FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

wahyu yang datang dari iblis

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

wahyu yang datang dari iblis

Post by keroncong on Wed May 02, 2012 3:49 pm

Habislah sudah masa relax dengan Mirza; kini beralih kembali
pada sepak-terjang yang menyakitkan. Ia mengetahui bahwa
kegagalan-kegagalan itu tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Harus ada usaha untuk menyembunyikannya dengan cara baik.

Satu hal yang sering terjadi, jika seorang berkata terhadap
dirinya sendiri: "Aku adalah orang terkuat," maka orang itu
sebenarnya bukan terkuat melainkan termasuk dalam kategori
orang sembarangan. Kebetulan sekali Mirza Ghulam Ahmad
terlibat keseluruhannya dalam situasi macam orang di atas.
Ia sangat membangga-banggakan dirinya, bahkan tuhannya
sendiri mengangkat ia pada derajat kemuliaan yang tiada
taranya.

Namun demikian, sejarah sangat meragukan kebenaran derajat
kemuliaannya itu. Dan keraguan ini justru sangat tepat,
bila kita lihat sepak terjangnya yang begitu berbelit-belit.
Bahkan ia pribadi yang sangat mentah. Ia dan Ahmadiyahnya
adalah satu topengan, dimana wajah dibalik topeng itu
merupakan contoh figur kepalsuan dan kemunafikan
semata-mata. Anehnya wajah yang disembunyikan dengan baik
itu, dikupas sendiri olehnya maupun oleh
pengikut-pengikutnya. Pada bab-bab yang sudah, kita telah
mengetahui watak-watak keyahudiannya. Maka untuk
selanjutnya kita akan mengetahui bahwa Mirza Ghulam Ahmad
maupun Ahmadiyahnya sangat menyukai watak keyahudian itu,
yaitu watak yuharrifunal kalimah an-mawadhi'ih dan watak
Judas Eskariot dalam kisah perjanjian barunya kaum Nasrani.

Ia memperoleh gelar dari pengikut-pengikutnya berupa
sebutan: "s.a.w." atau sallalahu alaihi wasallam, satu gelar
yang lazim disampaikan pada Nabi Muhammad. Kadang-kadang
bila di Inggriskan gelar itu, maka sesudah menyebut nama
Mirza Ghulam Ahmad ditambah dibelakangnya dengan: "On Whom
be Peace and Blessing of GOD upon Him" yakni upon Mirza.1

Sesudah itu, tidak ada lagi orang yang bisa menyamai Mirza;
Tidak juga seorang Nabi maupun seorang Rasul. Dengan lantang
ia berkata:

"Jangan kamu samakan Aku dengan siapapun, dan jangan
siapapun disamakan dengan Aku."2

Kemudian Mirza menambah lagi kata-katanya:

"Sesungguhnya telapak kakiku ini di atas satu menara
yang disudahi atasnya sekalian ketinggian."3

Ia melanjutkan derajat ke-AKU-annya dengan berkata:

"Aku lahir sebagai satu kodrat Tuhan yang berjasad. Aku
adalah kodrat Tuhan dan ada lagi beberapa wujud yang
jadi mazhar cermin, tempat zahir kodrat kedua. Sebab
itu senantiasalah kamu berhimpun sambil berdoa menanti
kodrat tuhan yang kedua itu."4

Siapa yang dimaksud Mirza dengan kodrat kedua itu, kurang
jelas. Mungkin itu rohul kudus dariTuhan sesudah kematian
Mirza.5 Kelihatannya mirip dengan Trinitas ummat Kristen.

Selanjutnya sebagai kodrat Tuhan yang berjasad, Mirza Ghulam
Ahmad masih ada padanya beberapa wujud yang lain, antara
lain tuhannya sendiri telah berkata padanya:

"Wahai sang rembulan, wahai sang surya Mirza, Engkau
dari AKU, dan Aku dari Engkau."6

Mirza Ghulam sangat terharu mendapat panggilan dari tuhannya
"sang rembulan dan sang surya." Perpaduan Engkau dari Aku
dan Aku dari Engkau, benar-benar telah menggambarkan satu
keadaan dimana Tuhan sangat membutuhkan Mirza serta sangat
menghormatinya. Ia mengatakan bahwaTuhan telah memanggilnya
sang rembulan oleh karena ia laksana rembulan dari sang
surya. Dan kemudian ia laksana sang surya, dan Tuhan laksana
rembulan, oleh karena dari Mirzalah bulan Tuhan itu mendapat
sinar dan akan bersinar cahaya kemenanganNya.7

Ternyata Mirza Ghulam Ahmad adalah bagian dari Tuhan yang
aktif dan ia juga terbikin dari Tuhannya. Berkata tuhan pada
Mirza Ghulam:

"Wahai Mirza, Engkau terbikin dari Air-KU, akan tetapi
mereka itu terbikin dari bibit yang lemah."8

Melihat wahyu tuhan yang hebat di atas, kaum Ahmadiyah
segera mempersiapkan jawaban bila ada serangan dari luar
yang memang sangat tidak masuk akal itu. Bagaimana bisa,
Mirza terbikin dari Air Tuhan? Ahmadiyah untuk ini menjawab:

"Telah jelas bahwa wahyu-ilham, nubuwah-nubuwah dan
sebagainya termasuk urusan mutasyabihaat, mengandung
makna spekulatip yang dapat diartikan macam-macam.
Dalam hubungan ini perlu diperhatikan pula orang yang
mengatakan itu. Dengan demikian kita dapat terhindar
dari tidak memberikan tafsiran yang bertentangan dengan
maksud orang yang mengatakan sendiri. Ini adalah kaidah
para ahli dalam ilmu"9

Oleh karena itu, kata Ahmadiyah selanjutnya, marilah kita
lihat apa yang dikatakan oleh Mirza Ghulam Ahmad. Ia
berkata:

"Yang dimaksud 'air-KU' ialah: air iman, air istiqamah,
air taqwa, air kesetiaan, air kebenaran, air kecintaan
pada Allah yang datang dari Dia juga. Fasyal adalah
kepengecutan yang datang dari setan."10

Lebih lanjut Ahmadiyah menunjukkan contoh dalam Al-Qur'an
yang sama dengan wahyu "Air-KU" itu. Misalnya Tuhan berkata:

"Khuliqal insaanu rnin 'ajal-artinya: manusia itu
dijadikan dari kecepatan. (surah Anbiya 37) dan ayat:
Khalaqakum min dhu'fin: kamu telah dijadikan dari
kelemahan. (surah Rum 54). Benarkah manusia itu
dijadikan dari kecepatan? benarkah ,manusia dijadikan
dari kelemahan? Jelaslah bahwa wahyu itu mengandung
isti'arah yaitu kiasan."11

Demikian penjelasan kaum Ahmadiyah dalam rangka menafsirkan
wahyu "Air-KU" yang menakjubkan itu. Secara sepintas lalu,
mungkin alam pikiran bisa menerima cara pembelaan kaum
Ahmadiyah itu, termasuk ucapan isti'arah Mirza. Akan tetapi
sejarah nabi India dan pengikut-pengikutnya itu tidak
bermaksud beristi'arah atau berkias. Sebab meskipun pada
kenyataannya ada tulisan-tulisan Mirza sendiri maupun
tulisan pengikut-pengikutnya yang segera mengatasi atau
membela maupun menafsirkan ucapan-ucapan Mirza-Ghulam yang
keliwat batas itu, namun pada hakikatnya karena
faktor-faktor tertentu, mereka tidak dapat menyembunyikan
figur yang sebenarnya dari nabi India itu.

Faktor yang pertama ialah, cara atau macam contoh-contoh
yang dikemukakan mereka itu serba terlanjur, tergelincir dan
blunder. Faktor yang kedua, dan inilah faktor yang terutama,
ialah, terletak pada sang nabi India itu sendiri. Antara
lain, faktor kejiwaannya, faktor kondisi tubuhnya dan faktor
sejarah yang terjadi disekelilingnya maupun yang terjadi
sebelum ia muncul dengan seribu satu macam pangkat itu.

Allah s.w.t. berfirman dalam Al-Qur'an, surah At-Thaariq
ayat 5 dan 6, bahwa manusia dijadikan dari air yang
terpencar. ("khuliqa min main- dzaafiq") surah Al-Mursalaat
ayat 20, bahwa manusia dijadikan dari air yang kotor. ("Alam
nakhluqum min main mahiin?"). Itulah "air" kejadian manusia
yang terdapat dalam Al-Qur'anul Karim. Jelas bahwa mereka
itu ("wa hum" dijadikan dari-min maa'in dzafiq, wa hum min
maain mahiin, wa hum min fasyal).

Sedangkan wahyu Tuhan pada Mirza Ghulam Ahmad bahwa ia
terbikin dari "airTuhan" hanyalah satu kiasan semata?!
Terserah bila itu hendak dipaksakan menjadi satu kias. Namun
yang jelas itu bukan hanya satu kias belaka; melainkan juga
satu bukti betapa tingginya derajat Mirza pada sisi
tuhannya.

Contoh kedua yang dikemukakan Ahmadiyah yaitu: ayat 54 surah
Rum, kamu dijadikan dari kelemahan, "khalaqakum min
dhu'fin." Ayat ini sebenarnya masih panjang, tapi Ahmadiyah
hanya mengambil sepotong ayat saja. Kembali pada hobby
mereka lagi. Padahal lengkapnya ayat itu berbunyi:

"Allah menjadikan kamu dari lemah (min dha'fin, bukan
dhu'fin), kemudian sesudah lemah itu kamu dijadikan
kuat, dan sesudah kuat itu kamu balik lagi menjadi
lemah dan tua. Dia menjadikan apa yang dikehendakiNya.
Dia mengetahui lagi Kuasa."

Jelas bahwa Ahmadiyah terang-terangan: memotong ayat
Al-Qur'an, merobah dha'fin menjadi dhu'fin, mengartikan
lemah dengan arti kias, padahal lemah di situ adalah arti
yang sebenarnya. Satu perbuatan blunder !

Contoh ketiga yang dikemukakan Ahmadiyah yaitu ayat 249 dari
surah Al-Baqarah. Ayat tersebut dikutip sebagai berikut:

"Faman syariba minhu fa-laisa minni. Diartikan oleh
Ahmadiyah, siapa yang minum daripadanya (air-sungai)
dia bukan daripada-KU." Ahmadiyah langsung bertanya:
"Apakah ini berarti bahwa orang yang tidak minum air
sungai itu dia dari Tuhan? Ini senada dengan ilham
hazrat Ahmad di atas (anta min maina-pen.)12

Ayat 249 suratul Baqarah di atas pernah kami kutip dalam bab
ketiga, ketika membahas watak-watak ke-yahudian kaum
Ahmadiyah. Ayat tersebut sebenarnya masih panjang, tetapi
pihak Ahmadiyah hanya mengambil sepotong saja. Kembali pada
hobby mereka lagi, yuharrifunal kalimah an-mawadhi'ih.
Padahal lengkapnya ayat ini berbunyi:

"Maka ketika Thalut keluar membawa tentaranya, ia
berkata: Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan suatu
sungai. Maka siapa di antara kamu yang meminum airnya
bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada merasakan
airnya kecuali orang yang hanya menciduk seciduk
tangan, maka ia adalah pengikutku."

Itulah arti yang sebenarnya sesuai dengan sejarah
terjadinya peristiwa itu. Bukan diartikan seperti kehendak
kaum Ahmadiyah bahwa yang minum air dari sungai itu bukan
daripada-KU (yakni TUHAN). Jelas bahwa Ahmadiyah
terang-terangan berbuat: memotong ayat Al-Qur'an,
mengaburkan sejarah yang difirmankan oleh Allah, merobah
makna yang sebenarnya dengan makna kiasan. Suatu perbuatan
blunder! Dari faktor pertama ini saja, sudah lebih dari
cukup bagi sejarah untuk memberi merek abadi pada kaum Mirza
Ghulam Ahmad sebagai kaum Musailimah pendusta dan sekaligus
sebagai kaum Yahudi India.

Lebih-lebih faktor kedua, Mirza Ghulam dan kaumnya akan
telanjang bulat di atas panggung sejarah mempertontonkan
segala kemunafikannya. Mirza Ghulam Ahmad terlalu
membesar-besarkan dirinya, ataukah tuhannya yang sudah
terlalu menyanjung-nyanjung Mirza? Perhatikanlah bagaimana
Tuhan berkata tentang Mirza:

"Ya Ahmad, Allah memberkahimu" ('ya Ahmad barakallah
fika')13

"Ya Ahmad, nama-Mu bisa sempurna, tapi nama-Ku tidak
bisa sempurna." ('ya Ahmad yutimmu ismuka, wa la
yutimmu ismii')14

"Wahai Ahmadku, kebahagiaan untukmu." ('busyra laka ya
Ahmadii')15

"Wahai Ahmadku, Engkaulah tempat keperluanku, dan
Engkau beserta Aku." ('ya Ahmadi Anta muraadi wa
ma'ii.')16

Demikian beberapa kali tuhan memanggil Ahmad, sebagai pujian
serta sanjungan yang tak habis-habisnya. Nama Mirza Ghulam
Ahmad bisa "sempurna" kata tuhan, tetapi nama tuhan sendiri
"tidak bisa sempurna." Satu hal yang luar-biasa, betapa
urgentnya nama nabi India itu bagi tuhannya.

Bagaimana penjelasan Ahmadiyah tentang wahyu di atas, apakah
kira-kira tidak keliru atau salah cetak? Bagi Ahmadiyah,
karena itu adalah wahyuTuhan maka tidak ada yang keliru atau
salah cetak. Bahkan penjelasan dari wahyu yang luarbiasa itu
diberikan oleh Mirza Ghulam sendiri. Ia mengatakan bahwa
wahyu "namamu bisa sempurna" itu artinya: bahwa ia (Mirza)
akan mati dan pujian baginya akan habis pula. Kemudian
dengan wahyu: "Nama-KU tidak bisa sempurna" diartikan oleh
Mirza, bahwa, puji-pujian bagi Allah tidak akan
habis-habisnya.17

Penjelasan Mirza Ghulam tersebut bertolak belakang dengan
wahyu Tuhan yang ia terima. Bagaimana bisa demikian, namamu
bisa sempurna, diartikan tidak sempurna, mati dan habis.
Sedangkan, nama-KU tidak bisa sempurna, diartikan sempurna
dan kekal? Blunder lagi, bukan?!

Meskipun demikian tuhan membutuhkan Mirza Ghulam. Bahkan
lebih dari kebutuhan, ia menjadi pilihan bagi tuhannya.
Untuk iniTuhan berkata pada Mirza:

"Engkau Mirza terpandang di hadirat-Ku, AKU pilih
engkau bagi Diri-KU." ('wa Anta wajiihun fi hadhroti
ikhtartuka li nafsii')18

"Engkau kepada-KU hai Mirza, di suatu martabat yang
tidal: diketahui oleh manusia." (wa Anta minni
bimanzilatin la ya'lamuhal khalq)19

"Allah memujimu dari Arasy-Nya." (yahmadukallah min
arsyihi)20

"AKU Allah memujimu dan menyampaikan salam sejahtera
padamu." (nahmaduka wa nushalli)21

"AKU banyak menyampaikan salam padamu." (Alaika salaam
katsir minni)22

"Ya nabi Allah, tadinya AKU tidak kenal padamu." (ya
nabiallah kuntu la a'rifuka)23

"Wahai gunung-gunung dan burung-burung! ingatlah AKU
bersama Dia dengan perasaaan asyik dan terharu." (ya
jibaalu awwibii ma'ahu wath-thair)24

"Engkau beserta AKU dan AKU beserta Engkau, rahasiamu
itu adalah rahasia-KU." (Anta ma'i wa Ana ma'aka'
sirruka sirri)25

Demikian limpahan puji dari tuhan pada Mirza Ghulam Ahmad.
Karenanya tidak aneh kalau Mirza Ghulam berani
memperlihatkan segala sepak terjangnya bahkan kalau perlu ia
marah dan marah sekali. Sebab kemarahan Mirza adalah
kemarahan Tuhannya. Berkata Tuhan pada Mirza:

"Bila Engkau marah, AKU-pun marah juga, dan bila Engkau
suka pada seseorang, AKU-pun juga suka padanya." (idzha
ghadibta ghadibtu wa kullama ahbabta ahbabtu)26

Keberanian Mirza lebih galak lagi, tatkala Tuhan memberi
kabar wahyu padanya:

"Bersamamu wahai Mirza,' tentara di langit dan di
bumi." (wa ma'aka jundus samaawati wal aradhiin)27

Kemudian Tuhan memberi satu jaminan pada Mirza bahwa tidak
akan ada siksaan bila di suatu tempat ada Mirza Ghulam
Ahmad. Tuhan Mirza berkata:

"Dan sesungguhnya Allah tidak akan mendatangkan adzab
pada mereka jika engkau berada di tengah-tengah
mereka." (ma kanallahu liyuadzdzibahum wa Anta fihim)28

"Aku besertamu, beserta keluargamu dan beserta
orang-orang yang mencintaimu." (inni ma'aka wa ma'a
ahlika kullu man ahabbaka)29

"Siapa yang datang padamu, maka ia telah datang
pada-KU." (man ja'aka ja'ani)30

"Allah memujimu dan mengangkatmu pada derajat yang
tinggi." (sabbahakallahu wa rafa'aka)31

"Jika tidak karena Engkau ya Mirza, AKU tidak jadikan
Alam ini." (Lau laka lama khalaqtul aflaaka)32

Bukan main, tidak dijadikan alam kalau tidak karena Mirza
Ghulam Ahmad! Alangkah hebat kedudukan Mirza. Apakah lagi
yang kurang untuk ditambahkan untuk mempertinggi derajat
Mirza Ghulam di sisi tuhannya? Tentu saja hal itu masih
kurang, kata Mirza dan Ahmadiyahnya. Bahkan itu masih jauh
daripada derajat yang diperoleh Mirza Ghulam Ahmad.

Wahyu-wahyu yang lebih hebat lagi turun melimpah pada Mirza
Ghulam dari tuhannya. Ia selalu berhubungan denganTuhan.
Kadang-kadang Tuhan turun untuk memujinya, dan pada
saat-saat yang sangat luar biasa, Mirza Ghulam naik menemui
tuhannya. Situasi kerohanian yang tiada tara bandingannya
itu, bagi sejarah Islam hampir-hampir dilupakan atau
dilewati begitu saja. Mungkin satu hal yang pasti mengapa
sejarah tidak ambil pusing dengan peristiwa "orang Qadian"
itu, ialah bahwa Mirza Ghulam Ahmad disebabkan faktor-faktor
yang sudah disebutkan terdahulu, bukan seorang yang
kelimpahan wahyu dari tuhan, melainkan ia memperoleh
wahyu-wahyu iblis. Dan memang itulah kenyataannya.

Catatan kaki:
1 Mirza Bashir Ahmad, Durr-i-Manthur, Rabwah Ahmadiyya
Muslim Foreign Mission Office, 1960, hal.1 - juga lihat
Khutbatul Ilhamiyah hal. muka dan Tukhfah Bagdad, hal.
muka.
2 Mirza Ghulam Ahmad, Khutbah ilhamiyah, hal. 6 (La
tagisuni Bii Ahadin Wala Ahadin Bii.)
3 Mirza Ghulam Ahmad, Khutbah lihamiyah, hal. 10 (Wa
inna qadami hadihi ala Manaratin khutima Alaihi kullu
rif'atinn).
4 Mirza Ghulam Ahmad, Al-Wasiyat, terjemah A. Wahid
H.A. Jakarta Neraca Trading Company, 1949, hal. l2.
5 Mirza Ghulam Ahmad, Al-Wasiyat, hal. 13.
6 Mirza Ghulam Ahmad, Fountain of Christianity, Rabwah
m.f.m.o., 1961, hal. 45: dan - Istifta hal. 80: (ya
qamar ya syamsu Anta mimu wa Ana minka).
7 Mirza Ghulam Ahmad, Fountain of Christianity, hal.
45: (that God made me first, the moon for I came like
the moon from the real sun, and, then, He became the
Moon; for, through me shone and will shine, the light
of His Glory.)
8 Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan Wahid
Bakry, hal. 37.
9 Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan Wahid
Bakry, hal. 37.
10 Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan Wahid
Bakry, hal. 37.
11 Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan Wahid
Bakry, hal. 38.
12 Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan Wahid
Bakry, hal. 38.
13 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 21.
14 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 25.
15 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 23.
16 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 23.
17 Analyst, Facts about Ahmadiyya Movement, hal. 29.
18 Mirza G.A., Tukhfah Bagdad, hal. 26 dan M.G.A.,
Alwasiyat, hal. 40.
19 M.G.A., Alwasiyat, hal. 40, dan Tukhfah Bagdad, hal. 26.
20 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 25.
21 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 25.
22 M.G.A. Al-Istifta, hal, 86.
23 M.G.A., Istiftha, hal. 86.
24 M.G.A., Al-Wasiyat, hal. 42.
25 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 30.
26 M.G.A., Al-Wasiyat, hal. 41.
27 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 26.
28 M.G.A., Istifta, hal. 85.
29 M.G.A., Istifta, hal. 85.
30 M.G.A., Istifta, hal. 84.
31 M.G.A., Istifta, hal. 85.
32 M.G.A., Al-Istifta, hal, 86.
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Re: wahyu yang datang dari iblis

Post by Kedunghalang on Sun May 13, 2012 5:35 pm

Bismillaahirrahmanirrahiim. Assalamu'alaikum wa rahmatullah!

@ Ichreza

Saya menasihatkan kepada anda, jika anda ingin memahami Ahmadiyah dengan benar, maka sebaiknya tanyakanlah kepada orang-orang Jemaat Ahmadiyah yang memahaminya. Jika anda membaca tulisan-tulisan yang berasal dari orang-orang yang bukan Jemaat Ahmadiyah, apalagi dari para penentangnya, maka akan seperti isi artikel yang anda tulis di atas.

Wassalam
Love for All, Hatred for None

Kedunghalang
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Male
Posts : 9081
Kepercayaan : Islam
Location : Bogor
Join date : 12.03.12
Reputation : 0

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik