FORUM LASKAR ISLAM
welcome
Saat ini anda mengakses forum Laskar Islam sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh turut berdiskusi yang hanya diperuntukkan bagi member LI. Silahkan REGISTER dan langsung LOG IN untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.


@laskarislamcom

Terima Kasih
Salam Admin LI

Marxisme VS Agama

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Marxisme VS Agama

Post by keroncong on Sat Aug 27, 2016 6:23 pm

Pendahuluan
Pada dekade terakhir ini, ada fenomena perkembangan pemikiran Marx di kalangan umat Islam yang sangat menarik untuk dicermati. Asumsi di atas berangkat dari realita di mana aktivis dakwah kampus yang gemar sekali membaca buku-buku karya Marx semakin menampakkan gejala ke arah terbentuknya sebuah entitas ekslusif yang radikal.
PRD misalnya, adalah sebuah gerakan yang disebut-sebut sebagai entitas anak muda yang terobsesi oleh pemikiran Karl Marx, sehingga ketika kelompok itu muncul dengan gerakan anarkhinya tampak sekali kelompok atau ormas Islam yang memposisikan diri mereka sebagai lawan dari gerakan yang berhaluan Marxis.
Dalam tulisan ini akan dibahas tentang Marx, siapa dan bagaimana pemikirannya kemudian kounterproduktif penulis terhadap idenya dengan menggunakan landasan teologi Thariqul Iman, suatu kajian kritis yang normatif disamping juga secara historis akan disajikan dengan sangat sederhana.
Riwayat Hidup Marx
Marx lahir di Trier Jerman di daerah Rhine pada tahun 1818 M. Ayahnya Heinrich dan ibunya Henrietta, berasal dari rabi Yahudi. Pada usia 18 tahun sesudah mempelajari hukum selama 1 tahun di universitas Bonn, Marx pindah di universitas Berlin. Di sana sebagai akibat hubungannya dengan kelompok Hegelian muda, beberapa unsur dasar teori sosial mulai terbentuk.
Dan sesudah menyelesaikan disertasi doktornya di universitas Berlin, Marx memimpin surat kabar yang radikal. Dia lebih mementingkan perjuangannya dengan petani dan orang miskin daripada dengan borjuis. Di surat kabar itu ia bisa menyebarluaskan aspirasinya .
Karya-karya Intelektualnya
Marx adalah sosiolog yang produktif. Hal ini bisa dilihat dari karya-karyanya yang banyak (di luar tulisan-tulisannya pada majalah yang ia pimpin). Karya puncak dia (magnum opos) adalah Das Capital. Disamping itu karya-karya yang lainnya adalah Manifesto Komunis (1847 M), Economic and Filosofical Manuscripts, The German Ideology, serta The Class Struggles in France and The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte (keduanya berbentuk essai).
Materialisme Historis Marx dan Agama
Materialisme historis (istilah yang tidak digunakan Marx) sangat berguna untuk memberinya nama pada asumsi-asumsi dasar mengenai teorinya dan memberinya suatu pemahaman yang tepat. Dari The Communist Manifesto dan Das Capital secara tradisional sudah diasumsikan bahwa tekanan utama Marx adalah pada kebutuhan materiil dan perjuangan kelas sebagai akibat dari usaha memenuhi kebutuhan ini. Dalam pandangan ini ide-ide dan kesadaran manusia tak lain daripada refleksi yang salah tentang kondisi-kondisi materiil. Tambahan pula perhatian dipusatkan pada usaha Marx untuk meningkatkan revolusi sosialis sedemikian hingga kaum proletariat dapat menikmati sebagian besar kelimpahan materiil yang dihasilkan oleh industrialisme .
Secara terperinci, teori di atas bisa dijelaskan sebagai berikut : Ketika manusia memasuki hubungan-hubungan sosial dengan orang lain dalam usaha untuk mencoba memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya (seperti makan, pakaian, rumah, dan lain-lain), hubungan ke produksi yang pokok ini menimbulkan pembagian kerja. Dan dari adanya pembagian kerja ini muncullah hubungan kepemilikan yang mencakup pemilikan dan penguasaan yang berbeda-beda atas sumber-sumber pokok dan pelbagai alat-alat produksi. Pemilikan dan penguasaan yang berbeda-beda atas barang ini merupakan dasar yang azasi untuk munculnya kelas-kelas sosial. Karena sumber-sumber material yang dibutuhkan untuk pemenuhan kebutuhan manusia bersifat langka, maka hubungan-hubungan antara kelas-kelas yang berbeda itu menjadi kompetitif dan antagonis. Lihat skema :


Inilah grand teori dari Karl Marx yang kemudian berkembang pada tekanan-tekanan yang gencar untuk memunculkan teori-teori cabang, terutama berkaitan dengan institusi-institusi lain, dimana ia mengatakan bahwa struktur ekonomi dalam masyarakat (yaitu alat-alat produksi dan hubungan-hubungan sosial produksi) merupakan dasar yang sebenarnya. Artinya, seluruh institusi sosial yang ada dalam masyarakat seperti budaya dan agama harus berpangkal dan berdasar pada struktur ekonomi ini.
Lebih jauh Marx mengemukakan bahwa tekanan agama tradisional pada dunia transenden, non materiil dan harapan akan hidup sesudah mati, membantu mengalihkan perhatian orang dari penderitaan fisik dan kesulitan materiil dalam hidup ini. Tambahan pula, cita-cita agama tradisional sebenarnya membalikkan prioritas-prioritas alamiah dengan mengemukakan bahwa penderitaan-penderitaan fisik dan materiil memiliki nilai rohani yang positif jika ditanggung dengan sabar dan tawakal. Karena nanti Tuhan akan membalasnya di alam baka. Dari konsep agama yang seperti itu dianggap sangat membahayakan dalam perkembangan manusia terutama dalam persoalan the class struggle (pertentangan kelas) karena pertentangan kelas itu muncul jika manusia dalam memiliki sumber-sumber pokok dan alat industri terjadi secara kompetitif dan antagonis. Dan hal itu tidak mungkin terjadi jika manusia terpengaruh ilusi agama tradisional. Dari sinilah kemudian ia menganggap agama sebagai “candu masyarakat” yang pada akhirnya masyarakat Marxis dianggap sebagai masyarakat komunis yang atheis.
Pengaruhnya : Benarkah Ada ?
Sejak Karl Marx mengibarkan dasar-dasar Marxisme jika dilihat dari tulisan-tulisannya pada The Communist Manifesto dan Das Capital, ia lantas membuat prediksi ke depan bahwa ideologi ini akan menggulung ideologi lainnya. Dan ia yakin bahwa pemikirannya akan menguasai dunia kapitalis yang merupakan masyarakat berkelas dan mengubahnya menjadi masyarakat tanpa kelas di bawah hegemoni ideologi materialisme historisnya.
Ketika komunisme berhasil mengusir Tsar Rusia dalam revolusi Bolshevic bulan Oktober 1917 M, di bawah kepemimpinan Lenin, maka dengan sesumbar Lenin berkata bahwa revolusi ini akan tersebar luas ke seluruh dunia, menyebar ke negeri-negeri kapitalisme.
Ucapan Lenin itu memang bertolak dari teori Marx. Namun dalam kenyataannya setelah diterapkannya sistem itu ramalan tersebut meleset. Teori-teori Marx tidak bisa diterapkan dan dibuktikan kebenarannya dalam kenyataan keseharian dari pemikiran komunis. Bahkan negeri-negeri imperialis yang kapitalis semakin bengis dan mengakar. Hal ini bisa dilihat bahwa negeri tirai bambu seperti Cina lebih suka menggunakan ekonomi kapitalis.
Mari kita menengok pada dekade 1990-an. Banyak kejadian-kejadian yang menakjubkan dimana negara-negara komunis satu persatu berganti haluan ke negara kapitalis yaitu negara Jerman Timur dengan ditandainya robohnya tembok Berlin, juga yang terjadi di Hungaria ide-ide komunis diabaikan disana. Di Rumania, diktator Nicole dan istrinya dibantai massa yang mengamuk di negeri ini karena rakyat sudah merasa “muak” dengan kediktatorannya yang berdasarkan sistem komunis.
Dari sini bisa disimpulkan bahwa ideologi Marxis banyak tidak terpengaruh di kalangan masyarakat dunia.
Kritik Terhadap Teori Marx
Penulis bisa menyimpulkan dari teori Marx dimana ia meletakkan kebutuhan manusia hanya pada struktur ekonomi (materil dan hubungan sosial). Dia tidak melihat agama sebagai kebutuhan pokok manusia. Bahkan sebaliknya ia menganggap agama sebagai ilusi yang menjadi racun dalam hidup manusia. Dari teori itu bisa disimpulkan bahwa ia menganggap sebagai berikut:
a. Hidup manusia adalah asas manfaat sebagai manifes dari anggapan bahwa material itu adalah yang bisa membentuk kehidupan manusia. Dari konsep itu maka menurut Marx sah saja manusia memproduksi barang apa saja asal bermanfaat bagi kehidupan manusia tanpa melihat agama melarang atau tidak.
b. Kehidupan sesudah mati tidak ada. Hal ini berangkat dari teorinya itu pula bahwa ia menekankan perubahan sejarah hidup manusia pada siklus keterbutuhan manusia akan barang dan jasa saja, tidak lebih. Sehingga ketika manusia itu meninggal dunia, maka secara otomatis siklus dari sejarah kehidupannya terhenti tanpa melihat akan adanya kehidupan yang kedua. Karena ia menganggap hal itu sebagai ilusi manusia saja yang sangat membahayakan eksistensi sejarah manusia.
c. Dari point diatas maka ia melihat kebahagiaan itu dari pemerataan barang dan alat produksi pada seluruh masyarakat (komunal) tanpa melihat ada kebahagiaan lain yang bersifat rohaniah.
Kritikan terhadap teorinya menurut penulis bisa berangkat dari ketiga point diatas sebagai berikut :
a. Bahwa manusia berbeda dengan hewan. Dimana perbedaan pokoknya terletak pada kecerdasan manusia dalam berhidup. Karena kecerdasan itulah manusia bisa berbuat apa saja melebihi apa yang dilakukan binatang. Juga dengan kecerdasannya itu manusia mampu memahami realitas sosial dan alam disekitarnya sebagai bukti nyata akan adanya sang pencipta. Bukti ini terbangun dari diri manusia itu sendiri. Karena manusia adalah mahluk yang lemah dan selalu tergantung pada yang kuat. Ketergantungan itu bersifat gradual dari yang terlemah sampai tidak ada lagi di alam empirik ini yang terkuat, maka secara naluriah manusia melihat ada kekuatan dibalik itu semua (benda dan materil), sehingga manusia merasa haus akan kekuatan itu. Dan itulah kekuatan rohani. Karena dengan kekuatan rohani ini seluruh sikap aktifitas manusia bisa terkontrol. Adanya konflik kelas di masyarakat tanpa diikuti dengan etik dan moral agama tidak akan bisa melahirkan masyarakat yang ideal. Oleh karena itulah agama (Islam, pen) selalu menganjurkan tentang keseimbangan di dalam hidup. Aritnya Islam tidak menafikkan kehidupan material untuk dikuasai/dimiliki. Namun Islam selalu membatasi melalui etik/moral/ketuhanan supaya manusia ketika ingin memiliki sesuatu atau menguasainya tidak berlaku dlolim/aniaya pada orang lain (lihat QS. ). Inilah kehidupan yang sebenarnya. Sehingga mengapa Islam melarang minuman keras, babi, darah, uang riba, dll. Karena itu semua ditujukan pada kebutuhan manusia secara umum bukan personal, rahmatan lil alamin. Karena jika minuman keras sudah diproduksi secara bebas maka akan lahir masyarakat beringas dan kacau. Inilah yang saya maksud pelarangan itu melihat masyarakat secara umum bukan kepentingan orang perorang akan benda-benda itu.
b. Oleh karena manusia diberi akal untuk membedakan mana materil yang harus diproduksi atau tidak dan supaya penentuan itu tidak salah maka Tuhan menurunkan juklak (Al Qur’an). Diharapkan dengan itu manusia bisa hidup dengan baik penuh rahmat dan iman. Inilah yang membedakan dengan binatang sehingga manusia aktifitasnya harus dipertanggungjawabkan padaNya. Dan kalau ada pendapat bahwa tidak ada hidup setelah mati (sebagai pertanggungjawabannya) maka pendapat itu telah menyamakan manusia dengan binatang. Adapun konsep “sabar dan tawakkal” yang menyesatkan menurut Marx sangatlah tidak beralasan dan irrasional karena dalam Islam konsep sabar dan tawakkal bukanlah pasif namun aktif. Misal, kita harus sabar dengan rezeki kita, itu maksudnya kita harus aktif untuk mencari peluang lain selama masih bisa dan tidak melanggar agama. Adapun sabar dimaksudkan supaya manusia tidak stress dan kecewa yang berkelanjutan.
c. Dari pembahasan itu, maka konsep kebahagiaan tak dilihat dari dampaknya materil yang didapat namun harus dilihat apakah seseorang itu telah menjalankan akalnya dan ketentuan Tuhan dengan baik atau tidak. Karena betapa banyak manusia borjuis yang asalnya Prokleetar ternyata tidak menemukan kebahagiaan yang hakiki.

Penutup
Dari uraian diatas maka cukup jelas bagi kita bahwa konsep Marx sangat tidak relevan dengan kondisi sekarang terutama pada masyarakat yang agamis. Bahkan mungkin pada masyarakat kapitalis pun konsep ini tidak relevan. Hal itu bisa terbukti dengan runtuhnya kekuasaan komunis pada negara-negara Eropa. Wallahu A’lam.


Daftar Bacaan
1. Studi Agama, Normativitas atau Historisitas ?, Oleh Dr. M. Amin Abdullah
2. Teori Sosiologi , Doyle Paul Johnson
3. Tafaqquh Fiddin , Dr. Abdurrahman AlBaghdadi
4. AlHadloroh Al Islamiyah, Taqiyuddin AnNabhani.
5. Etika, K. Bertens.




-|PROBLEM SOLVED |-

-| Cara 'Request' Membuka Kembali Thread di Topic solved |-
avatar
keroncong
KAPTEN
KAPTEN

Male
Age : 63
Posts : 4535
Kepercayaan : Islam
Location : di rumah saya
Join date : 09.11.11
Reputation : 66

Kembali Ke Atas Go down

Re: Marxisme VS Agama

Post by dee-nee on Sat Aug 27, 2016 10:15 pm

Sebetulnya terlalu jauh untuk membanding2kan Marxisme dengan agama atau ke-Tuhanan (teologi)

karena dalam bidang ekonomi ... yang dilawan (ditolak) Marxisme bukan agama tetapi Kapitalisme

dalam sudut pandang agama pun ... yang dilawan (ditolak) Marxisme juga bukan Tuhan ... tetapi manusia beragama (khususnya pemuka agama) yang mengeluarkan apa yang disebut dogma menurut pendapat Karl Marx

makanya Karl Marx bilang "agama adalah candu" >>> karena pada waktu itu ... dalam kondisi rakyat (kelompok proletar atau buruh) masih lapar, miskin dsb .... karena ulah kapitalisme dan kelompok borjuis (bangsawan atau raja2)

para pemuka agama tidak bisa berbuat apa2 demi melindungi kepentingan orang2 kaya dan kelompok borjuis .... dan hanya bisa bilang ke rakyat "berserah diri saja pada Tuhan, nanti kita akan masuk surga, sabar ya sabar" >>> begitu-lah kasarnya

jadi ... bila disebut Marxisme tidak sesuai dengan Islam ... seratus juta persen saya setuju >>> tapi yang menjadi fokus adalah yang bold .... artinya sampai sejauh mana para ulama (misalnya dalam kasus Islam) tidak mengeluarkan "candu" nya demi melindungi kepentingan yang jelas2 salah

hihihihihihihihihi

piss piss
avatar
dee-nee
LETNAN KOLONEL
LETNAN KOLONEL

Female
Posts : 8647
Kepercayaan : Islam
Location : Jakarta
Join date : 02.08.12
Reputation : 181

Kembali Ke Atas Go down

Re: Marxisme VS Agama

Post by njlajahweb on Tue Aug 30, 2016 9:48 pm

akan tiba masanya dimana DIA akan memisahkan yang baik dari yang baik, yang tidak baik dari yang tidak baik,  baik dari kalangan Kristen maupun nonKristen, dari segala bangsa.
avatar
njlajahweb
MAYOR
MAYOR

Female
Posts : 5008
Kepercayaan : Protestan
Location : banyuwangi
Join date : 30.04.13
Reputation : 114

Kembali Ke Atas Go down

Re: Marxisme VS Agama

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik