalam pengetahuan keagamaannya menimbulkan suatu sistem pendidikan semesta yang unik, yang unsur-unsurnya tidak hanya terdiri dari membaca dan menulis tetapi juga suatu pelajaran bahasa kuno beserta kesusastraan klasik. Nilai-nilai intelektual serta keagamaan tinggi yang diterapkan oleh pendidikan akan membekas selamanya dalam ingatan, dan dapat dikatakan dalam watak bangsa Yahudi, dan lembaga yang diciptakan untuk itu tetap bertahan hingga hari ini.”
Orang Yahudi lebih menyukai pendidikan kejuruan. Para rabi mempunya suatu pepatah, “Barang siapa tidak mengajarkan suatu keterampilan kepada anaknya ia berarti menyuruh anaknya menjadi maling”.
Hampir semua anak Yahudi belajar bekerja dengan menggunakan tangan yang akan digunakan menunjang hidupnya kelak. Menurut Injil, Tuhan Yesus adalah seorang tukang kayu (Markus 6:3), atau mungkin seorang tukang batu (kata Yahudi yang diterjemahkan menjadi “tukang kayu” dapat pula berarti “tukang bangunan” atau “tukang batu”.Dalam Markus 6:1-6, kata “tukang kayu”diterjemahkan “ôåêôïí” (tekton) sedangkan dalam bahasa Ibrani “harash”. Artinya, “tukang kayu atau tukang batu (Lihat Ezra 3:7, Eermans: International Standard Bible Encyclopaedia, 1939, Vol. I, 580).
Pada zaman Yesus, seorang tekton di Israel adalah seorang perajin atau tukang yang terampil membuat rupa-rupa barang dari kayu, logam, besi atau batu. Paulus adalah seorang tukang kemah (Kis 18:3). Kecenderungan yang sehat dalam pendidikan keterampilan ini membuat pria Yahudi menjadi mandiri. Keterampilan fisiknya mengimbangi kekurangan dalam pengetahuan teoritis hingga mereka mampu mendapatkan pekerjaan yang menguntungkan.
Sinagoge selain berfungsi untuk beribadat dan belajar juga mempunyai fungsi sosial yang penting yaitu untuk berkumpul orang banyak guna mendiskusikan soal-soal masyarakat. Pada zaman sekarang, sinagoge masih merupakan salah satu tempat organisasi Yudaisme yang paling kuat peranannya dan pusat hidup keagamaan bangsa Yahudi.


Kapan dan Di mana Yesus Bersekolah?
Kapan Yesus bersekolah? Alkitab secara langsung tidak menulisnya. Perlu diketahui, tidak semua keterangan tentang Yesus dapat diperoleh dari Alkitab, tetapi sumber-sumber sejarah waktu itu dapat menolong kita mengetahui latar belakang kehidupan Yesus lebih utuh.
Pada zaman Tuhan Yesus, di negara-negara berkebudayaan tinggi seperti Mesir, India, Tiongkok, Yunani, dan Romawi, sudah mempunyai sekolah formal. Bangsa Israel zaman itu belum mempunyai kebudayaan tinggi namun sudah mempunyai sistem pendidikan formal. Berdasarkan catatan sejarah, di Israel sekolah formal yang pertama muncul sekitar 70 tahun sebelum zaman Tuhan Yesus.
Meskipun Alkitab tidak menjelaskan kapan dan di mana Yesus bersekolah, ada beberapa indikasi yang dapat menjadi dasar penjelasan bahwa Yesus pernah belajar:
Pertama, dalam Markus 6:1-2, di Nazaret tempat asal Yesus sudah ada tempat ibadah/sinagoge. Besar kemungkinan di Nazaret sudah ada sekolah sebab biasanya sinagoge digunakan sebagai sekolah sepanjang pekan. Jika jumlah murid terlalu banyak, biasanya gedung sekolah dibangun di sebelah sinagoge.
Jika di Nazaret belum ada sekolah, mungkin Ia bersekolah di Japha, kota besar dekat Nazaret, dan di sebelah utara juga ada kota besar yaitu Sepphoris (kota yang dibumihanguskan pasukan Romawi waktu Yesus berusia 10 tahun. Ada kemungkinan pada waktu tumbuh remaja, Yesus membantu ayah-Nya sebagai tukang untuk membangun kota tersebut. Jika demikian, maka besar kemungkinan Ia bersekolah di kota tersebut sebab pada waktu itu umumnya anak-anak Israel bersekolah sambil bekerja membantu orang tua.
Kedua, kecenderungan yang lain bahwa Yesus pernah bersekolah adalah ketika umur 12-30 tahun, di mana Alkitab tidak menjelaskan di mana dan apa yang dilakukan Yesus. Para pakar Alkitab berkesimpulan, pada umur 12-30 tahun Yesus juga belajar baik dengan guru-guru Yahudi maupun dari buku-buku pinjaman dari guru atau sinagoge.
Dan mengapa Yesus baru muncul pada usia 12 tahun? Karena usia 12 tahun bagi tradisi Yahudi zaman Yesus begitu penting. Sorang anak laki-laki Yahudi harus melakukan upacara yang disebut “Bar Mitzvah” (anak Hukum). Hal ini pernah dialami Musa yang meninggalkan rumah putri Firaun, Samuel pada usia yang sama menerima visi Ilahi dan Salomo yang juga menerima hikmat.
Sejak abad pertengahan, usia Bar Mitzvah dilakukan pada usia 13 tahun. Menurut literatur Yahudi abad pertengahan, Sheper Gilgulim, semua anak Yahudi sejak usia 12 tahun mulai menerima roh hikmat dan pada usia 20 tahun ditambahkan baginya jiwa akali “nishama”. Pada usia 20 tahun seseorang harus mulai memasuki sekolah khusus Yahudi yaitu Beth Midrash (rumah belajar) atau sekolah lanjutan. Tingkat sebelumnya adalah Beth Hassepher (rumah buku) yang merupakan sekolah tingkat dasar. Setelah umur 30 tahun baru mereka boleh mengajar di depan umum seperti yang dilakukan Yesus.
Jadi, ke mana dan apa yang dilakukan Yesus selama berusia 12-30 tahun? Berdasarkan Injil sendiri (Matius 13:55; Markus 6:3; Lukas 2:51), Yesus menjalani kehidupan seperti layaknya anak-anak Yahudi dan bersama keluarganya juga bekerja selain belajar. Jika ada spekulasi-spekulasi Yesus sampai ke India atau Tiongkok untuk belajar Yoga bersama guru-guru lain, adalah fiksi belaka yang hanya menarik didengar daripada dibuktikan secara historis.
Ketiga, dalam Lukas 4:16, Ia datang ke Nasaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat. Kata-kata “menurut kebiasaan-Nya” dapat diduga bahwa sama seperti banyak orang tua lainnya, Yusuf dan Maria sudah membiasakan Yesus ikut ke sinagoge setiap hari Sabat sejak usia dini yaitu empat tahun.
Keempat, kecenderungan yang lain untuk menduga bahwa Yesus pernah bersekolah adalah dalam pengajaran-Nya, Yesus menguasai berbagai bahasa asing dengan baik misalnya bahasa Aram. Bahasa ini pada masa Perjanjian Lama menjadi bahasa internasional dalam perdagangan dan hubungan kenegaraan.
Gunther Bornkmm, pakar Perjanjian Baru menyimpulkan dalam buku Jesus of Nazaret bahwa Yesus menguasai bahasa Ibrani klasik yang digunakan dalam kitab-kitab Suci dan bahasa Ibrani Rabinik yang digunakan di kalangan terpelajar. Selain bahasa Aram dan Ibrani, Ia juga menguasai bahasa Yunani. Hal ini terbukti ketika Yesus mampu berdiskusi dengan para ahli Taurat tentang kitab-kitab klasik.
Pakar Pendidikan Agama Kristen Lewis Sherill dalam buku The Rise of Christian Education menyimpulkan, Yesus bukan hanya menguasai kitab-kitab Suci Yahudi yang terbatas tetapi juga tulisan-tulisan klasik yang sekarang disebut apkriga pseudopigrafa. Penguasaan berbagai bahasa ini semakin terjalin jelas dalam dialognya dengan para alim ulama sehingga banyak orang yang kagum akan kehebatan-Nya (lihat Lukas 2:46-47).
Implementasinya
Jika kita melihat kembali kehidupan Yesus dari usia 4-30 tahun, kehidupan-Nya sudah dibiasakan sejak dini untuk belajar secara formal atau nonformal. Gaya kehidupan Yesus ini kemudian dilanjutkan gereja mula-mula, di mana kegiatannya waktu itu adalah belajar (Kis 2:32; 11:26; 8:26-40; Galatia 6:6; Fil 1:14). Jadi gereja mula-mula adalah gereja yang sibuk dengan kegiatan belajar dan mengajar. Hal ini tentunya pengaruh dari sistem pendidikan bangsa Yahudi baik sebelum masa pembuangan di Babel maupun setelah masa pembuangan dari Babel sampai zaman Tuhan Yesus.
Banyak tokoh dunia mengagumi Yesus Kristus yang disebut Guru Agung. Mahatma Gandi dan Soekarno, Presiden RI pertama, salut akan pengajaran Yesus yang penuh wibawa dan bijaksana.
Kehebatan Yesus yang menggema sampai sekarang ini janganlah kita nilai karena Ia adalah Putra Allah. Tetapi kita perlu melihat dari sisi lain bahwa selain Ia Putra Allah, Yesus juga manusia biasa. Walaupun Yesus Anak Allah, Ia juga menempuh upaya belajar (lihat Ibrani 5:8) . “åìáôçåí áðç ïïí ªðáôåçí” atau “emathen aph oon epathen” (Ia belajar dari apa yang Ia derita).
Yesus tidak mencari penderitaan tetapi Ia juga tidak menolak penderitaan. Yang dilakukan-Nya adalah Ia memanfaatkan penderitaan sebagai sarana belajar untuk menjadi taat kepada Bapa-Nya.
Kedudukan-Nya sebagai Anak Allah tidak membebaskan Yesus dari kewajiban belajar. Kalau Yesus sebagai Anak Allah saja masih perlu belajar, apalagi kita?
Marilah kita menjadikan hidup ini, hidup untuk belajar, baik belajar dari kegagalan, belajar dari pengalaman, belajar bersekutu, belajar menjadi taat, belajar menghadapi kesulitan, belajar sabar, belajar bijak, belajar mengalah untuk menang, belajar berjiwa besar, belajar mengampuni, belajar mencari kehendak Tuhan, dan sebagainya.

NAH, BILA YESUS SAJA SEBAGAI ANAK ALLAH BELAJAR, LAYAKKAH ANDA BANGGA MEMILIKI SEORANG NABI YANG BUTA HURUF????

Yoh. 12:49Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan.

yesus bs menulis neh!!! pasti ada injil yg ditulis yesus, heheee.... dmn dong injil yg ditulis yesus tsb..... kecerdasan seseorang gak tergantung dr membaca dan menulis nak barabas.. ada tamatan SD tp karyawannya S3.... ada jg kecerdasan seseorang hasil hidayah Tuhan, menulis membaca bukan barometer menilai kecerdasan seseorang dahulu kala.... heheeeeee
avatar
hamba tuhan
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 1666
Kepercayaan : Islam
Location : Aceh - Pekanbaru
Join date : 07.10.11
Reputation : 17

Kembali Ke Atas Go down

Re: benarkah nabi Muhammad buta huruf?

Post by Yishmael Avrahami on Sat Jun 23, 2012 4:02 pm

@barabasmurtad wrote:
NAH, BILA YESUS SAJA SEBAGAI ANAK ALLAH BELAJAR, LAYAKKAH ANDA BANGGA MEMILIKI SEORANG NABI YANG BUTA HURUF????

taroklah si Yesus emang pande baca tulis.....bisa buktikan karya tulisnya si Yesus ini????
avatar
Yishmael Avrahami
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Posts : 272
Kepercayaan : Islam
Location : Neturei Karta
Join date : 10.10.11
Reputation : 4

http://www.nkusa.org/

Kembali Ke Atas Go down

Re: benarkah nabi Muhammad buta huruf?

Post by EbisuSensei on Sat Jun 23, 2012 4:15 pm

@Yishmael Avrahami wrote:
taroklah si Yesus emang pande baca tulis.....bisa buktikan karya tulisnya si Yesus ini????

Setahu saya, nggak ada yang bisa jawab... ketawa guling
avatar
EbisuSensei
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2734
Kepercayaan : Islam
Location : Indonesia
Join date : 27.12.11
Reputation : 24

Kembali Ke Atas Go down

Re: benarkah nabi Muhammad buta huruf?

Post by putramentari on Sat Jun 23, 2012 4:18 pm

@barabasmurtad wrote:
ichreza wrote:Dalam Al-Qur’an terdapat sejumlah ayat yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW meimiliki sifat Al-Ummi. Ayat-ayat tersebut antara lain:

“Orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka . Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya , mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-A’raf : 157)

Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk". (QS. Al-A’raf : 158)

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah . Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS. Al-Jumu’ah : 2)

Imam As-Suyuthi dalam tafsirnya Ad-Durul Mantsur menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sifat Ummi dalam ayat-ayat di atas adalah bahwa Rasulullah SAW tidak dapat menulis dan membaca. (Tafsir Ad-Durul Mantsur III/518)

Mungkin yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah bagimana seorang yang tidak bisa membaca dan menulis bisa menjadi seorang Nabi? Bukankah seorang nabi adalah pemimpin bagi umatnya yang seharusnya memiliki kualifikasi tertentu terutama kemampuan membaca dan menulis? Atau mungkin kita bisa mengajukannya dalam bentuk yang lain, tidakkah hal tersebut akan menimbulkan kesan negatif, karena seorang yang tidak mampu membaca dan menulis dianggap memiliki kekurangan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah benar jika ditujukan kepada orang lain apalagi di jaman kita sekarang ini. Tetapi jika pertanyaan tersebut ditujukan kepada Rasulullah SAW, maka hal tersebut adalah salah. Justeru karena Rasulullah SAW memiliki sifat Ummiy-lah, maka orang-orang yang mengingkari wahyu Alloh tidak bisa beranggapan bahwa apa yang disampaikan oleh beliau merupakan saduran dari kitab-kitab terdahulu atau hasil karya sastra orang lain Dalam Al-Qur’an , Alloh dengan tegas telah menjelaskan apa yang menjadi rahasia Ilahi ketika mengutus seorang Nabi yang Ummi. Alloh SWT berfirman :

“Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya sesuatu Kitabpun dan kamu tidak menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata benar-benar, ragulah orang yang mengingkari” (QS. Al-Anksbut : 48)

Seorang penulis Islam, Syeikh Aidh Al-Qarny menyatkan dalam salah satu bukunya :

“Beliau (Rasulullah SAW ) adalah tokoh yang besar, karena kekurangan yang ada pada yang lainnya akan menjadi kesempurnaan bagi dirinya. Bukankah ke-ummiy-an merupakan kekurangan? Karena kemampuan menulis adalah kesempurnaan. Akan tetapi ke-ummiy-an beliau merupakan kesempurnaan baginya. Seorang ummiy yang membawa kitab yang mamup melemahkan pendapat-pendapat orang yang mengingkarinya. Kitab tersebut bukan merupakan hasil tulisannay dan juga bukan hasil karyanya karena dia adalah ummiy” (Kuunuu Rabbaniyyiin hal. 153)

Wallahu A`lam Bish-Showab,

SAYA HERAN MENGAPA MUSLIMERS INI BANGGA PUNYA NABI SEORANG BUTAHURUF, KARENA SELURUH NABI DALAM ALKITAB YANG DIMULAI DARI NABI MUSA ADALAH NABI2 YANG BISA BACA TULIS ATAU APAKAH MUHAMMAD INI MAU DIANGGAP SUPER DAN NGEJIPLAK APA YANG DICATAT DALAM ALKITAB TENTANG YESUS YANG MENYATAKAN:
Joh 7:14 Waktu pesta itu sedang berlangsung, Yesus masuk ke Bait Allah lalu mengajar di situ.
Joh 7:15 Maka heranlah orang-orang Yahudi dan berkata: "Bagaimanakah orang ini mempunyai pengetahuan demikian tanpa belajar!"
Joh 7:16 Jawab Yesus kepada mereka: "Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku.
Joh 7:17 Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri.
Joh 7:18 Barangsiapa berkata-kata dari dirinya sendiri, ia mencari hormat bagi dirinya sendiri, tetapi barangsiapa mencari hormat bagi Dia yang mengutusnya, ia benar dan tidak ada ketidakbenaran padanya.

APAKAH PENGERTIAN ANDA TENTANG KATA2 INI???
SAYA AKAN POSTINGKAN DI SINI TENTANG KEHIDUPAN YESUS DAN DIMANA IA BERSEKOLAH SELAMA MASA2 YESUS YANG DIKATAKAN SEBAGAI "THE LOST YEARS OF JESUS"
KEHIDUPAN REMAJA YESUS


Menurut hukum Yahudi, usia seorang anak digolongkan dalam 8 tahapan:

1) YELED, "usia bayi";
2) YONEK, "usia menyusu";
3) OLEL, "lebih tua lagi dari menyusu";
4) GEMUL, "usia disapih";
5) TAPH, "usia mulai berjalan";
6) ULEM, "anak-anak";
7) NA'AR, "mulai tumbuh remaja"; dan
8) BAHAR, "usia remaja". [14]

Dari catatan tentang kehidupan Yesus dalam Injil, kita hanya membaca tiga klasifikasi usia saja yang dimuat, yaitu bayi (YELED), usia disapih (GEMUL), ketika ia diserahkan di Bait Allah di hadapan Simeon dan Anna, dan remaja (BAHAR, 12 tahun) ketika Yesus diajak Yusuf dan Maria, kedua orang tuanya, ke Yerusalem.

Mengapa Yesus muncul pada usia 12 tahun? Karena usia 12 bagi tradisi Yahudi zaman Yesus begitu penting, karena seorang anak laki-laki Yahudi harus melakukan upacara yang disebut BAR MITSVAH (anak Hukum). Menurut legenda Yahudi, pada usia 12 tahun Nabi Musa meninggalkan rumah putri Firaun, Samuel menerima suara yang berisi visi Ilahi, Salomo (Nabi Sulaiman) mulai menerima Hikmat Allah dan Raja Yosia menerima visi reformasi agung di Yerusalem [15].

Dalam rangkaian ritus Yahudi itu Yesus harus melakukan 'ALIYAH (naik) dan BEMAH (menghadap mimbar untuk menerima kuk hukum Taurat). Upacara ini dilakukan pada hari Sabat, karena itu disebut juga THEPILIN SHABAT.

Sejak abad-abad Pertengahan, usia BAR MITSVAH dilakukan pada usia 13 tahun [16]. Menurut literatur Yahudi abad pertengahan Sepher Gilgulim, semua anak Yahudi sejak usia 12 tahun, mulai menerima ruah (roh hikmat) dan pada usia 20 tahun ditambahkan baginya NISHAMA (reasonable soul, "jiwa akali").

Mulai usia 20 tahun tersebut seseorang harus memasuki sekolah khusus Yahudi (BET MIDRASH). Sedangkan tahapan-tahapan pendidikan Yahudi adalah sebagai berikut: MIQRA (membaca Taurat) mulai usia 5 tahun, MISHNA mulai usia 10 tahun, TALMUD pada usia 13 tahun (zaman Yesus 12 tahun); MIDRASH (madarasah) pada usia 20 tahun, dan sejak usia 30 tahun baru boleh mengajar di depan umum [17].

Alkitab memang tidak menjelaskan mengenai hal itu secara detail waktu-waktu yang dihabiskan Yesus pada masa kecil hingga dewasa. Hanya ada ayat-ayat yang implisit menyatakannya. Salah satunya adalah ini :

* Lukas 2:49-51
2:49 Jawab-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?"
2:50 Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka.
2:51 Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.

Perhatikan frasa "Mengapa engkau mencari AKU? Aku harus berada di-Rumah Bapa-ku." Saat itu Yesus mengucapkannya saat Ia berada di-Bait suci Yerusalem. Jadi dari ayat tsb, apabila kita kaitkan dengan budaya Yahudi pada masa itu, maka secara tradisi kita bisa memahami bahwa setiap anak-anak Israel harus sekolah hingga usia 17-19 tahun.

Lalu saat memasuki usia 20 tahun (usia madarasah), dan mereka yang mau melanjutkan sekolah theology, boleh memasuki pendidikan keimaman/ pengajar Taurat. Pendidikan imam Yahudi berlangsung kurang lebih 10 tahun. Mulai dari jabatan imam pendamping, imam muda, hingga imam kepala.

Bait Suci menjadi tempat pendidikan imam/ ahli-ahli Taurat. Maka dari itu Yesus berkata : "Mengapa engkau mencari AKU? Aku harus berada di-Rumah Bapa-ku (di-bait suci)" Lukas 2:49.

Dengan demikian jelas bagi kita bahwa Yesus sepanjang usia 12-19 tahun menempuh pendidikan umum sebagaimana anak-anak Israel yang lain, lalu memasuki usia 20-30 tahun, Ia menempuh & lulus pendidikan imam/ sebagai ahli Taurat di-bait suci. Baru kemudian menapak usia 30 tahun, Ia memasuki dunia pelayanan publik. Dengan di-awali oleh Baptisan Yohanes.

Adakah bukti bahwa Yesus pernah menempuh pendidikan imam?
Hal ini didasari atas 3 fakta :

1. Memang jenjang pendidikan imam Yahudi adalah 10 tahun (usia 20-30 tahun). Hal tsb saat ini di-teladani oleh banyak Sinode dalam jenjang Kependetaannya.
Misal :
Dari Deacon ke Pdp (Pendeta Pembantu) ---> 2 tahun.
Dari Pdp ke Pdm (Pendeta Muda) ---> 4 tahun
Dari Pdm ke Pdt (Pendeta Otonom) ---> 4 tahun
Total 10 tahun.

2. Para alumni / Lulusan sekolah imam itu biasanya dipanggil : Rabbi atau Guru. Sebutan ini Khas karena menunjukkan suatu jabatan. Tidak semua orang boleh dipanggil Rabbi atau Guru. Kecuali mereka yang pernah menempuh Study Theology di-sekolah-sekolah imam tsb. Gelar ini diucapkan oleh khalayak Yahudi apda masa itu karena Yesus pernah menjalani pendidikan sebagai ahli Taurat/ pendidikan keimaman. Banyak bukti Alkitab yang membuktikan Yesus dipanggil Rabbi atau Guru oleh masyarakat Yahudi yang bukan dari kalangan 12 murid-Nya. Dari situ kita dapat melihat bahwa Ia memang pernah menempuh pendidikan itu.

Bahkan ahli-ahli Taurat & para Farisi pun segan dengan Yesus dan mereka juga memanggil Yesus dgn sebutan : Rabbi, karena mereka memang tahu bahwa Yesus punya latar belakang pendidikan yang setara bahkan lebih tinggi dari mereka:

* Yohanes 8:3-4
8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.
8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.

3. Tidak semua orang punya hak / akses mengajar di-bait suci. Bahkan Yohanes Pembaptis aja tidak melakukan itu. Karena hanya mereka yang punya latar belakang pendidikan keimaman dan Taurat yang boleh mengajar di-Bait Suci. Dan karena Yesus mempunyai jabatan "Rabi", maka Ia diperbolehkan mengajar di-Bait suci:

* Yohanes 8:2
Pagi-pagi benar Yesus berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.

PENUTUP

Dari tahapan-tahapan pendidikan Yahudi pada zaman Yesus serta latar belakang agama dan budayanya, jelas bahwa spekulasi-spekulasi mengenai 18 tahun kehidupan Yesus yang hilang, sama sekali tidak mempunyai landasan sejarah. Jadi, kemana Yesus selama 12 tahun sampai 30? Jawabannya, berdasarkan data-data Injil sendiri (Matius 13:55; Markus 6:3), Yesus menjalani kehidupan sebagaimana layaknya anak-anak Yahudi dan ia bersama keluarganya bekerja di Nazaret sebagai tukang kayu.

Mengapa kisah kehidupan-Nya baru dicatat setelah usia 30 tahun? Karena memang demikianlah lazimnya kehidupan orang Yahudi, sedangkan usia 12 tahun juga disinggung karena sebagai usia BAR MITSVAH. Adanya spekulasi-spekulasi Yesus telah sampai di India untuk belajar yoga bersama guru-guru dari Timur Jauh sebenarnya adalah hanya cerita dongeng dan fiksi yang hanya menarik didengar, daripada dapat dibuktikan secara historis ataupun sebagai fakta sejarah.

Alkitab cukup memberikan informasi bahwa sejak kecil hingga berusia ± 30 tahun, Yesus Kristus tinggal di Nazaret :
* Lukas 2:51
LAI TB, Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.
KJV, And he went down with them, and came to Nazareth, and was subject unto them: but his mother kept all these sayings in her heart.
TR, και κατεβη μετ αυτων και ηλθεν εις ναζαρετ και ην υποτασσομενος αυτοις και η μητηρ αυτου διετηρει παντα τα ρηματα ταυτα εν τη καρδια αυτης
Translit. Interlinear, kai {lalu} katebê {Ia turun (dari Yerusalem)} met {bersama} autôn {mereka} kai {dan} êlthen {datang} eis {ke} nazaret {nazaret} kai {dan} ên hupotassomenos {tetap tunduk dibawah perintah/ didikan/ asuhan} autois {kepada mereka} kai {lalu} hê mêtêr {ibu} autou {-Nya} dietêrei {menyimpan} panta {semua} ta {itu} rêmata tauta {hal-hal ini} en {dalam} tê kardia {hati} autês {-nya}

Frasa "Ia tetap hidup dalam asuhan mereka", "ên hupotassomenos autois" menyiratkan bahwa Yesus tetap bersama orang tuanya. Perhatikan ' hupotassomenos' dari kata 'hupotasso' dibentuk dari kata 'hupo', "di bawah"; dan 'tasso', "perintah", "didikan", "asuhan".

Dengan ini Alkitab merujuk bahwa usia 30 tahun merupakan usia yang sering dirujuk dalam Alkitab untuk seseorang memulai "tugas"nya. Yusuf mulai menjadi penguasa muda Mesir saat berusia 30 tahun. Orang Yahudi yang "wajib tugas" ditentukan mulai usia 30 tahun hingga 50 tahun (Bilangan 4), Daud mulai menjadi raja saat berusia 30 tahun. Maka, adanya spekulasi-spekulasi Yesus sampai di India untuk belajar yoga bersama guru-guru dari Timur jauh, adalah fiksi yang hanya menarik didengar, ketimbang dibuktikan secara historis.



Di Mana Yesus Bersekolah?
DI MANA YESUS BERSEKOLAH ?
Hosea Sugiman Marantha *)
Sebagian orang Kristen berkata, “Wajarlah jika Yesus pandai dan cerdas, sebab Ia kan Anak Allah?”
Kecerdasan Yesus terlihat ketika berdiskusi dengan para alim ulama (Lukas 2:45-47) . Yesus sangat cerdas dan semua orang mengagumi-Nya.
Tidak sedikit orang Kristen hanya melihat satu sisi kehidupan Yesus. Mereka mengacungkan jempol terhadap kehebatan Yesus semata-mata karena Ia Anak Allah. Mereka mengabaikan sisi kehidupan Yesus lainnya karena Alkitab tidak menuliskan secara sistematis biografi Yesus. Misalnya, tidak tercatat di mana keberadaan Yesus pada umur 12-30 tahun? Dari abad ke abad hal ini menjadi perdebatan para teolog Kristen atau nonkristen.
Contoh lain, pengajaran Yesus luar biasa dan Ia menguasai baik bahasa Aram, Ibrani, maupun Yunani. Kapan dan di mana Yesus memperoleh semua itu? Alkitab tidak menjelaskan secara rinci.
Secara singkat, penulis akan mengupas kapan dan di mana Yesus bersekolah dengan lebih dulu memperhatikan sistem dan tempat pendidikan bangsa Yahudi ketika itu. Sistem pendidikan Yahudi secara tidak langsung menjadi cikal bakal pendidikan pada zaman Tuhan Yesus.


Sistem Pendidikan Bangsa Yahudi
Menurut Bambang Noorsena (2001), dalam hukum Yahudi usia seorang anak digolongkan dalam delapan tahapan: Yeled (usia bayi), Yonek (usia menyusu), Olel (lebih tua dari menyusu), Gemul (usia disapih), Taph (usia mulai berjalan), Ulem (anak-anak), Na’ar (mulai tumbuh remaja), Bahar (usia remaja).
Bangsa Yahudi berpandangan, manusia baru bisa dididik pada usia empat tahun. Menurut mereka anak usia satu tahun belum bisa dididik karena ia ibarat raja kecil yang hanya berbaring dari pagi sampai malam serta dikagumi dan dimanja tiap orang. Anak umur dua atau tiga tahun belum bisa dididik karena ia ibarat seekor babi jorok yang tangannya ingin memegang segala sesuatu lalu menjilat apa saja yang bisa dipegangnya (Andar Ismail, 1993). Pada umur empat tahun, seorang anak sudah mulai berbicara dengan baik.
Sistem pendidikan Yahudi amat terpadu karena semua cabang pengetahuan dikaitkan dengan teologi. Hukum adalah inti kurikulum (Merrill C. Tenney, 1953). Sebab itu orang Yahudi beranggapan, yang pertama-tama perlu diajarkan seorang ayah kepada anaknya yang baru bisa bicara adalah pengakuan percaya yang berbunyi, “Dengarlah hai orang Israel. Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan segenap kekuatanmu,” (Ulangan 6:4-5).
Pendidikan Bangsa Yahudi Sebelum Masa Pembuangan (Abad 6 SM)
Pertama, pendidikan melalui pekerjaan. Pada masyarakat Ibrani semua macam pekerjaan mempunyai hubungan yang erat dengan ketaatan kepada Allah. Misalnya, jika seorang anak laki-laki melihat dan menirukan ayahnya mencangkul di ladang atau sawah maka ia diberitahu bahwa hal ini dilakukan sebagai ketaatan kepada perintah Allah untuk mengusahakan bumi dengan segala isinya. Jika seorang anak perempuan sedang belajar membuat roti atau memasak, ia diberi tahu bahwa semua itu terjadi dalam rangka menaati perintah Allah agar manusia memelihara hidupnya dengan sehat.
Kedua, pendidikan melalui sejarah/tradisi lisan. Bangsa Israel yakin, Allah menyatakan diri dalam perbuatan-perbuatan-Nya di masa lampau. Karena itu keluarga mempunyai tugas penting untuk menyegarkan ingatan tentang sejarah dan mewariskan ingatan itu dari generasi ke generasi. Pewarisan dilakukan orang tua dengan menceritakan sejarah kepada anak-anaknya. Misalnya, Mazmur 78 adalah contoh tulisan sejarah bangsa tersebut.
Ketiga, pendidikan melalui upacara agama. Bangsa Yahudi mempunyai beberapa hari besar yang harus dirayakan baik Paskah, Pondok Daun, Pentakosta, hari raya Tahun Baru/meniup serunai, hari raya Pendamaian, hari raya Purin dan lainnya termasuk menguduskan hari Sabat. Setiap hari Sabat, ibu rumah tangga menyalakan pelita khusus kemudian memasang taplak meja bersih dan meletakkan dua potong roti sebagai lambang manna di padang gurun. Sang ayah akan menuangkan anggur dan mengucapkan doa Khidusin, yaitu doa pengudusan hari Sabat. Lalu anak-anak yang belum tahu, menanyakan arti lambang-lambang tersebut. Orang tua lalu menjawab dan hal ini digunakan sebagai kesempatan menjelaskan perbuatan Allah di masa lampau. Pendidikan ini tidak hanya mengajarkan sesuatu yang abstrak tetapi disertai contoh-contoh konkret.
Sistem Pendidikan Bangsa Yahudi Setelah Masa Pembuangan
Setelah masa pembuangan dari Babel sistem pendidikan bangsa Yahudi terpusat di sinagoge. Istilah Ibrani yang sejajar dengan kata “sinagoge” adalah “keneset”, yaitu kumpulan orang atau barang-barang untuk satu tujuan. Di dalam Alkitab, sinagoge adalah kumpulan sekelompok orang dari suatu tempat untuk beribadah atau gerakan bersama (Lukas 12:11; 21:12). Akhirnya kata ini berarti rumah atau bangunan tempat diadakannya pertemuan-pertemuan. Sinagoge menentukan sifat iman Yahudi melebihi badan atau kumpulan mana pun. Di sinilah agama Yahudi belajar bagaimana menafsirkan Taurat (Yeh 11:16). Berbeda dengan Bait Suci, sinagoge terdapat di seluruh negeri dan mempertemukan khalayak dengan pemimpin-pemimpin agama mereka.
Dalam Markus 1:21 dan Lukas 4:16, sinagoge disebut rumah ibadat. Tetapi pengertian ibadat bagi umat Yahudi berbeda dengan pengertian agama-agama lain pada zaman itu. Bagi agama-agama lain, beribadat berarti melakukan berbagai upacara, sembahyang dan mengheningkan pikiran. Tetapi bagi agama Yahudi, beribadat berarti belajar. Dalam sinagoge, orang membaca dan mempelajari kitab-kitab suci. Pola yang menghubungkan unsur ibadat dengan unsur belajar, hal seperti ini di kemudian hari diteruskan agama Kristen.
Di sinagoge murid menghafal kalimat-kalimat Taurat. Biasanya sang guru duduk di sebuah mimbar rendah dan murid-muridnya duduk di tanah di hadapannya dalam setengah lingkaran, seperti Paulus duduk “di bawah pimpinan Gamaliel” (Kis 22:3).
Setelah lebih maju dalam pelajarannya, murid akan mendengarkan ajaran nenek moyang yang diwariskan secara lisan (yang kemudian dibukukan dalam Misynah dan Talmud). Dan bila ia kelihatan cerdas dan tepat menangkap pelajaran, mungkin akan dikirim ke sekolah-sekolah untuk menjadi calon ahli Taurat.
Di sinagoge, murid-murid selain belajar Taurat, mereka juga dilatih membedakan berbagai permasalahan dengan jelas dan mengingat apa yang sudah dipelajari dengan tepat. Mereka menguasai betul apa yang mereka pelajari, dan mampu menafsirkan hukum sampai hal yang sekecil-kecilnya. Namun mereka tidak dilatih dalam kreativitas dan penyelidikan hal yang ilmiah. Karena itu mereka tidak mempunyai banyak pengetahuan tentang alam semesta yang merupakan mata pelajaran utama dalam sekolah-sekolah modern seperti sekarang.
Pada umumnya anak perempuan tidak dididik dalam sinagoge. Mereka dididik di rumah dalam keterampilan rumah tangga sebagai persiapan menikah. Semangat belajar yang tinggi adalah suatu ciri dalam kehidupan Yahudi. Mempelajari Taurat adalah tanda kesalehan, dan orang Yahudi yang taat meluangkan banyak waktu untuk mempelajari hukum. Karena pembinaan pendidikan dianggap sebagai suatu kewajiban agama, bangsa Yahudi memiliki standar intelektual yang tidak dimiliki bangsa-bangsa asing, seperti yang dikatakan Moore:
“…upaya untuk mendidik seluruh rakyat dalam pengetahuan keagamaannya menimbulkan suatu sistem pendidikan semesta yang unik, yang unsur-unsurnya tidak hanya terdiri dari membaca dan menulis tetapi juga suatu pelajaran bahasa kuno beserta kesusastraan klasik. Nilai-nilai intelektual serta keagamaan tinggi yang diterapkan oleh pendidikan akan membekas selamanya dalam ingatan, dan dapat dikatakan dalam watak bangsa Yahudi, dan lembaga yang diciptakan untuk itu tetap bertahan hingga hari ini.”
Orang Yahudi lebih menyukai pendidikan kejuruan. Para rabi mempunya suatu pepatah, “Barang siapa tidak mengajarkan suatu keterampilan kepada anaknya ia berarti menyuruh anaknya menjadi maling”.
Hampir semua anak Yahudi belajar bekerja dengan menggunakan tangan yang akan digunakan menunjang hidupnya kelak. Menurut Injil, Tuhan Yesus adalah seorang tukang kayu (Markus 6:3), atau mungkin seorang tukang batu (kata Yahudi yang diterjemahkan menjadi “tukang kayu” dapat pula berarti “tukang bangunan” atau “tukang batu”.Dalam Markus 6:1-6, kata “tukang kayu”diterjemahkan “ôåêôïí” (tekton) sedangkan dalam bahasa Ibrani “harash”. Artinya, “tukang kayu atau tukang batu (Lihat Ezra 3:7, Eermans: International Standard Bible Encyclopaedia, 1939, Vol. I, 580).
Pada zaman Yesus, seorang tekton di Israel adalah seorang perajin atau tukang yang terampil membuat rupa-rupa barang dari kayu, logam, besi atau batu. Paulus adalah seorang tukang kemah (Kis 18:3). Kecenderungan yang sehat dalam pendidikan keterampilan ini membuat pria Yahudi menjadi mandiri. Keterampilan fisiknya mengimbangi kekurangan dalam pengetahuan teoritis hingga mereka mampu mendapatkan pekerjaan yang menguntungkan.
Sinagoge selain berfungsi untuk beribadat dan belajar juga mempunyai fungsi sosial yang penting yaitu untuk berkumpul orang banyak guna mendiskusikan soal-soal masyarakat. Pada zaman sekarang, sinagoge masih merupakan salah satu tempat organisasi Yudaisme yang paling kuat peranannya dan pusat hidup keagamaan bangsa Yahudi.


Kapan dan Di mana Yesus Bersekolah?
Kapan Yesus bersekolah? Alkitab secara langsung tidak menulisnya. Perlu diketahui, tidak semua keterangan tentang Yesus dapat diperoleh dari Alkitab, tetapi sumber-sumber sejarah waktu itu dapat menolong kita mengetahui latar belakang kehidupan Yesus lebih utuh.
Pada zaman Tuhan Yesus, di negara-negara berkebudayaan tinggi seperti Mesir, India, Tiongkok, Yunani, dan Romawi, sudah mempunyai sekolah formal. Bangsa Israel zaman itu belum mempunyai kebudayaan tinggi namun sudah mempunyai sistem pendidikan formal. Berdasarkan catatan sejarah, di Israel sekolah formal yang pertama muncul sekitar 70 tahun sebelum zaman Tuhan Yesus.
Meskipun Alkitab tidak menjelaskan kapan dan di mana Yesus bersekolah, ada beberapa indikasi yang dapat menjadi dasar penjelasan bahwa Yesus pernah belajar:
Pertama, dalam Markus 6:1-2, di Nazaret tempat asal Yesus sudah ada tempat ibadah/sinagoge. Besar kemungkinan di Nazaret sudah ada sekolah sebab biasanya sinagoge digunakan sebagai sekolah sepanjang pekan. Jika jumlah murid terlalu banyak, biasanya gedung sekolah dibangun di sebelah sinagoge.
Jika di Nazaret belum ada sekolah, mungkin Ia bersekolah di Japha, kota besar dekat Nazaret, dan di sebelah utara juga ada kota besar yaitu Sepphoris (kota yang dibumihanguskan pasukan Romawi waktu Yesus berusia 10 tahun. Ada kemungkinan pada waktu tumbuh remaja, Yesus membantu ayah-Nya sebagai tukang untuk membangun kota tersebut. Jika demikian, maka besar kemungkinan Ia bersekolah di kota tersebut sebab pada waktu itu umumnya anak-anak Israel bersekolah sambil bekerja membantu orang tua.
Kedua, kecenderungan yang lain bahwa Yesus pernah bersekolah adalah ketika umur 12-30 tahun, di mana Alkitab tidak menjelaskan di mana dan apa yang dilakukan Yesus. Para pakar Alkitab berkesimpulan, pada umur 12-30 tahun Yesus juga belajar baik dengan guru-guru Yahudi maupun dari buku-buku pinjaman dari guru atau sinagoge.
Dan mengapa Yesus baru muncul pada usia 12 tahun? Karena usia 12 tahun bagi tradisi Yahudi zaman Yesus begitu penting. Sorang anak laki-laki Yahudi harus melakukan upacara yang disebut “Bar Mitzvah” (anak Hukum). Hal ini pernah dialami Musa yang meninggalkan rumah putri Firaun, Samuel pada usia yang sama menerima visi Ilahi dan Salomo yang juga menerima hikmat.
Sejak abad pertengahan, usia Bar Mitzvah dilakukan pada usia 13 tahun. Menurut literatur Yahudi abad pertengahan, Sheper Gilgulim, semua anak Yahudi sejak usia 12 tahun mulai menerima roh hikmat dan pada usia 20 tahun ditambahkan baginya jiwa akali “nishama”. Pada usia 20 tahun seseorang harus mulai memasuki sekolah khusus Yahudi yaitu Beth Midrash (rumah belajar) atau sekolah lanjutan. Tingkat sebelumnya adalah Beth Hassepher (rumah buku) yang merupakan sekolah tingkat dasar. Setelah umur 30 tahun baru mereka boleh mengajar di depan umum seperti yang dilakukan Yesus.
Jadi, ke mana dan apa yang dilakukan Yesus selama berusia 12-30 tahun? Berdasarkan Injil sendiri (Matius 13:55; Markus 6:3; Lukas 2:51), Yesus menjalani kehidupan seperti layaknya anak-anak Yahudi dan bersama keluarganya juga bekerja selain belajar. Jika ada spekulasi-spekulasi Yesus sampai ke India atau Tiongkok untuk belajar Yoga bersama guru-guru lain, adalah fiksi belaka yang hanya menarik didengar daripada dibuktikan secara historis.
Ketiga, dalam Lukas 4:16, Ia datang ke Nasaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat. Kata-kata “menurut kebiasaan-Nya” dapat diduga bahwa sama seperti banyak orang tua lainnya, Yusuf dan Maria sudah membiasakan Yesus ikut ke sinagoge setiap hari Sabat sejak usia dini yaitu empat tahun.
Keempat, kecenderungan yang lain untuk menduga bahwa Yesus pernah bersekolah adalah dalam pengajaran-Nya, Yesus menguasai berbagai bahasa asing dengan baik misalnya bahasa Aram. Bahasa ini pada masa Perjanjian Lama menjadi bahasa internasional dalam perdagangan dan hubungan kenegaraan.
Gunther Bornkmm, pakar Perjanjian Baru menyimpulkan dalam buku Jesus of Nazaret bahwa Yesus menguasai bahasa Ibrani klasik yang digunakan dalam kitab-kitab Suci dan bahasa Ibrani Rabinik yang digunakan di kalangan terpelajar. Selain bahasa Aram dan Ibrani, Ia juga menguasai bahasa Yunani. Hal ini terbukti ketika Yesus mampu berdiskusi dengan para ahli Taurat tentang kitab-kitab klasik.
Pakar Pendidikan Agama Kristen Lewis Sherill dalam buku The Rise of Christian Education menyimpulkan, Yesus bukan hanya menguasai kitab-kitab Suci Yahudi yang terbatas tetapi juga tulisan-tulisan klasik yang sekarang disebut apkriga pseudopigrafa. Penguasaan berbagai bahasa ini semakin terjalin jelas dalam dialognya dengan para alim ulama sehingga banyak orang yang kagum akan kehebatan-Nya (lihat Lukas 2:46-47).
Implementasinya
Jika kita melihat kembali kehidupan Yesus dari usia 4-30 tahun, kehidupan-Nya sudah dibiasakan sejak dini untuk belajar secara formal atau nonformal. Gaya kehidupan Yesus ini kemudian dilanjutkan gereja mula-mula, di mana kegiatannya waktu itu adalah belajar (Kis 2:32; 11:26; 8:26-40; Galatia 6:6; Fil 1:14). Jadi gereja mula-mula adalah gereja yang sibuk dengan kegiatan belajar dan mengajar. Hal ini tentunya pengaruh dari sistem pendidikan bangsa Yahudi baik sebelum masa pembuangan di Babel maupun setelah masa pembuangan dari Babel sampai zaman Tuhan Yesus.
Banyak tokoh dunia mengagumi Yesus Kristus yang disebut Guru Agung. Mahatma Gandi dan Soekarno, Presiden RI pertama, salut akan pengajaran Yesus yang penuh wibawa dan bijaksana.
Kehebatan Yesus yang menggema sampai sekarang ini janganlah kita nilai karena Ia adalah Putra Allah. Tetapi kita perlu melihat dari sisi lain bahwa selain Ia Putra Allah, Yesus juga manusia biasa. Walaupun Yesus Anak Allah, Ia juga menempuh upaya belajar (lihat Ibrani 5:8) . “åìáôçåí áðç ïïí ªðáôåçí” atau “emathen aph oon epathen” (Ia belajar dari apa yang Ia derita).
Yesus tidak mencari penderitaan tetapi Ia juga tidak menolak penderitaan. Yang dilakukan-Nya adalah Ia memanfaatkan penderitaan sebagai sarana belajar untuk menjadi taat kepada Bapa-Nya.
Kedudukan-Nya sebagai Anak Allah tidak membebaskan Yesus dari kewajiban belajar. Kalau Yesus sebagai Anak Allah saja masih perlu belajar, apalagi kita?
Marilah kita menjadikan hidup ini, hidup untuk belajar, baik belajar dari kegagalan, belajar dari pengalaman, belajar bersekutu, belajar menjadi taat, belajar menghadapi kesulitan, belajar sabar, belajar bijak, belajar mengalah untuk menang, belajar berjiwa besar, belajar mengampuni, belajar mencari kehendak Tuhan, dan sebagainya.

NAH, BILA YESUS SAJA SEBAGAI ANAK ALLAH BELAJAR, LAYAKKAH ANDA BANGGA MEMILIKI SEORANG NABI YANG BUTA HURUF????

Bangga banget, apalagi Di Bibble pun udah dinubuwatkan :

Yesaya 29:11-12
12. dan apabila kitab itu (kitab termeterai) diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan: “Baiklah baca ini,” maka ia akan menjawab: “Aku tidak dapat membaca.”

:gatot: :gatot: :gatot: :gatot: :gatot: :gatot: :gatot:
avatar
putramentari
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 35
Posts : 4870
Kepercayaan : Islam
Location : Pekanbaru
Join date : 04.03.12
Reputation : 116

Kembali Ke Atas Go down

Re: benarkah nabi Muhammad buta huruf?

Post by EbisuSensei on Sat Jun 23, 2012 4:24 pm

@putramentari wrote:
Bangga banget, apalagi Di Bibble pun udah dinubuwatkan :

Yesaya 29:11-12
12. dan apabila kitab itu (kitab termeterai) diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan: “Baiklah baca ini,” maka ia akan menjawab: “Aku tidak dapat membaca.”

Kenapa LAI memilih kata "termaterai", bukannya "tersegel"?
Ada yang tahu nggak ya? bingung
avatar
EbisuSensei
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2734
Kepercayaan : Islam
Location : Indonesia
Join date : 27.12.11
Reputation : 24

Kembali Ke Atas Go down

Re: benarkah nabi Muhammad buta huruf?

Post by putramentari on Sat Jun 23, 2012 8:44 pm

@EbisuSensei wrote:
@putramentari wrote:
Bangga banget, apalagi Di Bibble pun udah dinubuwatkan :

Yesaya 29:11-12
12. dan apabila kitab itu (kitab termeterai) diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan: “Baiklah baca ini,” maka ia akan menjawab: “Aku tidak dapat membaca.”

Kenapa LAI memilih kata "termaterai", bukannya "tersegel"?
Ada yang tahu nggak ya? bingung

mungkin karena segel sekarang udah gak laku lagi, makanya ganti materai :masa sih
avatar
putramentari
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 35
Posts : 4870
Kepercayaan : Islam
Location : Pekanbaru
Join date : 04.03.12
Reputation : 116

Kembali Ke Atas Go down

Re: benarkah nabi Muhammad buta huruf?

Post by EbisuSensei on Sun Jun 24, 2012 5:15 pm

@putramentari wrote:
mungkin karena segel sekarang udah gak laku lagi, makanya ganti materai :masa sih
ketawa guling
avatar
EbisuSensei
LETNAN SATU
LETNAN SATU

Male
Posts : 2734
Kepercayaan : Islam
Location : Indonesia
Join date : 27.12.11
Reputation : 24

Kembali Ke Atas Go down

Re: benarkah nabi Muhammad buta huruf?

Post by SEGOROWEDI on Tue Jul 03, 2012 8:44 pm

@putramentari wrote:Bangga banget, apalagi Di Bibble pun udah dinubuwatkan :

Yesaya 29:11-12
12. dan apabila kitab itu (kitab termeterai) diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan: “Baiklah baca ini,” maka ia akan menjawab: “Aku tidak dapat membaca.”


kamu pasti akan malu kalau berani menampilkan dan membaca secara utuh perikopnya
(tidak cuman nyomot se-ayat), berani?

SEGOROWEDI
BRIGADIR JENDERAL
BRIGADIR JENDERAL

Posts : 43720
Kepercayaan : Protestan
Join date : 12.11.11
Reputation : 124

Kembali Ke Atas Go down

Re: benarkah nabi Muhammad buta huruf?

Post by putramentari on Mon Jul 09, 2012 10:50 pm

@SEGOROWEDI wrote:
@putramentari wrote:Bangga banget, apalagi Di Bibble pun udah dinubuwatkan :

Yesaya 29:11-12
12. dan apabila kitab itu (kitab termeterai) diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan: “Baiklah baca ini,” maka ia akan menjawab: “Aku tidak dapat membaca.”


kamu pasti akan malu kalau berani menampilkan dan membaca secara utuh perikopnya
(tidak cuman nyomot se-ayat), berani?

kalo yesus khan bisa baca Nak , makanya gak masuk kriteria awas
avatar
putramentari
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 35
Posts : 4870
Kepercayaan : Islam
Location : Pekanbaru
Join date : 04.03.12
Reputation : 116

Kembali Ke Atas Go down

Re: benarkah nabi Muhammad buta huruf?

Post by SEGOROWEDI on Tue Jul 10, 2012 12:23 pm

umi kan tidak budeg..
bisa dengar cerita dari banyak orang
lalu ceplas-ceplos nyontek cerita-cerita tersebut sekenanya
lalu diklaim sebagai diktean jibril atau wahyu

jadi deh nabi..

SEGOROWEDI
BRIGADIR JENDERAL
BRIGADIR JENDERAL

Posts : 43720
Kepercayaan : Protestan
Join date : 12.11.11
Reputation : 124

Kembali Ke Atas Go down

Re: benarkah nabi Muhammad buta huruf?

Post by putramentari on Tue Jul 10, 2012 12:48 pm

@SEGOROWEDI wrote:umi kan tidak budeg..
bisa dengar cerita dari banyak orang
lalu ceplas-ceplos nyontek cerita-cerita tersebut sekenanya
lalu diklaim sebagai diktean jibril atau wahyu

jadi deh nabi..

ngajak OOT ya, ne lagi bahas yesaya Wedus ketawa guling
avatar
putramentari
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 35
Posts : 4870
Kepercayaan : Islam
Location : Pekanbaru
Join date : 04.03.12
Reputation : 116

Kembali Ke Atas Go down

Re: benarkah nabi Muhammad buta huruf?

Post by SEGOROWEDI on Tue Jul 10, 2012 1:18 pm

baca utuhnya:

Bangsa yang buta

9 Tercengang-cenganglah, penuh keheranan, biarlah matamu tertutup, buta semata-mata! Jadilah mabuk, tetapi bukan karena anggur, jadilah pusing, tetapi bukan karena arak!
10 Sebab TUHAN telah membuat kamu tidur nyenyak; matamu -- yakni para nabi -- telah dipejamkan-Nya dan mukamu -- yaitu para pelihat -- telah ditudungi-Nya.
11 Maka bagimu penglihatan dari semuanya itu seperti isi sebuah kitab yang termeterai, apabila itu diberikan kepada orang yang tahu membaca dengan mengatakan: ''Baiklah baca ini,'' maka ia akan menjawab: ''Aku tidak dapat, sebab kitab itu termeterai'';
12 dan apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan: ''Baiklah baca ini,'' maka ia akan menjawab: ''Aku tidak dapat membaca.''
13 Dan Tuhan telah berfirman: ''Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,
14 maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi.''
15 Celakalah orang yang menyembunyikan dalam-dalam rancangannya terhadap TUHAN, yang pekerjaan-pekerjaannya terjadi dalam gelap sambil berkata: ''Siapakah yang melihat kita dan siapakah yang mengenal kita?''
16 Betapa kamu memutarbalikkan segala sesuatu! Apakah tanah liat dapat dianggap sama seperti tukang periuk, sehingga apa yang dibuat dapat berkata tentang yang membuatnya: ''Bukan dia yang membuat aku''; dan apa yang dibentuk berkata tentang yang membentuknya: ''Ia tidak tahu apa-apa''?


gak ada hubungannya dengan keumian muhammad..

SEGOROWEDI
BRIGADIR JENDERAL
BRIGADIR JENDERAL

Posts : 43720
Kepercayaan : Protestan
Join date : 12.11.11
Reputation : 124

Kembali Ke Atas Go down

Re: benarkah nabi Muhammad buta huruf?

Post by Sombrero on Tue Jul 10, 2012 1:24 pm

SEGOROWEDI wrote:

umi kan tidak budeg..
bisa dengar cerita dari banyak orang
lalu ceplas-ceplos nyontek cerita-cerita tersebut sekenanya
lalu diklaim sebagai diktean jibril atau wahyu

jadi deh nabi..



SOMBRERO wrote:

Mang Wed,
kalau di zaman sekarang di kampung Ndiwek sono ada orang yang tidak bisa membaca (tidak budeg) apakah bisa menulis atau mencontek

sebuah kitab suci yang mengalahkan Bible?
Apakah dia bisa menjadi pemimpin NEGARA?
Apakah dia bisa mengorganisir suatu BANGSA?

Mikir pakai otak ! kalau ada, berikan buktinya !!!

Sombrero
SERSAN MAYOR
SERSAN MAYOR

Male
Age : 16
Posts : 535
Location : JAKARTA
Join date : 06.07.12
Reputation : 5

Kembali Ke Atas Go down

Re: benarkah nabi Muhammad buta huruf?

Post by SEGOROWEDI on Tue Jul 10, 2012 1:31 pm

@Sombrero wrote:Mang Wed,
klau di zaman sekarang di kampung Ndiwek sono ada orang yang tidak bisa membaca (tidak budeg) apakah bisa menulis atau mencontek

sebuah kitab suci yang mengalahkan Bible?
Apakah dia bisa menjadi pemimpin NEGARA?
Apakah dia bisa mengorganisir suatu BANGSA?

Mikir pakai otak ! kalau ada, berikan buktinya !!!

- mengalahkan apanya, ceritanya hanya comotan-comotan tanpa juntrungan
- negara mana? wong cuman kelompok gangster
- bangsa gangster

SEGOROWEDI
BRIGADIR JENDERAL
BRIGADIR JENDERAL

Posts : 43720
Kepercayaan : Protestan
Join date : 12.11.11
Reputation : 124

Kembali Ke Atas Go down

Re: benarkah nabi Muhammad buta huruf?

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik